登入“Adikku yang malang, apa yang akan kukatakan pada ibu?” ucap Jianying. Mereka bertiga terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sementara Liu Changhai yang pergi tiba-tiba dengan keadaan marah. Ia pergi ke aula tempat Lian Wei menjalankan prosesi penghormatan terakhirnya. Namun mereka tidak ada di sana, ia diberitahu jika Wang Xuemin sudah membawanya. Melihat Liu Changhai yang tidak ada di kediaman segera mereka mencarinya. “Kemana Liu Changhai?” tanya Xiuhuan. Setelah Xu Kai membacakannya, Jianying mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam hanfunya. Lalu mereka keluar dari kediaman. Xu Kai menghentikan seorang pelayan. “Dimana Pangeran Liu?” tanya Xu Kai. “Aula pemakaman, Yang Mulia.” Segera mereka menuju kesana dengan tergesa-gesa. Ketika sudah sampai mereka semua terdiam membeku. “Ada apa ini?” tanya Xiuhuan dan Jianying. Terlihat Liu Changhai yang duduk di lantai dengan kertas jimat yang sudah dibakar habis, yang tersisa hanya abunya. Yang pertama sadar adala
“Pisahkan mereka!”Xu Kai memerintahkan pengawalnya untuk memisahkan mereka.Dua orang pengawal memegangi Liu Changhai yang masih mengamuk.“Ini semua karenamu Xiuhuan! Jika kau bisa berlaku baik pada Lian Wei dia tidak akan mati!”Bruk…Liu Changhai jatuh terduduk, dengan pengawal yang masih memegangnya.“Seharusnya aku membawanya setelah tahu dia siksa. Aku yang salah, kenapa aku menuruti keinginannya untuk tetap tinggal? Aku seharusnya memaksanya,” ucap Liu Changhai penuh penyesalan. Air matanya jatuh begitu deras.“Bibi Fang Yin, maafkan kelalaian ku.”Xu Kai memegang pundak Liu Changhai, seolah sedang menguatkan.“Jianying kau harus terima akibatnya, kau sudah berjanji akan menjaga dia tapi dia mati! Aku tidak akan mengampuni kalian.”“Tenanglah, aku akan membawa kalian ke kediaman Lian Wei,” ucap Xu Kai menengahi.“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Mulai sekarang kita bukan lagi teman,” ucapnya seraya melepaskan pegangan Xu Kai dan pergi sana. Sebelum pergi ia sempat m
“Lian Wei, aku harap ini yang terakhir kalinya.”Wang Xuemin seperti berbisik di telinga Lian Wei. Ia tidak ingin kejadian mengantar pemakaman wanita yang dicintainya terjadi lagi, meskipun ini hanya sandiwara. “Aku berharap… kau bisa menemaniku hingga tua Lian’er.”Sementara di Kekaisaran Xu, setelah tiga orang itu melapor pada petugas. Mereka diantarkan ke gerbang istana. Dari gerbang istana, penjaga gerbang mengantarkan mereka ke aula singgasana.“Hei, siapa yang berduka? Kenapa semuanya ditutupi kain putih?” tanya Liu Changhai.“Kakak sepupu, kau harus bersikap sopan.”“Benar Changhai, tanyakan itu saat bertemu Kaisar Xu,” sahut Xiuhuan.Seorang pengawal itu berhenti sejenak dan berbalik menatap ketiganya saat sudah sampai di pintu masuk aula.“Pangeran mohon tunggu sebentar, hamba akan pergi melapor pada Kaisar.”“Baiklah.”Pengawal itu masuk dan memberi hormat dengan berlutut.“Yang Mulia Kaisar, Putra Mahkota Li, Pangeran Kedua Li dan Putra Mahkota Liu ada disini. Mereka memin
Lian Wei dan Wang Xuemin beserta rombongannya bergegas menuju Kekaisaran Wu. Mereka tidak melewati Kekaisaran Shang. Tetapi mereka melewati jalur yang lain. Karena lebih dekat jika memotong jalur dibandingkan harus melewati Kekaisaran Shang. Lian Wei memandang keluar jendela, jalur yang asing baginya.“Kenapa kita lewat sini?”“Jalur memotong, ku yakin kau tak ingin ketahuan oleh keluargamu bukan?”Lian Wei masih tidak mengerti.“Jika kita memotong jalur akan lebih cepat sampai.”“Kenapa aku tidak tahu ada jalur ini? kapan jalur ini dibuat?”“Hmm… beberapa tahun lalu, aku tidak ingat kapan ini selesainya.”Di Benua Jiuzhou, posisi setiap kerajaan dan kekaisaran membentuk keseimbangan yang rumit selama ratusan tahun.Di bagian tengah berdiri Kekaisaran Shang, sebuah kerajaan yang berada tepat di jantung daratan. Letaknya yang strategis membuat kekaisaran ini menjadi penghubung bagi hampir seluruh jalur perdagangan dan perjalanan antarnegara. Para pedagang yang ingin menuju utara, sel
Xu Kai berlutut di depan peti, biasanya ia selalu bertengkar dengan Lian Wei. Namun kini aula itu begitu sunyi, tidak ada suara hangat yang selalu mengajaknya berdebat. Tidak ada lagi senyum manis yang terukir, hanya mampu menjadi kenangan. Kali ini, ia sadar kepergian Lian Wei Kali ini, bukan sekedar hanya kematian palsu. Namun juga kepergian selamanya dari hidupnya. Ia sadar sampai kapanpun ia tidak bisa memiliki Lian Wei. Ia tertawa kecil sambil menunduk. “Kau benar-benar menyebalkan.” Tidak ada yang menjawab. “Aku masih belum sempat mengalahkanmu dalam adu mulut.” Tangannya mengepal. “Jadi jangan mati.” Kalimat itu membuat para pelayan di sekitar menitikkan air mata. Setelahnya Wang Xuemin mengatur pemberangkatan mereka kembali. Langit pagi diselimuti awan kelabu ketika gerbang utama Kekaisaran Xu perlahan dibuka. Suara terompet duka menggema panjang. Di depan iring-iringan, puluhan pengawal berkuda mengenakan pita putih di lengan mereka. Bendera berkabung berkibar pel
Pergerakan mereka membolongi peti mati itu terhenti. “Kau tidak harus masuk kedalam,” ucap Wang Xuemin. “Benar, kau bisa menyelinap pergi dan membiarkan peti ini tetap kosong,” sahut Xu Kai. “Tunggu disini,” ucap Wang Xuemin lalu pergi dari sana untuk mengambil jubah. Keheningan terjadi antara mereka, rasa canggung diantara mereka sangat kentara. Setelah pengakuan itu mereka belum berbicara lagi. “Perkataan ku kemarin berlaku selamanya, jika kau membutuhkan aku… aku akan datang.” ‘Sebisa mungkin hal itu tidak akan terjadi,’ batin Lian Wei. Bukan jawaban yang datang namun hanya senyuman lembut. Wang Xuemin datang dengan jubah hitamnya. Kemudian ia memakaikan jubah itu pada Lian Wei. “Sudah, di luar aman. Kita bisa pergi sekarang tanpa ketahuan.” Setelah mengatakan itu Wang Xuemin dan Lian Wei segera pergi dari sana. Meninggalkan Xu Kai yang harus membereskan hal ini. Sementara Xu Kai mengunci peti matinya, Wang Xuemin dan Lian Wei berjalan mengendap-endap menuju kediaman Wan







