Share

Chap 4 His test

Author: Strrose
last update publish date: 2026-08-05 11:17:41

“Kau sadar jika badanmu bergetar seperti tupai kecil yang ketakutan?”

Suara Silas tetap datar, tanpa nada mengejek ataupun iba.

Hanaya perlahan membuka matanya.

Jemarinya masih terasa berdenyut. Setetes darah mengalir dari sela jari telunjuknya, jatuh ke lantai marmer hitam yang mengilap, membentuk titik merah kecil yang begitu mencolok.

"Saya minta maaf, Tuan."

Ia bahkan tidak tahu untuk apa ia meminta maaf. Mungkin karena terlalu lambat. Mungkin karena darahnya mengotori lantai. Atau mungkin hanya karena keberadaannya memang terasa seperti sebuah kesalahan.

Silas melirik noda darah itu sekilas. "Lantai itu lebih mahal daripada rumah yang kau tinggali."

Jantung Hanaya mencelos.

"Ya saya sadar, karena itu saya minta maaf tuan."

"Lalu kenapa kau masih membiarkannya kotor?"

Hanaya buru-buru menyeka darah itu menggunakan ujung lengan bajunya. Ia menggosok marmer hingga benar-benar bersih meski luka di tangannya semakin terbuka.

Silas memperhatikannya tanpa ekspresi.

"Ken."

"Ya, Tuan."

"Bawakan kotak P3K."

Hanaya terdiam.

Ia sempat mengira pria itu meminta kotak obat untuknya.

Namun detik berikutnya, Silas kembali berbicara.

"Jangan sampai darahnya merusak karpet."

Langkahnya mantap, suaranya tenang, seolah adegan menginjak tangan gadis baru di tengah foyer mewah itu hanyalah rutinitas pagi. Hanaya melihat kepergiannya, mencoba menghirup napas lega yang tertunda.

Ken, setelah menyaksikan tuannya menghilang, segera bergegas mendekati Hanaya. Wajahnya tidak lagi dingin, tetapi terlihat panik yang terkontrol—panik karena potensi kerusakan barang berharga.

Ken mengangguk, fokusnya sepenuhnya pada tangan Hanaya. Ia membuka kotak P3K dan mengeluarkan sarung tangan lateks medis, mengenakannya dengan gerakan cepat dan cekatan.

“Duduk di sini,” perintah Ken, menunjuk sofa beludru terdekat yang untungnya tidak terkena pecahan kaca.

Hanaya menurut. Ken membersihkan lukanya. Cairan antiseptik yang dingin itu membakar luka Hanaya. Hanaya menggigit bibir, menahan suara sakit.

“Jangan coba-coba menahan rasa sakit di depanku,” desis Ken. “Aku bukan Tuan Silas. Aku masih memiliki rasa kemanusiaan.”

Hanaya sedikit terkejut mendengar kalimat itu.

Perlahan ia mengangkat pandangan, menatap wajah Ken untuk pertama kalinya tanpa rasa takut yang berlebihan. Pria itu tetap memasang ekspresi datar, tetapi gerakannya sangat hati-hati saat mengeluarkan serpihan kaca kecil yang masih menancap di telapak tangannya.

"Maaf..." gumam Hanaya pelan.

"Kau meminta maaf lagi."

Hanaya terdiam “Aku tidak tahu mengapa, tapi kata maaf seperti menempel dan wajib aku ucapkan”

Ken menghela napas pendek. "Kalau setiap lima menit kau minta maaf, lama-lama kata itu tidak ada harganya."

Ia mengambil pinset steril, lalu mengangkat serpihan kaca terakhir. Hanaya refleks menarik napas tajam.

"Nah. Yang ini memang sakit."

Setelah memastikan tidak ada lagi serpihan kaca yang tertinggal, Ken mengoleskan salep antibiotik tipis sebelum membalut telapak tangan Hanaya dengan perban putih yang rapi.

"Sudah."

Hanaya memandangi balutan itu.

Rasanya aneh.

Baru beberapa menit lalu tangan yang sama diinjak tanpa belas kasihan, sekarang dirawat dengan begitu teliti.

"Terima kasih..."

Ken menutup kotak P3K. "Jangan berterima kasih padaku."

Hanaya mengerutkan dahi.

"Ini bagian dari pekerjaanku." Ia melepas sarung tangan lateks, membuangnya ke tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan.

"Lagipula..." Ken berhenti sejenak.     "...kalau tanganmu sampai infeksi, yang dimarahi juga aku."

Hanaya berkedip. Jadi bahkan kebaikan yang diterimanya tetap berhubungan dengan kepentingan Silas.

