Share

Bab 4 Jebakan

Author: Renita April
last update Petsa ng paglalathala: 2025-03-02 12:17:17

Juna kembali ke rumah pada malam harinya. Ia tidak enak hati karena tidak memberi kabar pada istrinya ini, terlebih ingin meminta uang kepada Tasya. Bisa-bisa ia di usir dari rumah ini.

Ia memandang istrinya. Dalam otaknya tercetus ide di luar nalar. Dari awal pernikahan, Juna belum menyentuh Tasya dan itu artinya, istrinya ini masih perawan.

Keraguan masih berada dalam hati Juna. Ia tidak mungkin melakukan ini, tetapi bila uangnya tidak disetor, maka nyawanya bisa jadi taruhan. Toni pernah mengatakan kalau barang ini milik orang yang berkuasa dan memiliki bawahan yang bisa menghilangkan hidup seseorang.

Harus dengan alasan apa Juna membujuk Tasya nanti. Ia dalam kebingungan sekarang. Tasya sudah baik padanya. Mereka juga sudah menjadi pasangan suami istri. Menjerumuskan istri ke pelukan pria lain bukankah keterlaluan? Ah! Juna menggaruk kepalanya. Tiba-tiba terasa pusing karena memikirkan masalah ini.

"Ada apa? Sejak kembali kau diam saja," ucap Tasya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Aku lelah. Ini uang untukmu." Juna memberi Tasya uang lagi senilai 3 juta. Anggap saja sebagai bujukan karena ia tidak pulang beberapa hari ini.

"Kalau gitu kita tidur saja." Tasya mengambil posisi membelakangi Juna, ia memang sangat mengantuk dan berniat ingin segera tidur.

Sementara Juna masih dilema. Bahkan matanya saja tidak dapat terpejam. Besok, waktunya tinggal sedikit. Jika uang itu tidak disetor, takutnya ini berdampak pada dirinya.

Ia masih bisa meminta Toni untuk mengulur waktu sampai besok malam. Ya, sekarang Juna harus mencari pria yang akan membeli Tasya.

Juna teringat pada seorang teman lama. Ya, dia adalah pria sukses sekarang. Juna bisa meminta dia untuk mencarikan seorang pria yang bisa membeli Tasya untuk satu malam saja.

Paginya, Tasya menyiapkan sarapan sebelum pergi mencari pekerjaan. Ia tampak ceria karena uang yang diterima dari Juna.

"Pagi, Sayang." Juna mendekat, ia mengecup pipi Tasya

"Ini masih pagi." Karena Juna memeluknya.

"Aku mau keluar. Ada pekerjaan yang harus kuurus. Kau belum dapat pekerjaan?"

"Belum ada panggilan?" ucap Tasya.

"Mungkin nanti. Bersabarlah, Sayang. Aku masih bisa menampungmu."

"Aku tahu, tapi aku ingin bekerja saja." Tasya menatap Juna. Ia tersenyum karena Juna masih memikirkan dirinya.

Keduanya sarapan bersama. Setelah itu, Juna pergi lebih dulu, sedangkan Tasya harus membereskan meja makan barulah pergi mencari pekerjaan.

Juna menunggu seorang teman yang sudah berjanji padanya untuk bertemu. Sudah lama sekali karena pria ini adalah teman sekolahnya. Nasib temannya ini mujur karena punya otak pintar dan dari keluarga terpandang. Yang positifnya adalah temannya ini tidak memandang status. Itu sebabnya, Juna dapat berteman dengannya.

Sampai pada jam yang telah ditentukan, Juna dapat bertemu dengan teman lamanya. Memang orang kaya. Sungguh sangat berbeda dari dirinya.

"Hai, Don." Juna menjabat tangan Doni.

"Biasa saja. Kenapa kau menghubungiku?" Doni lekas menarik tangannya.

"Begini, Don. Aku butuh uang. Tolong bantu aku. Kau itu bekerja di perusahaan besar, kan? Tolonglah. Sekali saja."

"Sudah kuduga kau pasti akan bicara seperti ini. Tidak bisa! Kalau bukan karena kau pernah menyelamatkanku saat kita naik gunung, aku tidak sudi menemuimu."

"Kenapa kau sekejam ini?"

"Menurutmu? Ini karena dirimu yang problematik. Kau sudah pernah kubantu mendapat pekerjaan karena kau bilang harus punya kerja untuk menarik seorang gadis."

"Aku menikah gadis itu. Dia jadi istriku, tapi dia masih belum kusentuh."

"Apa? Tapi, kenapa?" tanya Doni, yang cukup kaget akan fakta ini.

"Aku butuh uang 100 juta malam ini. Dia jaminannya.

