LOGINRania dapat mendengar dengungan dari percakapan orang-orang di sekitar. Dengan mata yang masih terpejam, dia berusaha untuk menggerakkan tubuh, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, rasa lelah dan kantuk membuatnya kesulitan untuk bangun, sehingga tubuhnya pasrah berbaring sembari mendengar percakapan di sekitar. “Dia tidak sakit, Mr. Lawson. Hanya saja kekurangan gula dan juga kelelahan. Tampaknya Nona Camerry makan tidak teratur akhir-akhir ini.”Mendengar diagnosa dokter, Zack yang sejak tadi diam di sebelah tempat tidur Rania pun hanya menghela napas sembari sesekali melirik wajah Rania yang pucat pasih.Jika diperhatikan, wanita itu memang terlihat lebih kurus dari sejak pertemuan pertama mereka, dan lagi ada jejak lingkaran hitam di matanya, yang menandakan dia kurang tidur.“Apa pekerjaan kalian di toko sangat berat akhir-akhir ini?”Tatapan Zack pun tertuju pada Sofia yang menunggu dengan cemas di sisi kaki ranjang.Awalnya wanita itu kebingungan, apakah tetap di t
"Rania?"Mendengar namanya dipanggil, Rania pun menoleh pada pria yang kini berdiri tidak jauh darinya. Senyum khas pria itu tampak sangat tulus, namun jelas sekali ada batas tidak terlihat di antara mereka. "Sofia bilang kau sudah melamun seperti ini selama dua hari. Apa yang sebenarnya mengganggumu?" tanya Antony yang hendak pergi dari sana, namun mengurungkan niat begitu melihat Rania duduk menyendiri di sudut ruangan. Rania hanya mengulas senyum tipis, tanpa bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja," jawabnya yang kembali melanjutkan aktivitas menggambar. Akhir-akhir ini dia memilih untuk menyibukkan diri, mengalihkan pikirannya dari laki-laki yang bernama Zack Lawson. Namun, berapa kali pun Rania mencoba untuk melupakan semua kejadian-kejadian yang telah mengakar di kepala, maka sebanyak itu pula dia menyakiti diri. "Jika ada hal yang ingin kau ceritakan untuk melepas bebanmu, katakan saja padaku. Hmm?"Rania mengangkat kepal
Sejak rapat pagi hingga jam istirahat siang, Cintya hanya bisa menarik napas lelah. Entah sudah berapa kali dia menahan diri dari perubahan mood Zack Lawson yang sangat tidak biasa.Tidak seperti biasanya, atasannya itu tampak beberapa kali tenggelam dalam lamunan, dan tidak hanya itu, dia bahkan memarahi bawahan yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil.Suasana di kantor pun terasa tegang dan berbeda dari hari-hari biasanya. Hal itu bahkan menjadi perbincangan hangat para pekerja."Ada apa dengan Tuan Lawson hari ini? Dia bahkan tidak memberi sedikit toleransi pada kesalahan sekecil apapun itu, sangat berbeda seperti biasanya," bisik salah satu staff keuangan yang sedang berkumpul dengan staff lainnya."Aku juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi bisa jadi karena selisih dengan tunangannya," ujar staff marketing yang menduga-duga, dan dibalas oleh staff bagian kesekretariatan."Kau tahu, tadi malam petugas keamanan yang sedang jaga melihat Tuan Lawson bersama seorang wanita
Suasana di luar Moon Light Hotel tampak sedikit ramai. Para pengunjung pulau memadati jalanan dan pertokoan, dan tampak beberapa anak muda menenteng papan surfing menuju pantai, serta sebagian lainnya terlihat bergerombolan bersama para pemandu wisata. Sementara itu, Rania yang tenggelam dalam lamunan di balik konter bakery pun dikejutkan dengan kedatangan para pelanggan yang berdesakan di luar toko. Dia terlihat sedikit kewalahan melayani beberapa tamu yang masuk. "Aku dengar toko ini sangat terkenal di Blue Island," ujar beberapa pengunjung yang sedang berbicara di antrian belakang. "Kau benar. Sepupuku juga merekomendasikan tempat ini. Dan selama tjuh hari dia berlibur, toko ini adalah tempat favoritnya," timpal wanita lain. "Lihat itu, pengunjungnya sangat ramai. Wangi kuenya juga enak sekali." sanjungan dari beberapa pengunjung membuat hati Rania menghangat. Setidaknya, ada sedikit kebahagiaan yang ia rasakan setelah kejadian malam itu. Dan jika mengingat kembali apa yang l
