Startseite / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 117: Sebaiknya Jujur saja

Teilen

Bab 117: Sebaiknya Jujur saja

last update Veröffentlichungsdatum: 20.06.2026 23:57:02

Gia dan Rio berada di ruang operasi menunggu Marco yang masih di dalam ruang operasi. Koridor rumah sakit privat milik klan Rossi itu tampak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki dan dengung lampu neon yang temaram.

Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Gia, memicu kembali ingatan akan anyir darah di kabin helikopter beberapa jam lalu.

Gia berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca tebal berkode digital yang terkunci rapat. Tangannya yang sudah dibersihkan dari noda darah masih menyisak
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Yes! Please, Daddy   Bab 118: Kondisi Marco

    setelah beberapa menit kemudian, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi dan memberitahu bahwa kondisi marco dalam pemulihan dan akan dibawa ke ruang rawat.Ketegangan yang sempat mengunci koridor medis itu perlahan mengurai bersama klik pintu kaca yang terbuka. Dokter bedah utama klan Rossi melangkah keluar sembari melepas masker medisnya, menampilkan guratan lelah namun profesional."Peluru kaliber 7.62 hampir mengenai aorta utamanya, Nyonya Rossi. Beruntung kekuatan fisiknya luar biasa," ujar dokter itu dengan nada taktis yang rendah, melirik sekilas ke arah para tetua dewan yang masih berdiri mengintai di ujung koridor."Kondisi Tuan Marco saat ini sudah dalam masa pemulihan dan akan segera dibawa ke ruang rawat intensif. Namun, untuk saat ini dia masih belum sadarkan diri karena efek bius total yang teramat kuat."Gia menghela napas lega mendengarnya. Beban masif yang sejak tadi menggelayuti pundaknya seolah terangkat, walau hanya sesaat.Tak lama kemudian, pintu geser otomatis

  • Yes! Please, Daddy   Bab 117: Sebaiknya Jujur saja

    Gia dan Rio berada di ruang operasi menunggu Marco yang masih di dalam ruang operasi. Koridor rumah sakit privat milik klan Rossi itu tampak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki dan dengung lampu neon yang temaram.Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Gia, memicu kembali ingatan akan anyir darah di kabin helikopter beberapa jam lalu.Gia berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca tebal berkode digital yang terkunci rapat. Tangannya yang sudah dibersihkan dari noda darah masih menyisakan sedikit getaran taktis akibat sisa adrenalin. Dia menyilangkan kedua tangan di dada, merapatkan jubah taktisnya yang kini terasa mendingin."Bagaimana bisa dia mengalami luka tembak dan diam saja?!" Gia bergumam dengan nada rendah yang sarat akan frustrasi. Dia menghentikan langkahnya sejenak, menatap lantai ubin putih dengan tatapan tajam yang kosong.Gia menggerutu karena Marco terlalu menyepelekan luka tersebut. "Dia mengoceh sepanjang jalan, menekan rahangku, bahkan sempat-sempatnya menye

  • Yes! Please, Daddy   Bab 116: Luka di Tubuh Marco

    Mereka berhasil melompat masuk ke dalam kabin helikopter yang berguncang hebat di tengah badai peluru. Bunyi hantaman timah panas yang menggores dinding luar badan burung besi itu menciptakan dentangan logam yang memekakkan telinga.Rio langsung menarik pintu geser kabin hingga tertutup rapat, mengunci mereka dari serangan infanteri klan The Sword yang mengamuk di bawah sana.Begitu burung besi itu melesat naik meninggalkan kepulan asap mansion yang kian menjauh menjadi titik merah di kegelapan malam, Gia bernapas lega.Tubuhnya merosot di atas lantai kabin yang bergetar konstan. Dia menyeka peluh dan debu mesiu yang menempel di dahinya, mencoba menstabilkan pasokan oksigen di dadanya setelah pelarian maut yang teramat ekstrem tadi.Namun, ketenangan taktis itu hanya bertahan beberapa detik. Pandangan Gia mendadak terpaku pada telapak tangan kanan Marco yang sejak tadi menahan perutnya sendiri di balik jubah taktisnya yang gelap.Pria itu bersandar pada dinding kabin dengan kepala men

  • Yes! Please, Daddy   Bab 115: Urusan Kita belum Selesai!

