Beranda / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / BAB 5 - KONTRAK DARAH

Share

BAB 5 - KONTRAK DARAH

Penulis: Shiva Jodi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 14:49:54

PRANG!

GEDEBUG!

Suara kaca pecah terdengar nyaring, disusul oleh gedebuk keras saat tubuh mereka mendarat di atas tumpukan kantong sampah di gang belakang yang sempit dan bau apak.

Atlas menanggung sebagian besar benturan, mengerang tertahan sambil berguling melindungi Alana dengan tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Atlas, napasnya memburu, segera bangkit dari tumpukan sampah lalu menarik Alana berdiri dengan gerakan cepat.

"Kurasa... kakiku..." Alana meringis, merasakan nyeri yang tajam di pergelangan kakinya, tapi naluri keselamatan diri membuatnya tidak menghiraukan rasa sakitnya.

"Bagus, Alana! Lari!"

Atlas mengandeng tangan Alana menjauhi gang sempit yang bau itu dengan setengah berlari. Melewati tumpukan sampah yang menggunung dan dinding bata yang lembap. Namun, langkah mereka terhenti mendadak. Di ujung gang, sebuah lampu sorot besar menyilaukan mata mereka, membutakan pandangan. Siluet seorang pria berseragam polisi taktis berdiri di sana, laras panjang senapannya mengarah tepat ke dada Alana. Itu adalah pemimpin tim penyerbu. Wajahnya tertutup masker hitam, hanya matanya yang terlihat menyipit licik di balik kegelapan.

"Usaha yang luar biasa, Tuan Atlas," suara pria itu terdengar tenang, terdistorsi sedikit oleh maskernya. "Tapi gang ini buntu. Tidak ada jalan keluar. Menyerahlah! Kalian semua sudah dikepung."

Atlas mendorong Alana ke belakang punggungnya, memposisikan tubuhnya di antara Alana dan pria berseragam itu.

"Komandan Reza. Anjing peliharaan Varma yang paling setia. Berapa dia membayarmu untuk mengkhianati lencana polisimu? Dua miliar? Tiga miliar? Cukup untuk membeli kebebasanmu selamanya?"

Pria bermasker dengan tag name Reza itu terkekeh, terdengar mengerikan di tengah kegelapan malam. Ia menurunkan senjatanya sedikit, tetapi jarinya tetap di pelatuk, dia tidak sedang main-main.

"Cukup untuk pensiun di Bali, Tuan Atlas. Sebuah janji yang tak bisa ditolak. Serahkan buku itu, dan gadis ini boleh pergi. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dari yang seharusnya."

"Omong kosong! Cih!" Atlas meludah ke samping kiri, tatapannya tajam dan penuh kebencian. "Kau hanyalah pion yang bisa dibuang kapan saja."

"Pikirkan baik-baik, Nona Nareswari," Reza beralih menatap Alana di balik punggung Atlas. Suaranya kini lebih lembut, seperti ular yang sedang merayu mangsanya. "Ayahmu, Tuan Danu, sedang duduk manis di markas kami. Dia masih hidup. Kami memperlakukannya dengan sangat baik, untuk saat ini. Tapi kalau kau tidak menyerahkan buku itu dalam hitungan tiga..." Reza mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar yang gelap. Alana merasakan firasat tak enak. "Aku akan menelepon anak buahku untuk menembaknya sekarang juga. Tanpa ragu."

Jantung Alana berdetak cepat. Dunia di sekitarnya seakan runtuh. "Ayah..." bisiknya, kakinya lemas tak bertenaga. Dia kemudian mencengkeram lengan jas Atlas erat-erat, merasakan otot kerasnya. "Atlas!"

Atlas tidak bergerak. Tatapannya terkunci pada mata Reza, dingin dan tanpa emosi. "Jangan dengarkan bajingan itu, Alana," suara Atlas rendah, dingin, dan mematikan. "Dia berbohong."

"Apa yang harus kita lakukan?" desak Alana, air mata mulai membanjiri wajahnya, membasahi pipinya yang kotor.

"Dia tidak bisa membunuh orang mati," jawab Atlas datar. Jawaban Atlas membuat Alana lebih syok lagi. Entah yang mana harus dipercayai.