Ken berdiri dan menatap Hanaya dengan sorot mata yang jauh lebih serius. "Dengarkan aku baik-baik."

Hanaya langsung duduk tegak.

"Apa yang terjadi barusan..." Ken melirik ke arah koridor tempat Silas menghilang. "...jangan pernah kau anggap sebagai hukuman."

Hanaya mengernyit bingung.

"Lalu apa?"

"Itu ujian."

"Ujian?"

Ken mengangguk.

"Tuan Silas selalu menguji orang baru."

"Menguji... dengan menginjak tangan mereka?"

"Tidak selalu seperti itu."

"Lalu?"

"Tergantung suasana hati beliau. Tapi yang terpenting, kau lulus dengan ujiannya”

“Maksudmu?” Tanya Hanaya tak mengerti

Ken tersenyum tipis “Ayo ikut aku” ucapnya

Ken berbalik tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

Hanaya hanya bisa mengikuti dari belakang, masih memegangi tangan kirinya yang telah dibalut perban putih.

Mereka menyusuri loridor panjang yang diterangi lampu-lampu tersembunyi di sepanjang langit-langit. Setiap beberapa meter terdapat lukisan abstrak bernilai fantastis, sementara dinding kaca di sisi kanan memperlihatkan panorama kota yang mulai diselimuti malam.

Keheningan terasa begitu pekat.

Hanaya bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

Di ujung lorong, Ken berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam matte tanpa gagang.

Ia menempelkan telapak tangannya pada panel biometrik di samping pintu.

Beep.

Pintu terbuka perlahan.

"Masuk."

Hanaya melangkah ragu. Tetapi, begitu memasuki ruangan, ia langsung terpaku.

Seluruh dinding bagian belakang dipenuhi rak buku dari lantai hingga langit-langit. Ribuan buku berjajar rapi, diselingi berkas-berkas yang tersimpan dalam map kulit hitam.

Di sisi lain terdapat layar digital raksasa yang menampilkan grafik pasar saham dari berbagai negara, berita ekonomi dunia, serta beberapa kamera keamanan yang memperlihatkan berbagai sudut gedung.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja panjang dari kayu hitam mengilap.

Di balik meja itu...

Silas sudah duduk.

Ia berganti posisi secepat kilat tanpa Hanaya menyadarinya.

Jas hitam tipis kini telah menutupi kemeja sutranya, membuat auranya semakin dingin.

Tatapannya tidak tertuju kepada Hanaya.

Ia sedang membaca beberapa dokumen sambil memegang pena perak

“Duduk.” Silas memberi perintah tanpa menatap Hanaya.

Hanaya mendongak, bingung. Ia menoleh sebentar pada Ken, mencari kepastian. Ken hanya mengangguk singkat. Dengan gugup, Hanaya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang Tuan.

Punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di atas paha sedangkan tas kecilnya, ia biarkan tergeletak di lantai dekat kakinya. Postur yang layak untuk seseorang yang akan melakukan interview kerja.

“Nama?” Silas berucap tanpa menatap lawan bicaranya

“Hanaya Eloksa” jawab Hanaya

“Umur?”

“Tahun ini saya berusia 22 tahun” Hanaya kembali menjawab dengan tenang.

Diam-diam Ken menghela napas lega, bolehkah dia berharap Hanaya dapat menjadi pelayan Silas dengan baik. Melihat tindakan perempuan itu yang sepertinya serius bekerja, membuat Ken jadi berharap banyak.

Mata Ken melirik sang Tuan yang berdiri di depan jendela. Baru setelah hening cukup lama, ia kembali berbicara.

“Aku tidak suka pelayan yang berisik. Jangan banyak bicara kecuali ditanya. Dan yang terpenting—” ia akhirnya berbalik, tatapannya biru menusuk langsung ke arah Hanaya, membuat napasnya tercekat. “—jangan pernah mengusikku.”

Hanaya mengangguk cepat. “Baik Tuan” jawabnya

Silas nampak puas, dia menatap Ken “Jelaskan tugasnya” Titahnya

Ken mengangguk lalu menambahkan, suaranya lebih praktis. “Tugasmu sederhana, Hanaya. Bersihkan penthouse ini setiap hari, kau hanya perlu mengatur robot pembersih untuk melakukannya atau jika kau rasa kurang, kau bisa membersihkannya secara manual. Selain itu kau juga harus menyiapkan kopi jika Tuan memintanya, dan serahkan pakaian untuk di loundry setiap hari selasa. Kau tidak perlu memasak makanan utama, ada chef khusus yang datang setiap hari. Mengerti?”

Hanaya kembali mengangguk, kali ini lebih mantap. Pekerjannya jauh lebih sederhana dari yang Hanaya pikirkan.