    Kabut asap pekat akibat ledakan tabung gas belum sepenuhnya menguap saat Marco mengambil keputusan taktis yang ekstrem.Mengabaikan posisi Albert yang kian mendekat di balik kabut, pria Rossi itu menarik sisa granat ofensif terakhir dari sabuknya, menyentak pin pengaman dengan sentakan gigi yang kasar, lalu melemparkan ledakan pada celah bolong di mana para pasukan Albert berada di sana.BOOM!Ledakan dahsyat itu menghantam tepat di jantung formasi baji klan The Sword. Suara boom tersebut membuat Gia berteriak dan terguncang hebat, telinganya berdenging panjang saat gelombang kejut murni meruntuhkan sisa-sisa kusen marmer dan melemparkan serpihan tajam ke segala arah.Tubuh Gia terdorong ke belakang, namun tangan posesif Marco dengan sigap menangkap pinggangnya, menahan wanita itu agar tidak terhempas ke lantai yang dipenuhi bara api.“Kau benar-benar gila, Marco! Seharusnya kau beri aba-aba terlebih dahulu jika ing

  • Yes! Please, Daddy   Bab 114: Mimpinya Terlalu Dini

    Serangan gelombang kedua kembali pecah dengan lebih brutal. Puing-puing beton yang sempat menyumbat ambang pintu ruang kerja Dimitri hancur berantakan dihantam muatan peledak breaching berdaya ledak tinggi.BOOM!Guncangan dahsyat itu melemparkan tubuh Gia ke lantai marmer yang kotor. Bersamaan dengan runtuhnya barikade puing, pasukan klan The Sword merangsek masuk bagai gelombang hitam yang lapar, memuntahkan peluru kaliber besar dari balik perisai balistik baja mereka.Sembari membalas tembakan ke arah tangga dengan senapan SIG Sauer MCX di tangan kanannya, Marco terlibat adu mulut dan konfrontasi verbal yang tajam dengan Albert yang berteriak dari lantai bawah melalui sistem interkom yang menggema keras."Kau melewatkan kesempatan emasmu di bar aliansi satu bulan lalu, Albert!" teriak Marco dengan suara yang menggelegar sanggup mengatasi bisingnya rentetan senapan otomatis. Pria Rossi itu merangsek ke sudut pilar, lalu melepaskan temb

  • Yes! Please, Daddy   Bab 113: Yang Selalu Menuntut Jawaban

    Pasukan Rossi di lantai bawah terdesak mundur akibat kalah jumlah, membuat akses keluar menuju halaman depan sepenuhnya terputus. Suara jeritan taktis dan hantaman tubuh pengawal yang tumbang terdengar bersahutan melalui saluran nirkabel, digantikan oleh deru senapan otomatis musuh yang mendominasi seluruh lantai dasar.Marco, Gia, dan beberapa pengawal tersisa kini resmi terkunci di dalam rumah tua tersebut karena serangan masif dari musuh yang mengepung setiap sudut perimeter.Dinding-dinding kokoh rumah masa kecil Gia terus terkikis, memuntahkan serpihan plester dan bata merah yang hancur berantakan. Koridor luar telah berubah menjadi zona pembantaian abu-abu yang dipenuhi asap mesiu tebal.Marco bergerak taktis memeriksa sisa amunisi di magasin senjatanya. Dengan gerakan mekanis yang terlatih dan dingin, dia menyentak magasin SIG Sauer MCX miliknya, melirik sisa peluru kuningan yang tersisa di dalam slot, lalu memasukkannya kembali dengan bunyi klik

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status