"Apa?" Alana bergumam tak percaya.

Atlas menatap Reza dengan tatapan mengejek yang dingin. "Katakan padanya, Reza. Katakan bahwa kalian menemukan Danu sudah kaku di kursi kerjanya dua jam yang lalu, karena serangan jantung mendadak, saat kalian mendobrak masuk ke rumahnya. Katakan bahwa kalian tidak punya sandera. Katakan bahwa dia sudah mati sebelum kalian sampai di sana."

Bola matanya melebar. Raut wajah Reza berubah di balik maskernya. Dia jelas tidak menyangka Atlas akan berkata demikian. "Kau tidak tahu apa-apa, Tuan Atlas!"

"Ayahmu sudah mati sejak dia mencuri buku itu, Alana," lanjut Atlas dingin. "Dan sekarang, hanya ada satu cara untuk menghormatinya. Melanjutkan apa yang sudah dia mulai. Membalaskan dendamnya."

DOR!

Tanpa peringatan, tangan Atlas bergerak secepat kilat. Bukan ke arah Reza, tapi menembak lampu jalan di atas kepala mereka, memecahkannya menjadi serpihan kaca yang berkeping-keping.

Kegelapan menyelimuti gang seketika, Atlas tak menyia-nyiakan momen tersebut.

"Tiarap!" teriak Atlas, suaranya bergema di kegelapan.

Suara tembakan balasan memberondong liar dari arah Tim Reza. Ratusan peluru memercikkan api pada dinding bata yang lembap. Tapi Atlas sudah bergerak. Dalam gelap, Alana mendengar suara hantaman daging yang dipukul keras, bunyi tulang patah yang membuat ngilu, dan erangan kesakitan yang singkat dan tertahan.

Mendadak hening.

Lampu senter menyala. Atlas berdiri di atas tubuh Reza yang kini terkapar tak sadarkan diri. Senapan laras panjangnya sudah berpindah ke tangan Atlas, diarahkan ke arah Tim Reza yang masih mengokang senjata.

"Mundur! Atau kalian akan menyesal!"

Serempak Tim Reza menurunkan senjata lalu membiarkan Atlas pergi. Atlas menghampiri Alana.

"Ayo," kata Atlas, napasnya bahkan tidak terengah-engah, seolah ia baru saja berolahraga ringan. Ia mengulurkan tangan pada Alana yang masih terduduk di sudut gang, gadis itu menahan tangis.

Alana menatap uluran tangan Atlas, lalu menatap tubuh Reza yang tergeletak di genangan air kotor, dan akhirnya menatap kehampaan malam. Kabar kematian ayahnya menghantam jiwanya sangat keras. Dia masih tak percaya.

"Dia... benar-benar sudah tiada?" tanya Alana lirih, suaranya pecah, hampir tak terdengar.

Atlas berlutut di hadapannya, mensejajarkan mata mereka dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya, tatapan pria itu melembut. Sedikit. Ada sedikit kehangatan yang terpancar dari mata kelamnya.

"Dia tiada agar kau bisa hidup, Alana. Agar buku itu bisa menjadi milikmu, dan bukan milik mereka. Jangan sia-siakan pengorbanannya dengan menangis di gang sampah ini. Varma akan mengirim lebih banyak orang. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan buku itu atau sampai kau mati."

Atlas menyeka air mata yang membasahi pipi Alana dengan ibu jarinya yang kasar, sentuhannya lembut namun tegas.

"Ikut aku," bisik Atlas, suaranya terdengar lebih personal sekarang. "Dan aku berjanji, kita akan membuat mereka membayar setiap tetes darah ayahmu. Kita akan membakar kerajaan mereka dengan buku di tanganmu itu. Aku akan membantumu."

Alana menatap buku merah yang ia dekap di dadanya, merasakan sampul kulitnya yang usang di bawah jemarinya. Rasa sedih yang melumpuhkan itu perlahan berubah bentuk. Menjadi panas. Menjadi amarah yang membara. Amarah yang diarahkan pada mereka yang telah merampas ayahnya dan hidupnya.

Dia menyambut uluran tangan Atlas. Genggamannya erat, sebuah ikatan yang baru saja terjalin dalam api dan kegelapan.

