INICIAR SESIÓNPerjalanan pulang ke rumah Nenek Delima berlangsung dalam keheningan Laras tertidur di kursi penumpang dengan kepala bersandar di jendela dengan napas teratur tapi lemah.Sampai di rumah, Vera membangunkan Laras dengan lembut. "Ras, udah sampai. Ayo masuk."Laras terbangun dengan mata setengah terbuka; turun dari mobil dengan bantuan Vera. Nenek Delima yang mendengar suara mobil langsung keluar dengan wajah khawatir."Laras! Kamu kenapa?! Pucat sekali!" serunya sambil menyambut cucunya.Vera menjelaskan dengan singkat. "Nenek, Laras kelelahan. Dia butuh istirahat total…”Nenek Delima mengangguk sambil menopang Laras. "Iya, iya. Terima kasih sudah antar dia pulang, Vera.""Sama-sama, Nek. Saya harus balik ke rumah sakit lagi. Laras, istirahat yang banyak ya."Laras hanya bisa mengangguk lemah sebelum Nenek Delima membawanya masuk ke rumah.Vera kembali ke mobil, menatap rumah itu sebentar dengan perasaan campur aduk. Lalu dia menyalakan mesin dan melaju kembali ke rumah sakit.***Vera
Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, di area industri yang sudah tidak terpakai, gelap, dan sepi, tiga orang pria turun dari sebuah mobil van hitam.Mereka adalah tiga orang yang sama yang menabrak Adit beberapa jam lalu.Mereka berjalan masuk ke dalam gudang dengan langkah yang gugup. Di dalam gudang yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam redup, seorang pria berdiri dengan postur tegap; mengenakan seragam polisi lengkap dengan lencana dan bintang di pundaknya.Komisaris Besar Haryanto.Pria berusia lima puluhan dengan wajah keras, kumis tebal, dan mata yang tajam seperti elang. Dia adalah salah satu perwira tinggi kepolisian dan dia adalah orang kepercayaan Jenderal Guntur.Ketiga orang itu berhenti di depan Komisaris Haryanto dengan wajah yang masih dipenuhi keringat, campuran antara ketegangan dan kelelahan."Pak..." salah satu dari mereka, pria bertubuh besar yang menyetir truk tadi, mulai berbicara dengan suara yang sedikit bergetar. "Sudah kami lakukan. Adit sudah kami t
Vera langsung menangkap Laras sebelum jatuh. "Ras! Kamu oke?!"Laras hanya bisa mengangguk lemah, tidak bisa bicara, terlalu lelah.Dan tepat saat itu, pintu ICU terbuka.Seorang perawat muda masuk dengan wajah terkejut melihat dua orang asing berdiri di samping ranjang pasien."Hei! Kalian siapa?! Tidak boleh masuk sembarangan ke sini!" tegur perawat dengan nada keras tapi juga volume pelan.Vera langsung panik, tapi berusaha tetap tenang. "Maaf! Maaf! Kami... kami keluarga pasien. Kami cuma mau liat sebentar, ""Tidak bisa! Ini ICU! Akses terbatas! Kalian harus keluar sekarang!"Vera mengangguk cepat sambil menopang Laras yang hampir tidak bisa berdiri. "Oke, oke. Maaf. Kami keluar sekarang."Dia memapah Laras dengan susah payah, tubuh Laras lemas seperti boneka kain, kaki terseret di lantai.Mereka keluar dari ICU dengan tergesa-gesa, melewati perawat yang menatap dengan curiga.Begitu di luar, Vera membawa Laras ke bangku tunggu di koridor, mendudukkannya dengan hati-hati.Laras t
Mobil Vera melaju dengan kecepatan tinggi memasuki area parkir Rumah Sakit Harapan Kita. Dia memarkirkan mobil dengan tergesa-gesa, bahkan tidak terlalu rapi, lalu langsung turun bersama Laras.Laras sudah mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya, mata merah dari menangis sepanjang perjalanan. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena ketakutan yang luar biasa."Ayo, Ras. Kita harus cepat," kata Vera sambil memegang tangan Laras dengan erat.Mereka berlari masuk ke lobby rumah sakit yang sepi di dini hari, hanya ada beberapa perawat jaga dan satu dua pengunjung yang duduk menunggu dengan wajah lelah.Vera membawa Laras langsung menuju lift, menekan tombol lantai tiga di mana ruang ICU berada. Pintu lift tertutup, dan mereka naik dengan hati yang berdebar keras.Laras menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap, wajahnya pucat, mata bengkak, tangan gemetar. Dia mencoba mengatur napas, menarik napas dalam, menghembuskan perlahan, berusaha menena
Ambulans tiba di UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa, salah satu rumah sakit besar di kota itu. Adit langsung dibawa ke ruang trauma dengan tim medis yang sudah standby.Dokter jaga malam, seorang pria muda bernama dr. Rizky, langsung memeriksa kondisi Adit dengan cepat tapi teliti."Trauma kepala berat. Gegar otak kemungkinan besar. Luka robek di dahi dan pelipis. Tulang rusuk mungkin retak, harus rontgen. Tekanan darah rendah. Detak jantung lemah. Status: kritis."Perawat di sampingnya mencatat semua dengan cepat sambil memasang monitor jantung dan oksigen pada Adit."Kita bawa ke ruang ICU. Sekarang. Siapkan CT scan kepala dan rontgen dada," perintah dr. Rizky dengan tegas."Siap, Dok."Adit dibawa ke ruang ICU; ruangan steril dengan berbagai mesin medis yang berdering dan berkedip. Dia dibaringkan di ranjang ICU dengan berbagai kabel dan selang terpasang di tubuhnya.Kondisinya sangat kritis. Nyawanya tergantung pada benang tipis.***Sekitar pukul satu dini hari, rumah sakit dan polis
Tiga orang turun dari truk dengan gerakan yang cepat tapi hati-hati. Mereka semua mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulut, topi baseball yang ditarik rendah menutupi dahi, dan jaket berwarna gelap. Wajah terlindung sempurna. Identitas tersamar tanpa celah.Mereka berjalan mendekat ke mobil Adit yang ringsek terjepit di pembatas jalan, body mobil hancur, kaca depan pecah berantakan, asap mengepul dari kap mesin yang penyok.Salah satu dari mereka, pria bertubuh besar, mengintip ke dalam mobil melalui jendela yang pecah. Dia melihat Adit tergeletak di kursi pengemudi dengan kepala bersandar, wajah penuh darah, mata tertutup, tubuh tidak bergerak."Dia sudah mati harusnya," katanya dengan nada datar.Pria kedua, bertubuh lebih kurus, ikut mengintip. "Iya. Lihat tuh... udah tidak gerak. Tidak usah diapa-apain lagi."Pria ketiga yang berdiri sedikit di belakang menatap sekeliling dengan gelisah. "Sekarang bagaimana?""Ayo kita pergi saja," jawab pria pertama sambil berbalik







