تسجيل الدخول“Baik pangeran,” sahutnya. Segera Wang Xuemin pergi dari sana. Tepat ketika dia datang, para pangeran juga datang tanpa prajurit. Saat Wang Xuemin melihat ke sekelilingnya ia terkejut melihat banyaknya pasukan di bawa. Mereka saling memberi salam satu sama lain.“Selamat datang di Istana Wang, tapi… apa kalian kesini mau mengajak ku berperang?” tanyanya sambil menatap prajurit yang berdiri di luar.“Pangeran Wang, anda bercanda ya?” Xiuhuan sedikit tertawa palsu.Segera ia bersitatap dengan Xu Kai. Untuk mengetahui jawabannya. Sementara yang di tatap hanya mengedikkan bahunya acuh. Wang Xuemin melayangkan tatapan permusuhan padanya. “Ah sahabat baikku, lama tidak berjumpa,” ucapnya segera memeluk Xu Kai erat sampai ia tidak bisa bernafas. Xu Kai menepuk punggung Wang Xuemin kencang.“Untuk apa mereka disini?” ucapnya tertahan karena sambil tersenyum dan sedikit tertawa.“Mereka datang mencari putri,” bisiknya pelan. “Darimana mereka tahu, kau sudah berjanji padanya,” ucapnya gera
Belum sempat suasana istana tenang, seekor elang pembawa pesan mendarat di halaman utama. Pesan itu berasal dari perbatasan, Jingmi yang sedang berpatroli menerima pesan itu. “Ini dari perbatasan,” ucapnya lalu membaca nama pengirimnya. Segera ia berlari mencari Kaisar Li. “Yang Mulia,” suara Jingmi yang masuk dengan panik. Ia sedikit menundukkan kepalanya, keringat membasahi pelipisnya. “Ada apa Jenderal?” “Ada surat dari pangeran.” Kaisar Li mengangkat alisnya dan menyuruhnya membacakan isi pesannya. Segera Jingmi membuka pesan dan membacakannya. “Disini tertulis para pangeran telah menerima kabar meninggalnya Putri Lian Wei." Wajah Kaisar semakin pucat. “Namun mereka menolak mempercayai kabar tersebut. Saat ini seluruh pasukan keluarga kerajaan telah menyebar ke seluruh wilayah tempat sang putri terakhir terlihat. Selain itu mereka juga sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Wu. Mereka akan mencari jasad sang putri. Selama jasad itu belum ditemukan… mereka tidak akan m
“Ada perlu apa mencari Nona Xinxin? Siapa kalian? Apa kalian orang suruhan musuh?”“Kau?” ucap panglima itu terhenti setelah melihat tanda orang di hadapannya. Tanda yang hanya dimiliki oleh pasukan Xinxin. “Salam tuan, kami datang mencari nona anda karena ingin menyampaikan pesan ini?”Yi tan menyerahkan gulungan kertas itu dan memberikannya pada pengawal bayangan di sana.Segera diambilnya gulungan kertas tersebut dan dibaca dengan hati-hati. Setelah membacanya, ia melihat sekumpulan orang yang ada di hadapannya. “Apa kalian benar-benar dikirim untuk nona kami?”“Benar tuan, kami sudah lama menantikan hari ini tiba. Panglima besar kami ikut dengan rombongan para pangeran.”“Baiklah, pertama kalian semua harus saya selidiki latar belakangnya sampai terlihat kebenarannya, lalu setelah itu akan saya beri tanda kesetiaan.”“Baiklah tuan.”“Ini makan, sebagai tanda perjanjian sementara,” ucap pengawal itu memberikan pil pada mereka dalam jumlah yang banyak.Yi Tan mengambilnya tanpa ra
“Jadi pergilah ke sana, untuk membantu mewujudkan mimpinya.” Itu seperti perintah mutlak dari Xuanzong pada Zei Xen. Kaisar Xu berdiri, jubah emasnya bergoyang tertiup angin malam. “Jadilah bagian dari Tentara Xinxin. Mulai hari ini, kalian bukan lagi bayangan masa lalu. Kalian adalah pedang bagi Lian Wei.” Zei Xen menundukkan kepala dalam-dalam. Mata pria itu telah dipenuhi air mata. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia senang bisa bergabung dengan Tentara Xinxin yang hebat. Namun juga merasa sedih karena belum sempat melayani Lian Wei. “Bawahan menerima perintah. Meski harus mengorbankan nyawa, kami akan berusaha untuk mewujudkan mimpi sang putri.” Kaisar Xu memandang hujan yang semakin deras. Dalam hati, ia teringat wajah Liu Fang Yin. ‘Fang Yin… entah mengapa aku merasa Lian’er masih hidup. Dan aku telah menemukan orang-orang yang akan menjaganya. Mulai sekarang, ia tidak akan berjalan sendirian lagi.’ Di bawah hujan malam itu, sebuah kesetiaan yang telah tertidur sel
