LOGIN**
Entah karena Lily sudah mulai ikhlas atau memang keadaan didunia sana yang sedikit tenang. Tidak seperti biasanya, kali ini Lily bangun secara alami tanpa kelelahan dan nafas terengah yang akhir-akhir ini ia rasakan. Disampingnya, sudah ada Chloe yang sebetulnya membangunkan Lily yang tertidur. Sudah hampir malam, Chloe membangunkan Lily agar ia bisa mengisi perut dan meminum obat yang diresepkan tabib, bagaimanapun juga Lily masih belum cukup sehat. Lily sendiri merasa heran, tidak begitu banyak hal yang ia mimpikan barusan, dan ia jadi bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah karena ia tidur siang dan bukan tidur di malam hari jadi durasi mimpinya berkurang? Atau memang ada penyebab lain, yaitu perasaan rela dari Lily yang perlahan bertambah. Lily menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran tersebut. Lantas ia mendudukkan dirinya dan menatap Chloe yang tersenyum lembut. "Aku tertidur, bagaimana dengan permintaanku?" Tanya Lily kemudian, matanya setengah terpejam, menyesuaikan cahaya redup yang masuk ke matanya. "Sudah siap, nona. Semuanya ada dihalaman. Nona bisa melihatnya nanti, sekarang kau harus mengisi perutmu lebih dulu." Balas Chloe seraya membantu Lily berdiri. Lily menganggukkan kepalanya. Ia mengusap perutnya yang keroncongan. Memang lapar, ia menatap jendela matahari sudah mulai redup, pantas saja. Ia bahkan melewatkan makan siang. "Bubur lagi?" Tanya Lily. Chloe menggelengkan kepalanya. "Kali ini sup ayam dengan jamur, nona. Dan sedikit nasi, karena kau masih harus meminum obat dari tabib." Jelas Chloe. Lily pun tidak berlama-lama lagi, ia langsung duduk dan makan makanannya setelah membersihkan muka. Kemudian ia keluar dari kamar begitu kegiatan makan sudah selesai. Melihat halaman, kedua matanya lantas berbinar-binar. Menatap banyak hal disana, ia menghitung satu persatu hal-hal tersebut. Ayam, anak ayam, sapi, kambing, ikan dan kelinci yang ia minta sudah ada disana semua. Ada juga selimut dan jubah yang ditumpuk di meja batu dihalaman. Selain itu, ada juga makanan pokok, tepung-tepungan dan biji-bijian, serta telur dan beberapa makanan kering. Ada sekeranjang buah segar dan beberapa kotak kue, teh, serta bumbu dapur lengkap. "Dan berbagai macam benih! Chloe.... kau kesayanganku, kau paling detail dan mengerti aku! Muach!" Pekik Lily dengan raut senang, ia bahkan memeluk Chloe dan mencium pipinya ringan. Membuat Chloe tertawa kecil, nonanya jarang menunjukkan sikap manis seperti ini, sangat menggemaskan dimatanya. "Baiklah, nona, kesampingkan hal-hal ini lebih dulu. Ayo, pergi ke aula untuk memberikan upah lebih awal. Sesuai permintaanmu, semuanya sudah menunggu disana, termasuk orang-orang dari rumah belakang. Aku juga sudah menganggarkannya dengan kepala pelayan di kediaman. Jadi semuanya bisa serentak mendapat upah lebih awal." Jelas Chloe, seraya tersenyum lebar menatap nonanya yang bersemangat menatap ke kiri dan ke kanan. Meski ia merasa aneh karena mendadak banyak hal yamg dibeli, Chloe juga tidak mengatakan apa-apa. Tuan besarnya juga suka membeli banyak barang seperti ini, mungkin sang nona mau mengikuti jejaknya, mengeluarkan uang pribadi untuk membantu para prajurit dibawah komandonya. "Oh benar! Baiklah, ayo pergi dan bagikan upahnya!" Ucap Lily seraya mengepalkan tangannya keatas. Kemudian keduanya berjalan beriringan, diikuti dua orang di belakang yang membawa akun dan uang yang dibutuhkan untuk pembagian upahnya. ** Setelah pembagiaj upah selesai, matahari sudah tidak terlihat, digantikan langit malam dan bulan yang mulai muncul pelan-pelan. Lily dan Chloe kembali ke halaman bersama. Yang kemudian Lily juga menyuruh Chloe beristirahat lebih awal sementara dirinya membersihkan diri sendirian. "Nona, bagaimana dengan barang-barang ini?" Tanya Chloe sebelum benar-benar mengiyakan titah nonanya untuk beristirahat. "Aku yang urus, kau sudah bekerja keras hari ini. Hanya menunggu beberapa kereta, bukan urusan yang sulit." Balas Lily seraya tersenyum, menepuk lengan Chloe lembut. Chloe balas tersenyum, kemudian mengangguk dan undur diri dari hadapan Lily setelah memberi salam. Ia memang lelah, jadi ia juga tidak menolak setelah memastikan Lily mampu menangani semuanya. Lagipula, nonanya tidak lemah sama sekali, jadi ia dengan cepat setuju. Lily menganggukkan kepalanya. Menatap punggung Chloe yang perlahan menghilang ditelan gelapnya malam, dan tersenyum lebar dengan