Share

Pikiranku

Waktu telah menunjukkan pukul 00:13 malam, ketika putriku tertidur lelap di pembaringan sedangkan aku tak sedetik mampu memejamkan mata. 

 

Berjuta pikiran berkecamuk, beribu dugaan yang akan terjadi bergelayut dan kebanyakan dugaan tentang penderitaanku di hari esok semakin membuatku terbebani. Demi Tuhan, perkara memiliki madu bukan hal yang sepele. Sudah begitu banyak aku melihat contoh wanita-wanita yang kemudian tersiksa dan terabaikan karena tiba-tiba suaminya memiliki istri baru. Anak-anak mulai terlantar dan kehilangan kasih sayang karena sang ayah menduakan perasaannya.

 

Meski suami memiliki uang yang cukup tak akan sama lagi keadaannya ketika semuanya serba di bagi, waktu, kasih sayang, dan perhatian semuanya akan dibagi.

 

Kutatap putriku yang sedang pulas, air mataku menitik lagi. Betapa ia akan kehilangan banyak hal dari sang ayah. Aku bisa membayangkan jika wanita itu hamil, dan melahirkan anak laki-laki, Mas Ikbal pasti akan sangat bangga dan bahagia. Anak laki-laki itu akan menjadi satu-satunya pewaris resmi dan sah secara agama tentara anak perempuanku dia hanya mendapatkan sepersekian dari jumlah harta Mas Iqbal pun akan lebih memperhatikan status pendidikan dan pola pengasuhan anak lelakinya. Membayangkan hal itu saja membuatku depresi terlebih jika menyaksikan itu sebagai kenyataan.

 

Begitu bayi itu lahir,  Mas Ikbal akan sangat bahagia, 

Ia akan menimangnya, menghadiahi bayi itu jutaan ciuman dan pelukan sedangkan putriku hanya akan berdiri dan melihat semua itu dari kejauhan. Dipikirkan saja,  hal itu membuat hatiku sakit.

 

Tiap pagi wanita itu akan bangun dengan rambut yang basah dan wajah merona oleh rasa bahagia dan malu membayangkan kemesraannya di peraduan, dia akan menyiapkan sarapan dan menyuapi suamiku seperti pintanya tiap pagi padaku. Kemudian suamiku akan merangkul pinggangnya dan memeluknya menggodanya bahkan mengajaknya kembali untuk memadu cinta.

 

"Ya Allah, aku tak sanggup menyaksikan semua drama itu, namun aku harus tetap di sini jika aku adalah istrinya." Aku bersendika dalam kesunyian

 

Kutekan kembali dadaku yang kian dibuncahi rasa menyesakkan. aku tak percaya jika perihnya  diduakan sesakit ini, apa yang terjadi membuatku nyaris sekarat. Membayangkan saja sudah demikian membuatku menderita apalagi itu benar-benar terjadi. Aku putus asa.

 

Kembali aku bersimpuh ke hadapan Sang Pencipta, memohon pertolongan dan keadilannya, masih kucurahkan protesku bahwa aku tak suka dan tidak mau menerima wanita itu. Aku terus bertanya berkali-kali mengajukan keberatan kepada keputusan sang pencipta mengapa dia tega mengambil suamiku menghancurkan cinta dan impian yang aku bangun.

 

Kata orang kita tak bisa menolak ketetapan takdir. Namun suamiku, ia punya hak  untuk memilih ketika mengambil keputusan itu, tidakkah ia memikirkan bahwa aku akan sengsara? Dengan dia memutuskan menikah dan membawa wanita itu ke dalam rumah ini, semuanya akan dibagi mulai hari ini. Dan yang paling sulit dikendalikan lelah rasa iri dan cemburu itu bisa dihapuskan selama seorang wanita masih memiliki cinta.

 

Ingin rasanya kukemasi semua pakaianku dan kabur sekarang juga ke rumah Bapak, tapi meninggalkan rumah tanpa ridho suami adalah dosa. Jika aku tetap nekat maka Mas Ikbal Tak akan tinggal diam, dia akan berkeras untuk menahanku tak kemana-mana dan jika aku pun berkeras kami akan bertengkar. Anakku akan shock melihat kami ribut di tengah malam sedangkan Soraya tertawa gembira dan  punya kesempatan untuk semakin mendekati mas Ikbal. Belum lagi respon tetangga yang selalu ingin tahu, suka mencampuri urusan orang lain dan menyebarkan gosip.

 

"Banyak sekali resikonya, ya Allah, Aku tak sanggup lagi." Aku meratap hingga sejadah yang aku gunakan untuk shalat tahajjud basah oleh genangan air mata ini. 

