ANMELDEN“Kau sadar jika badanmu bergetar seperti tupai kecil yang ketakutan?”
Suara Silas tetap datar, tanpa nada mengejek ataupun iba.
Hanaya perlahan membuka matanya.
Jemarinya masih terasa berdenyut. Setetes darah mengalir dari sela jari telunjuknya, jatuh ke lantai marmer hitam yang mengilap, membentuk titik merah kecil yang begitu mencolok.
"Saya minta maaf, Tuan."
Ia bahkan tidak tahu untuk apa ia meminta maaf. Mungkin karena terlalu lambat. Mungkin karena darahnya mengotori lantai. Atau mungkin hanya karena keberadaannya memang terasa seperti sebuah kesalahan.
Silas melirik noda darah itu sekilas. "Lantai itu lebih mahal daripada rumah yang kau tinggali."
Jantung Hanaya mencelos.
"Ya saya sadar, karena itu saya minta maaf tuan."
"Lalu kenapa kau masih membiarkannya kotor?"
Hanaya buru-buru menyeka darah itu menggunakan ujung lengan bajunya. Ia menggosok marmer hingga benar-benar bersih meski luka di tangannya semakin terbuka.
Silas memperhatikannya tanpa ekspresi.
"Ken."
"Ya, Tuan."
"Bawakan kotak P3K."
Hanaya terdiam.
Ia sempat mengira pria itu meminta kotak obat untuknya.
Namun detik berikutnya, Silas kembali berbicara.
"Jangan sampai darahnya merusak karpet."
Langkahnya mantap, suaranya tenang, seolah adegan menginjak tangan gadis baru di tengah foyer mewah itu hanyalah rutinitas pagi. Hanaya melihat kepergiannya, mencoba menghirup napas lega yang tertunda.
Ken, setelah menyaksikan tuannya menghilang, segera bergegas mendekati Hanaya. Wajahnya tidak lagi dingin, tetapi terlihat panik yang terkontrol—panik karena potensi kerusakan barang berharga.
Ken mengangguk, fokusnya sepenuhnya pada tangan Hanaya. Ia membuka kotak P3K dan mengeluarkan sarung tangan lateks medis, mengenakannya dengan gerakan cepat dan cekatan.
“Duduk di sini,” perintah Ken, menunjuk sofa beludru terdekat yang untungnya tidak terkena pecahan kaca.
Hanaya menurut. Ken membersihkan lukanya. Cairan antiseptik yang dingin itu membakar luka Hanaya. Hanaya menggigit bibir, menahan suara sakit.
“Jangan coba-coba menahan rasa sakit di depanku,” desis Ken. “Aku bukan Tuan Silas. Aku masih memiliki rasa kemanusiaan.”
Hanaya sedikit terkejut mendengar kalimat itu.
Perlahan ia mengangkat pandangan, menatap wajah Ken untuk pertama kalinya tanpa rasa takut yang berlebihan. Pria itu tetap memasang ekspresi datar, tetapi gerakannya sangat hati-hati saat mengeluarkan serpihan kaca kecil yang masih menancap di telapak tangannya.
"Maaf..." gumam Hanaya pelan.
"Kau meminta maaf lagi."
Hanaya terdiam “Aku tidak tahu mengapa, tapi kata maaf seperti menempel dan wajib aku ucapkan”
Ken menghela napas pendek. "Kalau setiap lima menit kau minta maaf, lama-lama kata itu tidak ada harganya."
Ia mengambil pinset steril, lalu mengangkat serpihan kaca terakhir. Hanaya refleks menarik napas tajam.
"Nah. Yang ini memang sakit."
Setelah memastikan tidak ada lagi serpihan kaca yang tertinggal, Ken mengoleskan salep antibiotik tipis sebelum membalut telapak tangan Hanaya dengan perban putih yang rapi.
"Sudah."
Hanaya memandangi balutan itu.
Rasanya aneh.
Baru beberapa menit lalu tangan yang sama diinjak tanpa belas kasihan, sekarang dirawat dengan begitu teliti.
"Terima kasih..."
Ken menutup kotak P3K. "Jangan berterima kasih padaku."
Hanaya mengerutkan dahi.
"Ini bagian dari pekerjaanku." Ia melepas sarung tangan lateks, membuangnya ke tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan.
"Lagipula..." Ken berhenti sejenak. "...kalau tanganmu sampai infeksi, yang dimarahi juga aku."
Hanaya berkedip. Jadi bahkan kebaikan yang diterimanya tetap berhubungan dengan kepentingan Silas.
