ログインเมื่อ “ขวัญข้าว” หญิงสาวยากจนต้องมาทำงานเป็นแม่บ้านในสวนทุเรียนของ “กิตติ” เจ้านายหนุ่มเจ้าของสวนผู้แสนเย็นชา แต่เบื้องหลังแววตานิ่งนั้นคือแรงปรารถนาและความร้อนแรงที่เธอไม่อาจหนีได้…
もっと見る“Lu Xiao, berani-beraninya kau kembali ke sini?”
Di gerbang Bandara Shujun, Lu Chaner berdiri tegak sambil menatap tajam pria yang dulu pernah dimanjakan sepenuh hati oleh seluruh keluarga Lu. Ada sorot rumit yang mendalam di matanya; sebuah kekecewaan yang besar dan amarah yang membara, tanpa sedikit pun rasa bahagia atas pertemuan setelah sekian lama berpisah. “Chaner… Aku..." Lu Xiao baru hendak membuka mulut untuk berbicara, namun... Plak!! Tamparan Lu Chaner melayang cepat menyambut wajahnya. Ia merasakan rasa panas yang menyengat membakar pipinya dengan hebat. “Tamparan ini adalah untuk Ayah! Dia dengan penuh perjuangan telah membesarkanmu hingga dewasa. Tak pernah kusangka bahwa kau ternyata menjadi manusia yang begitu tak tahu berterima kasih seperti ini!” Lu Xiao tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia memang telah dibesarkan oleh ayah angkatnya selama sepuluh tahun, tetapi ia baru mengetahui bahwa ayah angkatnya telah dipaksa mati oleh empat keluarga besar Shujun tiga tahun lalu. Tamparan ini pantas ia terima... Lu Chaner menamparnya lagi, kali ini lebih keras. Plak! “Tamparan ini adalah untuk Ibu! Kau pergi begitu saja tanpa pamit. Sepanjang sepuluh tahun ini, Ibu setiap hari khawatir memikirkanmu, membasuh wajahnya dengan air mata. Apakah kau pantas?” Lu Xiao menunduk. Ibu angkatnya memperlakukannya seperti anak sendiri, tetapi ia tak pernah menelepon maupun menulis surat. Tamparan ini pun pantas ia terima. Lu Chaner menyeringai dingin. “Sedangkan aku, aku tak pernah menganggapmu sebagai kakak kandungku. Kau tak pernah berbuat salah padaku, jadi aku tak perlu memukulmu. Tapi ingat, aku, Lu Chaner, tidak memiliki kakak seperti dirimu!” Lu Xiao tertawa getir, dengan menatap sendu. Adiknya memang tak pernah menyukainya sejak kecil. Sepuluh tahun lalu, ia pergi ke utara untuk bergabung dengan militer tanpa pamit. Bahkan ketika ayah angkatnya disiksa hingga tewas, ia tidak pulang karena benar-benar tidak tahu apa-apa. Kalau saja ia tahu, mana mungkin ia tidak pulang? Kini ia kembali setelah meraih keberhasilan, berniat membuat orang tua angkat dan adiknya bangga. Lu Chaner tak kuasa menahan amarah melihan Lu Xiao tetap diam, “Bagus sekali, Lu Xiao. Kulit wajahmu semakin tebal. Tamparan sekeras ini tak membuatmu sakit? Kau manusia tak tahu terima kasih, jangan pura-pura tuli dan bisu! Kau- kau binatang!" Sorot dingin berkilat di mata Lu Xiao. “Chaner, aku pulang untuk membalas dendam ayah angkatku. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Empat keluarga itu akan kukirim satu per satu ke neraka. Aku akan memenggal kepala mereka semua.” “Hah… balas dendam?” Lu Chaner tertawa sinis. “Ayah meninggal tragis. Kau pikir aku tak ingin balas dendam? Tapi empat keluarga berpengaruh itu bukan mainan. Kau bahkan tak hadir di pemakaman Ayah, dan sekarang kau bicara seperti ini?” “Aku tak bercanda. Sebenarnya, aku—” “Diam! Kau pikir aku akan percaya dengan yang kau katakan? Kau ingin balas dendam?" Ia menepuk pipi Lu Xiao pelan. "Baiklah... Pukul tujuh malam nanti di Hotel Lanhai, keluarga Liu dan keluarga Zhao akan mengadakan pesta pertunangan. Datanglah! Bukankah kau ingin balas dendam? Buktikan!” Lu Xiao tetap diam. Seorang pria sejati tak perlu menjelaskan segalanya. Melihatnya terdiam, Lu Chaner mengira ia tak berani pergi. Ia menyeringai dingin lalu berbalik pergi tanpa menoleh. “Hotel Lanhai, pesta pertunangan? Kau cukup pandai memilih tempat.” Setelah Lu Chaner pergi, mata Lu Xiao perlahan dipenuhi amarah yang membara, seolah sanggup membakar langit. Orang-orang di sekitar mulai berbisik. “Siapa pemuda itu?” “Tiga tahun lalu, yang dipaksa bunuh diri oleh empat keluarga adalah orang terkaya Shujun, Lu Fusheng. Pemuda ini anak angkatnya, dan gadis tadi putri kandungnya.” “Dia pulang untuk balas dendam? Omong kosong. Empat keluarga itu sudah berkuasa ratusan tahun.” “Lihat pakaiannya. Mantel compang-camping, sepatu militer usang. Hanya prajurit pensiunan tak berguna.” Semua orang menatap Lu Xiao dengan ejekan dan penghinaan. Namun tiba-tiba, raungan mesin yang keras menggelegar. Semua orang menoleh ke arah jalan raya. Sebuah mobil George bernilai hampir tujuh juta yuan muncul, diikuti oleh Rolls-Royce Phantom, Maybach, Alethea, dan Spike. Seolah semua mobil mewah di dunia sedang dipamerkan di sana. Mobil George tersebut berhenti, lalu dua pengawal berpakaian hitam turun untuk membuka pintu. Seorang pria paruh baya tinggi