MasukRasa penasaran yang besar akhirnya mendorong Gia untuk menanyakan hal yang mengusik pikirannya sejak pembicaraan dengan Elena beberapa waktu lalu.
Ketegangan taktis yang semula menguasai meja makan kini bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih intim dan membingungkan bagi dirinya.
Gia menolehkan kepalanya sedikit, menatap langsung pada rahang tegas Marco yang berada sangat dekat dengan posisinya.
Dia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian sebelum melontarkan perta
Di dalam kamar utama menara Rossi yang hangat, aroma obat-obatan dan antiseptik menyeruak tipis mengalahkan bau amis darah dan air sungai yang sempat melekat pada tubuh Marco.Tim medis pribadi klan Rossi baru saja selesai menjahit luka robek di bahu kiri Marco serta membebat tulang rusuknya yang memar parah akibat benturan keras.Marco berbaring bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang king size, tubuh bidangnya yang polos tanpa atasan memperlihatkan balutan perban putih bersih yang membungkus rapi bahu serta dadanya.Gia duduk di sisi tempat tidur, jemari mungilnya menggenggam erat tangan kanan Marco yang dipenuhi bekas goresan luka.Tatapan mata abu-abu sang Alfa tidak pernah lepas dari wajah istrinya, seolah setiap detik yang terlewat tanpa memandang Gia adalah sebuah kerugian besar."Aku benar-benar berpikir kalau aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi selamanya, Gia," bisik Marco dengan suara baritonnya yang masih terdengar parau dan berat.Marco memiringkan kepalanya se
"Nyonya Gia! Anda mau ke mana?! Jangan berjalan sendiri ke arah bukit!" teriak Rio panik dari balik barikade jembatan."Jangan ikuti aku, Rio! Biarkan aku sendiri!" balas Gia melangkah terus tanpa menoleh sedikit pun."Area bukit itu terlalu terjal dan berbahaya untuk kondisi Anda, Nyonya!" tegas Rio berlari kecil berusaha menyusul dari belakang.Waktu terus bergulir hingga senja di hari keempat sejak Marco menghilang ditelan arus sungai.Langit membentang jingga kelabu, memancarkan kepedihan kaku di atas sisa-sisa reruntuhan jembatan yang masih dijaga ketat oleh konvoi Rossi."Tolong tinggalkan aku sendiri sebentar saja, Rio. Aku mohon padamu," desis Gia dengan suara parau yang amat rapuh dan bergetar.Ketika warna jingga keemasan perlahan meredup berganti kegelapan malam, Gia berjalan dengan tatapan kosong seorang diri meninggalkan area jembatan menuju puncak bukit curam di tepi perbatasan.Langkah kaki tertatihnya menapak rumput liar yang basah oleh embun sore, membiarkan gaun lama
"Deru mesin. Jalan raya sudah dekat!" desis Marco dengan napas memburu dan bibir kebiruan."Jangan pingsan sekarang, Rossi! Sedikit lagi!" gerungnya menyemangati kakinya yang kian tak bertenaga."Bertahanlah, Gia. Aku sudah semakin dekat," bisiknya menembus deru angin malam yang menusuk tulang.Menjelang tengah malam, langkah kaki Marco yang tertatih akhirnya membawanya mendekati puncak bukit, di mana samar-samar terdengar deru mesin kendaraan dari arah jalan raya perbatasan.Sorot lampu mobil sesekali menyapu rimbun pepohonan di atas tebing, menjadi penanda bahwa peradaban hanya berjarak beberapa meter lagi."Satu baris jalan raya di depan... Aku harus mengatur napas," ucap Marco dengan pandangan yang mulai memburam.Tubuhnya yang berada di titik nadir kelelahan menuntut istirahat singkat sebelum dia pingsan karena kehilangan banyak darah.Pendarahan dari bahunya yang belum tertangani secara medis membuat tingkat kesadarannya merosot tajam."Sialan... kepalaku mendadak berputar hebat
"Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan."Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya."Marco tidak selemah yang kalian bayangkan, Rio! Pikirkan siapa suamiku!" seru Gia dengan binar mata tajam.Gia masih sangat optimis kalau Marco masih hidup dan berada di suatu tempat di luar sana.Keyakinan itu membakar dadanya, menepis segala skenario terburuk yang baru saja dipaparkan oleh tim taktis."Dia pasti sedang mencari jalan pulang ke menara ini sekarang!" tegas Gia menyuarakan optimismenya.Gia menegaskan bahwa Marco bukan pria yang mudah dikalahkan oleh arus sungai atau luka-luka fisik, dan Marco pasti akan selam
"Sialan... kakiku hampir mati rasa," desis Marco seraya menekan kedua telapak tangannya ke atas tanah basah yang dingin."Aku tidak boleh tumbang di tempat ini! Gia membutuhkanku!" bentaknya pada diri sendiri untuk memompa keberanian."Tahan rasa sakit ini, Marco! Berdiri sekarang juga!" serunya lagi memperingatkan ketahanan fisiknya.Meskipun kondisi fisiknya berada di batas kelelahan dan rasa sakit, rasa khawatir Marco terhadap keselamatan Gia menjadi pendorong utama yang memaksa tubuhnya bertahan.Bayangan raut wajah Gia yang memar akibat tamparan Albert terus berputar di dalam kepalanya, membakar sisa-sisa stamina di dalam tubuhnya."Aku datang, Mia Luna... Aku pasti kembali padamu," bisik Marco parau di tengah keheningan malam perbukitan.Marco mencoba beranjak dari posisi terbaringnya, bertumpu pada lututnya yang gemetar di atas tanah basah.Napasnya memburu kaku sewaktu kedua lututnya bergetar hebat menahan beban tubuh bidangnya yang bersimbah air dan lumpur."Argh! Dada brengs
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!""Brengsek... paru-paruku..." erang Marco parau seraya terbatuk-batuk hebat di atas tanah yang basah."Sialan, air sungai ini hampir menyiksaku sampai mati," desisnya seraya memuntahkan sisa air pekat yang memenuhi tenggorokannya.Jauh dari lokasi pencarian utama, di sebuah sudut perbukitan yang jauh dan curam di sepanjang aliran sungai bawah, tubuh Marco terdampar di antara bebatuan licin dan semak belukar.Marco mendadak terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air sungai yang memenuhi paru-parunya, sebelum akhirnya langsung membuka mata secara paksa di bawah remang cahaya bulan."Darah... bahuku tertembak lagi," gumam Marco memegang luka robek di dada dan lengannya.Kesadarannya kembali secara bertahap bersamaan dengan rasa nyeri yang membakar seluruh tubuhnya.Setiap helaan napasnya menimbulkan sensasi menusuk tajam pada tulang rusuknya yang terhantam setir mobil sebelum tenggelam."Di mana... di mana lokasi ini sebenarnya?" tanya Marco pada dirinya sendiri dengan pand
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan







