LOGIN“Putri! Anda dimana?! Apa anda baik-baik saja?!” teriak Tabib Luo setelah tiba di ruang makan. Lian Wei menghampiri Tabib Luo, dengan membawa sampel racun dan resep racun tersebut. “Tabib Luo tenanglah.”Lian Wei berjalan dengan anggun, gerakan mata Lian Wei dapat di pahami oleh Mingmei, segera Mingmei menutup pintunya agar tidak banyak orang yang lihat. Kemudian menghampiri Lian Wei yang duduk di mejanya. “Tabib Luo aku memanggilmu kesini karena hal ini,” ujarnya seraya menyerahkan sampel tersebut. Tabib Luo menerima dan membacanya, seketika matanya membulat, tubuhnya bergetar, keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Tangannya bergetar, itu terlihat dari kertas yang dipegangnya bergetar hebat. “Pu-putri ini kan—”Ternyata sedari tadi Lian Wei mencatat semua racun di piringnya, sambil menunggu Tabib Luo datang dan hasil penyelidikannya.Keheningan meliput seluruh ruangan, hingga kedatangan Kaisar memecahkan keheningan tersebut. Kaisar kembali duduk di kursinya.“Iya kau benar Tabib
Semua orang terkejut, segera Kasim Chen mengambil jarum perak itu untuk ditunjukkan pada Kaisar. Lian Wei sudah berdiri dan berjalan keluar, saat akan mencapai pintu keluar dia berbalik.“Oh ya, tolong Yang Mulia selidiki hal ini. Aku akan mengusut masalah ini sampai tuntas. Karena seseorang berani mencoba membunuh putri sah ini, kalian semua yang ada disini akan diperiksa,” ucapnya terjeda, ia melihat raut tidak suka pada kedua adik perempuannya dan wajah khawatir pada kedua kakaknya juga ayah dan ibu selir. “Jika kalian menolak, aku akan kirim pesan pada Keluarga Liu dan Pangeran Wang,” ucapnya tegas menunjuk pada kedua adiknya yang hendak protes.Tatapan semua orang mengarah pada kedua orang yang sudah berdiri itu.“Ada apa dengan kalian?” tanya Kaisar Li.”Tidak ada ayah,” ucap Lien Hua dan Mayleen bersamaan, lalu mereka duduk kembali di tempatnya.Beberapa prajurit dari Liu Changhai yang memang ditugaskan untuk menjaga Lian Wei, segera berbaris rapi di luar ruang makan. Lien Hua
“Mingmei ayo!” seru Lian Wei di kejauhan. Segera Mingmei mengejar Lian Wei. Mereka berjalan dengan santainya hingga tidak sadar sudah sampai di depan pintu ruang makan. Kasim yang berjaga segera membukakan pintu agar Lian Wei bisa masuk. Mereka masuk tanpa ada pemberitahuan dari kasim karena diperintahkan oleh Lian Wei. “Ayah kenapa ayah mengundang kakak?”“Apa maksudmu Lien Hua?”“Ah... maksudku, kenapa ayah baru mengundang kakak? Kenapa tidak dari dulu saja?”“Itu karena—”“Bukankah itu kursi milikku?” ucap Lian Wei saat tiba di depan kursinya. “Ahh kakak kau sudah datang? Aku akan pindah sekarang, aku hanya ingin mengobrol dengan ayah saja.”“Tidak perlu adik, kau duduk disitu saja aku akan cari tempat lain,” ucapnya dengan lembut dan tenang. ‘Dasar rubah,’ batin Lian Wei. Lian Wei duduk di kursi kosong yang berada di ujung meja. Kaisar merasa sedih melihat putrinya duduk sangat jauh, begitu juga dengan Xiuhuan. “Lian'er duduk saja di sampingku,” ujar Xiuhuan. “Tidak terimak
Sementara itu di Paviliun Kenanga atau Paviliun Mayleen. Ia sedang berpesta sendiri, ia tidak bersedih akan kepergian ibunya. Memang ia merasakan kekosongan namun ia juga merasakan kelegaan di saat yang bersamaan. “Sudah tidak ada lagi yang menghalangi jalanku. Aku akan membalaskan semua dendam ibu meskipun dia sangat buruk padaku. Lalu untuk membunuh Keluarga Zhu? Tidak akan aku biarkan,” batinnya matanya mengobarkan kebencian yang teramat dalam pada Lian Wei. “Tunggu pembalasanku Lian Wei,” ucapnya pelan seraya memutar anggur di cangkir yang dipegangnya.Xiuhuan tidak pergi, ia masuk kedalam dan melihat ruangan yang gelap. Ia menyalakan lilin dan melihat Lian Wei yang tergeletak di lantai. segera ia membawanya ke kasurnya, ia juga memanggil Tabib Luo untuk memeriksa keadaannya.Tabib Luo datang tidak lama kemudian, ia mulai memeriksa keadaannya. Setelah memberikan obat ia pergi dari sana. Xiuhuan merawat Lian Wei sebentar sebelum kembali ke paviliunnya.Angin berhembus dengan pela
“Katakan apa yang membuatmu datang kesini kak?”Xiuhuan hanya terdiam, tidak langsung menanggapi perkataan Lian Wei, ia tidak tahu harus memulai dari mana.“Apa kau tidak tahu aku sibuk?”“Sepertinya kau tidak terlihat sibuk.”“Huh orang ini benar-benar menyebalkan.”Xiuhuan menatap pada Lian Wei menggerutu.“Aku sibuk!” Lian Wei membuat ekspresi yang menurut Xiuhuan gemas.Xiuhuan terkekeh pelan.‘Seandainya setiap hari berlalu dengan santai seperti ini,’ pikir Xiuhuan.“Jika kau sibuk, kau tidak mungkin bisa santai seperti ini.”Xiuhuan menunjuk pada Lian Wei yang asik memakan kuenya.“Huh kau ini. Cepat katakan apa tujuanmu kemari?” Lian wei membersihkan tangannya kemudian menatap Xiuhuan serius.Xiuhuan tampak ragu mengutarakan isi hatinya. Ia melihat ke sekeliling, yang memang sepi. Mingmei sudah menjauh dari sana dan para prajurit yang lain pun sedang berpatroli dan berjaga dengan jarak yang cukup jauh. “Maafkan aku. Maafkan segala sikap dan kesalahan yang pernah ku perbuat pad
“Habisi semuanya! Jangan sampai membiarkan seorangpun lolos!”“Baik pangeran!” seru mereka. Pembantaian itupun berlangsung, mereka menyerbu Keluarga Zhu. Meskipun keluarga Zhu juga membela diri. Suara pedang saling beradu di rumah keluarga Zhu. “Kenapa kau menyerang kami?! Tidak cukupkah dengan kematian anakku?” tanya kepala Keluarga Zhu. “Tidak.”“Anak kesayangan mu sudah membunuh bibiku, bahkan dia juga berani mencoba membunuh adik sepupuku.”“Lagipula titah Kaisar ada di sini dan semuanya tertulis dengan jelas, agar menghukum mati sembilan generasi Keluarga Zhu,” ucapnya menunjukan titah Kaisar.“Aku sebagai Keluarga Liu dan seorang pangeran, tidak akan membiarkan kalian begitu saja!” ucapnya geram bersamaan dengan tertusuknya pedang pada dada kepala Keluarga Zhu. Tidak hanya Liu Changhai saja yang menyerangnya tapi ayahnya juga turut menyerang Keluarga Zhu. Tentu saja sebagai seorang kakak, mana mungkin dia bisa diam saja saat mengetahui adiknya terbunuh oleh salah satu wanita







