Se connecterเมื่อ “ขวัญข้าว” หญิงสาวยากจนต้องมาทำงานเป็นแม่บ้านในสวนทุเรียนของ “กิตติ” เจ้านายหนุ่มเจ้าของสวนผู้แสนเย็นชา แต่เบื้องหลังแววตานิ่งนั้นคือแรงปรารถนาและความร้อนแรงที่เธอไม่อาจหนีได้…
Voir plusDi rumah yang sangat besar dan mewah nampak dua orang dewasa tengah bermain-main di halaman belakang dengan 1 anak kecil laki-laki yang masih berumur 4 tahun. Mereka adalah anggota keluarga Giory.
Siapa yang tak mengenal marga itu? Menempati posisi ke 2 sebagai keluarga paling kaya di dunia membuat semua orang mengenalnya. Terutama keturunan ke 5 dari keluarga itu, yang mana merupakan dia merupakan anak tunggal.
“Arsya mau dedek, bunda,” ucap sang anak yang bernama Draco Arsya Giory.
Sedangkan 2 orang dewasa itu bingung setelah mendengar penuturan sang anak. Tak biasanya Arsya meminta itu, dulu ia tak mau memiliki adik. Namun mengapa sekarang malah meminta adik?.
“Adik kan udah jadi dedek,” jawab sang bunda yang bernama Reta.
“Betul tuh,” timpal suami Reta yang bernama Alif.
Mendengarkan jawaban dari kedua orang tuanya, Arsya mengerucutkan bibirnya sebal namun di mata Alif dan Reta itu sangat menggemaskan. Reta mencubit pipi Arsya karena tak tahan melihat wajahnya yang lucu. Sedangkan Arsya yang dicubit semakin kesal.
“Bunda, Ayah, Arsya mau dedek pokoknya,” tutur Arsya seolah-olah tak ingin dibantah.
Reta menatap sang suami dengan alis ditautkan, sedangkan Alif tak tau mau menjawab apa. Mereka tak ingin mempunyai anak, apalagi Reta yang tak ingin jika Arsya kekurangan kasih sayang darinya.
Alif berkata, “Kalau Arsya punya adik, nanti adiknya sayang sama keluarga Louwen.”
Mendengar penuturan dari ayahnya Arsya menggeleng tegas. “Arsya ndak mau punya dedek,” ucapan Arsya membuat Alif dan Reta tersenyum puas.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Arsya dan dua orang dewasa itu menoleh ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Arsya pun berlari kearahnya dengan senyum mengembang.
“KAKEK ARSYA KANGEN,” teriak Arsya sembari berlari ke arah orang yang baru saja datang tadi. Dia adalah Wisnu orang tua dari Alif.
Wisnu menggendong tubuh Arsya. “Kakek juga kangen sama, Adek,” ucapnya lalu berjalan ke arah Alif dan Reta yang tengah duduk.
“Tumben kesini?” Ucap Alif, tak biasanya Wisnu datang berkunjung tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu.
“Papa mau ngomong sama Arsya tentang 'Itu' dan kalian diam saja,” ucap Wisnu sembari menatap anak dan menantunya satu persatu.
Wisnu menaruh tubuh mungil Arsya kepangkuannya, sedangkan Arsya hanya diam menurut matanya melihat ke arah sang kakek. Wisnu menyuruh Arsya mendengarkan ucapannya, dan dia pun menurutinya.
“Arsya tau kan musuh kita siapa?” tanya Wisnu kepada Arsya, seketika Arsya mengangguk.
“Kalau Arsya besar, Arsya harus bisa mengalahkan keluarga Louwen. Kita harus menjadi nomer 1,” ucap Wisnu menggebu-gebu.
Sedangkan Arsya mengangguk semangat. “Arsya akan menjadikan keluarga ini nomer 1,” ucapnya semangat.
Wisnu mengacak rambut Arsya. “Bagus. Kamu akan menjadi cucu kakek yang hebat,” pujinya.
“Arsya harus bisa mengalahkan Louwen dan Giory akan menjadi nomer satu. Keluarga Louwen lah yang membuat kita berada di posisi kedua,” imbuh Wisnu.
