INICIAR SESIÓNSuasana di dalam ruang tamu markas terasa begitu pekat oleh kecemasan. Bunyi dengung kipas laptop berpadu dengan ketukan jemari Bayu yang gelisah di atas meja kaca. Di layar monitor, rekaman CCTV halaman depan rumah Renata diputar ulang untuk kesekian kalinya. Siluet hitam Bastito yang bergerak secepat kilat dan distorsi energi gelap yang mematikan terekam jelas di sana, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang.Joko memajukan tubuhnya, menunjuk layar dengan dahi berkerut dalam.“Aku yakin dia adalah orang dari Kelompok Naga Timur," ujar Joko, suaranya berat dan penuh kepastian. "Dia jarang muncul. Tapi dulu, saat aku masih bersama almarhum Pak Darmawan, aku pernah melihat orang itu ada di arena judi bawah tanah...”Bayu menoleh cepat, tampak terkejut. “Naga Timur itu sangat jarang terlihat... Jadi, bajingan yang mengacaukan rumah Bu Renata itu benar-benar orang dari kelompok mereka?”“Kata Pak Darmawan waktu itu, dia bukan sekadar anggota biasa," Joko menggelengkan kepal
Halaman rumah mewah itu kini tak lebih dari medan perang yang luluh lantak. Sisa-sisa pertempuran masih menyisakan bau hangus udara yang terdistorsi oleh energi hitam Bastito. Di tengah kekacauan itu, Renata berdiri dengan tubuh gemetar hebat. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut, dan sepasang matanya menyiratkan ketakutan sekaligus amarah yang meledak-ledak. Ia sangat kalut, panik hingga ke sumsum tulangnya.Dengan tangan yang masih menggenggam pistol berlaras dingin, ia memarahi semua anak buahnya yang kini sedang berkumpul di halaman. Sebagian dari mereka merintih memegangi tulang rusuk yang patah, sementara yang lain hanya bisa menunduk pasrah, tak berani menatap mata sang nyonya."Kalian ini berguna untuk apa?!" jerit Renata, suaranya melengking memecah keheningan malam, sarat dengan keputusasaan. "Aku membayar kalian mahal bukan untuk melihat kalian tumbang seperti lalat dalam hitungan detik! Satu orang! Hanya satu orang dan dia membawa pergi Adit tepat di depan hidung k
Mereka berdua kembali bertolak dengan cepat dan kuat hingga tanah di sekitar mereka sedikit bergetar; bisa dirasakan apabila ada yang dekat dengan area itu. Namun tak ada yang berani mendekat. Semua orang masing-masing menjaga jarak aman dari pertarungan Adit dan Bastito.Bastito menyerang lebih dulu. Tangannya bergerak membentuk lintasan melengkung yang cepat, mengincar leher Adit dengan ujung-ujung jarinya yang mengeras bagaikan belati baja. Adit tidak menghindar. Ia mengangkat lengan kirinya, menangkis hantaman itu tepat di pergelangan tangan Bastito, memicu bunyi BUK! yang berat dan bergaung di halaman.Tak membiarkan lawannya mengambil napas, Bastito memutar tubuhnya, melepaskan tendangan berputar ke arah rusuk Adit. Kecepatan tendangan itu begitu ekstrem hingga memicu bunyi desingan angin yang tajam.Adit mengatupkan kedua lengannya di depan dada, menerima benturan tersebut. Kekuatan tendangan Bastito luar biasa berat; Adit terdorong mundur, sepasang kakinya menyeret tanah hingg
"Adit... apa itu tadi?"Suara Renata terdengar parau, sisa-sisa kantuk masih menggelayut di ujung lidahnya. Namun, sepasang matanya sudah terbuka sempurna, terjaga oleh alarm bahaya yang tiba-tiba berdering di kepalanya. Ia langsung duduk tegak di atas ranjang, membiarkan selimut sutranya merosot begitu saja dari bahu. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu kamar, terpaku pada rasa tidak nyaman yang mendadak merayapi tengkuknya.Di dekat jendela, Adit sudah berdiri tegak."Ada tamu tak diundang di depan sana," jawab Adit pendek. Tangannya bergerak cepat menyambar kaos dan celananya yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat, namun sama sekali tidak menyiratkan kepanikan. "Kak Ren, tetap di sini.""Tapi, suara apa yang…""Akan aku periksa," potong Adit cepat, memangkas kalimat Renata. Ia menoleh sekilas, memastikan tatapan mereka bertemu. "Tapi tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana. Pakai bajumu, dan pegang pistolmu!"Renata menelan ludah, lalu mengangguk pela
Malam di rumah Renata tidak pernah benar-benar sunyi sejak Juanda Tan duduk di ruang paling belakang yang terkunci sedemikian rupa.Selalu ada orang. Selalu ada gerakan. Selalu ada suara langkah di koridor atau batuk seseorang di pos jaga atau bunyi kursi yang digeser di ruang tengah. Itu sudah menjadi ritme baru tempat itu; denyut yang konstan, seperti mesin yang tidak pernah dimatikan.Tapi malam itu berbeda.Bukan karena rumah itu kosong. Masih ada enam puluhan orang di sana, tersebar di berbagai sudut, di dalam dan di luar bangunan. Tapi sejak sore, sesuatu yang tidak bisa diberi nama mulai merayap; semacam kelesuan yang menular dari satu orang ke orang berikutnya. Mungkin karena sudah beberapa malam tanpa tidur yang benar. Mungkin karena tegangan yang sudah lama dipegang akhirnya meminta bayarannya. Maka banyak dari mereka yang seharusnya terjaga, kini malah tidur.Dan kemudian, yang masih terjaga tidak sampai dua puluh orang. Mereka berpasangan di sudut-sudut yang berbeda; dua d
Lantai puncak Menara Hitam tidak terlihat dari bawah.Bukan karena ketinggiannya, meski gedung itu memang salah satu yang tertinggi di kota ini. Tapi karena tidak ada yang tahu lantai itu ada. Denah resmi gedung mencatat dua puluh tujuh lantai. Yang sesungguhnya, ada dua puluh delapan. Satu lantai yang tidak pernah muncul di dokumen mana pun, tidak terdaftar di kantor pertanahan, tidak tercantum dalam izin bangunan, dan tidak pernah dijangkau oleh lift yang tersedia untuk umum.Malam itu, ruangan di lantai itu menyala.Bukan dengan cahaya yang mencolok. Justru sebaliknya; lampu-lampu dinding dengan nyala yang rendah dan kemerahan, seperti bara yang belum sepenuhnya padam. Meja bundar besar di tengah ruangan dikelilingi oleh kursi-kursi yang hampir semuanya terisi. Dua puluh orang. Tidak lebih, tidak kurang; karena memang begitulah aturannya, dan aturan di tempat ini tidak pernah dilanggar dua kali oleh orang yang sama.Dari luar, jika ada yang bisa melihat, mereka akan mengira ini ada







