ANMELDENKeheningan yang dingin seketika menyelimuti kamar itu setelah sambungan telepon dengan Alvaro terputus. Arini masih terduduk termenung di depan cermin meja rias, menatap dalam-dalam bayangannya sendiri yang tampak tegar namun sebenarnya menyimpan badai kekhawatiran yang luar biasa besar.Ujung jemarinya menyentuh permukaan meja rias dengan ragu, sementara pikirannya masih tertancap pada fakta bahwa karier cemerlang Alvaro kini sedang dipertaruhkan cuma demi membelanya. Rasa bersalah itu merayap seperti kabut tebal, membuat napasnya terasa sedikit berat di tengah persiapan mentalnya menghadapi sidang mediasi yang sudah di depan mata.Suara ketukan pintu yang ritmis tiba-tiba membuyarkan lamunan Arini yang cukup dalam. Sosok Maya muncul dari balik pintu dengan tas kerja yang sudah tersampir di bahu, menatap Arini dengan raut wajah yang campur aduk antara dukungan tulus dan rasa sesal yang tertahan."Rin, aku benar-benar pengin temani kamu sampai ke dalam ruang sidang, tapi ada berkas da
Dering telepon kabel di atas meja jati itu memecah keheningan ruang kerja Alvaro yang kini terasa jauh lebih luas dari biasanya. Dengan gerakan tenang, ia meraih gagang telepon, seolah sudah memprediksi gelombang serangan berikutnya yang akan datang menghantam."Selamat pagi, Pak Alvaro. Saya mewakili jajaran direksi PT Global Investama ingin menyampaikan permohonan pembatalan kontrak kerja sama hukum kita per hari ini," ucap suara di seberang sana dengan nada penuh keraguan.Sambil menyandarkan punggung ke kursi kebesaran, Alvaro menatap tajam ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta di balik jendela."Boleh saya tahu alasan spesifik di balik keputusan mendadak ini, Pak Rudi? Mengingat performa tim kami sejauh ini nggak pernah mengecewakan perusahaan Anda."Terdengar helaan napas berat dari lawan bicaranya, sebuah tanda jelas bahwa keputusan ini bukanlah murni keinginan korporasi tersebut."Jujur saja, kami dapat tekanan dari relasi bisnis utama keluarga Anda. Kami nggak punya p
Melihat ketegangan yang kian meruncing di ruang tamu apartemen itu, Arini segera menengahi. Ia menarik napas dalam, mencoba mengesampingkan perih di hatinya demi fokus pada prioritas yang jauh lebih mendesak."Sekarang bukan waktunya mikirin siapa yang salah atau siapa yang paling terluka, Kak. Lebih baik kita urusi masalah ini satu per satu, mulai dari apa yang sudah disiapkan Lastri dan Adrian," ucap Arini tenang namun tegas.Arini kemudian beranjak ke meja makan, mengambil beberapa lembar dokumen hasil catatannya selama menyendiri tadi. "Aku rasa aku sudah ketemu cara buat buktiin kalau semua tuduhan mereka itu nggak benar, terutama soal fitnah di parkiran pengadilan," lanjutnya.Mendengar itu, Alvaro langsung menegakkan posisi duduk. Binar ketertarikan kembali muncul di matanya. Ia mengangguk setuju, ketajaman logika Arini memang selalu jadi penyelamat di saat kritis seperti ini."Kamu benar, Rin. Kita nggak boleh biarin drama keluarga ini malah bikin fokus kita terpecah dari inti
Sama halnya dengan Arini, Maya pun langsung mematung dan menoleh ke arah sumber suara dengan waspada. Ia segera mematikan kompor, lalu melangkah menuju pintu utama dengan gerakan hati-hati tanpa suara.Melalui layer interkom, Maya melihat untuk memastikan siapa sosok yang berdiri gelisah di luar sana. Di balik layar itu, tampak Alvaro yang terlihat sangat berbeda dari citra pengacara tangguh yang biasa ia temui di firma hukum.Pria itu berdiri dengan wajah pucat pasi. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, seolah baru saja dihantam badai. Tanpa menunggu lama, Maya segera memutar kunci ganda dan membuka pintu sedikit, membiarkan Alvaro masuk dengan cepat sebelum ada orang lain yang melihatnya di koridor.Begitu melangkah ke dalam, Alvaro tampak hampir ambruk. Kelelahan fisik dan mental dari kediaman Wijaya benar-benar menggerogotinya. Ia bersandar pada dinding koridor, mencoba mengatur napasnya yang menderu pendek sembari memejamkan mata untuk meredakan denyut di kepa
"Ibu kasih dia uang? Tanpa seizinku, Ibu berani menemui klienku dan melakukan tindakan rendah seperti itu?" tanya Alvaro dengan nada suara yang sangat rendah namun penuh dengan ancaman yang mematikan.Sofia justru mendengus meremehkan, seolah tindakannya tersebut adalah hal yang sangat wajar dilakukan demi menjaga kemurnian silsilah keluarga Wijaya. "Dia memang menolak uang itu, sok naif dengan mengatakan harga dirinya nggak bisa dibeli, padahal Ibu tahu dia cuma mau mengincar kekayaan yang lebih besar darimu!"Seketika, kemarahan Alvaro memuncak hingga ia harus mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak melakukan tindakan impulsif di depan ibunya sendiri. Pantas saja ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arini saat ia bertanya mengenai kondisinya, ternyata wanita itu baru saja menerima hinaan yang sangat keji dari keluarganya sendiri."Arini bukan wanita seperti itu, dan Ibu sudah keterlaluan karena sudah menginjak-injak martabatnya di saat dia sedang berada di titik teren
Kata 'anak haram' itu menghantam mental Alvaro jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik yang ia terima sebelumnya. Ia merasa dunianya runtuh seketika, menyadari bahwa di mata pria yang ia hormati, keberadaannya hanyalah sebuah aib yang nggak seharusnya mendapatkan prestasi."Ibumu itu cuma wanita beruntung yang aku nikahi karena keadaan, jadi jangan pernah bermimpi kamu bisa sejajar dengan Aditya!" hina ayahnya lagi tepat di depan wajah Alvaro yang kini sudah basah oleh air mata.Alvaro melepaskan cengkeraman tangan ayahnya dengan gerakan yang penuh keputusasaan, ia mundur beberapa langkah sembari menatap sang ayah dengan pandangan yang sudah nggak lagi sama. Di hari kelulusannya itu, Alvaro bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan pernah menyentuh satu rupiah pun harta dari keluarga yang menganggapnya sebagai kotoran.Memori kelam itu memudar, namun rasa sesak di dadanya tetap tinggal, mengingatkan Alvaro mengapa ia begitu keras kepala membangun dunianya sendiri tanpa nama besa