"Kau keterlaluan! Bagaimana bisa kau ... ?" Doni menggeleng.

"Kau carikan saja pria kaya untuk bermalam dengan istriku. Kau pikir aku mau menjualnya? Dia istriku. Begitu cantik, dan aku mencintainya. Tapi, kami punya hutang. Nyawa kami ini taruhannya.

"Hanya kali ini saja. Nanti malam, kau bisa datang ke tempat ini. Aku akan menunggumu." Doni memberikan alamatnya.

"Baik, aku akan datang tepat waktu."

"Oke! Sampai jumpa nanti." Doni pergi setelah itu.

Juna menghela napas panjang. Meski ini keterlaluan, tetapi ia harus melakukannya. Ini juga demi keberlangsungan hidupnya serta Tasya. Hanya kali ini saja. Setelah itu, Juna janji ia akan bertobat.

Sore harinya Juna tiba di rumah dan melihat meja makan penuh dengan hidangan. Ah, Juna baru sadar jika ia baru makan malam di rumah ini sebagai suami. Ketika masih pacaran, Juna sering makan malam bersama Tasya.

"Apa ada pesta?" tanya Juna.

"Makanlah dulu, Sayang." Tasya menarik kursi, lalu mempersilakan suaminya duduk. "Kau lelah bekerja. Jadi, biarkan aku melayanimu sekarang."

"Oh, Sayang. Aku mencintaimu." Juna memajukan bibir agar Tasya menyentuhnya.

"Aku juga mencintaimu." Tasya mengecup bibir manis itu. "Ayo, kita makan."

Juna semakin sayang pada Tasya yang perhatian padanya. Istrinya ini memang sangat baik. Tentu bukan hanya itu saja. Tasya itu cantik, bahkan Juna heran kenapa bisa wanita ini jatuh hati padanya. Beruntung sekali ia memilikinya sebagai istri.

"Sayang, kau tidak pergi lagi, kan? Kita belum malam pertama," ucap Tasya yang berhasil membuat pria ini tersedak minuman. Tasya datang dengan menyodorkan tisu dan mengusap punggung belakang Juna "Kau baik-baik saja?"

"Ya, terima kasih."

"Kau selalu tidak ada di rumah. Saat menjadi kekasih, kau selalu ingin menyentuhku." Tasya berucap seraya kembali duduk di bangkunya.

"Maafkan aku, Sayang. Aku mengecewakanmu. Kita harus melakukan malam pertama di tempat spesial," ucap Juna.

"Memangnya kenapa di rumah ini?"

"Aku ini seorang suami, Sayang. Ini juga malam pertama kita. Aku ingin memberikan yang terbaik."

"Kau punya uang?" tanya Tasya.

"Untuk menyewa satu malam kamar hotel, aku masih bisa. Berdandanlah dengan cantik. Kita akan ke sana setelah ini."

"Sayang ...." Tasya tersenyum. Di sini, ia harus memutar otak agar Juna tidak marah saat mendapati dirinya sudah tidak perawan. Mungkin dengan membuat luka sendiri, maka semuanya akan teratasi. Tasya belum mampu untuk jujur, meski ia jual diri karena Juna juga.

"Bagaimana kalau kita main ke Night Club dulu?" Jury tersenyum penuh arti.

"Untuk apa kita ke sana?" tanya Tasya

"Sudah lama kita tidak bersenang-senang. Kau juga harus coba pergi ke tempat itu. Kau belum pernah, kan? Kau sendiri bilang ingin sekali melihat orang-orang berdansa dengan musik."

"Itu benar. Aku ingin sekali ke sana."

"Habiskan makanmu dan cepatlah bersiap."

Dalam hati, Juna berkali-kali meminta maaf pada istrinya. Ya, mau bagaimana lagi. Ini harus dilakukan

"Sayang, kau sudah siap?" Tanya Juna.

"Ya. Kita berangkat sekarang?"

Jury mengulurkan tangan. "Tentu. Aku sudah pesan taksi online-nya."

Tiba di club tersebut, Juna memesan beberapa minuman. Ia sengaja menyewa satu bilik untuk minum bersama.

"Sayang, minum ini." Juna menyodorkan segelas minuman beralkohol.

"Apa aku bakal baik-baik saja? Aku tidak mau mabuk." Tasya mendorong minuman itu.

"Tidak akan terjadi apa pun. Minum ini agar malam kita semakin menggairahkan."

Tanpa curiga sama sekali, Tasya meneguk minuman itu sampai habis. "Hmm, rasanya manis."

"Tambah lagi." Juna menyodorkan segelas minuman lagi. Dalam keadaan seperti ini, ia juga takut. Malam ini, ia membawa istrinya ke dalam pelukan pria lain.

