LOGIN"Nih, Mas, kopinya," ucap Dita sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas di atas lantai beralaskan tikar.Setelah meletakkan cangkir, Dita tidak kembali ke dapur. Ia justru menggeser posisi duduknya, beringsut mendekat hingga lengannya menempel pada lengan Dayat yang sedang memegang sebatang rokok yang menyala.Dayat menoleh, mengembuskan asap rokoknya ke arah atas agar tidak langsung mengenai wajah wanita di sampingnya. "Aku lagi merokok lho, Dit. Jangan dekat-dekat, nanti kamu batuk."Dita malah menyunggingkan senyum tipis, sama sekali tidak berniat menjauh. "Ahh, enggak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa duduk dekat orang merokok. Lagian juga..." Dita sengaja mendekatkan wajahnya ke bahu Dayat, menghirup udara di sana sekilas. "...asap rokoknya kalah sama harum badanmu, Mas," goda Dita dengan nada suara yang mendayu.Dayat hanya tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala mendengar rayuan yang tak ada habisnya itu. Ia kembali menyesap rokoknya, lalu menga
Dayat menghentikan tangannya yang baru saja hendak menyusupkan kaos bersih melewati kepala. Ia melirik tajam ke arah dapur, mendapati Dita yang masih mematung dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun dari tubuhnya."Kenapa lihat-lihat? Nanti naksir lho," tanya Dayat sambil menyunggingkan senyum percaya diri, membiarkan kaos katunnya tetap tergantung di bahu.Dita tidak menunduk malu. Ia justru menyenggir lebar, meletakkan sendok kopinya begitu saja di atas meja semen, lalu melangkah luwes menghampiri Dayat yang berdiri di atas tikar pandan. Jarak di antara mereka terkikis hingga Dayat bisa mencium aroma sabun mandi yang segar dari kulit leher Dita."Mas... boleh pegang roti sobeknya enggak?" tanya Dita polos, namun sepasang matanya berbinar penuh kelicikan yang nakal.Dayat terkekeh rendah, melipat kedua lengannya di depan dada yang bidang, membuat otot-ototnya semakin tercetak jelas. "Emang kamu belum pernah lihat roti sobek apa, Dit?" tanya Dayat dengan nada bercanda, menant
Dayat terdiam sejenak, menimbang-nimbang tas perkakas yang sudah rapi di tangannya. Otaknya berputar cepat memikirkan jadwal pekerjaan besok pagi di area proyek kota."Dit, dari perumahan sini kalau mau ke arah proyek utama yang di pusat kota itu... jauh enggak sih?" tanya Dayat, memastikan rute.Dita yang menyadari ada lampu hijau langsung menegakkan tubuhnya dengan mata berbinar. "Ealah, malah lebih dekat dari sini, Mas! Jalurnya lurus terus lewat jalan pintas di depan sana, enggak perlu muter kayak dari rumah lamaku."Dayat mangut-mangut, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Ya sudah, sebentar ya. Aku telepon Astrid dulu. Soalnya biasanya kalau ke proyek, aku sering barengan sekalian jemput dia."Dita mengangguk patuh, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menunggu dengan sabar.Dayat mencari nama Astrid di kontak ponselnya, lalu menekan tombol panggil. Hanya butuh beberapa nada sambung sebelum suara perempuan di seberang sana menjawab."Halo, Trid? Besok be
"Wah... berarti dari kemarin kamu belum mandi apa gimana, Dit?" tanya Dayat berbisik jenaka, menunjuk daster tipis yang melekat di tubuh Dita.Dita sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru maju selangkah, menantang tatapan Dayat sambil mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan. "Iya, memang belum mandi! Makanya dari tadi aku pakai daster pendek begini saja biar enggak gerah, Mas. Kan airnya belum nyala."Dita menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyenggol pelan pinggang Dayat dengan siku tangannya. "Lagian sengaja ditahan dulu mandinya... Sapa tahu nanti setelah sanyonya beres, Mas Dayat mau ikut mandi bareng?" godanya dengan nada suara yang sengaja diayun manja."Hush! Malah makin ngelunjak omongannya," sahut Dayat sambil terkekeh geli, meski tak bisa dipungkiri debaran di dadanya kembali bergejolak. Ia meletakkan kembali tas perkakasnya ke atas lantai. "Ya sudah, mana mesin sanyonya? Biar sekalian digarap sekarang, daripada kamu bau asem sampai besok.""Ih, wangi t
Dayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D
Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,
"Gimana, Mas? Udah dicek?" tanya Astrid yang tiba-tiba saja muncul dan berjalan masuk dari arah pintu depan unit rumah itu.Dayat dan Dita yang sejak tadi sedang asyik mengobrol di dekat area dapur pun sontak menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara."Udah,, ini semua 50 unit modelan strukturn
"Pagi, Mas,, kok lesu amat keliatannya? Habis begadang sama mantannya apa? Haha,," sapa Astrid yang baru saja keluar dari pagar rumahnya dan langsung membuka pintu mobil lalu masuk duduk di samping kemudi.Dayat langsung tertawa canggung mendengar tebakan Astrid yang entah bagaimana bisa sangat men
Dayat pun akhirnya memutuskan untuk membawanya ke rumahnya dulu, setidaknya sampai besok pagi wanita itu sadar dari mabuknya. Begitu tiba di depan rumahnya sendiri, Dayat bergegas turun dan membuka pintu utama terlebih dahulu agar tidak kesusahan nanti. Setelah itu, ia kembali ke mobil, membuka pin
Dayat mengendarai mobilnya membelah keheningan malam, sambil sesekali melirik ke spion tengah untuk memperhatikan Ajeng yang masih tertidur lelap di kursi belakang dengan posisi meringkuk. Aroma alkohol samar-samar tercium sampai ke kabin depan."Duh, gue bawa kemana ya,, enggak mungkin ke rumah gu







