Mag-log inHati Agatha merasa tidak tenang, tangannya saling bertautan karena gugup. Di otak kecilnya ia terus berpikir hal-hal negatif, salah satunya apa ia akan di terima? Sampai tangan seseorang menghangatkan tangannya yang terasa dingin akibat gugup. "Kamu tenang aja sayang, Mom pasti menyukaimu." "Tenang gundulmu, masih ingat terakhir aku datang ke rumahmu. Hah?!" ujar Agatha. "Terus gimana sayang, masa kita harus diam di sini sampai pagi lagi." Sudah hampir satu jam keduanya berada di mobil, katanya Agatha merasa gugup dan takut. "Syal yang aku bawa benaran Mommy kamu suka?" tanya Agatha. Benar, malam ini ia putuskan akan bertemu dengan calon mertua yang dulu tidak menyukainya, itu juga alasan kenapa ia gugup. "Suka banget, jadi kapan kita masuk?" tanya Marcel kesekian kali. "Aku takut sayang, jika harus memilih. Lebih baik aku melabrak selingkuhan orang lain daripada bertemu ibu kamu, lihatlah. Ta
Malam harinya, Agatha yang sedang maskeran dengan warna hitam bersenandung ria sambil membaca buku. Saat sedang asik asiknya membaca, ia di kejutkan dengan suara petasan kembang api yang berada di dekat rumahnya. "Siapa tuh yang nyalahin kembang api di dekat rumahku, ganggu aja." Awalnya Agatha membiarkan saja, tapi petasan itu tak kunjung berhenti membuat ia geram merasa terganggu. Agatha keluar rumah tanpa melepaskan maskernya, pintu terbuka dan-- "Woy berisik! Ganggu..." Ucapan Agatha terhenti karena lagi-lagi ia dikejutkan dengan petasan kembang api yang bertuliskan 'aku mencintaimu Agatha' lalu tatapan yang tadinya melihat langit menurun ke arah seorang pria yang berdiri di depan rumahnya, diikuti beberapa bodyguard berbaris sambil membawa barang-barang mewah. "Selamat malam Agatha," sapa Marcel ceria. Ya, dia Marcel yang ingin melamar Agatha dengan cara seperti di drama-drama kerajaan. Tadinya mereka juga terkejut
Agatha yang sedang bercanda tawa dengan seorang pria yang dulu pernah ia tolak dan sekarang menjadi sahabat karibnya terkejut, saat tangannya di tarik pelan oleh seseorang. Melihat siapa yang menarik, wajah yang tadinya ingin marah pun tidak jadi, ia melongo. "Pak buta, ngapain kamu di sini?" Ngegas Agatha berdiri, tubuhnya tersentak saat Marcel merengkuh pinggangnya untuk lebih dekat kepada Marcel. "Bisa kamu menjauh dari Agatha?" ujar Marcel dingin, menatap pria yang tadi bercanda tawa dengan Agatha. Agatha yang sudah tersadar kembali memberontak, tapi bukannya terlepas pelukan Marcel malah semakin mengerat di pinggangnya. "Pak, Lepas! Kamu apa-apaan sih," bisik Agatha. Pria yang bersama Agatha menatap keduanya santai, ide jahil terlintas di pikirannya. "Oh, memangnya kenapa kalo saya dekat dengan Agatha, memangnya siapa kamu?" tanya pria itu, namanya Galang.
Agatha Evanora, sosok gadis yang tangguh, pejuang keras, blak-blakan, humoris. Harus berubah menjadi gadis pendiam karena kematian sahabatnya yang sudah ia anggap keluarga sendiri, bahkan Agatha pernah melakukan bunuh diri lantaran tidak sanggup kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Rasanya Agatha ingin ikut dengan sahabat dan keluarganya yang sudah tiada, kadang ia bingung harus melakukan apa, kesepian adalah hal yang paling Agatha benci. Sekarang Agatha sedang berada di Paris bersama mantan bos buta dirinya, keduanya berada di sini gara-gara permainan konyol dari keluarga Casanova yang memberikan liburan gratis kepada pemenang dansa dan ia menjadi salah satu pemenang dansa itu karena tidak sengaja terjatuh. "Kenapa kamu resign dari kantor saya?" tanya Marcellio Neiland, dia sengaja menyetujui liburan ini karena ingin berbicara empat mata dengan Agatha yang menjauhinya tanpa sebab. "Buka
Delapan bulan kemudian… "Awss… Mas, perutku sakit banget, kayaknya aku mau melahirkan!" seru Serina histeris. Vincen yang baru mandi langsung menggendong istrinya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. "Vincen, kenapa dengan Serina?" tanya Zander. "Serina mau melahirkan, Dad, aku duluan. Nanti kalian nyusul." Vincen berlari sambil menggendong Serina menuju parkiran, saat sudah sampai parkiran Vincen mencari kunci mobil di saku jas, tapi dia lupa baru selesai mandi dan hanya memakai bathrobe saja. "Sial, kuncinya di dalam lagi," umpat Vincen. Merasa kasihan melihat Serina yang kesakitan. "Huh! Sa-sakit, mas." "Sabar sayang..." Vincen melihat mobil yang baru datang, tanpa berucap apapun Vincen masuk ke dalam mobil itu. “Woy, cepat ke rumah sakit!” seru Vincen tanpa melihat siapa yang menyetir. "Kamu nyuruh saya?" Vincen yang mengenali suaranya melihat siapa? Dan wajahnya berubah datar, ternyata Piel si makhluk menyebalkan. “Cepat, ke rumah sakit sekarang,” titah Vin
Sudah beberapa hari Keduanya menghabiskan waktu bersama di Bali dan sekarang keduanya pulang karena anaknya merindukan orang tuanya. Serina dan Vincen sudah sampai di mansion Casanova, kedatangan keduanya disambut hangat oleh mereka. "OMMY, DADDY!" seru Arce dan Aurel berlari menghampiri orang tuanya, dengan sigap Vincen dan Serina menggendongnya. "Kenapa talian lama? Ulel nunggu lamaaaa anget, tapi Ommy dan Daddy ndak ulang-ulang," ucap Aurel cemberut. Vincen mengusap-usap rambut anaknya sayang. “Maaf ya Princess, kita lagi buat adik buat kalian,” bisik Vincen. "Mas!" seru Serina mencubir pinggang suaminya. Arce yang memang mendengar karena berada di gendongan Serina pun menatap Daddy-nya heran. "Telus sekalang adiknya mana?" tanya Arce polos. "Masih launching Abang," jawab Vincen santai tanpa melihat Serina yang kesal kepada suaminya. "Ulel ndak mau unya adik, nanti talian ndak cayang agi cama Ulel." Aurel menyilangkan tangannya di dada dengan wajah menatap orang tuanya cembe
"Mas, ini apa?" tanya Serena melihat paper bag yang Vincen berikan padanya."Buka saja." Serena membukanya dan terkejut melihat baju yang sangat tipis, ia meneliti lingerie yang transparan sambil bergidik ngeri."Kamu serius Mas, ngasih aku baju kayak gini?" Tanpa menoleh kepada
Serena masuk ke mansion dengan dirinya yang berada di gendongan Vincen ala bridal style, banyak para pelayan dan bodyguard terkejut melihat keduanya menunjukkan keromantisan, biasanya selalu perang dingin. Saat keduanya melewati Elsie dan Alice, Serena memunculkan kepalanya kembali yang sedari awa
Bukannya pulang ke rumah Serena malah berbelanja terlebih dahulu, sayang jika uang suaminya tidak ia gunakan. Saat sedang asik berbelanja Serena tidak sengaja melihat Andrian bersama seorang gadis sambil merangkul pinggangnya dengan mesra. Seketika Serena menatap keduanya jijik, tapi siapa perempua
Serena merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar, ia merasa hampa sekarang. Air matanya menetes mengingat kenangan masa lalu, kenapa ia harus masuk ke tubuh ini? Harusnya masukan ia ke tubuh orang yang banyak menyayanginya agar ia tidak merasa kesepian lagi."Serena, jangan menangis,"