besar keluar: Liang Shanzhou! Banyak orang penting lainnya turun dari deretan mobil mewah tersebut; wajah-wajah yang sering muncul di berita dan surat kabar. Dengan ekspresi serius, mereka memandang sekeliling, bersiap menyambut sang Dewa Perang. Seorang bawahan menunjuk ke arah tertentu. Liang Shanzhou segera berlari bersama seratus pejabat lainnya. Di bawah tatapan terpaku semua orang, ratusan pejabat Shujun yang dipimpin Liang Shanzhou berlutut di tanah. “Aku… terlambat menyambut Tuan…” “Aku… memberi hormat kepada Tuan…” Postur mereka sangat rendah hati dan penuh hormat, seolah sedang memandang dewa yang turun dari langit. Orang-orang yang tadi mengejek Lu Xiao kini pucat pasi dengan mulut ternganga dan keringat dingin mengucur. Pemuda compang-camping di depan mereka ternyata adalah Dewa Perang legendaris, sang maestro yang mengendalikan pasukan lintas generasi. Perlahan, langit Shujun akan segera berubah. Sepuluh menit kemudian, di dalam mobil George, Lu Xiao duduk tenang di kursi belakang sementara Liang Shanzhou duduk dengan hormat di sampingnya. “Aku dengar akan ada pesta pertunangan di Hotel Lanhai pukul tujuh malam nanti.” “Benar, Tuan. Putra keluarga Liu dan putri sulung keluarga Zhao. Saya mendapat undangan, tapi saya tolak karena tahu Tuan datang hari ini.” “Aku ingin minum segelas arak pernikahan di sana.” “Kalau begitu, apakah saya perlu memberitahu kedua keluarga tersebut untuk bersiap menyambut Tuan?” “Tak perlu. Aku hanya datang untuk urusan pribadi. Tak perlu mengungkap identitasku.” “Tapi Tuan… Mengapa Tuan ingin menghadiri pesta kelas rendah seperti itu?” Lu Xiao menatap ke luar jendela, lalu berkata pelan, “Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala sendiri, siapa yang telah kembali....” ----ขวัญข้าวเดินออกมาจากห้องน้ำในชุดผ้าเช็ดตัวผืนเดียว กลิ่นหอมอ่อนๆของสบู่อาบน้ำลอยฟุ้งไปทั่วห้องพักคนงานขนาดเล็ก ดวงตาสวยต้องเบิกกว้างเมื่อเห็นเจ้านายหนุ่มยืนรออยู่ข้างเตียง“ทิ้งฉันไว้คนเดียวได้ยังไง” กิตติพูดขึ้นด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความน้อยใจเล็กน้อย ทำเอาเธอสะดุ้ง“คุณกิต! เข้ามาในห้องหนูทำไมคะ หนูขอเวลาแต่งตัวก่อนค่ะ" เธอรีบยกแขนปิดหน้าอกและกอดตัวเองไว้แน่น กั้นสายตาเจ้าเล่ห์ของเขา"ก็แต่งสิ" เขายักคิ้วตอบกลับมาอย่างไม่สะทกสะท้านขวัญข้าวไม่สามารถแต่งตัวต่อหน้าชายหนุ่มที่ยืนกอดอกมองเธอได้ ถึงจะเคยมีอะไรกันไปแล้วก็ตามความอับอายยังคงกัดกินจิตใจ เธอจึงหยิบชุดนอนลายการ์ตูนจากในลิ้นชักแล้วเข้าไปแต่งตัวในห้องน้ำ พอเดินออกมาก็เห็นเขานอนรออยู่บนเตียง"มานี่เร็ว จะทายาให้""หนูทาเองได้ค่ะ""อย่าดื้อน่า"“ก็ได้ค่ะ"ขวัญข้าวรู้ดีว่าก้นเธอยังเจ็บอยู่ ช่วงนี้เขาคงทำอะไรเธอไม่ได้อยู่แล้ว จึงยอมไปหยิบหลอดยามาส่งให้เขา"นอนคว่ำ"ร่างบางปีนขึ้นเตียงนอนคว่ำไปบนเตียง แอบใจเต้นเล็กน้อยในตอนที่เสื้อนอนถูกเลิกขึ้นเผยให้เห็นแผ่นหลังขาวเนียน“เจ็บไหม” กิตติถามเสียงอ่อนลง ขณะเอามือแตะผิวบริเวณที่ขึ้นสี
“ฮ้าววว” กิตติหาว ออกมาเสียงดังเป็นรอบที่สิบของวัน เปลือกตาของเขาหนักอึ้งจนแทบลืมไม่ขึ้นเมื่อคืนเขาอุตส่าห์กลับมานอนห้องตัวเองตอนตีสาม หลังจากที่แอบย่องเข้าไปทายาให้คนเจ็บก้นในห้องพักจนเธอหลับคาอกเขาไป แต่ไม่รู้ทำไมข่มตานอนเท่าไหร่ก็ไม่หลับสักที กลิ่นหอมจางๆของแป้งเด็กและแชมพูที่ติดตัวเธอยังคงวนเวียนอยู่ในความคิด เพิ่งมาง่วงเอาช่วงบ่ายที่ควรจะต้องนั่งเคลียร์บัญชีสวนนี่เองกิตติตัดสินใจลุกจากโต๊ะทำงาน เดินเข้าไปในห้องครัวเพื่อหากาแฟเข้มๆมาดื่มเพิ่ม พอเดินผ่านห้องโถงกว้างก็เจอขวัญข้าวที่ยืนเขย่งปลายเท้าเช็ดกระจกห้องนั่งเล่นอยู่ แผ่นหลังเล็กๆนั้นขยับขยันขันแข็งทั้งที่เขาเตือนแล้วว่าให้พัก เท้าจึงเปลี่ยนทิศทางมุ่งไปหาเธอแทนโดยอัตโนมัติเขาเดินย่องเข้าไปเงียบๆสวมกอดร่างเล็กจากด้านหลังจนเธอสะดุ้งสุดตัว กลิ่นหอมอ่อนๆจากเรือนผมของเธอทำให้เขาเผลอสูดดมอย่างลืมตัว"บอกว่าให้พักงานไปก่อนไง" น้ำเสียงทุ้มนุ่มทอดต่ำลงข้างใบหูเล็กอย่างอ่อนโยน แต่แฝงด้วยความไม่พอใจเล็กน้อยที่ลูกน้องไม่เชื่อฟังคำสั่ง“อุ้ย! คุณกิต ปล่อยค่ะ"ขวัญข้าวรีบดึงแขนของเขาที่โผล่มากอดเธอจากด้านหลังออก ก่อนจะหันซ้ายหันขวาดูว่าม
กิตติอึ้งไปชั่วครู่ เขาประหลาดใจกับคำพูดของเธอ แต่แป๊บเดียวก็ยกยิ้มเอ็นดู เขาไม่คิดเลยว่าจะเผลอไปมีอะไรกับเด็กไร้เดียงสาขนาดนี้ได้ ที่ผ่านมาถ้าถูกใจผู้หญิงคนไหนเขาก็พาขึ้นเตียงก่อน พอเบื่อก็แยกย้ายแล้วให้เงินไป ไม่เคยผูกมัด ไม่เคยคิดว่าจะต้องเป็นแฟนกันด้วยซ้ำ “ตอนนี้ไม่ได้เป็นอะไรกันก็จริง แต่อีกหน่อยไม่แน่” "หมายความว่ายังไงคะ" "ฉันชอบเธอ" "คะ?" หญิงสาวอ้าปากค้าง คิดว่าตัวเองหูฝาดไป “งั้นมาคบกันดูไหม" "ไม่ค่ะ" เธอตอบทันควัน “อ้าว ทำไมล่ะ หรือเธอมีแฟนอยู่แล้ว" “ไม่มีค่ะ แต่หนูไม่เชื่อว่าคุณกิตจะชอบหนูได้ยังไงค่ะ เราเพิ่งรู้จักกันไม่กี่วันเอง คุณกิตแค่... แค่อยากจะนอนกับหนู” เธอพยายามหาเหตุผลมาหักล้างความรู้สึกที่เริ่มสั่นคลอนของตัวเอง"ชอบได้สิ ฉันชอบเธอตั้งแต่ที่เห็นครั้งแรกแล้ว" คำสารภาพตรงๆและสายตาจริงจังของเขา ทำให้ขวัญข้าวรู้สึกเขินไม่น้อย แต่ก็กลัวว่านี่จะเป็นแค่คำลวง จะเป็นเพียงของเล่นชั่วคราวของเขา “หนูขอเวลาคิดก่อนค่ะ" "งั้นระหว่างที่คิด เราเอากันได้ใช่ไหม" “มะ ไม่ได้ค่ะ!" “ขอแตกในอีกสักรอบนะ" ชายหนุ่มพูดได้ไม่อายปาก ก่อนจะโน้มใบหน้าลงหาหญิงสาว ขวัญข้าวผลักร่างส
