LOGINMalam semakin larut.Di luar perkemahan, angin berhembus melewati hamparan padang yang gelap. Api obor dari kemah musuh terlihat samar dari kejauhan.Lian Wei berdiri di balik sebuah bukit kecil bersama Yelu, Mingmei, dan beberapa orang kepercayaannya.Tatapannya tertuju pada kemah musuh.“Pasukan utama mereka masih berada di bagian tengah,” ucap Lian Wei pelan. “Mereka tidak menyadari bahwa sebagian pasukan kita sudah mengepung sisi timur dan barat.”Yelu mengangguk.“Kalau begitu, kapan kita menyerang, Tuan?”“Sekarang.”Lian Wei mengangkat tangannya.Sesaat kemudian—Whoosh!Anak panah melesat ke udara.“Serang!”Teriakan para prajurit mengguncang malam.Pasukan yang telah bersembunyi di sekitar kemah musuh langsung bergerak. Dari sisi timur, barisan prajurit menyerbu masuk. Dari sisi barat, pasukan lainnya memutus jalur pelarian.Musuh yang sedang beristirahat langsung kacau.“Ada serangan!”“Musuh mengepung kita!”“Lindungi kemah komandan!”Lian Wei menarik pedangnya dan maju pal
“Aku tiba-tiba ingin melihat halaman belakang.”Hong Tiong Wai tertawa kecil.“Baiklah. Kalau itu keinginanmu.”Mereka berjalan mengikuti arah Hong Li Hao. Namun, Lian Wei tidak berjalan terlalu dekat.Ia menjaga jarak, sesekali berhenti untuk melihat bunga atau memperhatikan bangunan di sekelilingnya.Hong Tiong Wai tidak menyadari bahwa setiap langkah adiknya telah diperhitungkan.Hong Li Hao berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Dua pengawal membuka pintu lalu ia masuk.Lian Wei yang berada cukup jauh segera berhenti di balik pilar.“Adik?” tanya Hong Tiong Wai sambil menatapnya.“Diam sebentar,” Lian Wei mengangkat satu jari di depan bibir.Hong Tiong Wai mengerutkan kening. Namun, ia mengikuti permintaan adiknya. Lian Wei mendekat perlahan, dari balik dinding, terdengar suara Hong Li Hao.“Semua pasukan harus tetap berada di tempat masing-masing.”Lian Wei berhenti.‘Pasukan?’Ia memberi isyarat kepada Hong Tiong Wai agar tetap diam.“Bagaimana jika pasukan dari Shang dan Xu m
“Adik, kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Xinxin besar di Kekaisaran Xu, ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ia berasal dari Kekaisaran Shu hanya peracik obat kecil.”“Benarkah?”“Ya, sangat berbeda dengan identitas Tuan Xinxin yang muncul secara misterius.”“Berarti aku salah paham pada ponakanku,” ucap Hong Li Hao merasa bersalah.“Sudahlah, kita bahas yang lain dulu saja.”“Ya.”Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka untuk peperangan yang akan datang.Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Hong Li Hao keluar lebih dulu, saat berada di pintu masuk seorang pengawal masuk dan membungkuk.“Yang Mulia.”“Ada apa?” Hong Li Hao menoleh.“Orang yang, Yang Mulia tunggu telah tiba.”“Bawa aku ke sana,” ucap Hong Li Hao lalu mengangguk.Malam mulai turun di Kekaisaran Song. Di balik sebuah bangunan tua yang tampak seperti gudang kosong, terdapat ruangan bawah tanah yang dijaga ketat.Hong Li Hao masuk melalui pintu samping.Di dalam, beberapa pria ber
“Dan apakah seseorang itu bernama Xinxin? Apa kau dan dia adalah orang yang sama?”Deg!Jantung Lian Wei mendadak berhenti sejenak, ia takut ketahuan. Mingmei yang berdiri di belakang Lian Wei langsung menegang.Hong Li Hao memperhatikan perubahan kecil itu. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Lian Wei menundukkan kepala.“Paman…” suaranya mendadak melemah.Hong Li Hao terdiam.Lian Wei mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat bingung, bahkan sedikit terluka.“Kenapa Paman terus menanyakan tentang Tuan Xinxin kepadaku? Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya.”“Aku hanya—” Hong Li Hao mengerutkan kening, ia tidak melanjutkan ucapannya.“Apakah karena aku membuat teh yang aromanya mirip dengannya?”Lian Wei menggenggam ujung lengan bajunya.“Kalau begitu, maafkan aku.”“Maaf?”“Aku tidak tahu racikan teh sederhana milikku akan membuat Paman Kedua mengingat seseorang yang begitu penting,” ucapnya dengan suara yang semakin pelan.Mingmei menundukkan kepala, seolah-
“Ingatlah pesanku.”Hong Tiong wai mendudukan Lian wei, ia langsung menatap kakaknya yang berada di atasnya. Lalu setelah mengatakan itu Hong Tiong Wai duduk di kursi sebelahnya.Tidak lama Hong Li Hao masuk, ia menyapa Kaisar Song dengan berpelukan lalu menyapa Putra Mahkota.Tatapan matanya jatuh pada seorang gadis di samping Hong Tiong Wai.“Inikah keponakan baruku?” ucap Hong Li Hao.Lian wei langsung berdiri.“Salam Paman Kedua,” ucapnya. Ia juga memberi salam pada Hong Li Hao.“Hahaha bagus bagus. Keponakan perempuanku lucu sekali.”Saat Hong Li Hao ingin menyentuh Lian wei, Hong Tiong Wai langsung menarik mundur Lian Wei dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.“Paman Kedua, adik baru saja bertemu dengan paman. Aku khawatir ia tidak terbiasa, mohon dimaklumi paman.”‘Apakah pria bisa sarkas?’ batin Lian Wei.“Ah… tentu saja. Paman yang terlalu terburu-buru.” Hong Li Hao mundur beberapa langkah, tetapi tangannya terkepal kuat. Sejak dulu ia tidak akur dengan Hong Tiong Wai,
Tiga arah yang di maksud adalah strategi perang yang sudah mereka susun sebelumnya. Adapun satu tujuan yang berarti mereka memiliki satu musuh dengan tujuan yang sama yaitu menaklukkan Kekaisaran Song dan menangkap Topeng Perak.Sementara pasukan yang dipimpin oleh Xiuhuan mengarah ke selatan untuk meletakan pasokan makanan palsu. Ia juga menjaga rumah tua itu sebentar. Ia memperhatikan sekitar, melihat musuh sudah mulai berdatangan segera ia melancarkan aksinya. "Kita kembali sekarang, tempatkan beberapa orang untuk menjaga tempat ini.""Baik, Yang Mulia."Melihat keadaan yang begitu sepi, ratusan panah berapi meluncur terbang menuju rumah tua. Beberapa orang yang berjaga segera waspada. Tak lama muncul pasukan dari Kekaisaran Song dan menyerang pasukan yang berjaga. Setelah semua pasukan habis terbunuh mereka kembali ke istana untuk melapor pada Hong Li Song. Sementara Xiuhuan yang melihat dari atas tebing tersenyum senang. "Lian Wei oh Lian Wei, ternyata kau ahli strategi yang b
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg







