เข้าสู่ระบบNyonya Cleda nyengir. Tapi senyum itu tampak tak bahagia, justru membuat Renata merinding."Julian sering cerita soal kamu.""Julian?" Renata tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Maksudmu Julian cooper atau Julian yang mana?""Itu... Yang memakai nama belakang, Cooper. Sebelum mereka---" Nyonya Cleda berhenti. Matanya liar ke arah pintu, dia seperti was-was.Mata Renata membulat seperti kelereng. Jantungnya berdetak sangat kencang saat Nyonya Cleda menyebutkan nama suaminya. Itu tidak mungkin sebuah kebetulan. Pasti ada sesuatu yang tidak diketahui selama ini.Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Ada hubungan apa Julian dengan Nyonya Cleda? Siapa Nyonya Cleda sebenarnya? Mungkinkah Julian menyembunyikan sesuatu darinya? Ya, dia harus tahu. Bagaimana caranya dia harus mengetahuinya, itu hanya bisa lewat Nyonya Cleda sendiri."Sebelum apa?" Renata menahan napas saat menunggu kelanjutannya. Dia bertanya sangat hati-hati agar wanita paruh baya itu mau memberitahu."Sebelum mereka
Hari itu Renata harus mengambil laporan hasil test darah neneknya di bagian laboratorium di rumah sakit. Lorong menuju laboratorium harus melewati area IGD. Renata sudah hafal jalan itu karena belakangan sering bolak-balik semenjak Ruth kontrol. Suasana rumah sakit selalu punya bau yang khas. Campuran antiseptik, lantai yang dipel disinfektan.Tetapi pagi ini ada yang berbeda. Dari kejauhan, Renata mendengar suara roda brankar berderit cepat di atas lantai keramik putih. Suara napas terengah-engah dari paramedis yang mendorong. Renata menoleh, entah kenapa dia tak pernah seterlalu penasaran dengan pasien di atas brankar itu?Seorang wanita paruh baya terbaring di atas brankar yang meluncur cepat menuju pintu ruang IGD. Rambut hitamnya berkibar acak, basah oleh keringat. Wajahnya terlihat pucat seperti kertas HVS. Tapi bukan itu yang membuat Renata bergidik. Kedua tangan wanita itu diikat ke sisi ranjang. Bukan memakai tali medis biasa, melainkan semacam strap lebar warna hitam
Klik, klak, klik, klak!Sepatu hak pendek Renata bergema pelan di lantai marmer. Lobi Rumah Sakit Jiwa itu ternyata elegan, tidak seram seperti bayangannya. Ada sofa putih, meja resepsionis dengan vas bunga segar. Bahkan musik instrumental pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Tapi ….Brak!!Suara pintu darurat di ujung lorong terbanting kasar. Teriakan menggema seperti bom yang meledak, keras.“Hey, jangan lari. Berhenti!”“Aku bilang berhenti!”Langkah kaki berat berlari seperti gempa. Renata cuma sempat menengok ke kiri sebelum dua sosok perawat laki-laki berpakaian seragam biru tua mengejar seseorang yang melesat seperti anak panah. Renata melihat sedikit pasien laki-laki itu yang rambutnya acak-acakan. Matanya liar, mengenakan jubah putih pasien yang berkibar-kibar ia melaju langsung ke arah dirinya. “Bu—!”Hampir. Tubuh Renata sudah oleng ke belakang, bersiap nyungsep ke lantai marmer yang dingin itu dengan tangan otomatis mengayun ke depan untuk menahan benturanNamun
Tubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g
Julian seketika bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dingin, wanita penggoda itu sampai ketakutan.“Aku tidak tertarik sedikitpun dengan hadiah yang kalian tawarkan!” geram pria itu mengepak jasnya sebagai ancaman, menyoroti tajam dengan matanya yang seperti mesin pemotong itu. “Tujuanku datang ke sini karena kau menyebutkan soal komite. Tapi jika ini yang kalian sebut sebagai strategi politik, menyuap dengan seks dan alkohol. Kalian salah besar. Aku keluar!!”Salah satu anggota dewan, seorang pria gemuk bernama Sterling tampak menyeringai sinis begitu Julian yang pergi lewat di depannya. “Jangan sok suci, Julian! Semua orang di ruagan ini bermain dengan aturan yang sama. Kami menawarkan kau kursi di Komite Infrastruktur yang posisinya strategis. Banyak uang mengalir di sana. Tapi sebagai gantinya, kami hanya meminta satu hal kecil padamu.”Sudut bibir Julian terangk
Wajah Renata langsung memanas. Rasa malu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata untuk membela diri di depan neneknya.Renata sulit menjelaskan sesuatu yang menariknya kali ini pada Julian. Bagaimana cara pria itu mengendalikan ribuan orang dengan hanya suara dan logika, tapi sudah membuatnya terlihat begitu ... berbahaya dan menonjol?"Rene," panggil Ruth karena Renata terus bergeming dan memilin jarinya dengan kuat."Tidak apa-apa. Minumlah jusnya," suruh Renata yang tampak salah tingkah."Oh, ya?" Ruth masih tak percaya."Aku... Aku hanya tak menyangka dia punya kemampuan berbicara yang luar biasa, Ruth, " bual Renata canggung, mengalihkan pandangan ke gelas jus stroberinya yang mulai mencair. "Itu saja."Jus yang diminumnya sedikit mendadak bikin serik di tenggorokannya. Renata tak nyaman dengan kondisi itu, ia sampai terburu-buru pergi dan menabra
"Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti
Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur d
“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangann
Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Rat







