LOGINMalam itu, Eng Hwa mengeluarkan sesuatu dari lemari kecil di sudut kamar. Bukan pakaian. Bukan perhiasan. Bukan uang.Kertas jimat.Choa Hok melongo.Bukan warna kuning—kayak jimat kebanyakan orang. Bukan warna putih—kayak jimat untuk orang mati. Apalagi merah—kayak jimat untuk pernikahan atau penolak bala versi pasar.Kertas jimat warna hijau muda. Warna jimat paling gak normal di 9 benua. Warna yang hanya dia lihat sekali—dalam berkas investigasi 5 klan gelap dulu. Jimat dari klan Hui.Choa Hok menelan ludah. Matanya mengikuti setiap gerakan Eng Hwa.Eng Hwa duduk bersila di lantai. Kertas hijau muda dibentangkan di depannya. Empat lembar. Berjajar rapi. Di setiap sudut kertas, ada gambar ular melingkar—sama persis dengan ukiran di Mustika Kwee.Dia merapal mantra. Suaranya pelan, tidak jelas. Bahasanya tidak jelas—bukan Hokkien, bukan Mandarin, bukan bahasa Cia Agung. Mungkin bahasa kuno, bahasa leluhur, atau bahasa yang sengaja dibuat supaya tidak dipahami orang banyak.Tangan Eng
Malam itu, Choa Hok menuntaskan ritual hari itu. Kurang dua malam lagi. Dua malam sebelum Kaisar dikremasi. Dua malam sebelum semua berakhir—atau baru saja dimulai.Dia mandi. Bukan mandi biasa. Tapi mandi setelah prosesi panjang. Setelah berdiri berjam-jam di samping peti mati. Setelah mendengar doa-doa yang hampa di telinganya.Sabun mawar habis.Sabun jeruk kayu manis favoritnya habis.Tinggal sabun jahe dan daun sirih.Choa Hok menghela napas. Mengambil sabun itu. Mencuci badan. Bau jahe pedas, menusuk hidung. Bau sirih sepat, tajam. Campurannya aneh. Tapi dari pada enggak sabunan.Hatinya jengkel.Bukan karena sabun. Tapi karena segala sesuatu.Kematian Kaisar terasa wajar—tua, sakit, serangan jantung, tabib sudah berusaha. Tapi terasa tidak wajar—mendadak, tanpa peringatan, tanpa penyebab yang jelas.Choa Hok mengusap muka. Air mengalir di dagunya.Sering dia tangani kasus-kasus seperti ini. Di intelijen, ada banyak kematian tanpa penyebab jelas. Pejabat meninggal di kamar terku
Lima hari sudah Choa Hok menyelinap. Bukan di medan perang. Bukan di hutan belantara. Tapi di istana—di antara duka dan kain putih, di antara tangisan palsu dan wajah-wajah yang tidak bisa dia percaya.Dia menyelidiki kematian Kaisar. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Tanpa izin. Tanpa surat perintah.Tidak ada bukti.Tidak ada racun di sisa makanan Kaisar. Tidak ada saksi yang melihat orang asing masuk kamar. Tidak ada alat bukti yang mencurigakan—tidak ada, tidak ada, tidak ada.Setiap hari, setelah prosesi berduka selesai, Choa Hok memeriksa kamar Kaisar. Sendirian. Memeriksa bantal, memeriksa seprai, memeriksa lantai, memeriksa langit-langit. Memeriksa tempat tidur, lemari, meja, kursi. Memeriksa bahkan tempat sampah.Tidak ada.Tidak ada.Tidak ada.Hari kelima, dia sumpek. Frustrasi. Kepalanya pusing. Matanya perih. Pelipisnya berdenyut terus-menerus.Dia pergi ke perpustakaan kerajaan. Bukan perpustakaan biasa—perpustakaan tua, dibangun sejak zaman kakek-kakek Kaisar. R
