เข้าสู่ระบบMenjelang siang, keramaian di kediaman Lian Wei akhirnya mereda. Namun jejak kedatangan Wang Xuemin masih terlihat jelas dari tumpukan peti yang memenuhi beberapa sudut ruangan.Lian Wei berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi para pengawal yang berjaga di luar halaman.Ekspresinya tenang.Tetapi pikirannya jauh dari kata tenang.Semakin Wang Xuemin menunjukkan perhatian, semakin ia merasa harus menarik diri. Ia tidak boleh lupa tujuan sebenarnya.Suara ketukan pelan terdengar dari luar.“Putri.”“Masuk.”Mingmei membuka pintu dan membungkuk hormat.“Yang Mulia Kaisar memanggil putri ke aula utama. Katanya ada urusan penting yang harus segera dibahas.”Tatapan Lian Wei berubah serius.“Ada apa?”“Sepertinya mengenai penyerangan kemarin malam.”Lian Wei mengangguk.“Aku akan segera ke sana.”Sementara itu di aula pertemuan Istana Xu dipenuhi suasana tegang.Di kursi utama, Kaisar Xu duduk dengan wajah serius. Tidak ada lagi senyum ramah yang biasa ia tunjukkan.Di sisi kanan berd
“Kau membuatku takut hari ini.”Jantung Lian Wei berdegup keras. Bukan karena nada suara itu, melainkan karena ketulusan di baliknya.Wang Xuemin jarang mengungkapkan perasaannya secara langsung.Karena itu, kalimat sederhana tersebut terasa jauh lebih kuat daripada seribu kata manis.Lian Wei menunduk pelan.Berusaha menenangkan hatinya yang mulai goyah.Namun semakin ia mencoba kembali pada logika dan misinya, semakin sulit mengabaikan satu kenyataan.Bahwa perlahan, tanpa ia sadari, hatinya mulai luluh pada pria yang selalu datang tepat waktu untuk melindunginya.“Kau istirahatlah dulu.”Wang Xuemin membantu Lian Wei merebahkan tubuhnya. Kemudian ia mematikan semua lilin sebelum keluar.Pagi itu, kediaman Lian Wei yang biasanya tenang mendadak ramai.Derap langkah kaki memenuhi halaman depan. Para pelayan yang sedang menyapu berhenti bekerja dan saling bertukar pandang. Bahkan Mingmei yang baru saja membawa baskom berisi air hampir menjatuhkannya karena terkejut.“Apa yang terjadi?
“Lalu siapa menurutmu?” “Lien Hua.” “Putri Kedua, tebakanmu sepertinya benar.” “Maksudmu kau tahu sesuatu?” “Pengawal bayangan yang ku kirimkan untuk menjaga orang-orang yang pernah menyakitimu, mengikuti Lien Hua menemui pemimpin kelompok ini. Tetapi aku tidak tahu siapa pemimpinnya.” “Kenapa bisa bersamaan dengan waktu Kekaisaran Song ingin menyatakan perang? Apakah ini ada hubungannya?” “Kau terlalu berpikir lebihan.” Wang Xuemin menaikan Lian ke kudanya dengan perlahan, kemudian dia duduk di belakang. Wang Xuemin menarik tali kudanya dan mereka segera kembali ke istana. “Posisi ini sangat tidak nyaman.” “Diamlah jika kau tidak ingin jatuh.” Lian Wei hanya bisa menuruti perkataannya. Begitu rombongan memasuki Istana Xu, para pelayan yang menunggu di depan kediaman Lian Wei langsung berhamburan keluar. “Putri!” “Cepat panggil tabib!” “Siapkan air hangat!” Suasana mendadak kacau. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah sosok Wang Xuemin yang turun dari kudanya s
Para pembunuh saling berpandangan. Mereka telah menerima informasi bahwa Lian Wei hanya dikawal beberapa orang. Namun tidak ada yang memberitahu mereka bahwa Wang Xuemin akan muncul di sini. Terlebih lagi, tidak ada yang memberitahu bahwa Lian Wei adalah Putri Wang. Pemimpin kelompok itu menggertakkan gigi. “Bunuh mereka semua!” Belasan pembunuh langsung menyerbu bersamaan. Namun Wang Xuemin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya mengangkat pedang perlahan. Lian Wei dan Wang Xuemin saling pandang, lalu mereka mengangguk cepat. Detik berikutnya— Srettt… Bayangannya menghilang. Jeritan langsung terdengar. “Aaaagh!” Seorang pembunuh terjatuh sambil memegangi lehernya yang mengucurkan darah. Belum sempat yang lain bereaksi, Wang Xuemin sudah muncul di belakang lawan berikutnya. Satu tebasan. Satu nyawa melayang. Gerakannya begitu cepat hingga sulit diikuti mata. Lian Wei juga membunuh satu orang yang tidak jauh darinya, hingga kepala dan lehernya terpisah. “Pedangmu sangat
Setelahnya Lian Wei keluar dengan membawa beberapa kantong. Tianzhi yang duduk di pojok dekat jendela segera menghampirinya dan mengambil barang bawaannya. Kemudian mereka berjalan-jalan di pasar, Lian Wei juga membeli beberapa makanan ringan. Mingmei dan Anming juga membantu membawakan barang belanjaan Lian Wei. Setelah puas berbelanja mereka segera kembali ke istana. Matahari mulai tenggelam ketika kereta yang ditumpangi Lian Wei meninggalkan pasar. Jalan menuju Kekaisaran Xu cukup ramai pada siang hari, tetapi menjelang senja hanya sedikit pedagang yang masih melintas. Kekaisaran Xu termasuk kedalam kerajaan yang jarang muncul kejahatan. Sehingga rakyat merasa aman saat keluar malam. Penjagaan di malam hari juga tidak terlalu banyak namun sangat ketat di luar gerbang kota dan perbatasan. Di dalam kereta, Lian Wei sedang memeriksa buku catatan penjualan dari usaha di Kekaisaran Shang. “Sepertinya perjalanan kali ini cukup menguntungkan, putri,” ujar Mingmei yang duduk di hada
“Oh? Lalu siapa targetnya?” tanyanya. Untuk sesaat, Lien Hua terdiam. Wajah Lian Wei muncul dalam benaknya. Wajah yang selalu mendapatkan perhatian. Wajah yang selalu membuat orang-orang memujinya dan yang paling ia benci, wajah yang kini semakin dekat dengan Wang Xuemin. Jari-jari tangan Lien Hua perlahan mengepal sampai kukunya menancap di telapak tangannya. “Lian Wei.” Ruangan menjadi sunyi. Pria bertopeng mengangkat alis. “Gadis itu? Kudengar dia cukup terkenal akhir-akhir ini.” “Terkenal karena mengundang bos Xinxin itu kan bos?” ucap gadis berbaju hitam di belakangnya. “Aku tidak peduli,” ucapnya lalu Lien Hua meletakkan sebuah kantong emas di atas meja. Tak… Suara logam di dalamnya membuat beberapa pembunuh menoleh. “Separuh sekarang. Separuhnya lagi setelah dia mati.” Pria bertopeng membuka kantong itu dan memeriksa isinya. Senyumnya melebar, “Murah hati sekali.” “Aku tidak ingin kegagalan.” “Kami tidak pernah menjanjikan kesempurnaan,” ucapnya menyandarkan tub