Arsya mengelus lembut pundak tegap Wisnu. “Arsya akan membuat nama Louwen diurutan terakhir. Musuh akan tetap menjadi musuh dan Sera akan menjadi musuh Arsya selama-lamanya. Arsya akan menghancurkan Sera,” ucap Arsya, mereka yang ada disana tersenyum puas. Tak sia-sia mereka memanjakan Arsya, sekarang anak kecil itu sangat penurut. Mungkin satu perusahaan akan Wisnu berikan kepadanya karena telah menjadi anak yang penurut.
Arsya pun ikut tersenyum puas mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari mulutnya. Arsya tak tau jika ucapannya di masa depan akan sangat berpengaruh. Arsya hanya tau jika musuh keluarga Giory adalah keluarga Louwen. Dari kecil ia sudah diajarkan untuk mengenal siapa musuh bebuyutan keluarganya.
“Adek mau minta mainan apa sama, Kakek?” tanya Wisnu.
Mata Arsya berbinar setelah mendengarnya. “Mau mobil-mobilan, kakek beliin yah.”
“Apapun yang cucu kakek mau akan kakek belikan,” tutur Wisnu seraya mengacak rambut Arsya dengan gemas.
Alif dan Reta tersenyum ketika melihat sang anak mendapati perhatian lebih dari Kakeknya. Arsya cucu tunggal Wisnu. Jadi, apapun yang dia inginkan pasti terwujud. Bahkan sebelum Arsya lahir, Wisnu sudah memberikan dia hadiah yang banyak. Setiap Arsya ulang tahun, Wisnu akan merayakannya dengan meriah.
***
Ditempat lain diwaktu yang sama juga terdapat beberapa orang dewasa tengah menemani anak perempuan berusia 4 tahun. Anak perempuan itu bernama Sera Capela Louwen yang merupakan cucu tunggal dari keluarga Louwen.
“Sera, sini sayang,” panggil wanita dewasa yang tak lain adalah Citra, mama Sera.
Sera berlari kearah mamanya yang tengah duduk bersama keluarganya yang lain. Disana sudah ada kakeknya dan papanya, Sera duduk diantara opa dan papanya. Sedangkan Citra memilih untuk duduk disebelah suami.
“Sera, sekarang umur kamu berapa?” tanya sang opa yang bernama, Fikri.
Sera mengangkat jarinya membentuk angka 4. “Sera, umur 4 tahun Opa,” ucapnya.
“Pintar,” puji Fikri dan mencium pipi berisi milik sang cucu.
“Sera, nggak boleh main sama Arsya lagi. Kalau ada Arsya, Sera ajakin berantem aja, jangan lupa kalau Sera udah besar harus bisa mertahanin kedudukan keluarga Louwen menjadi nomer 1. Sera, harus bersaing dengan keluarga Giory. Pokoknya keluarga Giory ngak boleh rebut posisi kita,” tutur Fikri dengan mimik wajah serius.
Sedangkan Sera mendengarkan dengan seksama ucapan sang opa. Setiap kalimat yang opanya keluarkan Sera langsung mengangguk semangat.
“Sera, harus bikin posisi keluarga Giory berada diurutan paling dibawah,” Ucap papa Sera yang bernama Rama.
Sera mengangguk semangat. “Sera, akan buat keluarga Giory miskin. Sera juga bakal mengingat kalau mereka musuh keluarga kita. Musuh tetap musuh, kalau ketemu sama Arsya harus ngeluarin mata yang serem. Arsya adalah musuh Sera, dan Sera akan selalu benci sama Arsya,” ucap Sera panjang lebar dengan nafas memburu.
“Pintar,” Puji mereka semua.
“Anak papa sama mama memang pintar. Keturunan Louwen tak ada yang bodoh!” ujar Rama dan mendapatkan anggukan setuju dari semua orang.
“Sera ngak boleh sayang sama Arsya!” peringat Fikri.
“Sayang? Apa itu?” tanya Sera tak paham, umurnya baru 4 tahun mana mengerti soal sayang-sayangan.
Fikri berkata, “Kalau Sera udah besar pasti tau tentang apa itu cinta dan sayang.”
“Harus nunggu Sera besar baru tau?” tanya Sera memastikan.
