ลุ้นรักคุณแม่ตัวแสบ

ลุ้นรักคุณแม่ตัวแสบ

에:  ผู้แสวงหาชีวิตที่เป็นสุข참여
언어: Thai
goodnovel4goodnovel
9.5
19 평가 순위. 19 리뷰
210챕터
60.8K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

ในวันหมั้นของพวกเขา คู่หมั้นของเธอกลับนอกใจไปหาพี่สาวของเธอ ยิ่งไปกว่านั้นยังผลักเธอตกบันได ทั้ง ๆ ที่เธอกำลังตั้งครรภ์อยู่! ห้าปีต่อมา ชาร์มิน จอร์แดน กลับมาทวงคืนทุกสิ่งทุกอย่างให้สาสม ด้วยความเกลียดชังต่อเจ้าคนเลวนั่นที่ฝังลึกลงในจิตใจของเธอ เธอจึงเลือดเย็น พร้อมที่จะสู้เพื่อทรัพย์สินของครอบครัว และตั้งตารอคอยที่จะได้เป็นนางแบบ เธอพร้อมแล้วที่จะทำให้ทั้งโลกต้องตกตะลึง แม้ว่าเธอจะมุ่งมั่นหาเงินเพื่อล้างแค้นด้วยตัวเอง ทว่าพวกผู้ชายต่างก็ยังดึงดันที่จะช่วยเธอ ตามใจเธอ “ใครทำให้ผู้หญิงของฉันไม่พอใจ? เตรียมตัวเอาไว้ให้พร้อม!”“AK999 เตรียมพร้อม ฉันจับพวกคนเลวได้แล้ว! คุณพ่อ คุณแม่ ได้โปรดส่งตัวน้องสาวมาให้ฉันเถอะ!”

더 보기

1화

บทที่ 1

"Aku tidak tertarik denganmu. Kenapa kamu yang kemari? Pulanglah! Aku ingin kakakmu yang ke sini," ucap seorang pria yang duduk di kursi putarnya sambil menghisap rokok. Kedua kakinya masih bersepatu terjulur di atas meja kerja yang penuh tumpukan kertas.

"Aku saja. Jangan kakakku, dua hari lagi dia menikah," jawab Kamalia tenang meski dihujani tatapan tajam pria bermata elang itu.

Pria bernama Devin tersenyum sinis. "Apa peduliku dia mau menikah atau tidak. Suruh dia kemari. Pamanmu telah berjanji padaku, kalau Eva yang akan membayar hutang-hutang lelaki tak berguna itu."

"Hati-hati bicara tentang Pamanku."

Devin tertawa lepas, hingga tubuhnya terguncang.

"Untuk apa kau membelanya, mana ada paman baik yang menumbalkan keponakannya untuk membayar hutang. Demi bisa mencicipi tubuh para pel*c*r jalanan itu, dia merelakan kalian menjadi budak pria lain."

Nyeri terasa di dada Kamalia. Ucapan Devin memang benar, tapi sebagai keponakan yang telah dirawat dari kecil, ia tidak terima kalau orang lain bicara buruk tentang pamannya. Meskipun dirinya sangat membenci perilaku dan sifat sang paman. Berjudi, mabuk, dan main perempuan.

"Bagaimanapun dia Pamanku."

Devin tertawa.

"Pulanglah! Suruh Eva kemari."

"Sudah kubilang, aku yang menggantikan kakakku. Jangan ganggu dia."

"Akan kutelepon pamanmu. Awas saja, dia berani mempermainkanku." Devin meraih ponselnya.

Eveline berjalan mendekat. Beberapa senti dari meja ia berhenti.

"Tidak ada gunanya menelfon. Ponselnya jatuh dan rusak."

Devin menatap tajam Kamalia. 

"Aku kemari untuk membayar hutang yang kau minta itu. Jangan khawatir, aku bisa melakukan pekerjaan apa saja hingga hutang pamanku lunas. Dan mulai hari aku bekerja di sini. Jangan lagi memberinya pinjaman."

Pria itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya pada gadis dengan rambut bergelombang sebahu. "Apa pamanmu memberitahu dengan cara apa kamu harus membayar hutang?"

"Bekerja di rumahmu. Mengurus rumah dan memasak untuk para pekerja diperkebunanmu."