Ken berdiri dan menatap Hanaya dengan sorot mata yang jauh lebih serius. "Dengarkan aku baik-baik."
Hanaya langsung duduk tegak.
"Apa yang terjadi barusan..." Ken melirik ke arah koridor tempat Silas menghilang. "...jangan pernah kau anggap sebagai hukuman."
Hanaya mengernyit bingung.
"Lalu apa?"
"Itu ujian."
"Ujian?"
Ken mengangguk.
"Tuan Silas selalu menguji orang baru."
"Menguji... dengan menginjak tangan mereka?"
"Tidak selalu seperti itu."
"Lalu?"
"Tergantung suasana hati beliau. Tapi yang terpenting, kau lulus dengan ujiannya”
“Maksudmu?” Tanya Hanaya tak mengerti
Ken tersenyum tipis “Ayo ikut aku” ucapnya
Ken berbalik tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Hanaya hanya bisa mengikuti dari belakang, masih memegangi tangan kirinya yang telah dibalut perban putih.
Mereka menyusuri loridor panjang yang diterangi lampu-lampu tersembunyi di sepanjang langit-langit. Setiap beberapa meter terdapat lukisan abstrak bernilai fantastis, sementara dinding kaca di sisi kanan memperlihatkan panorama kota yang mulai diselimuti malam.
Keheningan terasa begitu pekat.
Hanaya bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri.
Di ujung lorong, Ken berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam matte tanpa gagang.
Ia menempelkan telapak tangannya pada panel biometrik di samping pintu.
Beep.
Pintu terbuka perlahan.
"Masuk."
Hanaya melangkah ragu. Tetapi, begitu memasuki ruangan, ia langsung terpaku.
Seluruh dinding bagian belakang dipenuhi rak buku dari lantai hingga langit-langit. Ribuan buku berjajar rapi, diselingi berkas-berkas yang tersimpan dalam map kulit hitam.
Di sisi lain terdapat layar digital raksasa yang menampilkan grafik pasar saham dari berbagai negara, berita ekonomi dunia, serta beberapa kamera keamanan yang memperlihatkan berbagai sudut gedung.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja panjang dari kayu hitam mengilap.
Di balik meja itu...
Silas sudah duduk.
Ia berganti posisi secepat kilat tanpa Hanaya menyadarinya.
Jas hitam tipis kini telah menutupi kemeja sutranya, membuat auranya semakin dingin.
Tatapannya tidak tertuju kepada Hanaya.
Ia sedang membaca beberapa dokumen sambil memegang pena perak
“Duduk.” Silas memberi perintah tanpa menatap Hanaya.
Hanaya mendongak, bingung. Ia menoleh sebentar pada Ken, mencari kepastian. Ken hanya mengangguk singkat. Dengan gugup, Hanaya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang Tuan.
Punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di atas paha sedangkan tas kecilnya, ia biarkan tergeletak di lantai dekat kakinya. Postur yang layak untuk seseorang yang akan melakukan interview kerja.
“Nama?” Silas berucap tanpa menatap lawan bicaranya
“Hanaya Eloksa” jawab Hanaya
“Umur?”
“Tahun ini saya berusia 22 tahun” Hanaya kembali menjawab dengan tenang.
Diam-diam Ken menghela napas lega, bolehkah dia berharap Hanaya dapat menjadi pelayan Silas dengan baik. Melihat tindakan perempuan itu yang sepertinya serius bekerja, membuat Ken jadi berharap banyak.
Mata Ken melirik sang Tuan yang berdiri di depan jendela. Baru setelah hening cukup lama, ia kembali berbicara.
“Aku tidak suka pelayan yang berisik. Jangan banyak bicara kecuali ditanya. Dan yang terpenting—” ia akhirnya berbalik, tatapannya biru menusuk langsung ke arah Hanaya, membuat napasnya tercekat. “—jangan pernah mengusikku.”
Hanaya mengangguk cepat. “Baik Tuan” jawabnya
Silas nampak puas, dia menatap Ken “Jelaskan tugasnya” Titahnya
Ken mengangguk lalu menambahkan, suaranya lebih praktis. “Tugasmu sederhana, Hanaya. Bersihkan penthouse ini setiap hari, kau hanya perlu mengatur robot pembersih untuk melakukannya atau jika kau rasa kurang, kau bisa membersihkannya secara manual. Selain itu kau juga harus menyiapkan kopi jika Tuan memintanya, dan serahkan pakaian untuk di loundry setiap hari selasa. Kau tidak perlu memasak makanan utama, ada chef khusus yang datang setiap hari. Mengerti?”
