Compartilhar

06 : Persiapan 1

Autor: Domba Kecil
last update Última atualização: 2025-12-19 23:03:42

**

Setelah memperhitungkan semua hal di dalam ruang dengan banyak ide yang belum terealisasikan, Lily lantas kembali ke danau dengan posisi semula. Kedua kaki yang menjulur menyentuh air. Setelahnya ia beranjak, berniat menghampiri Chloe yang mungkin akan selesai dalam waktu dekat.

Dan dugaannya benar, kini terlihat Chloe yang berjalan menghampiri Lily dengan buku dan pena ditangannya. Begitu keduanya berhadapan, Chloe langsung membungkuk menyapa Lily, dibalas anggukan olehnya.

"Sudah selesai? Bagaimana dengan upah?" Tanya Lily pada Chloe.

"Sudah nona, upah semua oramg telah aku sisihkan dan baru akan dibagikan pada malam hari, nona bisa datang dan membagikannya sendiri nanti. Lalu, apakah ada hal lain yang kau butuhkan nona?" Tanya Chloe pada Lily.

"Bagus, maka aku akan datang nanti. Sekarang aku butuh beberapa hal lain, kau bantu aku tulis, permintaanku agak banyak. Bantu aku temukan ayam petelur, ayam jantan dan betina serta beberapa anak ayam. Selain itu carikan juga kelinci, kambing dan sapi, masing-masing jantan dan betina, serta beberapa ikan hidup. Tambah kayu untuk dibuat pagar, buat lebih banyak selimut dan jubah hangat. Untuk sekarang, itu saja dulu. Maaf merepotkanmu, Chloe." Ucap Lily menatapnya dengan kasihan.

Beberapa hari ini, Chloe lebih lelah darinya, mengurus semua keperluan dan menjaganya siang malam, sekarang malah ia tambah bebannya. Menatap punggungnya yang menjauh perlahan, tersirat dalam hati, jelas meminta maaf pada Chloe atas sikapnya.

"Huft... tidak ada waktu untuk bersedih lagi. Ayo bergerak, Lily, siapkan saja semuanya, semampumu." Ucapnya menyemangati diri sendiri. Seraya beranjak, menuju kamar dimana semua barang yang sebelumnya dirapikan disimpan disana.

Begitu masuk, terlihat jajaran barang yang ditata rapih disudut kamar. Lily lantas tersenyum, melihat tumpukan kain, beberapa peti kecil emas, serta beberapa lukisan orangtuanya. Lalu ia berjalan mendekat dan mengulurkan tangan diatas semua barang tersebut, yang seketika menghilang dari sana.

Lily tersenyum dengan helaan nafas lega. Tapi ia tidak berhenti, langsung berjalan mengelilingi kamar melihat beberapa barang yang sekiranya akan berguna kelak. Tapi tidak ada yang baik, apalagi dunia disana jelas sangat berbeda, jadi Lily hanya memasukkan kotak perhiasan miliknya serta dua baju favoritnya. Baju disana sangat berbeda, ia mengambil dua sebagai pegangan saja, kalau-kalau ia tidak menemukan baju ganti disana.

Setelahnya Lily keluar kamar, berjalan menuju lapangan khusus yang dipakai Lily melatih dirinya. Terlihat jejeran tombak, baju zirah, panah, dan beberapa pedang. Lily memasukkan semuanya, termasuk pedang patah kesayangannya, yang ditinggalkan ibunya untuknya.

Cukup banyak barang untuk pertahanan diri dan keluarga itu disana. Lily merasa sedikit lega, setidaknya ada senjata untuk pertahanan diri. Jadi, meskipun ada pengepungan seperti terakhir kali, masih ada kesempatan untuk selamat. Apalagi jika semua orang dapat bekerja sama. Yang kurang adalah makanan, dan obat-obatan. Yang masih dalam proses pembelian.

Selain itu, pembuatan gudang, ranjang,dan tempat ternak yang akan ia masukkan juga, hal ini tunggu ayahnya kembali, mintalah untuk dibuatkan. Chloe tidak mengerti hal-hal ini, jadi ia tidak memintanya tadi. Lagipula sudah terlalu banyak hal yang diurusnya, jadi Lily melewatkan hal ini.