Semua yang ada disana mengangguk dan tersenyum kearah Sera, apalagi Fikri yang sudah berhasil menghasut Sera supaya membenci Arsya. Dari generasi pertama keluarga Giory dan keluarga Louwen memang bermusuhan.
Arsya dan Sera menyandang status sebagai generasi ke 5 dari masing-masing keluarga. Baik Arsya maupun Sera hanya tau jika permusuhan ini berasal dari generasi ke 1. Mereka dari kecil sudah diajarkan untuk tak boleh jatuh cinta satu sama lain. Mereka saling membenci, atas hasutan dari masing-masing keluarga. Bagaimanakah kisah mereka saat dewasa, apakah permusuhan itu akan tetap ada dari generasi ke generasi?.
ขวัญข้าวเดินออกมาจากห้องน้ำในชุดผ้าเช็ดตัวผืนเดียว กลิ่นหอมอ่อนๆของสบู่อาบน้ำลอยฟุ้งไปทั่วห้องพักคนงานขนาดเล็ก ดวงตาสวยต้องเบิกกว้างเมื่อเห็นเจ้านายหนุ่มยืนรออยู่ข้างเตียง“ทิ้งฉันไว้คนเดียวได้ยังไง” กิตติพูดขึ้นด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความน้อยใจเล็กน้อย ทำเอาเธอสะดุ้ง“คุณกิต! เข้ามาในห้องหนูทำไมคะ หนูขอเวลาแต่งตัวก่อนค่ะ" เธอรีบยกแขนปิดหน้าอกและกอดตัวเองไว้แน่น กั้นสายตาเจ้าเล่ห์ของเขา"ก็แต่งสิ" เขายักคิ้วตอบกลับมาอย่างไม่สะทกสะท้านขวัญข้าวไม่สามารถแต่งตัวต่อหน้าชายหนุ่มที่ยืนกอดอกมองเธอได้ ถึงจะเคยมีอะไรกันไปแล้วก็ตามความอับอายยังคงกัดกินจิตใจ เธอจึงหยิบชุดนอนลายการ์ตูนจากในลิ้นชักแล้วเข้าไปแต่งตัวในห้องน้ำ พอเดินออกมาก็เห็นเขานอนรออยู่บนเตียง"มานี่เร็ว จะทายาให้""หนูทาเองได้ค่ะ""อย่าดื้อน่า"“ก็ได้ค่ะ"ขวัญข้าวรู้ดีว่าก้นเธอยังเจ็บอยู่ ช่วงนี้เขาคงทำอะไรเธอไม่ได้อยู่แล้ว จึงยอมไปหยิบหลอดยามาส่งให้เขา"นอนคว่ำ"ร่างบางปีนขึ้นเตียงนอนคว่ำไปบนเตียง แอบใจเต้นเล็กน้อยในตอนที่เสื้อนอนถูกเลิกขึ้นเผยให้เห็นแผ่นหลังขาวเนียน“เจ็บไหม” กิตติถามเสียงอ่อนลง ขณะเอามือแตะผิวบริเวณที่ขึ้นสี
“ฮ้าววว” กิตติหาว ออกมาเสียงดังเป็นรอบที่สิบของวัน เปลือกตาของเขาหนักอึ้งจนแทบลืมไม่ขึ้นเมื่อคืนเขาอุตส่าห์กลับมานอนห้องตัวเองตอนตีสาม หลังจากที่แอบย่องเข้าไปทายาให้คนเจ็บก้นในห้องพักจนเธอหลับคาอกเขาไป แต่ไม่รู้ทำไมข่มตานอนเท่าไหร่ก็ไม่หลับสักที กลิ่นหอมจางๆของแป้งเด็กและแชมพูที่ติดตัวเธอยังคงวนเวียนอยู่ในความคิด