"Bunuh mereka," desis Alana dingin, tatapannya berubah gelap, matanya memancarkan tekad yang baru ditemukan. "Bunuh mereka semua."

Atlas menyeringai puas, kali ini senyumannya tulus dan kekejaman sirna. Ia menarik Alana berdiri, membawanya keluar dari kegelapan gang menuju motor Ducati yang menunggu mereka.

"Sesuai keinginanmu, Nona Nareswari."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Valen Na
Buset atlas, kok bisa tau itu semua tu gimana caranyaa
goodnovel comment avatar
Shiva Jodi
Saya juga, Kak, senyum-senyum baca komen kakak ...
goodnovel comment avatar
Choco Piuww
Atlas pasti veteran soal beginian
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 38 - Proyek Monumen

    Sejumlah alat berat mengerang di latar belakang, merobek sisa-sisa reruntuhan bekas benteng utama Bogor. Debu dari bebatuan yang dihancurkan bercampur dengan kabut pagi yang lembap. Alana berdiri di area yang dulunya merupakan sayap timur perpustakaan Atlas, kini ditandai dengan kerangka baja baru yang mengkilap dan garis-garis modern. Enam minggu telah berlalu sejak serangan Collective yang terselubung dan konfrontasi sengit Alana dengan Matriark di pelabuhan; Matriark menarik pasukannya di detik-detik terakhir sebelum Collective bisa menjamin Alana tewas, membeli keamanan Seroja. Nomar Baru selamat, namun nyaris. Selama enam minggu itu, Alana mengubur setiap sentimeter penderitaan yang ia alami, menuangkannya ke dalam konstruksi baru yang megah. Dia mengenakan sepatu bot baja dan topi keras dengan lambang Nomar, memancarkan aura Komandan Lapangan yang teliti, jauh dari citra artis yang rapuh. “Aku sudah memperingatkanmu, Alana,” desis Atlas Varma, berdiri di sampingnya dengan jas m

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 37 - Senjata Kelemahan

    “RISA!” raung Alana, amarah akibat pengkhianatan dan teror itu pecah dalam kendaraan anti-balistik, saat mereka melaju dari Jakarta Pusat menuju Koperasi Laut Selatan--pusat operasi kotor Agra yang kini diincar Collective. Atlas, yang mencengkeram Datapad itu, hampir melumpuhkan jarinya karena ketegangan. “Risa? Nenekku menanam Risa ke dalam jaringan kita sejak kapan? Sialan! Ini berarti seluruh skema Nomar Baru kita—uang yang kita gerakkan, dokumen yang kita bakar—diketahui Matriark!” “Dia pandai sekali pura-pura taat dan setia,” kata Alana, nafasnya sesak. Mata tajamnya menatap ke spion, yang memperlihatkan mobil-mobil Syndicate mengekori mereka. “Matriark membiarkan kita berkuasa. Dia membiarkan kita bergerak, meyakinkan Agra kita berbahaya, dan Matriark mengumpulkan intel tentang strategi Cleaner-ku melalui Risa. Itu sebabnya dia menawari aku janji kemitraan domestik.” “Danu pasti tahu!” tukas Atlas, memutar Datapad. “Ayahmu selalu tahu, atau dia paranoid dan telah memasang p

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 36 - Negosiasi Darah Dingin

    Alana Nareswari melangkah keluar dari mobil, wajahnya sedingin baja, kakinya menginjak genangan air kotor, ia siap berhadapan langsung dengan Pemilik Sindikat Asia. “Justru aku akan menggunakan kartu liar terakhirku, Nomar.” Ia berjalan, mengenakan pantsuit couture Varma yang baru. Berbeda dari gaya Varma sebelumnya, pakaiannya sekarang dipotong dengan presisi fungsional yang memungkinkan pergerakan bebas. Suasana di depan Four Seasons Jakarta terasa ganjil, dipenuhi suara sirene samar dari lalu lintas yang jauh dan keheningan brutal yang dipancarkan oleh tiga mobil van hitam. Semua bayangan tersaring; tidak ada pejalan kaki yang lewat. Atlas menyentuh pergelangan tangannya. "Sialan, Alana! Mereka sudah punya perwakilan di Jakarta! Kita belum punya kontak intel lokal. Aku bisa menemani kamu dengan identitas Risa yang kita tangani—” “Aku pergi sendiri. Sebagai Nyonya Varma, pewaris Danu Nareswari yang tak terbantahkan.” Alana menyentakkan tangannya. Matanya berkilat, dingin seperti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 35 - Mengais Sisa Perang

