Mag-log inPRANG!
GEDEBUG! Suara kaca pecah terdengar nyaring, disusul oleh gedebuk keras saat tubuh mereka mendarat di atas tumpukan kantong sampah di gang belakang yang sempit dan bau apak. Atlas menanggung sebagian besar benturan, mengerang tertahan sambil berguling melindungi Alana dengan tubuhnya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Atlas, napasnya memburu, segera bangkit dari tumpukan sampah lalu menarik Alana berdiri dengan gerakan cepat. "Kurasa... kakiku..." Alana meringis, merasakan nyeri yang tajam di pergelangan kakinya, tapi naluri keselamatan diri membuatnya tidak menghiraukan rasa sakitnya. "Bagus, Alana! Lari!" Atlas mengandeng tangan Alana menjauhi gang sempit yang bau itu dengan setengah berlari. Melewati tumpukan sampah yang menggunung dan dinding bata yang lembap. Namun, langkah mereka terhenti mendadak. Di ujung gang, sebuah lampu sorot besar menyilaukan mata mereka, membutakan pandangan. Siluet seorang pria berseragam polisi taktis berdiri di sana, laras panjang senapannya mengarah tepat ke dada Alana. Itu adalah pemimpin tim penyerbu. Wajahnya tertutup masker hitam, hanya matanya yang terlihat menyipit licik di balik kegelapan. "Usaha yang luar biasa, Tuan Atlas," suara pria itu terdengar tenang, terdistorsi sedikit oleh maskernya. "Tapi gang ini buntu. Tidak ada jalan keluar. Menyerahlah! Kalian semua sudah dikepung." Atlas mendorong Alana ke belakang punggungnya, memposisikan tubuhnya di antara Alana dan pria berseragam itu. "Komandan Reza. Anjing peliharaan Varma yang paling setia. Berapa dia membayarmu untuk mengkhianati lencana polisimu? Dua miliar? Tiga miliar? Cukup untuk membeli kebebasanmu selamanya?" Pria bermasker dengan tag name Reza itu terkekeh, terdengar mengerikan di tengah kegelapan malam. Ia menurunkan senjatanya sedikit, tetapi jarinya tetap di pelatuk, dia tidak sedang main-main. "Cukup untuk pensiun di Bali, Tuan Atlas. Sebuah janji yang tak bisa ditolak. Serahkan buku itu, dan gadis ini boleh pergi. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dari yang seharusnya." "Omong kosong! Cih!" Atlas meludah ke samping kiri, tatapannya tajam dan penuh kebencian. "Kau hanyalah pion yang bisa dibuang kapan saja." "Pikirkan baik-baik, Nona Nareswari," Reza beralih menatap Alana di balik punggung Atlas. Suaranya kini lebih lembut, seperti ular yang sedang merayu mangsanya. "Ayahmu, Tuan Danu, sedang duduk manis di markas kami. Dia masih hidup. Kami memperlakukannya dengan sangat baik, untuk saat ini. Tapi kalau kau tidak menyerahkan buku itu dalam hitungan tiga..." Reza mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar yang gelap. Alana merasakan firasat tak enak. "Aku akan menelepon anak buahku untuk menembaknya sekarang juga. Tanpa ragu." Jantung Alana berdetak cepat. Dunia di sekitarnya seakan runtuh. "Ayah..." bisiknya, kakinya lemas tak bertenaga. Dia kemudian mencengkeram lengan jas Atlas erat-erat, merasakan otot kerasnya. "Atlas!" Atlas tidak bergerak. Tatapannya terkunci pada mata Reza, dingin dan tanpa emosi. "Jangan dengarkan bajingan itu, Alana," suara Atlas rendah, dingin, dan mematikan. "Dia berbohong." "Apa yang harus kita lakukan?" desak Alana, air mata mulai membanjiri wajahnya, membasahi pipinya yang kotor. "Dia tidak bisa membunuh orang mati," jawab Atlas datar. Jawaban Atlas membuat Alana lebih syok lagi. Entah yang mana harus dipercayai. "Apa?" Alana bergumam tak percaya. Atlas menatap Reza dengan tatapan mengejek yang dingin. "Katakan padanya, Reza. Katakan bahwa kalian menemukan Danu sudah kaku