 

Kutatap wajahku di cermin, kubuka kerudung dan memperhatikan rambutku. Kuraba wajahku dan memperhatikan tiap lekuknya. Kelopak mata ini sembab, rautku pucat dengan  bibir mengering. Mungkin aku telah kehilangan pesona hingga Mas ikbal memilih untuk menikah lagi. 

 

Andai ia jujur dari awal mungkin rasa sakit ini tidak demikian menusuk mungkin aku bisa ikhlas, bersabar dan berlapang dada, mungkin aku bisa menyiapkan mental untuk mengantarnya menikah.

 

Mungkin saja ....

 

Kini, kecewa, marah, sedih, terluka, cemburu, menderita, semuanya mendera jadi satu dan seakan-akan mencekik diriku. Meski berupaya kutahan tetap saja kepiluan ini meraja dan membuatku kembali terisak-isak sedih. 

 

Sungguh suamiku,  ia telah membahagiakanku seolah menikmati surga, namun dalam sehari ia menghunjamku ke dasar neraka, ia memberiku penderitaan yang amat besar yang bahkan  aku sendiri tak sanggup memikulnya, aku membencinya, benci sekali, amat sangat.

 

Kulangkahkan kaki keluar kamar, menuju ke dapur dengan perlahan, kubuka lemari pendingin dan menuangkan segelas air, lalu kuteguk. Rasa lapar membuatku memeriksa meja makan dan kudapati makan malam masih terhidang utuh, tidak tersentuh.

 

"Apakah mereka semua tidak makan?" Aku bersenandika.

 

Kusendokkan sedikit nasi ke dalam piring lalu kuambil sepotong tempe goreng yang kusiapkan pagi tadi, masakan wanita itu tidak kusentuh, aku belum sudi untuk mengecap olahan tangannya. 

 

Dulu jika aku lapar Mas ikbal yang terbiasa lembur di malam hari akan membuatkan mie instan dengan senang hati, penuh cinta ia menyuapiku hingga makanan itu tandas. Kini, aku makan sendiri dengan nasi dan tempe dingin, suasana rumah juga mendadak beku dan seterang apapun lampu aku merasa semuanya suram dan gelap, air mataku meluncur lagi jatuh ke dalam piring nasi ini.

 

Dan ya, apa yang sedang dilakukan suamiku saat ini, apakah kamar tamu telah menjelma menjadi kamar pengantinnya, apakah kini ia sedang bergumul dalam gelora asmara. 

 

Allahu Akbar, hariku perih membayangkan Mas Ikbal berdoa pada pucuk ubun-ubunnya lalu mulai menyentuh kancing pakaian wanita itu dengan Bismillah. Lalu Kelebatan adegan adegan berikutnya menari di pelupuk mata dan membuatku gila.

 

Aku segera bangkit dari meja makan tanpa menyudahi makananku. Dengan langkah cepat aku menuju kamar tamu lalu ... baru saja akan kuketuk pintu tiba-tiba rasa ragu membuatku mundur.

 

"Tidak, aku tak boleh seperti ini, wanita itu adalah istrinya suamiku, artinya ia punya hak yang sama."

 

Perlahan kuseret langkah menuju ruang keluarga di mana kami dulu berkumpul untuk berbagi kehangatan dalam canda dan tawa. Kujatuhkan diriku di depan meja tivi, kupeluk lututku sendiri sambil membenamkan wajah agar tangis ini tidak terdengar kemana-mana. 

 

Kutatap photo yang tergantung indah di dinding, photo pernikahan kami, photo kami juga sekeluarga dengan senyum bahagia. Kini, dinding ini tak akan hanya dipenuhi photo pernikahanku, tapi photo pernikahan Soraya juga.

 

 

Aku sakit, sakit sekali. Bahkan jarum jam yang berdetak menunjukkan malam merangkak larut tak membuatku tergugah untuk bangkit menuju pembaringan dan membawa diri terlelap dalam mimpi.

 

 

 

Jangan lupa vote bintang lima ya.❤️❤️❤️

 

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Rinawati Harsyah
ngakunya alim kok mau menyakiti sesama perempuan
goodnovel comment avatar
Ananda Dea
Cewek bodoh dan tolol cm ada di novel dan sinetron. Dizolimi diam doang tanpa ada rencana balas dendam
goodnovel comment avatar
Hersa Hersa
muakkk dehhh ama perempuan bodoh yg mau aja dizholimi kek gini, tolol !!!
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status