    “Apa rencanamu!” tanya Atlas. Panik karena kehilangan besar.Alana mengangguk dingin, air matanya (atau mungkin hanya tetesan bius Dasa) mengering di sudut matanya, meninggalkan jejak kekejaman di kulitnya. Mobil Vantage anti-balistik yang mereka gunakan bergetar di tengah pelarian mendesak itu, menembus kabut lembap dari Bogor ke Jakarta. Mereka memegang semua data Varma lama, dan tidak memiliki satupun uang tunai yang bersih untuk memulai ulang, tetapi Atlas tahu ancaman terbesar adalah yang diculik Seroja.“Aku butuh peta keuangan Kolektif sekarang. Kita tidak melawan faksi domestik lagi, Nomar,” kata Alana, memutar tangannya di sekitar kepala Atlas. Matanya berkilauan dalam pantulan lampu jalan yang basah. Dia memaksakan kedekatan fisik saat strategis. “Aku harus mendapatkan aset Agra Varma sebesar USD 87 juta di Koperasi Laut Selatan sebelum Collective merebutnya. Mereka sudah tahu aset Agra itu penting bagi Nomar Baru.”“Mengambil aset Agra saat Collective mencurinya di markas A

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 34 - Abu dan Singgasana

    “Sesuai aturanku,” kata Alana, tangannya melingkar kuat di belakang leher Atlas, memastikan suaminya tunduk, saat Matriark Varma tanpa diduga mengaktifkan darurat ‘Fire-Exit’ di gedung mereka, memaksa Alana menyadari Matriark sedang memposisikan dirinya di atas reruntuhan yang baru mereka ciptakan.Alana tersentak. Alarm Fire-Exit itu bukan ancaman ledakan; itu kode darurat keamanan tertinggi, yang menandakan bahwa ruang itu harus dibersihkan, didukung oleh Matriark. Itu perintah politik, bukan militer. Mereka disuruh bergerak. Lagi-lagi. Seolah Alana dan Atlas hanyalah bidak catur yang diizinkan untuk membersihkan Dewan, tetapi tidak diizinkan untuk berdiam di singgasananya terlalu lama.“Kita diusir dari zona abu kita, Nareswari.” Atlas memiringkan kepala, meskipun matanya dipenuhi gairah setelah ciuman penguasaan itu, naluri pengawalnya sudah bereaksi. “Kita berhasil mengamankan Seroja dan melumpuhkan Ayah, tapi kita tidak diperbolehkan tinggal. Itu kehendak Matriark. Matriark sela

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 33 - Kursi yang Dikosongkan

    Alana mengawasi asap yang mengepul perlahan dari sudut balkon yang retak di Safe House Menteng. Satu minggu. Tujuh hari sejak ia berdiri berlumuran darah di Perpustakaan Arsip Agra Varma, berdarah dari tikaman pisau dan kepanikan Atlas mengetahui Seroja diculik. Api telah dipadamkan, bau mesiu telah menghilang, dan tukang bersih profesional sudah membersihkan sisa-sisa peluru Varma lama.Ruangan itu sekarang dihiasi karpet beludru abu-abu, meredam suara, membuat keadaan menjadi sepi dan waspada. Seminggu telah berlalu sejak perang Varma antara saudara. Julian diserahkan, identitasnya dienkripsi dan diamankan dalam kekuasaan Matriark Varma. Varma yang tidak kompeten dan mentalnya pun hancur. Agra? Hilang. Ia melarikan diri dari Jakarta, menjadi hantu tanpa dana, dikejar Matriark dan Jaringan Mafia Internasional. Mereka terkejut karena Pembongkaran BAP yang dilalukan oleh Alana. Tim Collective yang menculik Seroja kini memiliki kekuatan negosiasi, tetapi belum menang. Sedangkan Alana be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status