تسجيل الدخولCahaya pagi menembus kaca antipeluru *penthouse*, menyinari pecahan kristal dari lampu yang pecah semalam. Nadine baru saja mengikat tali jubah mandinya ketika pintu ganda ruangan itu diketuk dengan ritme darurat. "Masuk, Victor," suara bariton Nathan menggema dari arah bar mini. Pria itu sedang menuangkan *espresso* ganda, bertelanjang dada dengan celana bahan hitam yang melekat pas. Pintu terbuka. Victor, kepala keamanan bertubuh raksasa itu, melangkah masuk dengan setelan berantakan dan darah mengering di pelipisnya. Tangannya tidak membawa kepala manusia seperti yang Nathan minta semalam. Ia membawa sebuah kotak beludru hitam. "Di mana kepala bajingan itu?" tanya Nathan dingin, matanya menajam. "Maafkan saya, Tuan. Kami terlambat," Victor menunduk dalam. "Penembak jitu itu sudah mati saat kami tiba di atap seberang. Diracun dengan sianida murni." "Lalu apa yang ada di dalam kotak itu?" sahut Nadine. Ia melangkah maju, berdiri bersisian dengan suaminya. Victor membuka kotak
Suasana damai di depan cermin itu mendadak pecah oleh satu bunyi dengingan yang sangat pelan, namun mematikan. *Bip.* Sebuah titik merah sekecil ujung jarum menari di atas pantulan cermin, tepat menyasar dada Nadine. "Menunduk!" bisik Nathan tajam, suaranya berubah dari beludru hangat menjadi bilah pedang. Dalam hitungan sepersekian detik, lampu utama padam seketika seiring jentikan keras jari Nathan pada panel pintar di meja rias. Gelap gulita menelan mereka. Tubuh besar Nathan langsung menerjang, menindih Nadine di atas karpet tebal dan melindunginya secara total dari arah jendela. "Penembak jitu?" tanya Nadine. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. Alih-alih panik, ada nada antusiasme yang gelap dan berani di sana. "Gedung seberang. Arah jam tiga," jawab Nathan cepat, matanya memindai kegelapan. "Sepertinya sisa-sisa loyalis ayahmu yang tidak terima dengan pemecatan massal tadi siang." "Amatir," desis Nadine meremehkan. "Mereka mengirim penembak jitu ke *penthouse* dengan kaca
Uap hangat mengepul perlahan di dalam kamar mandi berlapis marmer hitam itu. Wangi *lavender* dan *chamomile* seketika meredakan ketegangan di bahu Nadine. Lampu ruangan sengaja diredupkan, menyisakan pendar keemasan dari lilin-lilin aromaterapi yang berbaris di tepi *bathtub*. "Berputarlah sedikit," pinta Nathan pelan. Nadine menurut. Ia memunggungi suaminya, membiarkan jemari lincah Nathan menarik ritsleting tersembunyi di punggung gaunnya. "Gaun ini harganya setara dengan pulau pribadi, tapi aku sangat membencinya saat ini," keluh Nadine sambil menghela napas panjang. "Besok kita bakar saja," balas Nathan santai, membantu meloloskan kain berat itu dari bahu istrinya. "Atau kita jadikan keset di lobi kantor utama Aaron Corp. Pasti akan jadi karya seni kontemporer yang menarik." Nadine tertawa lepas. "Kau mulai terdengar gila, Sayang." "Gila karena terlalu mencintaimu? Aku terima tuduhan itu." Gaun seberat belasan kilogram itu akhirnya merosot ke lantai pualam. Nathan menuntun
Pesta perlahan mencapai puncak kebosanannya. Di tengah riuhnya denting gelas dan tawa artifisial, Nathan mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Nadine yang langsung membuat wanita itu tersenyum tipis. "Bosan, Nyonya Aaron?" tanya Nathan, suaranya pelan menyapu telinga Nadine. "Sangat," desah Nadine. "Topeng-topeng mereka mulai membuatku muak. Udara di sini terasa beracun." "Kalau begitu, mari kita tinggalkan sirkus ini. Singgasananya bisa menunggu besok." Tanpa pamit pada para tamu elit yang masih sibuk mencari muka, Nathan menggandeng tangan Nadine, membawanya keluar melalui pintu rahasia menuju *penthouse* eksklusif di lantai teratas hotel. Pintu kayu mahoni berdebum pelan tertutup di belakang mereka, memutus seluruh kebisingan dunia luar dan menyisakan kesunyian yang damai. "Akhirnya, udara bersih," ucap Nadine sambil menghela napas panjang. "Duduklah di sofa," titah Nathan dengan nada lembut yang tak pernah didengar oleh siapa pun selain Nadine. "Gaunku terl
