LOGINDayat terdiam sejenak, menimbang-nimbang tas perkakas yang sudah rapi di tangannya. Otaknya berputar cepat memikirkan jadwal pekerjaan besok pagi di area proyek kota."Dit, dari perumahan sini kalau mau ke arah proyek utama yang di pusat kota itu... jauh enggak sih?" tanya Dayat, memastikan rute.Dita yang menyadari ada lampu hijau langsung menegakkan tubuhnya dengan mata berbinar. "Ealah, malah lebih dekat dari sini, Mas! Jalurnya lurus terus lewat jalan pintas di depan sana, enggak perlu muter kayak dari rumah lamaku."Dayat mangut-mangut, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Ya sudah, sebentar ya. Aku telepon Astrid dulu. Soalnya biasanya kalau ke proyek, aku sering barengan sekalian jemput dia."Dita mengangguk patuh, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menunggu dengan sabar.Dayat mencari nama Astrid di kontak ponselnya, lalu menekan tombol panggil. Hanya butuh beberapa nada sambung sebelum suara perempuan di seberang sana menjawab."Halo, Trid? Besok be
"Wah... berarti dari kemarin kamu belum mandi apa gimana, Dit?" tanya Dayat berbisik jenaka, menunjuk daster tipis yang melekat di tubuh Dita.Dita sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru maju selangkah, menantang tatapan Dayat sambil mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan. "Iya, memang belum mandi! Makanya dari tadi aku pakai daster pendek begini saja biar enggak gerah, Mas. Kan airnya belum nyala."Dita menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyenggol pelan pinggang Dayat dengan siku tangannya. "Lagian sengaja ditahan dulu mandinya... Sapa tahu nanti setelah sanyonya beres, Mas Dayat mau ikut mandi bareng?" godanya dengan nada suara yang sengaja diayun manja."Hush! Malah makin ngelunjak omongannya," sahut Dayat sambil terkekeh geli, meski tak bisa dipungkiri debaran di dadanya kembali bergejolak. Ia meletakkan kembali tas perkakasnya ke atas lantai. "Ya sudah, mana mesin sanyonya? Biar sekalian digarap sekarang, daripada kamu bau asem sampai besok.""Ih, wangi t
Dayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D
Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,
"Sini masuk, Mas, kok malah diam di situ?" panggil Cici, suaranya mengalun rendah dari ambang pintu yang terbuka.Dayat menelan ludah yang terasa kesat. Langkah kakinya bergerak maju dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Mb-Mbak... ini ruangan apa?"Kamar ini nampak bersih dan tertata rapi dengan pendar lampu neon berwarna merah muda yang menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah ranjang kayu besar dilapisi seprai satin berwarna merah marun. Di sekeliling sudut atapnya, untaian lampu hias kecil kelap-kelip benderang, menciptakan atmosfer yang sangat sensual."Penasaran ya? Makanya, sini masuk," sahut Cici, senyumnya semakin melebar.Jemari Cici mendadak menyambar pergelangan tangan Dayat, menariknya masuk melewati ambang pintu. Begitu Dayat berada di dalam, Cici dengan gerakan kilat menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam. Klek.Cici berbalik, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Dayat. Ia berjinjit sedikit dan berbisik tepat di telinga pria itu, "Ini tuh... namany
"Bo-boleh, Mbak," sahut Dayat, menelan ludah yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokannya. Ia mengulurkan tangan ke kiri, menekan tombol untuk membuka pengunci pintu mobil otomatisnya."Makasih ya, Mas," ucap Cici dengan senyuman yang teramat manis.Ia menarik gagang pintu luar, lalu dengan gerakan luwes mendudukkan tubuh sintalnya di atas jok penumpang tepat di samping Dayat. Aroma wangi sabun dan minyak melati yang menyengat langsung memenuhi kabin mobil yang semula berbau pewangi jeruk. Daster batik yang dikenakannya sedikit tersingkap ke atas paha saat ia membetulkan posisi duduk, membuat Dayat hampir tidak kuasa menahan pandangannya agar tidak melirik kemolekan tubuh wanita itu dari dekat. Dayat menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kemudi erat-erat, dan berusaha keras memfokuskan matanya ke hamparan jalan aspal di depan."Memangnya Mbak Cici mau ke mana?" tanya Dayat, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak terasa begitu intim di dalam kabin.Cici memutar tubuhnya sedikit
"Oh, jadi Mas Dayat pernah ke rumah kakaknya Gita?" tanya Anggun, matanya bergantian menatap Dayat dan Gita dengan ekspresi penuh selidik. Dayat berusaha tetap tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang karena kaget. Ia berdeham sedikit untuk menstabilkan suaranya. "Iya, wakt
Dayat menarik napas panjang, mencoba menekan ego dan amarah yang sempat membara di dadanya. Meskipun hatinya masih perih mengingat hinaan bapak Linda dulu, nuraninya tidak bisa membiarkan seseorang menderita karena sakit."Kapan kamu butuhnya.." balas Dayat datar.Tak butuh wa
"Aduh, si Mbak bisa aja," ucap Dayat sambil melempar senyum getir, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah di ujung tanduk.Tanpa menunggu balasan lagi, ia langsung berpamitan. "Saya duluan ya, Mbak!" Dayat melangkah seribu keluar dari rumah itu, nyaris berlari menuju mot
"Eng-enggak Mbak... permisi..." ucap Dayat terbata-bata. Ia langsung menunduk dalam, tak berani lagi mengangkat pandangan, dan segera melangkah lebar melewati gadis itu untuk keluar dari kamar. Langkahnya setengah berlari, seolah-olah baru saja melihat hantu, padahal yang ia lihat