“Yang benar saja, tadi katanya seperti mau perang. Tapi ayah malah menambah pasukan?” gerutu Xu Kai.Pletak... “Dia ayah mu bodoh,” ucap Jianying sarkas dengan menjitak kepala Xu Kai, sedang yang di jitak hanya mampu mendengus kesal. Melihat keduanya tidak akur dan malah berdebat dengan hal tidak penting segera Xiuhuan mengalihkan topik. “Terimakasih atas kemurahan hati anda Yang Mulia Kaisar Xu, tapi maaf kami tidak bisa menerima bantuan lebih banyak dari anda, kami sudah banyak merepotkan Yang Mulia,” ucap Xiuhuan sopan. “Ah… aku jadi sedih, padahal Putri Wang sudah ku anggap sebagai putriku sendiri,” ucap Kaisar Xu sedih, yang membuat para pangeran saling pandang. “Bagaimana jika kami terima dua puluh orang saja, Yang Mulia?” ucap Jianying. “Benarkah? Baiklah aku akan memberi tiga puluh orang,” ucapnya semangat dengan wajah ceria. “Yang benar saja?!” ucap keempatnya bersamaan yang terkejut karena diluar prediksi. Sementara Kaisar Xu hanya tersenyum cerah.Namun tidak ada yan
“Di antara semua orang di sini. Orang yang paling mengetahui alasannya adalah Ayah sendiri.”Wajah Tao Suho langsung membeku.Tao Lan yang berdiri di sampingnya perlahan menundukkan kepala. Tidak ada yang berani berbicara. Karena semua orang tahu apa yang dimaksud Tao Mo.Terkadang, luka terbesar bukan berasal dari musuh. Melainkan dari keluarga yang seharusnya melindungi mereka.Setelah mengatakan itu, Tao Mo berbalik dan berjalan pergi. Tao Lan menatap punggung kakaknya sejenak sebelum menyusul.Meninggalkan Tao Suho yang masih berdiri seorang diri di tengah halaman, menatap kepergian kedua putranya dengan perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.“Pengawal bawa kedua nona pergi,” ucap Tao Mo saat mencapai pintu. Segera mereka menjalankan tugasnya, pengawal itu juga diperintahkan untuk berjaga disana selama masa hukuman.Sementara itu di Kekaisaran Xu.Di luar perkiraan, hujan terus terjadi hingga menjelang pagi yang harus membuat mereka menginap lebih lama. Mereka t
"Selir Zhu, kau mencoba membunuhku? Tidak akan bisa, aku akan membunuhmu lebih dulu. Tunggu tanggal mainnya, kau akan dihukum atas segala dosamu," ucapnya dengan mata yang tajam. Pertarungan itu diketahui oleh semua orang di paviliunnya. "Anming pastikan berita ini tidak sampai bocor." "Baik p
"Kakak!" pekik Lian Wei berlari di sepanjang paviliunnya hingga tiba didepan pintu.Brak…“Kau tidak apa?” Lian Wei yang panik segera memutari kakaknya.“Aku tidak apa adik.”Setelah memastikan tubuh kakaknya tidak ada luka, segera ia memegangi wajah tampannya yang penuh luka.“Tidak apa-apa? Wajah
Prang...."Bagaimana bisa sampah itu merebutnya dari ku!""Tenanglah May'er.""Mana bisa aku tenang ibu! Pangeran Wang adalah tujuan hidupku! Dan sampah itu sekarang menjadi Calon Permaisuri Wang! Itu adalah impianku!"Prang...."Kita akan membalasnya kau tenang saja.""Bagaimana caranya ibu? Jika
"Cantik."Mendengar hal itu sontak membuat Lian Wei memandang kaku pada Wang Xuemin. Angin menerbangkan rambut hitam panjangnya, sehingga wajahnya sedikit tertutupi oleh rambut yang terbang."Pangeran Wang? Bukan, maksudku apa kau menikahiku hanya karena cantik?""Ya," ucapnya menatap Lian Wei lembu