Zack menahan kedua tangan Rania, dan membawanya begitu dekat hingga jarak tidak lagi jadi prioritas. Begitu dekatnya, sampai-sampai Zack dapat merasakan tubuh Rania yang menggigil karena sapaan angin malam."Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini olehmu! Kau pria paling brengsek yang pernah kukenal. Oh, betapa bodohnya aku tiga tahun lalu!"Gadis itu tetap konsisten dengan amarahnya hingga dia memberontak hendak lepas. Akan tetapi, Zack tidak memberinya kesempatan. Pria itu terus memeganginya.Satu tangan pria itu mengunci kedua lengan Rania di dadanya, sementara satunya lagi pelan-pelan melingkar di pinggang mungil yang ukurannya bahkan sudah dia hapal dengan sangat baik.Sekilas mata Zack sedikit menyala. Dia tidak mengira gairahnya terpancing hanya dengan sikap berontak dari gadis keras kepala yang kini berada dalam genggamannya.Sekuat tenaga Zack mengendalikan diri di tengah-tengah pergulatan itu."Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau bahkan mencoba memanfaatkanku. Ji
"Aku tidak mengira kau sangat menyukai laki-laki yang memiliki uang. Apa begini caramu menarik perhatian para laki-laki itu?" Suara Zack yang datang dari arah gelapnya jalanan pun mengejutkan Rania seketika. Wanita itu menarik tangannya cepat dari gagang pintu, dan seketika dia berbalik. Menghadap sumber suara yang kini berjalan mendekat. Tanpa sadar, Rania mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu. Kini, dia benar-benar terjebak antara sosok maskulin Zack Lawson dan pintu toko roti. "Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan hingga memata-mataiku?" ucap Rania di sela-sela geraman kesal. Tatapan yang wanita itu lemparkan pada pria di hadapannya benar-benar menusuk. Zack tersenyum sinis, langkah kakinya semakin mendekat, hingga jarak tak lagi ada di antara mereka. "Kau sangat tahu aku punya segudang pekerjaan, Rania. Tapi keberadaanmu di pulau ini benar-benar mengganggu pandanganku." Hanya dengan sentuhan ringan pada anak rambut Rania yang terkibas angin, Zack Law
“Ada apa, Rania?” Gadis itu memuntahkan semua makan malamnya di wastafel. Tanpa Rania sangka, Zack memeluk perutnya dari arah belakang sembari memberikan tatapan menilai. Lelaki itu memperhatikan wajah Rania yang pucat lewat cermin wastafel dengan sangat lekat.Kepala Rania terangkat sedikit. Se
Rania tampak termenung di salah satu kursi setelah menutup tokonya. Cukup lama wanita itu berdiam di sana, dan pandangannya tampak kosong menghadap jalanan di depan pertokoan yang lampunya perlahan-lahan dimatikan.Malam tampaknya semakin larut, akan tetapi pikiran Rania masih berkelana pada penutu
“Rania,” panggilan lembut itu menyadarkan Rania seketika.Matanya mengedip beberapa kali, hingga akhirnya dia pun bisa menguasai diri dan berpaling ke sumber suara.“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jennie yang masuk ke dalam toko dengan terburu-buru.Wanita itu bergegas ke sana setelah mendengar adanya
Dua minggu berlalu sejak Rania keluar dari rumah sakit. Ia hanya berdiam diri di rumah Jennie. Tak pernah punya niat melakukan apa pun. Namun, ada hal yang terus mendesak di hatinya. Dorongan untuk mengabarkan semua ini kepada Zack, mulai dari rasa sakit kejadian waktu lalu, dan keadaan bayi mereka







