Share

Celetukan Sahabat

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 09:25:49

Dayat memarkirkan motornya di depan toko material besar yang sudah menjadi langganannya. Dengan teliti, ia mengeluarkan catatan spesifikasi yang diberikan Natasya tadi. Satu per satu barang ia pesan, mulai dari kabel-kabel kualitas premium, sakelar model terbaru, hingga perlengkapan CCTV tambahan untuk area villa.

Setelah memastikan setiap item tidak ada yang terlewat dan semua barang dalam kondisi siap kirim, Dayat menyelesaikan pembayaran menggunakan uang dari amplop Natasya.

"Bang, kirim k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Servis Spesialis   Job di Siang Hari

    Dayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D

  • Tukang Servis Spesialis   Kembali Ke Kota

    Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,

  • Tukang Servis Spesialis   Ruangan Kenikmatan

    "Sini masuk, Mas, kok malah diam di situ?" panggil Cici, suaranya mengalun rendah dari ambang pintu yang terbuka.Dayat menelan ludah yang terasa kesat. Langkah kakinya bergerak maju dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Mb-Mbak... ini ruangan apa?"Kamar ini nampak bersih dan tertata rapi dengan pendar lampu neon berwarna merah muda yang menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah ranjang kayu besar dilapisi seprai satin berwarna merah marun. Di sekeliling sudut atapnya, untaian lampu hias kecil kelap-kelip benderang, menciptakan atmosfer yang sangat sensual."Penasaran ya? Makanya, sini masuk," sahut Cici, senyumnya semakin melebar.Jemari Cici mendadak menyambar pergelangan tangan Dayat, menariknya masuk melewati ambang pintu. Begitu Dayat berada di dalam, Cici dengan gerakan kilat menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam. Klek.Cici berbalik, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Dayat. Ia berjinjit sedikit dan berbisik tepat di telinga pria itu, "Ini tuh... namany

  • Tukang Servis Spesialis   Tumpangan

    "Bo-boleh, Mbak," sahut Dayat, menelan ludah yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokannya. Ia mengulurkan tangan ke kiri, menekan tombol untuk membuka pengunci pintu mobil otomatisnya."Makasih ya, Mas," ucap Cici dengan senyuman yang teramat manis.Ia menarik gagang pintu luar, lalu dengan gerakan luwes mendudukkan tubuh sintalnya di atas jok penumpang tepat di samping Dayat. Aroma wangi sabun dan minyak melati yang menyengat langsung memenuhi kabin mobil yang semula berbau pewangi jeruk. Daster batik yang dikenakannya sedikit tersingkap ke atas paha saat ia membetulkan posisi duduk, membuat Dayat hampir tidak kuasa menahan pandangannya agar tidak melirik kemolekan tubuh wanita itu dari dekat. Dayat menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kemudi erat-erat, dan berusaha keras memfokuskan matanya ke hamparan jalan aspal di depan."Memangnya Mbak Cici mau ke mana?" tanya Dayat, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak terasa begitu intim di dalam kabin.Cici memutar tubuhnya sedikit

  • Tukang Servis Spesialis   Perpisahan dan Tumpangan?

    "Malam, Mas Dayat," sapa Cici dengan suara parau yang sengaja direndahkan, mengalun lembut membelah desir angin malam.Dayat menurunkan bambu di tangannya dengan napas yang masih sedikit memburu. "Mbak Cici? Ngapain jam segini kelayapan sendirian di belakang rumah orang?"Cici memajukan langkahnya satu tapak, membuat jarak di antara mereka terkikis. Daster batiknya yang sebatas lutut bergoyang pelan. Dengan nada menggoda yang kental, ia menyahut, "Cuma cari angin aja kok, Mas. Terus... enggak sengaja ke sini."Dayat terdiam, namun otaknya berputar cepat. ‘Enggak mungkin sengaja cari angin sampai ke belakang rumah orang jam sebelas malam begini. Perempuan ini pasti punya niat lain,’ batin Dayat penuh selidik."Mas Dayat sendiri... ngapain jam segini belum tidur?" tanya Cici pelan, matanya menatap lekat manik mata Dayat di dalam keremangan."Y-ya... tadi aku lagi minum air," jawab Dayat, mendadak gugup mendapat tatapan seintens itu. Ia berdeham kecil untuk menetralkan suaranya. "Terus d

  • Tukang Servis Spesialis   Tamu Tak Diundang

    Jarum jam dinding di kamar Ajeng yang berdetak konstan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam. Dayat perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan. Ia melirik ke arah jam di atas meja rias yang temaram; jarum pendeknya tepat menunjuk ke angka sebelas malam.Dayat menoleh ke samping. Di sana, Ajeng sudah terlelap dengan sangat pulas. Tubuh wanita itu terbungkus rapat oleh selimut tebal bermotif bunga, dengan kedua lengannya yang melingkar erat memeluk pinggang Dayat, seolah tidak mau kehilangan sosok pria di sampingnya bahkan di dalam mimpi.‘Duh, haus banget tenggorokan gue,’ gumam Dayat di dalam hatinya, menelan ludah yang terasa kesat.Dengan sangat hati-hati, Dayat mulai menggeser lengan Ajeng yang menempel di tubuhnya. Ia bergerak sesenti demi sesenti. Setelah berhasil meloloskan diri, Dayat bangkit dari kasur lantai dengan gerakan yang sangat halus. Sebelum melangkah pergi, ia menarik ujung selimut Aje

  • Tukang Servis Spesialis   Kebaikan Terselubung

    Dayat menghela napas pendek, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat. Ia turun perlahan dari tangga lipat agar bisa berbicara lebih fokus. "Aduh, Tante... itu sebenarnya gara-gara Luki," jawab Dayat dengan nada yang dibuat seolah-olah ia adalah korban keada

  • Tukang Servis Spesialis   Status Yang Menghangatkan

    Sesaat sebelum masuk tol, Dayat membelokkan mobil SUV besar itu ke sebuah pelataran rumah makan yang cukup ramai. Setelah mereka mendapatkan meja di sudut yang agak tenang, Dayat memberikan buku menu kepada Gita. "Git, kamu pesan duluan aja ya, samain aja minumnya sama aku. Aku ke depan sebentar,

  • Tukang Servis Spesialis   Next Job!

    Dayat tetap memasang wajah tenang, meski dalam hati ia cukup terkejut dengan ketelitian Linda. Ia memperbaiki kerah kemejanya sambil menatap Linda santai. ​"Oalah, soal itu. Gita itu adiknya temenku, Lin. Kemarin temenku itu minta tolong banget buat jemput dia pagi-pagi," jawab Dayat dengan nada y

  • Tukang Servis Spesialis   Kehangatan Tanpa Hasrat

    Dayat menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, mencoba meredakan sisa-sisa denyut nikmat yang masih terasa. "Ya sudah, kalau gitu nanti Mas temenin sampai kamu tidur deh," ucap Dayat sambil mengusap kepala Gita. ​Gita langsung mendongak, matanya berkilat nakal mendengar jawaban itu. "Nemenin doang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status