บรรยากาศในครัวยามเช้าคึกคักไปด้วยกลิ่นหอมของอาหารและการพูดคุยแผ่วเบาของบรรดาแม่บ้านขวัญข้าวก้าวเข้ามาในห้องครัวอย่างกระฉับกระเฉง พยายามทำตัวให้ยุ่งเข้าไว้เพื่อสลัดความรู้สึกกระวนกระวายที่ติดอยู่ในใจมาหลายวัน“มีอะไรให้หนูช่วยไหมคะพี่แวว” ขวัญข้าวอาสาช่วยงานในครัวแต่เช้า แสงแดดยามเช้าส่องเข้ามาในครัวที่กว้างขวาง กลิ่นหอมของน้ำซุปที่เริ่มเดือดลอยฟุ้งไปทั่ว “พี่กำลังจะทำสุกี้ทะเล พอดีเลยขวัญหั่นผักเป็นไหม" “เป็นค่ะ สบายมาก เดี๋ยวขวัญทำให้นะคะ" ขวัญข้าวหยิบผักที่วางอยู่บนเคาน์เตอร์ครัวไปล้าง ก่อนจะนำมาหั่นบนเขียง การเคลื่อนไหวที่คล่องแคล่วของเธอแสดงให้เห็นถึงความคุ้นเคยกับงานในครัว“คุณกิตเขาทานเผ็ดไม่ได้ เมนูส่วนใหญ่เราก็ต้องทำรสชาติอ่อนๆนะ" พี่แววพูดขึ้นขณะเตรียมเครื่องทะเล ชื่อของคนที่ถูกพูดถึงทำให้ขวัญข้าวชะงักไปเล็กน้อย แม้จะพยายามไม่คิดถึงเขาแต่ทุกอย่างในบ้านหลังนี้ก็มักจะโยงกลับมาหากิตติเสมอ เพียงแค่ได้ยินชื่อหัวใจก็รู้สึกเต้นผิดจังหวะ“ถ้าวันไหนเห็นเขาเข้าสวนแต่เช้า เราต้องเอาข้าวกลางวันไปส่งในสวนด้วย" "ค่ะ" ขวัญข้าวรับคำสั้นๆพยายามไม่แสดงความรู้สึกใดๆออกมา"อ้อ แล้วพวกอาหารก
“อุ๊บ”แรงกระชากนั้นรุนแรงและฉับพลันจนขวัญข้าวแทบจะหวีดร้องออกมาไม่ได้ เสียงร้องที่เกือบจะหลุดออกจากปากแต่ก็โดนมืออุดปากจากทางด้านหลังอย่างรวดเร็วและหนักแน่นเสียก่อน หัวใจของเธอเต้นรัวเหมือนกลองศึกด้วยความตกใจปนหวาดหวั่น เธออยู่ในช่องแคบระหว่างซอกตึก ที่มีเพียงความสลัวเข้ามาแทนที่แสงอาทิตย์แสงอ่อน
ซ่า!น้ำเย็นจัดจากฝักบัวไหลอาบลงมาบนตัวทั้งสองคน จนเสื้อผ้าของขวัญข้าวเปียกโชก เสื้อยืดสีดำบางเฉียบแนบลู่ไปตามเรือนร่างอรชร เผยให้เห็นส่วนโค้งเว้า โดยเฉพาะส่วนหน้าอกที่นูนเด่นออกมาอย่างชัดเจนทำให้กิตติแทบถอนสายตาไม่ได้ เขาล้างตัวและล้างตัวให้เธออย่างรวดเร็วจนฟองสบู่หายเกลี้ยงแล้วค่อยปิดน้ำ ทิ้งให้ค
"ปล่อยนะคะ! อุ๊บ!" เสียงกรีดร้องที่เต็มไปด้วยความตกใจและความรู้สึกอับอายของขวัญข้าวพูถูกกลืนหายไปในทันที เมื่อปากที่กำลังจะเปล่งเสียงโดนปิดด้วยริมฝีปากหนาอย่างรวดเร็วและหนักหน่วง ลิ้นสากของกิตติสอดแทรกเข้ามาสำรวจภายในโพรงปากเล็กอย่างไม่รอช้า เขาไล้เลียลิ้นของเธออย่างช่ำชองจนร่างบางใจสั่นสะท้าน สัม
วันรุ่งขึ้น ขวัญข้าวถูกเรียกให้ขึ้นไปหาเจ้านายตั้งแต่เช้าตรู่ ความรู้สึกประหลาดใจกับคำสั่งที่ได้รับทำให้เธอเดินขึ้นบันไดด้วยความสงสัย เมื่อมาถึงหน้าห้องนอนของกิตติ มือเล็กก็ยกขึ้นเคาะประตูเบาๆสามครั้งตามมารยาทก๊อก ๆ ๆ"เข้ามาเลย" เสียงทุ้มต่ำอนุญาตจากด้านในหญิงสาวหมุนลูกบิดเข้าไปและมองสำรวจภายในห