ログイン"Kamu jangan tegang begitu! Senyum dong!"
Saat Aditya mencoba rileks dan menunduk untuk mencium pipi Angga, bayi kecil itu tiba-tiba merespons dengan senyum lebar yang sangat menggemaskan.
"Wah, pas banget! Kamu cium pipi Angga, dia langsung senyum lebar. Bagus banget fotonya!" seru Nadia kegirangan melihat hasil jepretan di layar ponselnya.
Nadia seolah tak mau kehilangan momen itu. "Aku ikut ya, kita foto bertiga!"
Tanpa henti, Nadia terus mengatur posisi A
"Baik, nanti aku bicarakan dulu dengan Mas Adit," balas Nadia lirih, akhirnya mengalah pada keputusan mutlak sang ayah yang tidak bisa diganggu gugat.Sepanjang sisa perjalanan, Nadia hanya bisa menatap kosong ke luar jendela mobil. Pikirannya mendadak penuh dan semrawut.'Entah bagaimana aku harus memulai pembicaraan ini nanti. Sebab, sampai detik ini dia bahkan belum pernah menyatakan cinta padaku secara langsung,' batin Nadia bimbang.Namun, di tengah kebingungannya, rentetan ingatan dan analisis dari orang-orang terdekatnya mulai berputar satu per satu di kepala. Nadia merenungkan kembali ucapan Hanum. Analisis sang bunda terasa begitu masuk akal, bahwa Aditya sengaja bersikap sangat hati-hati dan menunda kata-kata cintanya hanya karena takut Nadia akan menarik diri akibat trauma masa lalu.Kepingan teka-teki itu semakin lengkap saat Nadia mengingat kembali obrolan intimnya dengan Ima, ibu kandung Aditya, di dalam mobil tadi siang.'Ibu Ima pernah bilang kalau Mas Adit itu seumur
"Silakan tambah lho, kalau ada yang mau ditambah silakan," ucap Hanum sebagai nyonya rumah yang menggelar acara syukuran keberhasilan Nadia di restoran tersebut.Sambil tersenyum ramah, Hanum beringsut mendekat untuk gantian memegang cucunya agar Nadia dan Aditya bisa bergantian menikmati makan siang mereka.Melihat hal itu, Ima ikut beringsut mendekat, dan ternyata Fitri pun lekas menyusul langkah mereka untuk ikut membantu mengkondisikan si kembar."Om, Tante, Eyang, pakde, Bude, ayo tambah lagi, nemani aku," ajak Nadia hangat kepada para orang tua di sana.Setelah memastikan anak-anaknya aman di bawah pengawasan para nenek, Nadia segera memberikan sebuah piring kosong pada Aditya.‘Sambal!’Satu kata itu seolah menjadi kode rahasia yang paling dipahami oleh keduanya.Ya, sambal adalah pemersatu sejati antara Nadia dan Aditya.Apapun lauk yang tersaji di atas meja, mereka berdua sangat tergantung pada
"Dalam perasaan, Nayaka kan mengaku tak membagi cinta. Hanya attensi berlebihan dia yang super gobloq saja membuat dia selingkuh waktu dan atensi!" lanjut Hanum, meluapkan seluruh kekesalan yang selama ini tertahan di dadanya.Nadia yang duduk di bangku belakang hanya bisa terdiam, mendengarkan kegeraman ibunya yang begitu meledak-ledak. Di dalam benaknya, Nadia sangat memaklumi mengapa sang ibu bisa seberangas itu jika nama sang mantan suami disebut.'Ibu mana yang tidak hancur melihat anak perempuannya disia-siakan?’‘Kegeraman bunda adalah sisa rasa sakitnya saat melihatku terpuruk dulu.’‘Bagi bunda, kesalahan Nayaka bukan cuma sekadar khilaf, tapi sebuah kegoblokan nyata yang menghancurkan kebahagiaan rumah tanggaku,'batin Nadia lirih."Aaaah, tetap saja dia selingkuh, apa pun namanya," balas Galih ikut menyahut, menyetujui ucapan istrinya dengan nada suara yang tak kalah berat dan dingin. Tangan
"Papapppppp!" teriak Angga tiba-tiba dengan suara nyaring, seolah tidak mau kalah sedetik pun dari kakak perempuan kembarjnya. Bocah lelaki itu ikut bergerak heboh, menuntut perhatian yang sama dari pria itu."Nah, mulai deh, drama deh," ucap Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak kelakuan si kembar yang pasti akan selalu rebutan jika sudah melihat sosok Aditya di dekat mereka.Melihat pemandangan di depan mata mereka, seluruh anggota keluarga besar yang duduk di area lesehan itu seketika terdiam.Semua orang tidak memerlukan jawaban atau penjelasan panjang lebar lagi dari mulut Nadia mengenai status hubungan mereka. Kedekatan Aditya dengan si kembar, terlebih panggilan "Papap" yang begitu spesial, sudah berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kata penjelasan .Logika sederhana semua orang di meja itu langsung berjalan. Kalau memang di antara mereka tidak ada hubungan yang spesial, tentu Aditya akan me
Di dalam mobil yang sejuk, suasana canggung yang sempat membayang langsung mencair begitu deru mesin mulai terdengar konstan. Ima duduk di kursi penumpang, sesekali melirik profil samping Nadia yang fokus pada kemudi."Nad," panggil Tante Ima membuka obrolan, nadanya terdengar renyah, jauh dari kesan menghakimi. "Tante itu sebenarnya dari tadi penasaran. Kamu ini kan dosen teladan nasional, pintar, sibuknya luar biasa, apalagi sekarang megang bayi kembar dua sekaligus. Rahasianya apa sih kok muka kamu tetap segar begini? Tante yang cuma nungguin rumah saja kadang merasa jompo kalau kurang tidur."Nadia tertawa kecil, melirik sekilas ke arah Tante Ima. "Aduh, Tante bisa saja. Rahasianya cuma satu, pura-pura bahagia kalau malam-malam begadang!" kelakar Nadia, yang langsung disambut tawa renyah dari calon ibu mertuanya itu. "Enggak kok, Tante. Kuncinya memang harus dinikmāti saja, lagipula di rumah banyak yang bantu sayang sama Angga dan Anya."Ima tersenyum hangat, menyandarka
Empat bulan ini hubungan Aditya dan Nadia seperti HTSatau hubungan tanpa status.Mereka masing-masing merasa terikat, khususnya Aditya, namun dia belum berani mengungkapkan perasaan yang dia miliki, mengingat dia sangat tahu trauma Nadia terhadap sosok lelaki, yang dianggap sebagai makhluk paling menjijikan.Di pihak Nadia, kadang dia sangat suka akan attensi Aditya, namun kadang dia langsung mundur dan menarik diri bila ingat kegagalan rumah tangganya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈Achmad terduduk lesu di depan televisi miliknya. Televisi super besar untuk rumah super kecil type 21 yang sekarang dia tinggali.Dia melihat Ikhsan dan Galih, duduk sebagai tamu kehormatan. Dia melihat Nadia, kini dipuja satu negara.Di sampingnya,Rahma gemetar hebat. Perempuan itu mendekap anaknya
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa beg
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesa
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah un
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, a







