LOGINPekerjaan Rain selesai lebih cepat, saat ini ia sedang berbicara pada Jeri karena mau pulang lebih cepat. Namun saat ia hendak berdiri, perutnya tiba-tiba sakit. Rasanya lebih parah dari sebelumnya. "Ada apa, Pak?" Jeri bertanya khawatir. "Aku tidak tau, ini sudah kedua kalinya aku tiba-tiba merasa sakit perut yang tidak biasa." "Ayo saya antar ke rumah sakit, Pak." "Nggak perlu, cukup sediakan madu dan air hangat." Rain masih ingat apa yang dilakukan Dania saat ia sakit perut sebelumnya. Ia duduk kembali sambil menenangkan diri. Beberapa menit kemudian, Jeri datang dengan cangkir berisi madu dan air hangat. Rain langsung meminumnya lalu beristirahat kembali. Syukurnya perutnya membaik beberapa menit kemudian, hanya saja masih menyisakan sedikit rasa nyeri, karena itu ia menunda untuk pulang dan malah pindah ke ruang pribadinya. "Pulang nanti, mampir dulu ke kantor, " tulisnya, ia lalu mengirim pesan itu pada Dania. "Untuk apa, Mas?" balas Dania. "Perutku sakit s
Dania bangun pagi seperti biasanya, ia tidak langsung bangkit, ia pandangi wajah suaminya yang masih tertidur lelap sambil bergumam, "Sudah selama ini kita menikah, Mas. Kita jalani pernikahan tanpa ada batasan, hubungan kita juga baik, tapi kenapa aku tidak puas? Aku ingin tahu perasaanmu." Rain menggeliat, membuat Dania segera berbalik dan bergeser lebih jauh setelah itu ia diam mematung, ia merasakan Rain bergeser untuk mendekatinya, Rain memeluknya dari belakang, ia tiba-tiba merasa waspada begitu merasakan benda keras mengganjal punggungnya. Untungnya Rain hanya memeluk. 'Kita selalu seperti ini, tapi terasa asing dan membingungkan,' Pikir Dania, ia berusaha melepaskan diri dari Rain sambil berkata, "Mas, ayo sholat subuh dulu!" Rain membuka mata, ia meraih kembali tubuh Dania hingga menempel kembali padanya. "Setelah kita mandi bersama, ya?" "Mas!?" Rain tidak mau penolakan, ia langsung mengulum bibir Dania kemudian berlanjut melakukan hal yang lainnya hing
Sebenarnya Rain tidak sesantai kelihatannya, ia juga memikirkan apa yang dipikirkan Dania, tapi nafsunya sudah berada di ubun-ubun sehingga tidak bisa ditunda lagi. Karena itu, ketika Dania keluar ia langsung lompat dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi. Sama seperti Dania, la juga segera menyelesaikan mandinya lalu buru-buru berpakaian rapi dan keluar, sayangnya ia lupa sesuatu, "Habis ngapain itu, kok rambutnya basah?" Sambut salah satu ibu-ibu kepo yang memergokinya keluar kamar. Dania yang ada di ruangan itu tertunduk lesu. "Tadi kehujanan, Bu. Makanya basah, memangnya apa yang ibu pikirkan?" "Oh iya," ucap Ibu-ibu itu dengan ekspresi nyengir kuda. Dania dan Rain saling curi pandang sambil tersenyum karena merasa selamat dari ke kepoan ibu-ibu. "Dik, bisa bantu gendongin Maryam? Aku mau makan dulu," ucap Mita pada Dania. Ia baru saja keluar dari kamar sambil menggendong putrinya. "Bisa, Kak." Dania segera berdiri dan mengambil alih Maryam. Rain ikut
Ketika sore menjelang, tamu belum juga berhenti datang sehingga persediaan air minum habis, sementara Andre dan Pak Fadli sibuk menyambut tamu. "Nak, kamu bisa membeli air di mini market terdekat?" tanya Bu Tari pada Rain. "Bisa, Bu. Bisa." Rain asal menjawab, ia mana tau jalan-jalan di desa itu. "Bisa panggilkan Dania, Bu?" "Oh iya sebentar ya, ibu lupa kalau kamu tidak tau jalan." Bu Tari masuk ke dapur dengan buru-buru, Dania sedang berada di sana membantu para ibu-ibu yang sedang sibuk. "Ayo, Mas," ajak Dania begitu melihat Rain. Rain menuju mobil yang ia parkir tidak jauh dari rumah. "Mas, pakai motor saja, lebih cepat," seru Dania. "Oh iya." Rain menghampiri Dania dan mengambil kunci yang diserahkan Dania. Dania tiba-tiba terdiam ketika akan naik motor, mereka akan sangat berdekatan sepanjang jalan selama kira-kira sepuluh menit. "Ayo, naik." "Iya, Mas." Dania melingkarkan tangannya ke perut Rain dengan perasaan berdebar-debar, membuat Rain sedikit
Dania tiba di kediaman kakaknya, sejak menikah kakaknya langsung memilih hidup sendiri dan berpisah rumah dengan orang tuanya agar lebih mandiri. Rumah itu cukup luas untuk orang desa. "Masyaallah, Barokallahu fiil mauhub. Lucu benget," ucap Dania saat menggendong keponakannya, matanya berkaca-kaca karena mengingat bayi yang pernah lahir dari rahimnya lalu berlanjut mengingat Erlangga, Erlangga juga sebesar itu saat pertama kali bertemu. "Namanya siapa, Kak?" tanya Dania pada Mita, kakak iparnya. "Maryam. Kata Mas Andre, biar nanti bisa kayak bunda Maryam yang senantiasa dijaga Allah," "Aamiin," sahut Dania. "Kamu sendiri, kapan punya anak sendiri? Erlangga pasti kepengen jugalah punya teman main," tanya Mita. "Belum diamanahi, Kak," ucap Dania sambil mengingat nasib pernikahannya, apa ia bisa punya anak dengan Rain? Mereka terus mengobrol seputar anak, pengalaman mengasihi dan sebagainya sampai obrolan yang remeh temeh pun tidak terhindarkan hingga Andre, Pak Fadl
Semua orang langsung pulang setelah acara launching selesai, Keluarga Rain juga sudah kembali ke ibu kota, Dania juga sempat minta tolong pada Bu Nena untuk menjaga Erlangga dulu karena masih ada urusan, tersisa Rain dan Dania yang berada di tempat itu. Sejak tadi keduanya diam-diaman, Rain tidak tau harus memulai dari mana sedang Dania tampak tidak peduli. "Mas, aku ada urusan keluarga, karena itu aku berniat pulang ke desa dulu," ucap Dania sembari membereskan barang-barangnya ke dalam koper. "Ada urusan apa?" Rain bertanya dengan hati-hati. "Kakak ipar aku sudah lahiran, ibu memintaku untuk membantunya sampai acara aqiqah," "Lalu Erlangga?" "Aman, sudah ditangani mamah dan Rena juga akan membantunya," "Aku tidak diundang?" Tentu Dania sudah mempersiapkan jawabannya, "Acaranya tidak begitu besar, jadi tidak perlu datang, aku juga ke sana hanya untuk membantu kakak ipar." "Oke kalau begitu," Sekali lagi Rain merasa kagum, istrinya masih sangat menghormatinya