Hanaya kembali mengangguk, kali ini lebih mantap. Pekerjannya jauh lebih sederhana dari yang Hanaya pikirkan.
Silas menatapnya lama, seolah sedang menilai sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Lalu ia berjalan melewatinya, aroma cologne maskulin yang kuat menusuk indera Hanaya saat tubuh pria itu melintas begitu dekat.
“Ken.” Silas berhenti di ambang pintu ruangan lain. “Pastikan dia tahu tugasnya. Aku tidak ingin dia bertingkah seperti pelayan sebelumnya.”
“Baik, Tuan.” Ken membungkuk singkat.
Pintu tertutup di belakang Silas dan Hanaya langsung menghela napas lega. Setidaknya dia bisa tenang untuk sesaat.
“Ikuti aku” Ken berdiri. Ia berjalan tanpa menoleh, langkahnya cepat dan pasti. Hanaya hampir setengah berlari di belakangnya agar tidak tertinggal.
“Kau akan tinggal di sini” ujar Ken akhirnya setelah berhenti di sebuah pintu di ujung lorong. Tangannya membuka pintu tanpa ragu, memperlihatkan sebuah kamar sederhana namun tetap terasa nyaman bagi Hanaya.
Ruangan itu hampir sama seperti kamarnya dulu. Ada ranjang berlapis seprai putih bersih yang besar, sebuah lemari kayu mengilap, meja kecil, dan jendela besar dengan tirai tebal yang menutupi sebagian cahaya neon kota.
“Ini kamarmu.” Ucap Ken
Hanaya melangkah masuk dengan hati-hati
“Di ujung sana kamar Tuan Silas” Tunjuk Ken pada sebuah pintu yang cukup jauh dari kamarnya. “Jangan pernah masuk ke kamar Tuan Silas tanpa izin. Jangan pula berkeliaran di area pribadinya. Intinya jangan terlihat seperti kau menggodanya” jelas Ken datar, nada suaranya tegas namun bukan tanpa peringatan tersembunyi.
“Baik, aku mengerti” Jawab Hanaya mantap.
Ken menoleh, menatap gadis itu lama, seolah ingin memastikan perintahnya benar-benar tertanam dalam kepalanya. “Kau hanya perlu melakukan pekerjaanmu. Bersihkan, layani, dan jangan banyak bicara. Semakin sedikit ia menyadari keberadaanmu, semakin aman posisimu.”
Hanaya mengangguk cepat. “Baik, Ken…”
Ken mendesah kecil, lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun sebelum menutup pintu, ia menambahkan, “Besok pagi, aku akan memberitahumu aturan kerja lebih rinci. Malam ini, beristirahatlah. Kau akan segera tahu sendiri seperti apa pria yang menjadi tuanmu.”
Matahari pagi Italia menyambut dengan hangat, memancarkan sinar keemasan yang memantul indah di atas permukaan laut Tyrrhenian. Udara segar Amalfi yang bercampur aroma laut dan kebun jeruk lemon bertiup lembut menerpa balkon utama vila yang menghadap langsung ke tebing curam.Di meja makan kayu berukir klasik, hidangan sarapan mewah bernuansa Mediterania sudah tertata rapi, buah-buahan segar, roti croissant yang hangat, keju lokal, serta dua cangkir espresso yang masih mengepulkan uap tipis.Silas duduk santai di kursi utama dengan gaya dominan yang alami. Ia mengenakan kemeja linen putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana santai berwarna cream. Satu tangannya memegang cangkir kopi, sementara tangan lainnya tak pernah lepas merengkuh jemari Hanaya yang duduk di sebelahnya.Hanaya, yang tampak anggun dalam balutan dress musim panas berwarna pastel, baru saja hendak menyuap potongan buah ketika derap langkah kaki pelayan mendekat dari arah pintu
"Biar saya yang ambilkan ke dapur. Anda tidak perlu repot-repot berjalan di koridor dingin ini sendirian di larut malam... apalagi dengan pakaian seindah ini" jawabnya seraya melangkah mendekat, mengikis jarak hingga tinggal dua langkah dari Hanaya. Senyum tipis yang berani terukir di bibirnya.Hanaya semakin merasa tidak nyaman. Ia menatap pelayan pria itu dengan jarak yang terlalu dekat, lalu memberanikan diri bertanya untuk menegaskan batasan"Maaf, tapi kenapa kamu masih disini?""Ini memang tugas saya, Signora" jawabnya halus dengan nada rendah yang terkesan intim. Tatapan matanya yang intens menyapu leher hingga gaun tidur satin champagne yang dikenakan Hanaya. "Saya pelayan pribadi yang bertugas di area utama vila ini."Hanaya mengambil satu langkah mundur, memasang raut wajah dingin untuk menyembunyikan rasa canggung dan kecemasannya."Oh ya... kalau begitu jangan pedulikan aku. Aku bisa mengambil air minum sendiri. Sebaiknya kau kembali ke