เพิ่งมาง่วงเอาช่วงบ่ายที่ควรจะต้องนั่งเคลียร์บัญชีสวนนี่เองกิตติตัดสินใจลุกจากโต๊ะทำงาน เดินเข้าไปในห้องครัวเพื่อหากาแฟเข้มๆมาดื่มเพิ่ม พอเดินผ่านห้องโถงกว้างก็เจอขวัญข้าวที่ยืนเขย่งปลายเท้าเช็ดกระจกห้องนั่งเล่นอยู่ แผ่นหลังเล็กๆนั้นขยับขยันขันแข็งทั้งที่เขาเตือนแล้วว่าให้พัก เท้าจึงเปลี่ยนทิศทางมุ่งไปหาเธอแทนโดยอัตโนมัติเขาเดินย่องเข้าไปเงียบๆสวมกอดร่างเล็กจากด้านหลังจนเธอสะดุ้งสุดตัว กลิ่นหอมอ่อนๆจากเรือนผมของเธอทำให้เขาเผลอสูดดมอย่างลืมตัว"บอกว่าให้พักงานไปก่อนไง" น้ำเสียงทุ้มนุ่มทอดต่ำลงข้างใบหูเล็กอย่างอ่อนโยน แต่แฝงด้วยความไม่พอใจเล็กน้อยที่ลูกน้องไม่เชื่อฟังคำสั่ง“อุ้ย! คุณกิต ปล่อยค่ะ"ขวัญข้าวรีบดึงแขนของเขาที่โผล่มากอดเธอจากด้านหลังออก ก่อนจะหันซ้ายหันขวาดูว่าม
กิตติอึ้งไปชั่วครู่ เขาประหลาดใจกับคำพูดของเธอ แต่แป๊บเดียวก็ยกยิ้มเอ็นดู เขาไม่คิดเลยว่าจะเผลอไปมีอะไรกับเด็กไร้เดียงสาขนาดนี้ได้ ที่ผ่านมาถ้าถูกใจผู้หญิงคนไหนเขาก็พาขึ้นเตียงก่อน พอเบื่อก็แยกย้ายแล้วให้เงินไป ไม่เคยผูกมัด ไม่เคยคิดว่าจะต้องเป็นแฟนกันด้วยซ้ำ “ตอนนี้ไม่ได้เป็นอะไรกันก็จริง แต่อีกหน่อยไม่แน่” "หมายความว่ายังไงคะ" "ฉันชอบเธอ" "คะ?" หญิงสาวอ้าปากค้าง คิดว่าตัวเองหูฝาดไป “งั้นมาคบกันดูไหม" "ไม่ค่ะ" เธอตอบทันควัน “อ้าว ทำไมล่ะ หรือเธอมีแฟนอยู่แล้ว" “ไม่มีค่ะ แต่หนูไม่เชื่อว่าคุณกิตจะชอบหนูได้ยังไงค่ะ เราเพิ่งรู้จักกันไม่กี่วันเอง คุณกิตแค่... แค่อยากจะนอนกับหนู” เธอพยายามหาเหตุผลมาหักล้างความรู้สึกที่เริ่มสั่นคลอนของตัวเอง"ชอบได้สิ ฉันชอบเธอตั้งแต่ที่เห็นครั้งแรกแล้ว" คำสารภาพตรงๆและสายตาจริงจังของเขา ทำให้ขวัญข้าวรู้สึกเขินไม่น้อย แต่ก็กลัวว่านี่จะเป็นแค่คำลวง จะเป็นเพียงของเล่นชั่วคราวของเขา “หนูขอเวลาคิดก่อนค่ะ" "งั้นระหว่างที่คิด เราเอากันได้ใช่ไหม" “มะ ไม่ได้ค่ะ!" “ขอแตกในอีกสักรอบนะ" ชายหนุ่มพูดได้ไม่อายปาก ก่อนจะโน้มใบหน้าลงหาหญิงสาว ขวัญข้าวผลักร่างส