Lily berjalan ke dapur, melihat beberapa makanan ringan dan kue, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam ruang. Sekalian menguji ketahanannya jika dimasukkan ke ruang. Di gudang dapur, ada banyak beras dan biji-bijian, Lily memasukkan masing-masing 3 karung dari semua jenis yang ada. Selain itu, Lily juga memasukkan beberapa rempah dan bumbu dapur masing-masing satu tas, agar tidak terlalu kentara berkurangnya. Di ruang lain, ada banyak produk pegunungan yang dikeringkan, daging kering, dan produk fermentasi seperti acar. Lily juga memasukkannya ke ruang masing-masing dua keranjang.

Setelah dari dapur, Lily berjalan ke ruang utilitas yang biasanya terdapat banyak macam-macam barang disimpan disana. Melihat satu persatu, menemukan lilin, Lily memasukkan beberapa ke dalam. Ada juga bak mandi baru, termasuk sabun dan kelopak bunga yang dikeringkan, Lily juga memasukkannya, serta beberapa barang kecil lain yang terlihat yang dirasanya berguna.

Pada jam-jam ini, semua orang tidak akan ada di dapur dan diruang utilitas. Semua sibuk masing-masing dengan tugas dan pekerjaannya, ada pula yang beristirahat seperti koki dan asistennya, karena di siang hari harus memasak banyak makanan. Jadi, Lily keluar masuk ruanganpun tidak akan ada orang yang memergokinya.

Setelah keluar dari ruang utilitas, Lily berjalan kembali ke kamarnya, merasa lelah dan pusing karena menggunakan ruang terus menerus. Akhirnya ia memilih kembali ke kamar, seraya menunggu Chloe kembali dari menyelesaikan semua tugas yang diberikan olehnya, Lily merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa ada niat untuk tidur. Tapi saking lelahnya ia, pada akhirnya tanpa sadar tertidur.

**

"Ssst! Jangan mengeluarkan suara apapun." Bisik seseorang. Membuat Lily yang dalam keadaan setengah tertidur mengabaikannya, karena mengira itu adalah orangnya, berbisik agar tidak membangunkannya.

"Kakak, aku takut sekali.." Bisikan berikutnya datang dengan nada yang bergetar, membuat Lily sedikit mengernyit.

Siapa kakak? Pikir Lily. Hanya ada dirinya dan ayahnya, Chloe serta beberapa pelayan dan pengawal dikediaman. Apakah paman dan bibinya datang menemuinya? Pikirnya semakin dalam. Tetapi beberapa saat kemudian ia membuka kedua matanya dengan cepat, dan yang terlihat adalah langit-langit kamar berwarna cerah. Bukan coklat, ini bukan kamar miliknya.

'Astaga...' ucapnya dalam hati, diam-diam mengerti apa yang sedang terjadi. Seraya menatap sekelilingnya, dan benar dugaannya. Ada satu wanita, tiga laki-laki. Ditambah dirinya yang tidak bisa bergerak sama sekali.

"Sstt..." Ucap Shion seraya menepuk bahu Allen pelan. Tidak ada pilihan lain selain melakukan hal itu. Karena tidak bisa membuat banyak keributan, apalagi dengan keadaan pengepungan diluar. Membuat Allen yang berada disamping Shion menangis dengan mulut yang ditutup agar tidak mengeluarkan suara.

Disisi lain sang ayah dan sang ibu juga tampak frustasi dengan keadaan tersebut. Keduanya saling merangkul menenangkan, dengan tangan gemetar sang ibu yang masih ingat memegang tangan Lily.

Keempatnya tidak baik-baik saja, terlihat tampak berantakan. Lebih berantakan dari beberapa waktu lalu dirinya datang beberapa kali. Mereka mungkin sama seperti dirinya, menyalahkan keadaan, dan merasa tidak rela. Tapi keempatnya bahkan tidak mengeluh, apalagi setelah orang-orang itu memancing banyak monster ke dalam rumah. Membuat semuanya terjebak dalam satu kamar sempit. Tapi keempatnya mungkin juga berpikir, asalkan semuanya bersama, lalui saja meski sulit.

