เข้าสู่ระบบAroma harum kuah sate padang yang hangat seketika menyeruak memenuhi ruang makan setelah bungkusan plastik dibuka. Ajeng dengan cekatan mengambil dua piring dan menuangkan sate beserta lontongnya ke atas piring, lalu duduk di hadapan Dayat dengan mata berbinar lapar.Mereka mulai menyantap makanan tersebut dalam suasana yang tenang namun hangat. Di sela-sela suapannya, Dayat teringat akan obrolan panas di telepon genggam tadi. Ia menelan makanannya, lalu menatap Ajeng yang duduk di depannya."Jeng, lain kali jangan keseringan godain Gita kayak tadi," kata Dayat memperingatkan dengan nada santai namun terselip senyum tipis. "Dia itu orangnya gampang baperan. Nanti kalau dia beneran ngamuk, repot kita."Ajeng yang baru saja menyuap sepotong lontong langsung terkekeh geli mendengar kekhawatiran pria di hadapannya itu. Ia menelan makanannya dulu sebelum membalas ucapan Dayat dengan wajah santai tanpa beban."Biarin aja sih, Mas. Gita mah enggak bakal bisa ngambek, apalagi sampai ngamuk sa
"Ah, lu bisa aja, Luk," sahut Dayat sambil terkekeh canggung. "Kagak... ini tadi tuh sebenarnya sore-sore Mbak Putri nyuruh gue ke rumahnya. Katanya ada jalur kabel yang mau dirubah, tapi dia minta disuruh liat dulu malam ini. Ya udah, mumpung sempat, gue mampir bentar."Luki menaikkan satu alisnya, lalu melihat ke arah tangan Dayat yang kosong. "Oalah... pantesan lu kagak bawa alat-alat sama sekali dari tadi.""Nah, iya! Kan baru disuruh liat dulu, makanya gue enggak bawa apa-apa," jawab Dayat cepat, merasa agak lega karena umpannya langsung dimakan. Ia mengangguk-angguk meyakinkan.Namun, Luki tidak langsung menyudahi interogasinya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memperhatikan penampilan Dayat dari ujung kaki sampai ujung kepala di bawah cahaya lampu. Mata Luki menyipit saat menyadari sesuatu yang janggal pada rambut Dayat yang tampak klimis dan wajahnya yang terlihat begitu bersih."Tapi tunggu deh, Yat..." Luki menunjuk rambut Dayat dengan dagunya. "Lu liat kabel atau abis
Dayat dan Arum melangkah keluar dari kamar mandi. Keduanya sudah tampak lebih segar, walau sisa-sisa kelelahan dari permainan panas tadi masih tertinggal di gurat wajah mereka. Arum berjalan dengan handuk yang hanya dililitkan sebatas dada, sementara Dayat berjalan di sampingnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Namun, langkah mereka terhenti sejenak saat melihat ke arah dapur. Ternyata, Mbak Putri sudah tidak ada lagi di atas kasur. Janda montok itu rupanya sudah berhasil mengumpulkan tenaganya kembali. Dengan hanya mengenakan daster tipis yang longgar, Putri terlihat sedang sibuk mengaduk sesuatu di dalam cangkir, membelakangi mereka. Aroma harum biji kopi yang pekat langsung menguar memenuhi ruangan. "Eh, udah bangun kamu, Put? Kirain bakal pingsan sampai pagi," goda Arum sambil terkekeh pelan. Putri menoleh, melemparkan tatapan pura-pura sebal sambil memegang sendok kecil. "Sialan kamu, Rum. Mas Dayat tuh yang enggak pakai perasaan genjotnya. Tapi untung badanku
Melihat Mbak Putri yang sudah berada di atas tubuhnya, Dayat tidak mau lagi menjadi pihak yang pasif. Begitu milik mereka menyatu sempurna, gairah kelelakian Dayat benar-benar meledak. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Dayat memegang pinggang montok Putri, lalu membalikkan posisi tubuh mereka dengan satu hentakan kuat. Kini, Dayat berada di atas, menindih penuh tubuh Mbak Putri yang langsung memekik kaget sekaligus kegirangan. "Aahhh... Mas Dayat! Langsung kasar yaaa... hhh!" Tanpa memberikan jawaban, Dayat langsung mengerahkan seluruh tenaganya. Ia mulai menggenjot Mbak Putri dengan sangat kuat, cepat, dan liar. Setiap tusukan dalam yang diberikan Dayat membuat ranjang kayu di kamar itu mulai berdecit keras, beradu dengan suara kecapak basah yang semakin intens. "Aaaahhh! Mas... Mas Dayattt! Pelan-pelan, Mas... ughh, dalem banget... aaahh!" jerit Mbak Putri, matanya terpejam erat dengan kepala yang bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya mencengkeram bahu Dayat
Keheningan kamar itu tidak bertahan lama. Pintu kembali terbuka perlahan, dan sosok Arum melangkah masuk dengan sangat santai. Namun kali ini, semua pakaiannya sudah ditanggalkan. Tubuh sintalnya yang polos tanpa busana tampak begitu menawan di bawah temaram lampu kamar, membuat pandangan Dayat lagi-lagi terkunci.Arum berjalan gemulai menghampiri ranjang, lalu merangkak naik mendekati Dayat. Ia sengaja menempelkan dada bidangnya ke tubuh Dayat yang masih berusaha mengatur napas, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu untuk membisikkan godaan nakal."Mas Dayat... udah siap kan? Sekarang giliran aku yang cobain punya Mas sampai puas ya," bisik Arum dengan nada yang sangat seksi, tangannya yang lentik perlahan mendorong dada Dayat hingga pria itu kembali berbaring telentang di atas kasur.Dayat hanya bisa pasrah, membiarkan Arum mengambil kendali. Dengan gerakan yang penuh percaya diri, Arum kemudian mengangkangi tubuh Dayat. Ia memosisikan dirinya di atas paha pria itu, lalu mer
Dayat masih duduk tegang di tengah kasur, memegangi bantal erat-erat untuk menutupi kejantanannya yang telanjang bulat. Kepalanya terus menoleh ke arah pintu dengan jantung yang berdegup kencang, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika yang datang adalah Luki atau warga gang.Namun, ketakutannya buyar saat pintu kamar terbuka. Mbak Putri melangkah masuk kembali, tetapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, mengekor seorang wanita lain yang penampilannya tak kalah memukau. Wanita itu memiliki perawakan yang sintal, wajah yang rupawan, dan tatapan mata yang sangat berani. Pakaiannya yang agak minim mempertegas lekuk tubuhnya yang seksi.Melihat ada orang asing masuk ke dalam kamar dalam kondisi dirinya yang polos, Dayat langsung tersentak kaget. Ia refleks memeluk bantal lebih erat, menekan benda itu kuat-kuat di atas pangkuannya demi menyembunyikan aset berharganya.Melihat kepanikan Dayat, Mbak Putri justru tertawa kecil dan berjalan santai mendekati ranjang. "Halah, enggak usah panik g







