ログインWhat if things could turn differently? The girl named Sabrina Evelyn Flores who loves being chased realized what it feels like to chase someone you love but you can't be with. Will she get the man she loves or accept the truth that sometimes people are not meant to be?
もっと見る“Maaf lama ya, Mel?” sapa Tika.
“Iya, lumayan, sudah hampir setengah jam aku tunggu kamu,” jawab Amel sedikit emosi. “Maaf, Mel, tadi jalanan macet. Ayo kita berangkat saja, yuk!” ajak Tika menggandeng tangan Amel menuju loket stasiun. Tika, sahabat dekat Amel sejak kecil. Hari ini mereka sudah janjian untuk melamar pekerjaan bareng di Jakarta, tapi karena jalanan macet Tika datang terlambat dan membuat Amel sedikit marah. “Semoga kita bisa keterima dan kerja bareng, ya,” ucap Tika mencairkan suasana karena terlihat Amel diam saja. Amel hanya tersenyum menanggapi ucapan Tika. Ya, Amel dan Tika memang dekat, mereka bersekolah TK dan SD bareng tapi terpisah saat melanjutkan SMP hingga sekarang. Meski begitu, mereka selalu komunikasi dan kini mereka ingin melamar pekerjaan ini karena ingin bareng lagi. “Diinformasikan, hati-hati jalur dua dari arah barat, jalur dua dari arah barat, akan masuk kereta api dengan tujuan akhir Stasiun Jakarta, harap berhati-hati dan tidak melintas di jalur dua.” Suara operator stasiun memberitahukan bahwa kereta yang akan mereka naiki masuk di jalur dua. Segera mereka menuju jalur dua. Saat ini, mereka sudah berada di dalam kereta, terlihat kereta sangat penuh dan berdesakan. Tiba-tiba tanpa sengaja ada seorang pria yang menyenggol Amel, tapi orang tersebut pergi begitu saja, membuat Amel bertambah kesal. “Enggak punya sopan tuh orang, main pergi aja enggak minta maaf,” gumam Amel. “Sabar, Sayang, mungkin dia buru-buru,” ucap Tika. Amel merasa hari ini tidak beruntung, sudah lama nunggu Tika sekarang malah dibuat kesal dengan orang asing. Di tengah perjalanan, mereka dapat tempat duduk. Amel yang hatinya tidak begitu enak, memilih untuk memejamkan matanya sepanjang jalan. Entah kenapa di dalam tidurnya Amel terbayang lelaki yang menabraknya tadi. Seolah adegan tadi terus berulang dan seakan sulit dilupakan. Amel merasa seakan mengenal lelaki itu, tapi semakin Amel mengingat Amel tidak menemukan jawabannya. “Mel, sudah mau sampai stasiun ini,” ucap Tika membangunkan Amel. Amel terbangun dan berpikir. “Seperti kenal tapi siapa,” gumam Amel dalam hati. “Pelanggan yang kami hormati, sesat lagi kita akan tiba di stasiun terakhir, Stasiun Jakarta. Periksa dan teliti kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal atau tertukar. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan jasa kereta api, sampai jumpa kembali.” Suara operator kereta api membuat Amel sadar dan segera bersiap untuk turun dari kereta. Setelah mereka turun dari kereta, Tika mengajak Amel untuk membeli minum dulu. Mereka akhirnya masuk di supermarket stasiun. Saat Amel berada di kasir tidak sengaja Amel melihat lelaki itu lagi. Amel merasa seperti dia mengikuti Amel. “Tik, lihat pria itu, kenal nggak kamu?” Amel bertanya kepada Tika sambil menunjuk pria yang sedang berdiri di ujung lorong. “Itu bukannya pria yang tadi nabrak kamu ya, Mel?” jawab Tika. Amel mengangguk kepada Tika, Amel lalu menceritakan apa yang Amel pikirkan. Amel juga bercerita ke Tika seakan pria itu tidak asing. Tapi Tika menjawab jika Tika tidak mengenal pria itu, mungkin saja Amel mengatakan seperti itu karena pria itu membuat Amel kesal jadi teringat selalu. Mereka keluar stasiun lalu jalan kaki sambil mencari tempat tujuan mereka. Menurut informasi yang mereka dapatkan, tempat yang akan mereka tuju tidak jauh dari stasiun. Tadi mereka juga sudah bertanya kepada petugas stasiun dan petugas sudah memberitahukan arahan kepada mereka. Di sepanjang jalan, Amel tidak lagi memikirkan pria itu. Mereka berjalan sambil bercerita dan berharap bisa diterima kerja dan satu tempat kerja. Tidak lama Amel dan Tika akhirnya sampai di tempat tujuan, gedung besar dengan lantai tingkat sepuluh. Kedua gadis itu lantas segera memasuki pintu lobby dan berjalan menuju bagian resepsionis. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" sapa seorang wanita cantik yang berdiri di belakang meja resepsionis ini, suaranya merdu dan sambutannya sangat ramah. "Pagi, Mbak, saya dan teman saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan ini, apakah masih ada lowongan?" jawab Amel dengan bahasa yang sopan. Resepsionis itu tersenyum. "Masih, Mbak. Silahkan Mbak-Mbak berjalan ke arah kanan, nanti ada lift, Mbak naik ke lantai tiga. Di sana ruangan HRD berada," jelas resepsionis seraya memberi petunjuk jalan dengan isyarat tangan. Amel dan Tika tersenyum lega, keduanya berharap semoga bisa diterima kerja di perusahaan ini. "Baik, Mbak, terima kasih, ya. Mari …,” pamit Amel, dan Tika mengiringinya dengan anggukan sopan dan senyuman tipis. Keduanya segera berjalan sesuai petunjuk resepsionis, berjalan ke arah kanan dan masuk lift. "Tik, alhamdulillah, ya, masih ada lowongan, aku berharap kita berdua bisa diterima di sini, biar kita bisa terus bareng." "Iya, aku juga berharapnya gitu, Mel. Semoga saja, ya." Tika tersenyum lalu menggandeng lengan sahabat baiknya itu. Suara denting terdengar pertanda jika lift sudah sampai di lantai tujuan, pintu pun terbuka dan keduanya segera keluar. Terlihat ada sebuah pintu yang bertuliskan 'Ruang HRD' keduanya pun tersenyum lega dan segera menuju ke ruangan itu. Sesampainya di depan pintu Amel mengetuk pintu tiga kali, lantas terdengar sahutan dari dalam. "Masuk!" Ternyata seorang lelaki di dalam sana. Amel segera menekan handle pintu dan membukanya, betapa terkejutnya saat Amel dan Tika melihat HRD itu lelaki yang tadi bertemu di stasiun. Amel melirik Tika berharap Tika melangkah lebih dulu, karena Amel merasa belum siap. Amel yang dilirik paham akan maksud Amel. Tika melangkah masuk bersalaman dengan HRD itu, tertera di meja nama HRD itu “SANDI PRATAMA”. Di belakang Amel terlihat masih bingung dengan apa yang dilihat, Amel tidak menyangka mengapa harus bertemu dengan lelaki itu lagi. Tiba-tiba Amel berkata, “Maaf, Pak. Boleh saya izin ke kamar mandi?” tanya Amel “Ya, silakan, kamar mandi ada di ujung sana lurus saja,” jelas Pak Sandi dengan nada ramah dan tersenyum. Amel melangkah keluar ruangan menuju kamar mandi. Amel berpikir akankah Amel akan balik lagi atau pilih kabur aja, tapi gimana sama Tika yang Amel tinggalkan di ruang HRD. “Tapi ekspresinya tadi ramah, apa dia tadi nggak sadar, ya?” gumam Amel sendiri. Amel menjadi bingung, Amel sebenarnya ingin marah karena kejadian di kereta, tapi Amel juga merasa malu jika dia tidak sadar sudah menyenggolnya. Tika datang lalu menyenggol tangan Amel. “Kenapa malah bengong di sini sih, Mel? Ayo balik lagi, kita sudah ditunggu,” ajak Tika menarik tangan Amel. Mau tidak mau, Amel yang awalnya bingung, terpaksa harus balik lagi dan mengikuti interview ini dengan baik. Mereka tiba lagi di ruang HRD, Pak Sandi dengan senyum manisnya mempersilakan mereka duduk. Amel yang dari ingin sekali marah tiba-tiba terdiam, rasanya mulut Amel tidak bisa marah. “Sudahlah, aku lupakan saja kejadian tadi,” Amel bergumam sendiri di hati.CONTINUATION"Hi, is it okay if maki table kami?" Francine asked while smiling widely. She's looking at Takeo and Takeo looked at me. I raised my eyebrow at him.What am I supposed to do? I can't see any disapproval in Dwayne's eye. Ang complicated naman ng set up nila. Paoayag ba ako?I looked