Malam itu, Choa Hok tidak bisa tidur. Bukan karena Bun Kiat rewel. Bukan karena Eng Hwa yang hamil lagi. Tapi karena perasaan tidak enak yang sudah menggelayut sejak sore. Mendadak dan tiba-tiba.Dia berbaring di dipan. Mata merah menatap langit-langit—kayu biasa, retak di ujung, sudah diperbaiki, tapi bekasnya masih ada. Lampu minyak di sampingnya mulai redup. Hampir mati.Eng Hwa sudah tidur. Satu jam yang lalu. Napasnya teratur. Tangannya memegang perut—perut yang mulai membuncit, tempat adik Bun Kiat tumbuh.Choa Hok memejamkan mata.Tidak bisa tidur.Tidak bisa.---Tiba-tiba— angin dingin. Bukan angin dari jendela. Jendela tertutup rapat, pintu terkunci, tapi angin itu ada. Dingin. Berembus di tengkuk, di punggung, di ubun-ubun.Choa Hok mendengar suara.“Hok… Hok-A…” seru suara parau itu. Serak. Kayak orang yang kelelahan atau kesakitan. Tapi familiar. Terlalu familiar.Choa Hok membuka mata.Di depannya— bayangan. Samar. Tapi jelas: Kaisar.Bukan Kaisar dengan jubah emas. Buka
Setahun sudah. Libur Choa Hok habis. Tapi kekacauan yang dia ciptakan—tanpa sengaja—masih terus berlanjut. Choa Hok melihat kalender dan ogah ke istana.Di Istana Yo Lan menggendong anaknya sambil menatap tembok rahasia. Diberi garis-garis. Dia akan bisa menemui Choa Hok lagi. Seperti biasa, alasan nanya gerakan Selir dan Mentri di bagian Intelijen. Hatinya cinta pada Choa Hok. Sakit. Tapi ada lega karena Choa Hok bisa punya anak. Walaupun tetap nyeri nyut-nyutan karena bukan dia yang melahirkan bayi itu, tapi Eng Hwa, sepupunya yang paling dia sayang.Undang-undang perkawinan janda akhirnya disahkan. Sidang Mentri Cia Agung, setelah debat panas selama berminggu-minggu, menyetujui rancangan Permaisuri. Isinya: hukuman berat bagi siapa pun yang menyebarkan gosip atau menentang perkawinan janda dengan pria yang legitim. Masyarakat tidak bisa semena-mena lagi. Gosip masih jalan di belakang, tapi secara hukum, kalo ketahuan, berat.Choa Hok membaca berita itu dari koran istana. Tersenyum.
Di ruang tamu rumah warisan Tan, suasana hangat tapi tegang. Bukan tegang karena marah. Tapi tegang karena harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu.Choa Hok duduk di kursi ruang tamu. Di depannya, Choa Liem—adik sepupu, tabib muda lulusan akademi militer, spesialis meridian anak. Tangannya meraba pergelangan tangan bayi mungil yang digendong Eng Hwa. Bayi itu—Bun Kiat, ide gabungan dari Choa Hok dan Eng Hwa masih merengek habis jatuh. Bayi itu seolah-olah mengadu manja pada dunia. Mata besar menatap langit-langit. Kadang tersenyum sendiri. Kadang kecup jari-jari kecilnya.Choa Liem memejamkan mata. Jari-jarinya bergerak pelan. Meraba aliran chi—atau bekas aliran chi—di dalam tubuh mungil itu.Lama.Lalu dia membuka mata. Wajahnya sepet. Cuma bisa merem, melek—kayak orang yang gak percaya dengan temuan sendiri.“Ga bisa, Ko!” suaranya pelan, tapi tegas. “Meridian gini belajar pake senjata aja tin thang (berat). Apa lagi pake chi."Choa Hok terdiam. Kepalanya nunduk. Pelipisnya ber
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b
Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj
Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am
Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berke