Deru angin laut Tyrrhenian menyapu lembut helai-helai rambut Hanaya saat mobil convertible antik yang mereka kendarai meliuk manis di sepanjang tebing Amalfi Coast.Di sebelahnya, Silas memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas menggenggam jemari Hanaya di atas paha, menautkan jemari mereka seolah tak ingin terpisah walau seincipun.Pemandangan laut biru membentang tanpa batas, berpadu dengan rumah-rumah bergaya Mediterania yang menempel indah di tebing karang. Suntingan sinar matahari sore Italia memberi kilau keemasan pada wajah Hanaya.Silas melirik istrinya sebentar, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan dominasi sekaligus kelembutan. "Suka pemandangannya?”Hanaya menoleh, menatap garis rahang tegas suaminya yang selalu berhasil membuat dadanya berdebar liar."Sangat suka, Silas. Tempat ini... seperti mimpi.""Ini bukan mimpi" bisik Silas seraya mengangkat tangan Hanaya ke bibirnya,
Ruang kamar utama dipenuhi oleh koper bernuansa leather yang telah terbuka di atas walk-in closet.Hanaya berdiri di depan lemari pakaian, memilih gaun kasmir longgar, pakaian pantai berbahan linen lembut, serta beberapa pakaian hangat untuk menghadapi udara malam di pesisir Italia. Sesekali, ia mengangkat sehelai pakaian, memeriksa bahannya, kemudian melipatnya dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam koper.Rona bahagia tak pernah lepas dari wajahnya. Perjalanan ke Amalfi Coast merupakan sesuatu yang telah lama dinantikannya, terlebih karena kali ini ia akan menikmati waktu bersama Silas tanpa harus terus-menerus memikirkan pekerjaan atau urusan perusahaan pria itu.“Apa sesenang itu bulan madu?” Tanya SilasPria itu bersandar di bingkai pintu walk-in closet dengan kedua tangan terbenam di saku celananya, memperhatikan setiap gerak-gerik sang istri. Matanya tak pernah lepas dari lekuk tubuh Hanaya dan baby bump yang membuncit indah di
Hanaya menyuapkan potongan pancake blueberry hangat ke dalam mulutnya. Rasa manis organik sirup mapel berpadu sempurna dengan kelembutan adonan buatan Robert yang meleleh di lidah, seketika menerbitkan senyum puas di wajah cantiknya."Enak?" tanya Silas rendah seraya memperhatikan setiap gerak-gerik wanitanya dengan binar mata yang hangat."Sangat enak," gumam Hanaya jujur sebelum meneguk sedikit susu hamil hangat dari cangkir porselen di sisinya. "Rasanya benar-benar tidak berubah sejak pertama kali aku memakannya di sini."Silas menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari terus memandangi istrinya yang menyantap sarapan dengan lahap. Bagi Silas, melihat Hanaya makan dengan tenang tanpa bayang-bayang ketakutan adalah pemandangan paling mewah yang mengalahkan pencapaian bisnis mana pun.Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Hanaya berniat mengangkat piring-piring kotor di atas meja. Namun, belum sempat jemarinya menye
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar utama penthouse, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei bernuansa champagne yang kusut. Udara di dalam ruangan masih dipenuhi aroma cedarwood maskulin dan kehangatan sisa-sisa pergulatan intim mereka.Hanaya berbaring menyamping, bersandar nyaman di atas dada bidang Silas yang bertelanjang dada. Napasnya sudah kembali teratur, meski rona merah di kedua pipinya belum sepenuhnya pudar. Jemari mungilnya mengusap secara acak garis-garis otot perut Silas yang keras, menikmati detak jantung suaminya yang berdetak stabil dan menenangkan.Silas mengusap punggung mulus Hanaya dengan jemari kokohnya, menyusuri lekuk tubuh wanitanya sebelum mendaratkan telapak tangannya di atas perut Hanaya yang membuncit mungil. Usapan lembut itu terasa begitu posesif sekaligus memuja."Masih sesak, wifey?" bisik Silas rendah, menyandarkan dagunya di puncak kepala Hanaya seraya mengecup rambut mewangi istrinya.Hanaya mendonga







