Mag-log inMeskipun bukan niat buruk, setidaknya pasti ada tujuan lain."Jadi kamu dengan antusias memancingku datang ke wilayah Maia memakai umpan tanaman spiritual, murni karena baik hati ingin memberiku tanaman spiritual?" Arlo tersenyum setengah mengejek.Nirmala mengusap dagunya lalu berkata, "Mungkin karena ingin berbisnis denganmu?""Lebih baik sekalian bilang kamu ingin punya anak denganku!" Arlo mendecakkan bibir."Kamu nggak percaya sama aku?""Menurutmu?""Kalau begitu, menurutmu apa tujuanku menipumu datang ke wilayah Maia? Menipumu jadi menantu matrilokal? Atau benar-benar punya anak denganmu?" Nirmala tertawa sambil menggoda.Saat itu, seorang pria berpakaian khas suku Maia berjalan mendekat. Usianya tampak sekitar 20-an, dengan sorot mata penuh kesombongan.Begitu mendekat, dia langsung menilai Arlo dari atas sampai bawah beberapa kali lalu bertanya kepada Nirmala, "Siapa dia?""Arlo. Teman yang kudapat waktu keluar kali ini!" jawab Nirmala sambil tersenyum."Teman?!"Pria itu meng
Desa Guting adalah pedesaan Maia tempat berkumpulnya Suku Meta dan Suku Merda. Mereka menyukai rok putih dan pakaian warna-warni, sulaman yang indah serta perhiasan perak yang memukau.Rumah panggung tempat tinggal, menara bergaya pagoda beratap rapat, serta jembatan beratap dengan banyak bentang, semuanya membuat para pendatang tenggelam dalam pesona khas wilayah Maia.Terlebih lagi dengan ditemani seorang wanita cantik dari suku Maia, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat membuat banyak orang iri.Namun, ekspresi Arlo malah tampak dingin. Tanpa memedulikan suasana, dia bertanya, "Kenapa Isyana bisa terlibat dengan santa Suku Sihir kalian?""Kalau kalian mau memanfaatkan dia untuk sesuatu, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar!"Arlo cukup memahami Suku Sihir. Dalam Kitab Surgawi Pengobatan Abadi, ada catatan tentang jalan sihir. Catatan tentang teknik sihir juga sangat rinci.Hampir semua orang Maia memercayai ilmu sihir, tetapi Suku Sihir hanya terbatas pada orang Maia
"Aku lagi di wilayahmu dan diadang seseorang bernama Pranata. Mau kamu urus atau nggak? Kalau nggak, aku penggal saja semua kepala mereka!" Setelah berkata begitu, Arlo langsung menutup telepon.Semua orang saling memandang. Orang ini masih saja berpura-pura? Memenggal kepala? Mereka bukan preman kelas teri yang bisa ditakut-takuti dengan kata-kata seperti itu!Namun, sebelum orang-orang selesai berpikir, ponsel Pranata sudah berdering. Pranata mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat layar, tubuhnya langsung kaku. Setelah mengangkat, dia hanya mengangguk-angguk dengan canggung, lalu perlahan menutup telepon."Maaf, Master Arlo. Aku nggak mengenalimu ....""Ayah, kamu ...." Aidan baru hendak protes, tetapi langsung ditampar oleh Pranata."Berlutut dan minta maaf pada Master Arlo!" Pranata lalu melangkah ke depan Gorou dan menamparnya dua kali. "Berlutut! Kalau hari ini Master Arlo nggak memaafkan kalian, aku sendiri yang akan lempar kalian ke Lembah Sepuluh Ribu Naga!"Semua orang terpan
Begitu Pranata datang, Aidan langsung berlari menghampiri dan menceritakan seluruh kejadian dengan marah sambil menunjuk Arlo.Melihat itu, Heidi tak tahan bertanya kepada Paula, "Paman Pranata ini hebat sekali ya?"Paula mengangguk. Pranata adalah kepala Suku Aswad. Dari 13 desa, lebih dari setengah tunduk padanya."Kalau kamu kenal dia, bisa nggak ...." Heidi bertanya tanpa sadar.Paula tidak menjawab.Saat itu, Pranata sudah memandang Paula. Usianya lebih dari 60 tahun, mengenakan pakaian tradisional Aswad. Di belakangnya berdiri dua pria Suku Maia yang bertubuh kurus dan tampak garang."Nak, urusan di sini nggak perlu kamu campuri," kata Pranata sambil tersenyum."Paman Pranata, bisa nggak ampuni nyawanya demi Paman Limbad? Aku bisa minta dia telepon kamu," kata Paula setelah ragu sejenak."Hmm, kepala Suku Meta memang punya nama besar. Kalau kamu bisa menghubunginya, berarti kamu satu keluarga dengannya ya?""Kalau anakku nggak disentuh, aku masih bisa beri muka pada Limbad. Tapi