kedua telapak tangan yang bersatu. Pengawal dan orang lainnya juga sudah pergi, jadi Lily sendirian sekarang. "Kalau begitu, aku akan memasukkan semuanya sekarang!" Ucap Lily bersemangat, dan mulai mengulurkan tangan diatas barang-barang yang ada dihalaman. Perlahan, satu persatu barangpun menghilang ditelan udara. Hingga satu jam kemudian, Lily selesai memasukkan semuanya ke dalam ruang, dan bernafas lega. Lily mendudukkam dirinya di atas kursi batu yang ada dihalaman, nafasnya sedikit terengah, ia kelelahan. Kepalanya juga sedikit berdenyut, karena terlalu banyak menggunakan ruang. Tapi tidak apa-apa, karena kepuasan terpancar dari raut wajahnya yang cantik. "Hah... aku merasa semakin tenang sekarang. Tinggal menunggu ayahku kembali, minta beberapa hal lagi sebelum semuanya benar-benar cukup." Ucap Lily seraya menidurkan kepalanya di atas meja batu. Meski menurut Lily lengkap, semuanya tidak begitu lengkap karena di dunia lain yang jelas berbeda, akan banyak perbedaan sehingga kebutuhanpun berbeda-beda. Lily juga memikirkan hal yang sama, tapi ia cukup puas dengan banyak barang yang ia punya saat ini. Yang paling penting adalah ia akan punya senjata, makanan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang tidak perlu nyawa sebagai taruhannya. Semuanya cukup untuk satu keluarga habiskan dalam beberapa tahun kedepan. Tidak akan banyak kekhawatiran selama barangnya masih ada. Semuanya tinggal memikirkan tempat perlindungan dan kekuatan untuk melindungi diri dan semua orang. Setelah beristirahat beberapa saat dihalaman, Lily kemudian memasuki kamarnya. Meski lelah, ia tidak mengantuk sama sekali. Jadi ia hanya bisa memasuki ruang itu untuk menghilangkan rasa bosan. Pertama-tama, Lily menata dan merapikan semua barang yang ia masukkan, termasuk beberapa hewan yang ia letakkan di padang rumput. Dengan senyum lebar ia mengangguk sumringah, "Tidak akan ada lagi istilah kekurangan daging nnti." Ucapnya bangga. Setelahnya, Lily juga menyortir barang-barang lainnya sesuai dengan jenisnya masing-masing. Tapi karena belum ada gudang dan pembatas, Lily hanya bisa menyimpannya seadanya disana. Tentu saja semua jenis barangnya. Lily tidak berhenti sampai barang terahir yang mau dibereskan, berada ditangannya. Lily menatap berbagai macam benih sayuran, buah, dan makanan yang ditanam. Matanya juga menatap tanah coklah kehitaman yang subur, bergantian menatap benih dan tanah, kemudian ide muncul di benaknya. Ia lantas maju menuju tanan tersebut dan mulai bekerja. Benar, ia berniat menanami tanah itu dengan beberapa benih. Lakukan saja beberapa percobaan, jika berhasil sangat bagus, tidak berhasil juga tidak apa-apa. Ia punya banyak makanan dan barang lainnya disini, tidak akan banyak mengeluh dan khawatir. **** "Katakan padaku, apa yang membuat kalian mengetuk pintu?" Tanya Lily pada keduanya, tapi sama-sama fokus pada makanan. Menggigit dan menyuapkan makanan, membuat Lily menghela nafas karena diabaikan. "OH! Kalian melihatku makan ayam makanya mengetuk pintu, kan?!" Tanyanya curiga, keduanya hanya mengincar makanannya. Ansley menalan potongan ayam dimulutnya. Ia menatap Lily dengan panik, menggeleng dengan cepat. Adapun Andien yang mulutnya masih penuh langsung membantah. "Tidak! Tidak! Kami benar-benar ada urusan, tentang inti kristal!" Ucapnya, membuat Lily mengernyit jijik. "Habiskanlah, kau menjijikkan ew!" Ucap Lily seraya mengusap wajahnya dengan tisue yang ada ditengah meja. "Ewww! Kondisikan sikapmu!" Ucap Ansley ikut jijik tapi ada tawa di akhir. "Kau, begitu lapar ya? Padahal biasanya kau yang paling anggun, hahaha!" Ejek Ansley, Lily juga ikut tertawa mendengarnya. Karena selama perjalanan ini, Andien memang yang paling banyak diam. Tidak disangka ia benar-benar be
** Lily terbangun dari tidurnya, langsung keluar dari ruang ketika ia mendengar ketukan dari pintu kamar di RV. Suara Shion dan Allen yang bertanya tentang keadaannya. Tapi karena awalnya Lily tidak kunjung membuka pintu dan pintu terkunci, alhasil kedua orangtuanya yang sama-sama baru bangun juga ikut mengetuk. Kehabisan energi membuat tidur Lily menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Jadi awal-awal ia tidak mendengar. "Datang! Datang!" Pekik Lily sedikit panik, dan langsung membuka pintu menyambut semua orang dengan senyum lebar. "Ada apa? Maaf aku tidur terlalu nyenyak." Ucap Lily seraya menggaruk kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang, ada yang tidak nyaman?" Tanya sang ibu yang paling khawatir, sang ayah juga menatapnya lekat-lekat. Shion dan Allen menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan ibunya. "Aku baik-baik saja, bu, kalian apakabar? Ada yang terluka? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Lily menatap satu persatu orang didepannya. "Kami baik-baik saja, hanya sedikit lel
** Sepeninggal Ryu, Lily membuka kedua matanya. Menatap langit-langit RV kamarnya dan menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah menebaknya selama beberapa hari kedua kelompok bersama. Bahwa Ryu mungkin laki-laki yang tidur dengan pemilik tubuh sebelumnya. Perkataan Ryu barusan, Lily dengan jelas mendengarnya. Tapi ia tidal berniat mengungkap, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan mengaku lebih dulu, biar dia yang berbicara jika memang ingin mengakuinya. Selama ia tidak berbuat jahat dan macam-macam, maka Lily tidak akan mencari perhitungan dengannya. Lagipula malam itu, berdasarkan ingatan pemilik tubuh asli, kejadian yang terjadi diantara Lily dan Ryu adalah sebuah kecelakaan. Sama sekali tidak sengaja, bahkan menurutnya ini adalah kesalahan pemilik tubuh sendiri karena salah memasuki kamar. Ryu yang terpengaruh obat dan Lily yang telah mabuk sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Shion dan keluarga juga tidak menyalahkan, malah menyalahkan masing-masi
** Ryu tahu akan kedatangan beberapa orang dibelakang, dia tidak menghentikannya sama sekali. Tunggu saja dan lihat apa yang akan mereka lakukan, jika berniat mencelakai kelompok maka ia tidak akan memberi ampunan. Jika berniat ikut bertarung, itu bagus, maka ia tidak perlu repot-repot mencari perhitungan meski sangat tidak suka akan kesalahan yang mereka buat. Mengabaikan beberapa lrang dibelakang, Ryu lantas menatap Lily yang asyik menebas dengan raut semangat. Cipratan darah mengenai tubuh dan wajahnya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Ia terlihat lebih cantik hari ini, benar-benar membuat Ryu terpesona. Ryu hampir tidak bisa menahan diri apalagi ketika keduanya bersampingan. Tapi cara ia menebas kepala zombie tanpa sedikitpun rasa takut ini benar-benar membuatnya lebih menarik. Bisa disebut kecantikan kejam, pikir Ryu. Meski memikirkan beberapa hal berantakan, Ryu tetap tidak mengurangi serangannya pada zombie-zombie yang masih terus maju. Ia bahkan memerinta
**Raje dan Hans langsung keluar dari mobil begitu berhenti. Keduanya bersiap menghadapi gelombang zombie didepannya. Saling menatap, keduanya juga mengangguk dan mulai bertarung. "Buat dinding, Hans!" Ucap Raje, dengan serius. Kemudian Hans maju, ia langsung memukul tanah dan muncullah dinding tanah besar dan tinggi didepan keduanya. Raje lantas mengamgguk, kemudian giliran dirinya yang maju. Naik ke atas dinding tanah tebal yang telah dibuat Hans. Mengulurkan tangan ke arah gerombolan zombie, dan wushh! Seketika angin besar menghantam. Gerombolan zombie jelas tertahan pada saat ini. Hans memanfaatkan situasi, mulai membuat gelombang tanah, begitupula Raje yang mulai membuat banyak pisau kecil yang ia padatkan dengan kekuatan anginnya kemudian melemparkannya. Banyak zombie jatuh, setiap pisau yang dipadatkan berhasil mengenai setiap kepala zombie, menusuknya hingga mati. Lily menatap keduanya dengan takjub. Ada dua lagi di depannya yang mengeluarkan kemampuan spiritual. Tanah dan
** Hingga konvoi berhenti untuk makan di siang hari, semua orang langsung menghela nafas lega karena bisa beristirahat lebih awal kali ini. Kejadian sebelumnya tidak benar-benar membuat setiap orang istirahat dengan baik, alhasil kini dibawah mata setiap orang dari kelompok Ryu terdapat lingkaran hitam yang sangat jelas. Berbeda dengan keluarga Lily, semuanya tampak segar dan tidak ada jejak kelelahan sa sekali. Membuat setiap orang dikelompok Ryu menatap kelimanya penasaran. Pasalnya, bahkan Shion dan sang ayah yang bertugas mengemudi pun tidak tampak lelah sama sekali. Kecuali tiga orang lain, tidak membuat orang-orang penasaran karena menebak jika ketiganya tidur dengan nyaman. Sampai-sampai Hans bertanya pada Lily. "Punya RV sangat nyaman ya?" Ucapnya dengan nada iri. "Bagus, tahan guncangan dan bisa tidur telentang seperti dirumah." Balas Lily menjawab dengan santai. Tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi ia menjawab sesuai fakta yang ia rasakan. Ben dan Widy mena