Beberapa saat berlalu, Tasya mulai merasakan pusing. Tubuhnya pun terasa panas.

"Ayo, Sayang. Waktunya pergi," ucap Juna.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Dan jgn2 yg beli Rasya si Rangga lagi
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Tega sekali Juna jual Tasya ,dasar suami pret Ternyata Doni temannya Juna ,dan Doni orang kepercayaan Rangga
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Mencoba Lari

    Seperti biasa, Rangga akan pergi setelah menidurinya. Pria itu kembali pada pekerjaan dan hanya datang bila ingin memuaskan hasratnya saja. Beberapa hari ini, ia sudah menurut pada Rangga. Harusnya ada reward atas kerja kerasnya itu. Tasya ingin bertanya mengenai Juna dan balas dendamnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan suaminya itu. Sekarang waktunya tidak tepat. Tasya akan bicara pada Rangga besok. Saat menemani pria itu sarapan. Bahkan untuk menghubungi Tirta saja Tasya ragu. Ia takut melibatkan orang yang tidak bersalah. Besok paginya, Tasya menemani Rangga sarapan. Ia ragu untuk bicara, tetapi ini kesempatan meminta pada pria yang tergila-gila padanya. "Tuan Rangga, aku ingin keluar rumah. Aku merasa bosan di sini." Padahal Tasya ingin bicara mengenai Juna. Ia malah meminta keluar rumah. Rangga menoleh padanya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggil nama saja?" "Maaf, Rangga. Aku merasa canggung." "Kau boleh keluar." Rangga menjentikkan jarinya. Kemudian se

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Ketagihan

    Tasya pernah mendengar gosip dari media sosial, bahkan menonton film tentang pria yang sering selingkuh. Termasuk Juna yang juga mengkhianatinya. Rata-rata pria akan cepat bosan dengan wanita yang patuh dan tidak menarik. Sekarang inilah Tasya ingin menjadi wanita seperti itu. Ia akan menuruti semua keinginan Rangga agar pria itu lekas membuangnya. Selama beberapa hari ini, Tasya selalu menuruti keinginan pria itu yang menidurinya setiap malam. Termasuk gaya liar yang pria itu inginkan. Sering kali Tasya merasa aneh pada perlakuan Rangga. Sentuhannya lembut, tetapi juga menyakitkan. Sialnya Tasya merasa ia seperti ketagihan diperlakukan sedikit kasar. Malam ini, Rangga telah memberi pesan untuk memakai pakaian dalaman saja, dan menunggunya di depan rumah. Entah apa lagi yang ingin dilakukannya. Pria itu menginjak-injak harga diri ini, tetapi Tasya hanya bisa menerima tanpa melawan. Ia bahkan tidak merengek meminta keluar rumah."Nona Tasya, sebentar lagi Tuan Rangga akan pulang. No

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Menjadi Penurut

    Bella berteriak kesal karena kelakuan Rangga yang menganggapnya sebagai tunangan pajangan, sedangkan pria itu asik memanjakan simpanannya. Bella sendiri tidak habis pikir dengan keadaan ini. Tirta memberitahu jika Rangga menyembunyikan seorang wanita. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Tirta sendiri. Ini harus diluruskan. Bella lekas mengirim pesan kepada dokter itu. Memintanya untuk segera bertemu. Balasan diterima dengan cepat. Tirta menyetujui undangan tersebut, dan Bella lekas menuju tempat yang dijadikan sebagai tujuan pertemuan. Dalam waktu kurang lebih 45 menit, Bella tiba di sebuah kafe dan langsung menuju ruangan privat. Di sana Tirta sudah menunggunya, dan tanpa basa-basi lagi Bella bertanya mengenai hubungan Tasya dan Rangga. Karena sudah begini, Tirta pun mau tidak mau mengakui segalanya. "Aku menemukan wanita itu di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Karena dia cantik dan wajahnya mirip dengan Ivana Aswinda, aku menjadikannya sebagai tunangan kontrak.""Ivana Aswi

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Wanita Simpanan Ini Melunak

    Begitu mata ini terbuka, wajah yang dilihat Tasya adalah Rangga. Sangat malas rasanya bertatapan muka dengan pria buruk ini. Dia iblis berwujud pria tampan. Tasya juga masih merasakan perih, dan pipinya terasa bengkak. Ia mencoba merabanya, ini memang bengkak. Tasya ingat betul kakinya di rantai, lalu wanita itu datang memukulnya. Sungguh sial!"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Rangga mendekat, tetapi Tasya beringsut mundur. Eh, ia merasa kakinya telah bebas. Tasya membuka selimut, dan ya kakinya tidak lagi di rantai. Rangga bisa melihat kekagetan itu. "Aku memang tidak lagi merantaimu, asal kau patuh dan tidak mencoba lari lagi.""Aku tidak ingin tinggal di sini lagi. Kau sudah punya tunangan, tetapi kenapa kau masih ingin menawanku?" "Kita sudah punya perjanjian, Tasya. Kau jadi wanita simpananku selama waktu yang telah kutentukan. Tugasmu hanya mengikuti kata-kataku dan melayaniku di atas ranjang ini.""Enam bulan kan? Kau sungguh akan membebaskanku setelah itu? Kau juga janji akan