Heidi membelalakkan mata. Paula sebelumnya bilang dia besar di Desa Guting.Paula berjalan ke depan Aidan, mendekat, lalu berbisik sesuatu. Ekspresi Aidan langsung berubah. Dia kemudian menunjuk Arlo. "Anggap kamu lagi beruntung! Kita pergi!"Semua orang terdiam, hendak pergi, tetapi Arlo melangkah maju dan mengadang jalan Aidan."Kalian ini nggak dengar atau nggak paham?" tanya Arlo.Semua orang tertegun. Arlo langsung menampar. Plak! Aidan terjatuh ke tanah.Paula pun tercengang. Orang ini benar-benar tidak takut mati?Sekelompok preman langsung menyerbu Arlo. Namun, hanya dalam beberapa detik, semua preman sudah tergeletak di tanah. Tak seorang pun sempat melihat jelas gerakannya.Heidi menatap pemandangan itu dengan tak percaya, lalu menutup mulutnya. Cara dia memandang Arlo kini bercampur dengan kekaguman.Di mata Paula, kilatan kaget sempat muncul, lalu berubah menjadi senyuman mengejek. Ini wilayah Suku Maia, apa hebatnya cuma bisa berkelahi? Orang luar yang bodoh ini benar-bena
Arlo turun dari mobil dengan santai. Sekelompok orang langsung mengepungnya. Namun, ekspresinya tetap tenang. Orang biasa pasti sudah gemetaran menghadapi situasi seperti ini, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa gugup.Orang-orang itu juga bukan preman bodoh. Mereka tidak langsung menyerang, melainkan menatap pemimpin mereka, Aidan.Aidan mengangkat dagu ke arah Arlo. "Kamu ini sebenarnya siapa? Sudah berani menyinggung orangku, masih nggak mau kasih penjelasan?"Arlo tersenyum. "Kamu mau penjelasan seperti apa?""Orangku cuma minta kamu kasih tempat duduk, tapi kamu malah lempar dia dari mobil sampai babak belur. Paling nggak kamu harus minta maaf dan bayar biaya pengobatan, 'kan?" kata Aidan sambil menunjuk Gorou."Oh, biaya pengobatan? Kalian maunya berapa?" tanya Arlo sambil mengelus dagunya.Gorou langsung maju dengan wajah pongah. "Satu miliar! Kamu juga harus berlutut dan bersujud! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa keluar dari pegunungan ini!"Arlo mengangguk pelan,
Di depan gerbang, selain Omran, Faris, dan Donny, ada juga Fellis dan Sheila. Bahkan Santoso dan Maulana juga ikut hadir."Masuklah!" Suara Arlo terdengar menggelegar, menggema di telinga semua orang. Seketika, pintu besar vila terbuka dengan sendirinya.Belum sempat mengetuk pintu, Arlo sudah tahu
Setelah mencampurkan setetes cairan spiritual ke dalam satu ember air minum, Arlo menuangkan beberapa gelas dan meletakkannya di hadapan mereka, menyuruh mereka meminumnya."Hm?"Semua orang sempat tertegun. Donny dan Faris yang paling patuh langsung mengambil gelas itu dan meminumnya.Seketika, mer
Di ruang rapat perusahaan farmasi Keluarga Soraya.Fellis duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif dengan wajah serius.Dalam tujuh hari singkat, isu pencurian resep semakin memanas."Divisi humas dan komunikasi eksternal benar-benar nggak bisa membuat klarifikasi yang kuat?" Tatapa
"Menurutku anak itu sudah gila. Tujuh hari. Dulu Raja Prajurit yang berbuat salah saja hanya bertahan tujuh hari sebelum mentalnya hancur. Sehebat apa pun dia, memangnya bisa lebih dari itu?" Guram berbicara dengan penuh semangat, seolah dendam besarnya sudah terbalas."Asal dia sudah gila, mau dipe