Silas menatapnya lama, seolah sedang menilai sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Lalu ia berjalan melewatinya, aroma cologne maskulin yang kuat menusuk indera Hanaya saat tubuh pria itu melintas begitu dekat.

“Ken.” Silas berhenti di ambang pintu ruangan lain. “Pastikan dia tahu tugasnya. Aku tidak ingin dia bertingkah seperti pelayan sebelumnya.”

“Baik, Tuan.” Ken membungkuk singkat.

Pintu tertutup di belakang Silas dan Hanaya langsung menghela napas lega. Setidaknya dia bisa tenang untuk sesaat.

“Ikuti aku” Ken berdiri. Ia berjalan tanpa menoleh, langkahnya cepat dan pasti. Hanaya hampir setengah berlari di belakangnya agar tidak tertinggal.

“Kau akan tinggal di sini” ujar Ken akhirnya setelah berhenti di sebuah pintu di ujung lorong. Tangannya membuka pintu tanpa ragu, memperlihatkan sebuah kamar sederhana namun tetap terasa nyaman bagi Hanaya.

Ruangan itu hampir sama seperti kamarnya dulu. Ada ranjang berlapis seprai putih bersih yang besar, sebuah lemari kayu mengilap, meja kecil, dan jendela besar dengan tirai tebal yang menutupi sebagian cahaya neon kota.

“Ini kamarmu.” Ucap Ken

Hanaya melangkah masuk dengan hati-hati

“Di ujung sana kamar Tuan Silas” Tunjuk Ken pada sebuah pintu yang cukup jauh dari kamarnya. “Jangan pernah masuk ke kamar Tuan Silas tanpa izin. Jangan pula berkeliaran di area pribadinya. Intinya jangan terlihat seperti kau menggodanya” jelas Ken datar, nada suaranya tegas namun bukan tanpa peringatan tersembunyi.

“Baik, aku mengerti” Jawab Hanaya mantap.

Ken menoleh, menatap gadis itu lama, seolah ingin memastikan perintahnya benar-benar tertanam dalam kepalanya. “Kau hanya perlu melakukan pekerjaanmu. Bersihkan, layani, dan jangan banyak bicara. Semakin sedikit ia menyadari keberadaanmu, semakin aman posisimu.”

Hanaya mengangguk cepat. “Baik, Ken…”

Ken mendesah kecil, lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun sebelum menutup pintu, ia menambahkan, “Besok pagi, aku akan memberitahumu aturan kerja lebih rinci. Malam ini, beristirahatlah. Kau akan segera tahu sendiri seperti apa pria yang menjadi tuanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 122 Belenggu sang penguasa

    CeklekkkSuara pintu kamar yang terbuka pelan memecah keheningan ruangan bernuansa gelap itu. Netra biru laut yang tampak sayu itu berbinar seketika ketika mendapati sang perempuan yang dua hari ini tak sadarkan diri di ranjangnya kini duduk dengan kedua mata yang terbuka.Silas berdiri mematung di ambang pintu, napasnya sedikit tercekat melihat pemandangan di hadapannya. Langkah pria itu langsung terayun cepat mendekati ranjang besar tersebut.“Hanaya, sejak kapan kamu sadar?” tanya Silas, suaranya terdengar begitu berat, sarat akan kelegaan yang dipaksakan di balik raut wajahnya yang selalu dingin.Namun, tidak ada respons yang ia terima.Hanaya hanya duduk terpaku di tengah selimut tebal, menatap kosong ke arah dinding kamar yang asing dengan pandangan yang benar-benar hampa. Manik matanya tidak focus. Ia seolah tersesat jauh di dalam pikirannya sendiri, terisolasi di balik benteng pertahanan jiwa yang runtuh.Melihat kondisi

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 121 Wanita yang Berani Menciumnya

    “Aku sudah mendapatkan dokumennya, akan kukirimkan besok pagi padamu, Tuan Sinclaire”Tut.Gideon mematikan panggilan teleponnya secara sepihak dan menatap dokumen di tangannya dalam diam.Di dalam mobil mewahnya yang melaju membelah kepekatan malam kota, layar ponselnya masih menyala redup menampilkan kontak Silas Sinclaire, pria yang baru saja ia hubungi setelah meninggalkan kediaman Widjaja. Tidak ada sisa-sisa basa-basi di antara mereka, hubungan keduanya dibangun di atas fondasi kepentingan dan kesepakatanDia melakukan semuanya hanya untuk mendapat keuntungan, meskipun pada akhirnya ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.Ironis. Pria yang terbiasa mengendalikan seluruh papan catur kini menyadari bahwa dirinya sendiri telah terjebak dalam skakmat yang ia ciptakan.Brak!Suara hantaman logam yang memekakkan telinga menggelegar nyaring, disusul oleh sentakan keras yang melemparkan tubuh Gideon ke depan hingga hampir

