تسجيل الدخولDayat dan Gita duduk berhadapan di ruang makan villa kecil yang kini dipenuhi aroma sedap gurame bakar. Udara pegunungan yang sejuk membuat nasi hangat dan sambal buatan Gita terasa berkali-kali lipat lebih nikmat. "Gimana, Mas? Enak nggak ikannya?" tanya Gita antusias, memperhatikan reaksi Dayat saat suapan pertama. Dayat mengangguk mantap, mulutnya masih penuh. "Enak banget, Git! Bumbunya meresap sampai ke dalam. Wah, beneran deh, bisa nambah dua piring aku kalau begini caranya." Di sela-sela makan, Dayat teringat obrolannya dengan Natasya tadi. Ia meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Gita. "Oiya Git, tadi Bosku telepon. Katanya setelah kerjaan ini beres lusa, kita nggak usah buru-buru balik ke kota." Gita menghentikan gerakan tangannya. "Lho, emangnya kenapa, Mas? Ada kerjaan tambahan?" "Enggak, justru sebaliknya. Beliau malah nyuruh kita jalan-jalan dulu di sini. Katanya banyak tempat wisata yang
Dayat berdeham, mencoba mengatur nada bicaranya agar tidak terdengar panik meskipun keringat dingin mulai menetes di tengkuknya. "Aduh, maaf banget ya, Bu Natasya... saya jadi nggak enak. Saya minta maaf kalau kehadiran teman saya di sini dirasa kurang sopan atau mengganggu prosedur kerja dari Ibu," ucap Dayat dengan nada yang sangat tulus dan hati-hati. Di seberang sana, terdengar suara tawa kecil Natasya yang terdengar renyah namun tetap berkelas. "Aduh, kamu ini formal banget sih, Yat. Santai aja," sahut Natasya. "Jujur aja, buat saya itu nggak masalah sama sekali. Selama kerjaan kamu beres, rapi, dan sesuai sama yang saya mau, kamu mau bawa tiga perempuan ke sana pun saya nggak bakal protes. Yang penting buat saya itu cuma satu: profesionalisme kamu tetap dijaga." Dayat langsung mengembuskan napas lega, pundaknya yang tadi tegang kini mulai rileks. "Terima kasih banyak, Bu. Saya jamin pekerjaan tetap nomor satu, nggak akan tergangg
Setelah menyegarkan diri dengan mandi pagi, Dayat melangkah keluar villa dengan tenang. Ia sengaja tidak membangunkan Gita yang masih tampak begitu lelap di balik selimut. Dayat memutuskan untuk turun ke area bawah sebentar demi mencari sarapan hangat untuk mereka berdua. Beberapa saat kemudian, Dayat kembali dengan dua bungkus nasi kuning di tangannya. Begitu ia membuka pintu villa, langkahnya terhenti. Ternyata di ruang tengah sudah ada Teh Yuni yang sedang duduk santai sambil mengobrol akrab dengan Gita yang sudah terbangun. "Eh, Mas udah balik," sapa Gita sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. "Habis dari mana pagi-pagi udah ngilang?" "Ini, beli sarapan di bawah tadi. Aku lihat kamu masih tidur nyenyak banget, jadi nggak tega banguninnya," jawab Dayat sambil meletakkan bungkusan makanan itu di meja. "Oalah, Mas Dayat perhatian banget ya sama istrinya," sahut Teh Yuni dengan nada bicara khasnya ya
"Teh, ini mangkoknya, ayo makan seblak dulu," ucap Sifa yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka, memecah ketegangan antara Dayat dan Gita. Sifa meletakkan mangkok-mangkok itu di atas meja kayu ruang tamu dengan ceria. Gita yang tadi sempat menatap Dayat dengan penuh selidik, akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah seblak yang masih mengepul panas. Bau kencur dan cabai yang menyengat langsung memenuhi ruangan. "Iya Sif, makasih ya. Mas, ayo cicipin juga seblaknya. Bantuin aku, takut nggak habis ini porsinya banyak banget," ucap Gita sambil menyodorkan sendok ke arah Dayat, seolah melupakan sejenak kecurigaannya tadi. "Iya..." jawab Dayat singkat, merasa lega karena interupsi Sifa menyelamatkannya dari pertanyaan interogasi Gita yang lebih dalam. Tak lama kemudian, Teh Yuni datang dari arah dapur dan ikut bergabung duduk di kursi kayu bersama mereka. Suasana kembali terlihat normal, seolah tidak terjadi adegan panas be
Teh Yuni membimbing Dayat masuk ke sebuah kamar kecil yang aromanya dipenuhi wangi rempah dan minyak esensial. Pencahayaannya temaram, menciptakan suasana yang semakin tertutup. "Mas, lepas bajunya ya. Terus pakai sarung ini, celananya dilepas juga sekalian biar nanti pijatannya kena semua, nggak terhalang kain," ujar Teh Yuni dengan suara rendah yang menenangkan namun penuh perintah. Dayat yang merasa sedikit canggung dan curiga akhirnya menurut saja. Begitu ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung, Teh Yuni sempat terdiam sejenak. Matanya menyapu dada bidang dan otot perut Dayat yang terbentuk karena kerja keras. Ada gairah yang terpancar dari tatapan wanita itu sebelum akhirnya ia berdeham. "Nah, sekarang Mas tengkurap di kasur lantai ya," perintahnya. Teh Yuni mulai menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai menekan otot-otot punggung Dayat. Pijatannya memang sangat ahl
Setelah suasana canggung mereda, Gita yang sudah berpakaian rapi segera bergerak ke dapur dan kembali membawa secangkir teh hangat untuk Teh Yuni. "Teh, diminum dulu tehnya. Tadi katanya mau nyusul Kang Udin ke sawah, kok sudah balik lagi ke sini?" tanya Gita sambil meletakkan cangkir di depan Teh Yuni. Teh Yuni menyesap tehnya sedikit, matanya masih tampak berbinar jahil. "Iya, tadi ke sana sebentar aja antar kopi. Terus Kang Udin suruh Teteh anterin sayuran ini buat kamu masak siang nanti. Katanya biar kalian makan yang segar-segar, baru banget dipetik itu di belakang," jawab Teh Yuni santai. Tak lama kemudian, Dayat keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya, lengkap dengan tas perkakas yang tersampir di bahu. Ia menghampiri Gita dan mengusap bahunya lembut. "Aku lanjut ke villa utama dulu ya, Git. Teh, saya pamit kerja dulu," ujar Dayat dengan nada bicara yang halus dan sopan. Teh Yun