บรรยากาศในครัวยามเช้าคึกคักไปด้วยกลิ่นหอมของอาหารและการพูดคุยแผ่วเบาของบรรดาแม่บ้านขวัญข้าวก้าวเข้ามาในห้องครัวอย่างกระฉับกระเฉง พยายามทำตัวให้ยุ่งเข้าไว้เพื่อสลัดความรู้สึกกระวนกระวายที่ติดอยู่ในใจมาหลายวัน“มีอะไรให้หนูช่วยไหมคะพี่แวว” ขวัญข้าวอาสาช่วยงานในครัวแต่เช้า แสงแดดยามเช้าส่องเข้ามาในครัวที่กว้างขวาง กลิ่นหอมของน้ำซุปที่เริ่มเดือดลอยฟุ้งไปทั่ว “พี่กำลังจะทำสุกี้ทะเล พอดีเลยขวัญหั่นผักเป็นไหม" “เป็นค่ะ สบายมาก เดี๋ยวขวัญทำให้นะคะ" ขวัญข้าวหยิบผักที่วางอยู่บนเคาน์เตอร์ครัวไปล้าง ก่อนจะนำมาหั่นบนเขียง การเคลื่อนไหวที่คล่องแคล่วของเธอแสดงให้เห็นถึงความคุ้นเคยกับงานในครัว“คุณกิตเขาทานเผ็ดไม่ได้ เมนูส่วนใหญ่เราก็ต้องทำรสชาติอ่อนๆนะ" พี่แววพูดขึ้นขณะเตรียมเครื่องทะเล ชื่อของคนที่ถูกพูดถึงทำให้ขวัญข้าวชะงักไปเล็กน้อย แม้จะพยายามไม่คิดถึงเขาแต่ทุกอย่างในบ้านหลังนี้ก็มักจะโยงกลับมาหากิตติเสมอ เพียงแค่ได้ยินชื่อหัวใจก็รู้สึกเต้นผิดจังหวะ“ถ้าวันไหนเห็นเขาเข้าสวนแต่เช้า เราต้องเอาข้าวกลางวันไปส่งในสวนด้วย" "ค่ะ" ขวัญข้าวรับคำสั้นๆพยายามไม่แสดงความรู้สึกใดๆออกมา"อ้อ แล้วพวกอาหารก
“อุ๊บ”แรงกระชากนั้นรุนแรงและฉับพลันจนขวัญข้าวแทบจะหวีดร้องออกมาไม่ได้ เสียงร้องที่เกือบจะหลุดออกจากปากแต่ก็โดนมืออุดปากจากทางด้านหลังอย่างรวดเร็วและหนักแน่นเสียก่อน หัวใจของเธอเต้นรัวเหมือนกลองศึกด้วยความตกใจปนหวาดหวั่น เธออยู่ในช่องแคบระหว่างซอกตึก ที่มีเพียงความสลัวเข้ามาแทนที่แสงอาทิตย์แสงอ่อน
ซ่า!น้ำเย็นจัดจากฝักบัวไหลอาบลงมาบนตัวทั้งสองคน จนเสื้อผ้าของขวัญข้าวเปียกโชก เสื้อยืดสีดำบางเฉียบแนบลู่ไปตามเรือนร่างอรชร เผยให้เห็นส่วนโค้งเว้า โดยเฉพาะส่วนหน้าอกที่นูนเด่นออกมาอย่างชัดเจนทำให้กิตติแทบถอนสายตาไม่ได้ เขาล้างตัวและล้างตัวให้เธออย่างรวดเร็วจนฟองสบู่หายเกลี้ยงแล้วค่อยปิดน้ำ ทิ้งให้ค
"ปล่อยนะคะ! อุ๊บ!" เสียงกรีดร้องที่เต็มไปด้วยความตกใจและความรู้สึกอับอายของขวัญข้าวพูถูกกลืนหายไปในทันที เมื่อปากที่กำลังจะเปล่งเสียงโดนปิดด้วยริมฝีปากหนาอย่างรวดเร็วและหนักหน่วง ลิ้นสากของกิตติสอดแทรกเข้ามาสำรวจภายในโพรงปากเล็กอย่างไม่รอช้า เขาไล้เลียลิ้นของเธออย่างช่ำชองจนร่างบางใจสั่นสะท้าน สัม
วันรุ่งขึ้น ขวัญข้าวถูกเรียกให้ขึ้นไปหาเจ้านายตั้งแต่เช้าตรู่ ความรู้สึกประหลาดใจกับคำสั่งที่ได้รับทำให้เธอเดินขึ้นบันไดด้วยความสงสัย เมื่อมาถึงหน้าห้องนอนของกิตติ มือเล็กก็ยกขึ้นเคาะประตูเบาๆสามครั้งตามมารยาทก๊อก ๆ ๆ"เข้ามาเลย" เสียงทุ้มต่ำอนุญาตจากด้านในหญิงสาวหมุนลูกบิดเข้าไปและมองสำรวจภายในห