at Dwayne's expression if he agrees with her decision but he is not looking at me anymore. He is already looking outside the glass window.Whatever, bahala na si batman. Wala silang karapatang magalit sa akin. "Yup, t's okay. No problem...I think?" I said. Umurong ako sa pinaka dulo para maka upo si francine but I was shocked when she pushed Dwayne towards me.Hindi naman iyon kalakasan sakto lang para mapaupo si Dwayne.Weird, now how are we going to talk to each other? Bakit kasi kailangan niya pa itulak si Dwayne? May saltik ba siya sa utak?"Hi, I'm Francine and you?" Francine asked Takeo and asked for a shake hands."Why did you bring your date at our table?" Takeo asked without thinking
CHAPTER 5"Omo, what happened?" I asked my body guard while rubbing my temples. "My head is killing me!"He just smirked at me and give me a warm water. "That's what you get from drinking hard liqour. Tsk, ang bata bata pa palainom na." He said."I'm at the bar. What am I supposed to drink?! Coke, sprite, yakult?!" He just shrugged at umalis sa sala. "AND FOR YOUR INFORMATION I'M ON MY RIGHT AGE!" I shouted but he just walk like he didn't heard anything.Due to the tiredness and annoyance that I am feeling towards him I fell asleep and woke up right after I smell the tea. It smells so good. Where's Eugenia, by the way? I haven't seen her since morning — oh I was sleeping pala because of headaches. Tulog at gising paulit ulit na gawa ko kanina dahil sa sakit ng ulo ko.I am now sipping on a cup of tea, looking visibly better. The throbbing headache has finally subsided. Thankfully, I don't need to worry about my head."Finally some relief, I'm ready to go outside." I said and clapped
CONTINUATIONAgad kong hinanap ang phone ko sa mesa, sa ilalim, sa upuan, at kung saan pa. Pero wala akong nakita. Nasaan na ba kasi yun? Gusto ko na umuwi eh."Nakita mo, Sabrina?" She asked. While helping me to find my phone."Not yet, I don't know kung nasaan yun maliban sa office." I said at padabog na lumabas sa office."Kainis, kainis, kainis." Bulong ko sa sarili. Saan ko ba naiwan yun.Nandito lang yun sa office eh."Why are you still here, Sabrina? Kanina pa dismissal ng meeting ah." Oh, it's Dwayne."I lost my phone." I said without looking at him. Syempre kabado ako mamaya pag tumingin ako sa kaniya bigla akong mag sorry kasi nag eavesdrop ako sa kanila ni Francine."Plain black ba yung phone case?" He suddenly asked.Why am I still here anyway? Argh, no phone and no money. "Ah yeah, how did you know?" Finally I looked at him at agad ding umiwas ng tingin.Wala na pala si francine. Pusa ba siya, bilis niya mawala 'di ko man lang narinig na umalis siya."Nakita ko kanina."
CHAPTER 3"Wake up, Sabrina." Padabog akong bumangon at sinamaan ng tingin si Eugenia. "Don't look at me like that. You're the one who asked me to wake you up." I rolled my eyes and went to the bathroom to shower.The school allowed us to wear anything we want which is good. I stop myself from drying my hair when my phone rings."Hello, Sabrina!" His voice sounds familiar. "Oh by the way, I am Ghon Yvo. The vice president of Supreme Student Government." Ah, siya yung nag interview sa akin."Yes, what do you need?" I asked."We have a meeting today and we are only waiting for you to start the meeting." What??!!"Oh my gosh, wait for me. Give me 30 minutes." "10 minutes,""20 minutes, Ghon.""Fine,"Fudge, kailan sila nag sabi na may meeting? "TAKEO, ARE YOU DONE?" I shouted. Nag mamadali akong pumunta sa sala at hinila palabas si Takeo. "Ihatid mo ako sa school. I only have 5 minutes left." "Sakay," Tipid na utos niya sa akin. I rolled my eyes at umangkas. "Hold my waist." I did what


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.