di kursi kerjanya dua jam yang lalu, karena serangan jantung mendadak, saat kalian mendobrak masuk ke rumahnya. Katakan bahwa kalian tidak punya sandera. Katakan bahwa dia sudah mati sebelum kalian sampai di sana." Bola matanya melebar. Raut wajah Reza berubah di balik maskernya. Dia jelas tidak menyangka Atlas akan berkata demikian. "Kau tidak tahu apa-apa, Tuan Atlas!" "Ayahmu sudah mati sejak dia mencuri buku itu, Alana," lanjut Atlas dingin. "Dan sekarang, hanya ada satu cara untuk menghormatinya. Melanjutkan apa yang sudah dia mulai. Membalaskan dendamnya." DOR! Tanpa peringatan, tangan Atlas bergerak secepat kilat. Bukan ke arah Reza, tapi menembak lampu jalan di atas kepala mereka, memecahkannya menjadi serpihan kaca yang berkeping-keping. Kegelapan menyelimuti gang seketika, Atlas tak menyia-nyiakan momen tersebut. "Tiarap!" teriak Atlas, suaranya bergema di kegelapan. Suara tembakan balasan memberondong liar dari arah Tim Reza. Ratusan peluru memercikkan api pada dinding bata yang lembap. Tapi Atlas sudah bergerak. Dalam gelap, Alana mendengar suara hantaman daging yang dipukul keras, bunyi tulang patah yang membuat ngilu, dan erangan kesakitan yang singkat dan tertahan. Mendadak hening. Lampu senter menyala. Atlas berdiri di atas tubuh Reza yang kini terkapar tak sadarkan diri. Senapan laras panjangnya sudah berpindah ke tangan Atlas, diarahkan ke arah Tim Reza yang masih mengokang senjata. "Mundur! Atau kalian akan menyesal!" Serempak Tim Reza menurunkan senjata lalu membiarkan Atlas pergi. Atlas menghampiri Alana. "Ayo," kata Atlas, napasnya bahkan tidak terengah-engah, seolah ia baru saja berolahraga ringan. Ia mengulurkan tangan pada Alana yang masih terduduk di sudut gang, gadis itu menahan tangis. Alana menatap uluran tangan Atlas, lalu menatap tubuh Reza yang tergeletak di genangan air kotor, dan akhirnya menatap kehampaan malam. Kabar kematian ayahnya menghantam jiwanya sangat keras. Dia masih tak percaya. "Dia... benar-benar sudah tiada?" tanya Alana lirih, suaranya pecah, hampir tak terdengar. Atlas berlutut di hadapannya, mensejajarkan mata mereka dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya, tatapan pria itu melembut. Sedikit. Ada sedikit kehangatan yang terpancar dari mata kelamnya. "Dia tiada agar kau bisa hidup, Alana. Agar buku itu bisa menjadi milikmu, dan bukan milik mereka. Jangan sia-siakan pengorbanannya dengan menangis di gang sampah ini. Varma akan mengirim lebih banyak orang. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan buku itu atau sampai kau mati." Atlas menyeka air mata yang membasahi pipi Alana dengan ibu jarinya yang kasar, sentuhannya lembut namun tegas. "Ikut aku," bisik Atlas, suaranya terdengar lebih personal sekarang. "Dan aku berjanji, kita akan membuat mereka membayar setiap tetes darah ayahmu. Kita akan membakar kerajaan mereka dengan buku di tanganmu itu. Aku akan membantumu." Alana menatap buku merah yang ia dekap di dadanya, merasakan sampul kulitnya yang usang di bawah jemarinya. Rasa sedih yang melumpuhkan itu perlahan berubah bentuk. Menjadi panas. Menjadi amarah yang membara. Amarah yang diarahkan pada mereka yang telah merampas ayahnya dan hidupnya. Dia menyambut uluran tangan Atlas. Genggamannya erat, sebuah ikatan yang baru saja terjalin dalam api dan kegelapan. "Bunuh mereka," desis Alana dingin, tatapannya berubah gelap, matanya memancarkan tekad yang baru ditemukan. "Bunuh mereka semua." Atlas menyeringai puas, kali ini senyumannya tulus dan kekejaman sirna. Ia menarik Alana berdiri, membawanya keluar dari kegelapan gang menuju motor Ducati yang menunggu mereka. "Sesuai keinginanmu, Nona Nareswari."Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de
Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal
Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan
Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru
Dunia Alana tidak pernah tentang taman bermain. Sementara anak-anak seusianya asyik bermain sepeda roda tiga dengan rumbai-rumbai di stangnya, Alana menghabiskan waktunya di sebuah sirkuit pribadi di pinggiran Bogor, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni raksasa. Udara di sana tidak berbau bunga; tetapi campuran memabukkan dari bensin oktan tinggi, ban yang terbakar, dan oli mesin yang panas.Di depannya saat itu terparkir sebuah Mercedes-Benz W124 E-Class berwarna perak metalik. Di tangan yang tepat, mobil itu akan menjadi tank yang mematikan."Masuk, Alana," perintah Tuan Danu. Alana, yang kini berusia dua belas tahun, memanjat ke kursi pengemudi. Kakinya nyaris tidak sampai ke pedal, tetapi ganjalan khusus yang dipasang mekanik ayahnya membuat semuanya terasa pas. Setahun lagi Alana akan menjadi lebih tinggi sehingga pas dengan interior kendaraan."Ayah, aku belum bisa melihat melewati dasbor dengan jelas," protes Alana, tangannya mencengkeram kemudi kulit yang dingin."Seoran
"Kenapa aku tidak punya seragam seperti anak-anak di TV, Pa?"Alana, sepuluh tahun, berdiri di depan cermin besar di lorong rumah aman mereka yang baru di pinggiran Jakarta. Dia mengenakan blazer wol abu-abu yang dijahit khusus oleh penjahit pribadi ayahnya, potongan yang terlalu kaku dan dewasa untuk anak seusianya. Di tangannya bukan tas punggung berwarna cerah bergambar kartun, melainkan sebuah koper kulit kecil berisi jurnal sketsa, satu set pensil grafit, dan sebuah kamera Leica tua yang berat.Tuan Danu muncul di belakangnya, bayangannya menjulang tinggi di cermin. Dia merapikan kerah Alana dengan gerakan mekanis yang tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. "Kau sedang menempuh kurikulum diplomat khusus, Alana. Sekolah umum hanya mengajarkan cara menjadi bagian dari kerumunan—menjadi rata-rata. Ayah mengajarimu cara menguasai kerumunan itu tanpa pernah menjadi bagian darinya.”Sekolah Alana bukanlah gedung dengan papan tulis, bel istirahat, dan bau kapur. "Kelasnya" adalah enti
Kegelapan itu hanya berlangsung sesaat sebelum lampu darurat berwarna merah redup berkedip, memantulkan bayangan panjang yang menari di atas genangan air yang terus meninggi. Konsol holografik di depan Alana adalah satu-satunya benda yang memancarkan cahaya biru stabil, seolah mengundangnya untuk
"Jangan berhenti sekarang, Alana. Kita harus terus bergerak."Suara Atlas terdengar berat di samping telinganya. Alana berkedip cepat, mencoba mengusir bayangan wajah ibunya yang seolah masih menempel di retina matanya. Dia melihat ke sekeliling. Gang sempit itu masih sepi, tapi lampu jala
"Jangan lihat layarnya! Alana, fokus!"Suara Han Seo-jun memecah kekosongan yang sempat membekukan saraf Alana. Pria itu menyambar bahu Alana, mengguncangnya dengan tenaga yang cukup untuk membuat punggung Alana menghantam sandaran kursi kayu. Di depan mereka, asap putih akibat ledakan pin
"Turunkan senjatamu sebelum aku mematahkan pergelangan tanganmu."Atlas tidak berteriak. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun getaran ancamannya memenuhi ruangan sempit di bawah distrik Mapo itu. Ujung laras senapan laras pendek masih menempel di pelipisnya, tapi ekspresi Atlas tetap se