Lily merasa, keadaannya lebih baik. Bahkan sebelum ia benar-benar dikirim, ia masih diberi sebuah anugrah untuk hidupnya kelak. Lily kurang bersyukur atas anugrah tersebut, dan ia merasa sedikit sedih. Ia pikir, tidak seharusnya ia selalu enggan dan selalu menyalahkan keadaan yang jelas-jelas sudah ditakdirkan.

Karena semua yang ditakdirkan, sudah pasti akan terjadi. Setiap orang hanya perlu menjalaninya dengan sepenuh hati. Meski sulit menempuh jalannya, akan selalu ada hikmah dibalik semuanya.

**

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   33 : Mencoba Menggali Potensi Baru

    ** "Katakan padaku, apa yang membuat kalian mengetuk pintu?" Tanya Lily pada keduanya, tapi sama-sama fokus pada makanan. Menggigit dan menyuapkan makanan, membuat Lily menghela nafas karena diabaikan. "OH! Kalian melihatku makan ayam makanya mengetuk pintu, kan?!" Tanyanya curiga, keduanya hanya mengincar makanannya. Ansley menalan potongan ayam dimulutnya. Ia menatap Lily dengan panik, menggeleng dengan cepat. Adapun Andien yang mulutnya masih penuh langsung membantah. "Tidak! Tidak! Kami benar-benar ada urusan, tentang inti kristal!" Ucapnya, membuat Lily mengernyit jijik. "Habiskanlah, kau menjijikkan ew!" Ucap Lily seraya mengusap wajahnya dengan tisue yang ada ditengah meja. "Ewww! Kondisikan sikapmu!" Ucap Ansley ikut jijik tapi ada tawa di akhir. "Kau, begitu lapar ya? Padahal biasanya kau yang paling anggun, hahaha!" Ejek Ansley, Lily juga ikut tertawa mendengarnya. Karena selama perjalanan ini, Andien memang yang paling banyak diam. Tidak disangka ia benar-benar be

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   32 : Makan Ayam Panggang

    ** Lily terbangun dari tidurnya, langsung keluar dari ruang ketika ia mendengar ketukan dari pintu kamar di RV. Suara Shion dan Allen yang bertanya tentang keadaannya. Tapi karena awalnya Lily tidak kunjung membuka pintu dan pintu terkunci, alhasil kedua orangtuanya yang sama-sama baru bangun juga ikut mengetuk. Kehabisan energi membuat tidur Lily menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Jadi awal-awal ia tidak mendengar. "Datang! Datang!" Pekik Lily sedikit panik, dan langsung membuka pintu menyambut semua orang dengan senyum lebar. "Ada apa? Maaf aku tidur terlalu nyenyak." Ucap Lily seraya menggaruk kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang, ada yang tidak nyaman?" Tanya sang ibu yang paling khawatir, sang ayah juga menatapnya lekat-lekat. Shion dan Allen menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan ibunya. "Aku baik-baik saja, bu, kalian apakabar? Ada yang terluka? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Lily menatap satu persatu orang didepannya. "Kami baik-baik saja, hanya sedikit lel

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   31 : Menggali Potensi Bakat

    ** Sepeninggal Ryu, Lily membuka kedua matanya. Menatap langit-langit RV kamarnya dan menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah menebaknya selama beberapa hari kedua kelompok bersama. Bahwa Ryu mungkin laki-laki yang tidur dengan pemilik tubuh sebelumnya. Perkataan Ryu barusan, Lily dengan jelas mendengarnya. Tapi ia tidal berniat mengungkap, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan mengaku lebih dulu, biar dia yang berbicara jika memang ingin mengakuinya. Selama ia tidak berbuat jahat dan macam-macam, maka Lily tidak akan mencari perhitungan dengannya. Lagipula malam itu, berdasarkan ingatan pemilik tubuh asli, kejadian yang terjadi diantara Lily dan Ryu adalah sebuah kecelakaan. Sama sekali tidak sengaja, bahkan menurutnya ini adalah kesalahan pemilik tubuh sendiri karena salah memasuki kamar. Ryu yang terpengaruh obat dan Lily yang telah mabuk sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Shion dan keluarga juga tidak menyalahkan, malah menyalahkan masing-masi

