Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 10. Tukang Curiga Kembali

Share

10. Tukang Curiga Kembali

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-17 02:30:50

Jalan setapak di pinggiran kota itu tampak sunyi. Hanya Wan Xuan yang melangkah di sana, sementara Sun Liang menghilang entah ke mana.

Tiba-tiba Wan Xuan berhenti tepat di tengah jalan; ia seolah merasakan kehadiran beberapa penjaga kota yang bersembunyi di sudut-sudut gang. Ia mengenali aura mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang sama yang mengawasinya beberapa hari lalu.

Ia mengira para penjaga itu sudah berhenti mengintai, namun entah mengapa mereka kembali muncul. Seingatnya, ia tidak pernah membuat keributan berarti sejak tiba di Kota Linmeng, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal.

Mungkin penemuan mayat-mayat itu telah memperkeruh situasi, dan kini Wan Xuan telah menjadi target kecurigaan utama.

“Kalian kembali lagi? Ada apa?” gumam Wan Xuan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Namun, tak selang berapa lama, puluhan orang berzirah perang muncul dari berbagai sudut gang. Mereka tampak siaga, bersiap menghadapi ancaman yang mungkin datang dari sosok Wan Xuan.

Seorang pria muncul lima meter di hadapan Wan Xuan, sosok yang cukup ia kenali. Dia tak lain adalah Feng Sui, sang Wakil Komandan Penjaga.

“Memang sejak pertama kali melihatmu, aku sudah curiga bahwa kau adalah seorang pembunuh yang menyamar,” cetus Feng Sui.

Wan Xuan menghela napas tipis. Ia hanya diam dengan tatapan sedingin es, tanpa berusaha membela diri maupun menyalahkan Feng Sui.

Namun, dalam hatinya Wan Xuan merasa bahwa ini adalah kesalahpahaman fatal tanpa bukti yang kuat.

Hanya saja, Feng Sui tampak sudah menaruh kebencian padanya semenjak pertemuan pertama mereka. Berusaha mengelak sekalipun tidak akan membuat Feng Sui mengubah pandangannya.

“Kau menuduhku membunuh… tanpa bukti yang jelas?” tanya Wan Xuan dengan nada yang sangat tenang.

“Buktinya adalah kehadiranmu di sini. Semua yang terjadi belakangan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Bukan sebuah kebetulan jika pembunuhan mulai terjadi tepat setelah kau muncul di kota ini,” jawab Feng Sui dengan tegas.

Wan Xuan tersenyum sinis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Jadi kau menuduhku berdasarkan kebetulan? Bukan kah itu terlalu terburu-buru, Wakil Komandan?”

Feng Sui tak gentar. Ia melangkah maju, tangannya siap siaga di gagang pedang.

“Terburu-buru atau tidak, itu bukan urusanmu. Yang jelas, kau harus ikut kami untuk penyelidikan lebih lanjut.”

“Penyelidikan? Atau penyiksaan?” Wan Xuan menatap tajam, “Apa kalian tidak sadar, dengan menuduhku seperti ini, kalian telah menyia-nyiakan waktu berharga untuk mencari pembunuh sebenarnya?”

“Pembunuh sebenarnya ada di hadapan kami!” teriak Feng Sui, memberi isyarat kepada para penjaga.

Puluhan penjaga itu serentak melangkah maju, membentuk formasi mengepung Wan Xuan. Namun, Wan Xuan tetap berdiri tegak, tak sedikit pun menunjukkan rasa takut.

Matanya menyapu setiap wajah yang ada di hadapannya, mencari celah, mencari titik kelemahan.

Ia tahu, jika ia melawan, pertumpahan darah tak bisa dihindari. Namun, ia juga tak bisa menyerah begitu saja pada tuduhan yang tidak berdasar.

“Jika kalian bersikeras, maka aku tidak punya pilihan lain,” kata Wan Xuan, suaranya kini terdengar lebih rendah, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Aura di sekelilingnya tiba-tiba berubah, menjadi lebih gelap dan dingin. Para penjaga merasakan tekanan yang tak terlihat, membuat langkah mereka sedikit terhenti.

Feng Sui terkejut melihat perubahan pada Wan Xuan. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa terpancar dari wanita di hadapannya, kekuatan yang jauh melampaui perkiraannya. “Apa… apa yang kau lakukan?”

Wan Xuan tidak menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. “Aku hanya akan menunjukkan... bahwa kalian telah membuat kesalahan.”

Tiba-tiba, angin berhembus kencang, mengangkat debu dan dedaunan kering.

Suasana menjadi tegang, seolah alam pun turut menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Para penjaga saling pandang, keraguan mulai muncul di mata mereka.

Mereka tidak menyangka bahwa pria yang mereka anggap hanya seorang pengembara biasa, memiliki kekuatan yang begitu besar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status