LOGINDi dalam sebuah kedai kecil di pinggiran kota, tiga pria duduk di sisi kanan kedai sambil menikmati daging babi panggang dan beberapa botol arak.
Salah seorang pria melanjutkan obrolan. Kali ini, ia membahas topik yang sedang ramai diperbincangkan. "Lima mayat tanpa mata dan jantung ditemukan di sisi timur kota tadi malam. Apa kalian mengetahui penyebabnya?" Pria di sisi kiri membalas, "Kau percaya rumor itu? Aku pikir itu hanya bualan semata." "Itu bukan sekadar rumor. Katanya pembunuhan itu tak dilakukan sembarangan. Penjaga kota masih belum menemukan motifnya." timpal pria di sisi kanan. "Ya ampun, pembunuhan semakin marak di kota ini. Apa yang sebenarnya dilakukan penjaga kota? Jangan bilang mereka cuma makan gaji buta." Obrolan mereka berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Setelah menghabiskan hidangan pesanan, ketiga pria itu langsung pergi. Sementara itu, di sudut kedai yang agak remang, dua pemuda telah duduk cukup lama. Mereka diam-diam menyimak percakapan ketiga pria tadi. Wan Xuan menatap lurus ke arah cangkir giok di tangannya, memandangi pantulan samar wajahnya di atas permukaan teh hijau. Sementara Sun Liang bersandar santai di sisi tembok dengan mata terpejam. "Kalau diperhatikan dengan saksama, sulit bagi seorang pembunuh berkeliaran bebas di kota ini. Penjagaannya cukup ketat, terutama di bawah komando wanita itu. Lalu, kenapa pembunuhan bisa sering terjadi?" gumamnya hampir tak terdengar. "Hoo? Komando wanita? Aku rasa aku tahu siapa yang kau maksud," kata Sun Liang dengan satu mata terbuka dan senyum miring di wajahnya. Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia belum lama mengenal Sun Liang, tetapi sudah merasa seolah-olah tahu apa yang akan dikatakannya. Sun Liang cekikikan menahan tawa. Ia sedikit condong ke samping dan berkata pelan, "Dilihat dari ekspresimu, jangan-jangan kau menyukai Komandan Xin, ya?" Wan Xuan tak terkejut. Ia sudah menebak Sun Liang akan berkata demikian, tetapi ia hanya menghela napas pelan. "Aku tak tertarik bercanda denganmu," kata Wan Xuan. "Huh? Dasar tak asik!" dengus Sun Liang. Ia kembali menyandarkan punggung dan memejamkan mata. Sementara itu, Wan Xuan sepertinya merasakan ada sesuatu yang janggal mengganggu pikirannya sejak mendengar obrolan tiga pria sebelumnya. Tiba-tiba, tatapannya menunjukkan sedikit sentakan. Pikirannya mulai menyusun beberapa hal yang sebelumnya terpisah. "Mayat tanpa mata dan jantung...?" gumamnya. Lagi-lagi pikirannya kembali ke masa lalu. Bayangan ketika ia menemukan gurunya tergeletak tanpa kepala muncul dalam benaknya. Ada sesuatu yang terasa familiar. Bukan cara tubuh itu dibunuh, melainkan sesuatu yang dilakukan setelahnya. Mayat-mayat itu diperlakukan seperti sebuah bahan percobaan. Wan Xuan mengepalkan tangannya. “Jika pembunuhnya mampu melakukan semua itu di tengah penjagaan ketat, ada kemungkinan dia masih berada di dalam kota.” “Sepertinya aku harus segera berkunjung ke Kediaman Raja Kota.” Jari-jari Wan Xuan mengencang. Cangkir giok di tangannya bergetar pelan sebelum akhirnya retak. Krak! Sun Liang membuka mata. Senyum di wajahnya yang tadi penuh canda kini menghilang ketika melihat darah mengalir dari telapak tangan Wan Xuan. Tatapan pemuda itu tampak berubah, tidak lagi sekadar dingin. Ada niat membunuh yang begitu samar, tetapi cukup membuat Sun Liang berhenti bercanda. “Kau kenapa...Wan Xuan...?” Tatapan muramnya mengarah ke luar kedai. Ia harus mengetahui siapa yang melakukan semua ini. Pembunuh gurunya dan pelaku di balik mayat-mayat tersebut mungkin saja orang yang sama. Ia belum tahu apakah kedua kasus itu benar-benar berhubungan. Namun, firasatnya terlalu kuat untuk diabaikan. Wan Xuan merasa tak bisa melewatkan petunjuk sekecil apapun. Sejak kejadian di Paviliun Tian Xiang dan beberapa informasi yang diberikan Sun Liang, keyakinannya semakin menguat. Wan Xuan mulai yakin bahwa Kediaman Raja Kota mungkin menyimpan jawaban atas kematian gurunya. "..." Entah mengapa, ketika Wan Xuan berjalan keluar dalam keheningan yang dingin itu, Sun Liang tiba-tiba memiliki firasat buruk. Pemuda itu pasti akan melakukan sesuatu yang besar. Dan pasti, Sun Liang merasa dirinya akan ikut terseret ke dalamnya.Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