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Jangan Sentuh Wanitaku

    "Tasya!" Rangga bergegas menghampiri wanita simpanannya itu. Menyingkirkan pisau pemotong daging sejauh-jauhnya, lalu melepas dasi yang ia kenakan. Rangga membalut luka itu agar pendarahannya terhenti. "Cepat panggil Dokter Anton!" "Baik, Tuan." Pengawal yang ada di kamar bergegas melaksanakan perintah Rangga. "Apa-apaan kau, Rangga? Kau selingkuh dariku, dan selingkuhan itu adalah kekasih sepupumu sendiri. Kau sudah gila!" pekik Bella. Tangan Rangga mengepal erat. Ia bangkit berdiri, lalu memandang Bella tajam. Mendapati tatapan Rangga yang tidak seperti biasanya, Bella mundur selangkah. Ia masih berpikir tidak salah karena di sini Rangga lah yang telah berkhianat."Kau menyiksanya?" Rangga memandang Tasya yang tidak sadarkan diri dengan kedua pipinya yang memerah akibat pukulan lima jari. "Kau marah? Harusnya aku yang marah di sini. Kau! Di sini kau yang telah selingkuh dariku!" Plak ... ! Rangga menampar Bella dan ini untuk yang pertama kali. Semua ini hanya karena seorang w

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Menghukum Pelakor

    Ruangan yang dibuka Bella adalah gudang. Ucapan pelayan ini benar. Namun, informasi yang ia terima dari pria itu juga jelas. Rangga menyembunyikan seorang wanita di rumahnya. Sebelum menemui wanita itu, Bella tidak akan pergi dari sini. "Saya sudah bilang kalau ruangan itu gudang," ucap pelayan. "Aku belum memeriksa ruangan yang lain." Bella berjalan ke arah kamar lain, lalu memeriksanya. Satu per satu, tetapi tidak ada wanita yang ia harapkan hadir di sana. Bella memandang ke lantai atas. Mungkin di sana wanita simpanan itu berada. Ia pun bergegas naik ke lantai atas dengan diikuti oleh pelayan. "Nona Bella, tidak ada apa pun di sini." Pelayan terus saja menghalangi, tetapi Bella tetap bersikeras memeriksa kamar satu per satu. Ia membuka pintu dengan kasar. Ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, amarah Bella meluap. Sekarang tinggal satu kamar tidur lagi. Bella berjalan ke arah sana dengan cepat. Pelayan berlari mendahului wanita ini, dan mencegahnya untuk membuka ruangan t

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 6 Dipanggil Kerja

    “Data wanita itu sudah ditemukan, Tuan.” Doni memberikan map biru kepada Rangga. Ini cukup mudah menyelidiki latar belakang Tasya karena suami wanita itu adalah teman sendiri. Hanya saja, Doni tidak memberitahu Juna tentang keinginan atasannya. “Dia sempat melamar sebagai office girl di kantor kita.

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 5 Dia Lagi

    Juna seakan tidak rela, tetapi ia sudah berjanji akan memberikan Tasya kepada pria lain. Meski sudah memantapkan diri tetap saja rasanya rugi menyerahkan kehormatan istrinya. "Ah, sialan!" Juna mengumpat.Sopir taksi melirik Juna dan Tasya yang tengah dalam keadaan tanda tanya. Pria ini jadi curig

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 3 Tak Jera

    Rangga Saputra, seorang CEO muda berusia 30 tahun yang merupakan pebisnis serta keturunan dari keluarga konglomerat. Dia dijuluki sebagai Titan Kapitalis. Ini karena Rangga mendominasi bisnis, keuangan, serta koneksi yang begitu luas. Ditambah dia dikaruniai fisik tampan.“Astaga!”Tasya memalingka

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 2 Dia Kembali

    “Biar aku yang bekerja.”Terserah saja dalam hati Tasya berkata demikian. Matanya mulai sayu, ia mengantuk dan keadaan tubuh ini bisa dibilang telah pasrah pada keadaan.Sementara itu, Rangga tersenyum. Ia menuntaskan diri dengan bergerak cepat hingga memuntahkan semua cairan kental dalam rahim Tas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status