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   30 : Mengetahui Kebenaran

    ** Ryu tahu akan kedatangan beberapa orang dibelakang, dia tidak menghentikannya sama sekali. Tunggu saja dan lihat apa yang akan mereka lakukan, jika berniat mencelakai kelompok maka ia tidak akan memberi ampunan. Jika berniat ikut bertarung, itu bagus, maka ia tidak perlu repot-repot mencari perhitungan meski sangat tidak suka akan kesalahan yang mereka buat. Mengabaikan beberapa lrang dibelakang, Ryu lantas menatap Lily yang asyik menebas dengan raut semangat. Cipratan darah mengenai tubuh dan wajahnya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Ia terlihat lebih cantik hari ini, benar-benar membuat Ryu terpesona. Ryu hampir tidak bisa menahan diri apalagi ketika keduanya bersampingan. Tapi cara ia menebas kepala zombie tanpa sedikitpun rasa takut ini benar-benar membuatnya lebih menarik. Bisa disebut kecantikan kejam, pikir Ryu. Meski memikirkan beberapa hal berantakan, Ryu tetap tidak mengurangi serangannya pada zombie-zombie yang masih terus maju. Ia bahkan memerinta

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   29 : Bertarung

    **Raje dan Hans langsung keluar dari mobil begitu berhenti. Keduanya bersiap menghadapi gelombang zombie didepannya. Saling menatap, keduanya juga mengangguk dan mulai bertarung. "Buat dinding, Hans!" Ucap Raje, dengan serius. Kemudian Hans maju, ia langsung memukul tanah dan muncullah dinding tanah besar dan tinggi didepan keduanya. Raje lantas mengamgguk, kemudian giliran dirinya yang maju. Naik ke atas dinding tanah tebal yang telah dibuat Hans. Mengulurkan tangan ke arah gerombolan zombie, dan wushh! Seketika angin besar menghantam. Gerombolan zombie jelas tertahan pada saat ini. Hans memanfaatkan situasi, mulai membuat gelombang tanah, begitupula Raje yang mulai membuat banyak pisau kecil yang ia padatkan dengan kekuatan anginnya kemudian melemparkannya. Banyak zombie jatuh, setiap pisau yang dipadatkan berhasil mengenai setiap kepala zombie, menusuknya hingga mati. Lily menatap keduanya dengan takjub. Ada dua lagi di depannya yang mengeluarkan kemampuan spiritual. Tanah dan

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   28 : Makan Bersama

    ** Hingga konvoi berhenti untuk makan di siang hari, semua orang langsung menghela nafas lega karena bisa beristirahat lebih awal kali ini. Kejadian sebelumnya tidak benar-benar membuat setiap orang istirahat dengan baik, alhasil kini dibawah mata setiap orang dari kelompok Ryu terdapat lingkaran hitam yang sangat jelas. Berbeda dengan keluarga Lily, semuanya tampak segar dan tidak ada jejak kelelahan sa sekali. Membuat setiap orang dikelompok Ryu menatap kelimanya penasaran. Pasalnya, bahkan Shion dan sang ayah yang bertugas mengemudi pun tidak tampak lelah sama sekali. Kecuali tiga orang lain, tidak membuat orang-orang penasaran karena menebak jika ketiganya tidur dengan nyaman. Sampai-sampai Hans bertanya pada Lily. "Punya RV sangat nyaman ya?" Ucapnya dengan nada iri. "Bagus, tahan guncangan dan bisa tidur telentang seperti dirumah." Balas Lily menjawab dengan santai. Tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi ia menjawab sesuai fakta yang ia rasakan. Ben dan Widy mena

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status