Satu bulan kemudian. Gereja Katedral berasitektur *Gothic* di pusat kota itu telah disulap menjadi lautan mawar putih dan kristal. Ribuan tamu undangan elit dari berbagai belahan dunia hadir, menahan napas saat organ pipa raksasa mulai mengalunkan denting sakral *Wedding March*. Pintu kayu ek berukir setinggi empat meter itu terbuka perlahan. Cahaya matahari menyusup masuk, menyorot sesosok siluet anggun yang berdiri di ambang pintu. Nadine melangkah memasuki lorong altar. Gaun pengantin rancangan desainer eksklusif Paris menjuntai menyapu lantai pualam, dihiasi ribuan berlian yang berkilau di bawah lampu gantung raksasa. Wajahnya tertutup kerudung *tulle* tipis, namun semua orang yang memandangnya bisa merasakan aura yang menguar dari wanita itu. Bukan lagi aura seorang gadis polos yang sedang berbahagia, melainkan aura dingin yang tajam dan tak tersentuh. Di ujung altar, Nathan berdiri dengan setelan tuxedo putih yang kontras dengan jiwa kelamnya. Tatapan matanya yang tajam me
Nadine memejamkan mata. Bayangan ayahnya yang diborgol polisi, dan wajah Bara yang hancur berlumuran darah melintas silih berganti di benaknya. Tangannya yang sedingin es perlahan terulur, meraih telinga cangkir porselen dengan jari-jari yang bergetar hebat. Di bawah tatapan Nathan yang memancarkan kepuasan iblis, dan diiringi suara tersedak Clara serta Bianca, Nadine menyesap tehnya. Rasanya pahit, sepahit empedu, sepahit takdirnya. "Gadis pintar," puji Nathan, mengecup singkat pipi Nadine yang basah oleh air mata. Pria itu kemudian berdiri tegak, merapikan kancing jasnya, lalu memberi isyarat pada para pengawal. "Bawa mereka ke paviliun timur. Panggilkan perias dan penata busana. Clara harus terlihat sempurna untuk makan malam pertamanya dengan Senator Hartono besok malam. Dan untuk Bianca... pastikan dia belajar bahasa Rusia dasar sebelum akhir pekan ini." "Nadine! Tolong kami, Nadine!" jerit Bianca saat tubuhnya diseret paksa keluar dari ruangan. "Tolong aku! Bunuh saja aku, N
T-tidak, Kak. Aku… aku bisa tidur sendiri." Suara Sherry terdengar canggung, terlalu cepat, terlalu gugup. Aaron yang sejak tadi berdiri di ambang pintu langsung terdiam. Ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras sedikit, lalu tatapannya meredup. "Oh… begitu," sahutnya, nada suaranya pelan. Terlal
"T-tidak mungkin! Kenapa aku... kenapa aku mimpi bercinta dengan kak Aaron?!"Sherry mengacak rambutnya sendiri, merasa malu dan bingung. Mimpi itu. Mimpi itu terasa begitu nyata. Ia masih dapat merasakan sentuhan Aaron di kulitnya, ciumannya di lehernya, bisikannya di telinganya, bahkan—sensasi
“Kemauanmu sendiri?!” Suara Aaron hampir meledak ketika mendengar jawaban Sherry. Ia tidak terbiasa melihat gadis yang biasanya penurut itu kini berani membantah. “Atas izin siapa kamu keluar rumah selarut ini?” Nada suaranya meninggi, tajam, penuh tekanan. Namun Sherry menjawab dengan tenang, n
Langkah kaki ibu semakin dekat. Kami segera berpaling, berpura-pura sibuk dengan hal masing-masing—dua orang yang baru saja membuktikan bahwa perasaan mereka jauh lebih dalam dari yang ingin mereka akui. “Kamu belum istirahat?” tanyanya, sedikit mengerutkan kening. Aku berdiri refleks. “Belu