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 120 Perceraian dan Sebuah Rahasia

    Hampa..Bagi seorang Gideon Rarendra, kata itu tak pernah ia rasakan dalam 27 tahun hidupnya. Dunia adalah papan catur raksasa yang harus dikendalikan, di mana emosi adalah kelemahan fatal yang bisa menghancurkan segalanya. Namun, tepat dua hari setelah ia menyerahkan Hanaya kepada Silas demi sebuah perjanjian bisnis dan perebutan kekuasaan, ruang hampa itu menggerogoti dadanya tanpa ampun.Setiap sudut rumah pribadinya terasa begitu dingin, seolah jejak kehadiran Hanaya telah disapu bersih oleh angin malam. Tidak ada lagi suara langkah kaki, tidak ada lagi bayangan wanita itu yang meringkuk gelisah di balik selimut tebal, dan tidak ada lagi aroma khas yang menguar pelan di udara setiap kali Hanaya berada di dekatnya. Ruangan-ruangan luas itu kini kembali menjadi sangkar megah yang sunyi, menyisakan gema langkah kakinya sendiri yang memantul di dinding marmer.Gideon mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini, ia terbiasa

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 119 Dia sang pengendali

    “Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai dia sekarat begini!!!! Kupikir setelah hampir sebulan bulan kau tidak memanggilku dia benar-benar sehat. Tapi apa ini? Kenapa dia justru menderita depresi akut terlebih dengan kondisi hamil!!”Suara geraman tertahan lolos dari sela-sela gigi Silas. Alih-alih menjawab bentakan tajam Dr. Eleanor, dokter pribadi kepercayaannya yang baru saja selesai memasang selang oksigen dan memeriksa denyut nadi HanayaSilas hanya berdiri kaku di samping tempat tidur. Wajah pria itu mengeras, rahangnya mengetat sempurna, sementara manik matanya terpaku lekat pada sosok Hanaya yang terbaring lemah dengan bantuan oksigen“Kau harus segera mendatangkan dokter kejiwaan, Silas” lanjut Dr. Eleanor dengan nada mendesak, mengabaikan aura dingin yang menguar dari tubuh sang pasien pria di hadapannya. Wanita paruh baya itu merapikan alat stetoskopnya, lalu menatap Silas lurus-lurus.“Aku punya kolega terbaik di b

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 118 Kembali padanya

    Bau harum kayu cedar dan aroma teh Earl Grey yang pekat menyambut indra penciuman Hanaya saat kelopak matanya perlahan-lahan bergetar terbuka.Cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit membuat retinanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri. Hanaya mengerjap lambat, menatap langit-langit kamar asing yang didekorasi dengan gaya klasik Eropa. Tempat tidur besar berbalut seprai sutra hitam tempat ia berbaring terasa begitu lembut, namun suasananya... suasana ini seketika memicu gelombang dejavu yang menghantam ulu hatinya.Tempat ini.Hanaya bangkit perlahan, menarik selimut tebal menutupi dadanya yang bergemuruh. Tubuhnya terasa kaku, sisa-sisa efek obat penenang membuat kepalanya berdenyut berat dan lidahnya kelu. Ia menoleh ke sisi kanan, mendapati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari dari ketinggian. Di sudut ruangan, sesosok pria berjas rapi tengah berdiri membelakanginya, memegang segelas wiski sambil menatap ke lua

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 117 Penyerahan

    Silas menatap dua orang di depannya dengan wajah datar. Yang satu dalam keadaan sehat, tenang, dan dingin, sementara satunya lagi dalam keadaan tak sadarkan diri.Di dalam ruangan kerja privat yang mewah dan berpengharum kayu cedar di markas milik Silas Sinclaire, suasana terasa begitu beku. Cahaya lampu gantung temaram memantul di atas meja marmer hitam, memperlihatkan sosok Silas yang duduk bersidekap di kursi kebesarannya, meneliti setiap inci pemandangan di hadapannya dengan tatapan penuh selidik dan kepuasan terselubung.“Jadi, kau menyerahkannya secara mandiri padaku?” tanya Silas, suaranya terdengar lembut namun merayap dingin, memecah kesunyian ruangan.Gideon tidak menunjukkan secercah pun rasa gentar atau penyesalan. Pria itu berdiri tegak, mengenakan mantel panjang berwarna arang yang senada dengan auranya yang mematikan. Di dalam gendongan lengannya yang kokoh, tubuh Hanaya terkulai lemas, terbalut selimut tebal dengan mata terpejam rapat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status