Devin tersenyum miring. "Apa itu saja?"

"Ya."

"Kamu salah nona, tidak sesederhana itu. Rupanya pamanmu tidak memberitahu yang sebenarnya."

"Apa maksudmu?"

"Baiklah, aku akan memberitahumu. Mari ikut denganku!" Devin melangkah ke arah pintu tinggi berplitur coklat. Rupanya ruang kerja Devin langsung terhubung dengan kamar pribadinya yang luas dan mewah.

Kamalia berdiri di ambang pintu.

"Kenapa diam? Masuklah! Bukankah kamu beriya sangat untuk melunasi hutang-hutang itu."

"Tapi bukan tidur denganmu."

Devin tertawa lepas, kemudian mendekat. Menunduk sambil menatap tajam wajah Kamalia. Sontak gadis itu mundur dua langkah dengan dada berdebar.

"Aku tidak tertarik denganmu, Nona Lia. Jangan berlebihan berpikir bahwa kamu itu menarik hasratku. Tidak sama sekali. Tubuhmu bukan seleraku." Setelah berkata demikian, Devin berbalik dan melangkah ke dekat ranjang besarnya. Meninggalkan Kamalia yang masih diam, antara senang dan geram. 

Senang karena mendengar dia bukan selera pria itu, otomotis dia tidak akan tersentuh. Geram karena terdengar merendahkannya.

"Kerja apa yang bisa kulakukan di kamarmu?"

Devin melangkah lagi menuju sebuah pintu dari kaca. Saat pintu terbuka, tampaklah walk in closed dengan isi yang fantastis. Ruang ukuran 4x2 meter itu penuh dengan baju-baju mahal, sepatu, dasi, dan di dalam sebuah lemari kaca berjajar jam tangan mahal berbagai merk.

Kamalia masih tercekat di depan pintu.

"Kamu yang mengurus semuanya. Mulai dari menyiapkan pakaianku, membersihkan tempat ini, kamarku, ruang kerjaku, kamar mandiku, juga makananku. Ingat, semua ini barang mahal yang harus kau jaga."

Shit. Sungguh menyedihkan Lia, apa gunanya kuliah, belajar susah payah untuk mendapatkan beasiswa kalau cuma jadi pembantu.

Devin mendekat, berdiri hanya berjarak beberapa senti dari Kamalia.

"Aku tidak suka makanan berlemak. Aku tidak suka bakso, soto ayam, atau apalah yang sejenisnya. Tanya sama Mbok Darmi biar kamu tidak keliru memilih makanan untukku."

Hening.

"Kenapa diam. Paham atau tidak."

"Ya, aku paham."

"Terus satu lagi, jika Mamaku ke sini, jangan sekali-kali menampakkan diri."

"Aku belum tahu yang mana Mamamu."

"Mbok Darmi yang akan menunjukkan fotonya."

"Ya."

"Terus bagaimana penghitungan gaji, biar aku tahu sudah berapa banyak utang pamanku yang telah kubayar dengan tenagaku."

"Tony yang akan melakukan penghitungan dan mencatatnya. Jangan khawatir, aku tidak suka menggelapkan tenaga orang. Tapi kamu juga harus tahu, untuk membayar hutang pamanmu, mungkin kamu akan menua di sini."

Kamalia mengernyitkan dahi sambil mendongak, memandang pria tinggi di depannya. Berapa hutang lelaki tua yang tega memanfaatkan anak saudaranya yang sudah yatim piatu.

"Kamu bisa bebas dari sini dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Suruh Eva menggantikanmu. Dia hanya butuh setahun untuk membayar hutang pamanmu."

"Apa bedanya aku dengan kakakku? Jika pekerjaan yang harus kami lakukan sama."

Devin tersenyum menyeringai.

"Karena aku tertarik dengannya."

"Jangan ganggu kakakku. Aku yang akan membayar hutang pamanku. Seberapa lama aku tidak peduli."

Devin berjalan pelan mengitari gadis itu.

"Kuberi kesempatan untukmu merubah pikiran. Bawa Eva kemari. Apa tidak sayang masa mudamu membusuk di sini?"

"Paman dan saudara-saudaraku sendiri menganggap kami tidak berguna, jadi tidak masalah hidupku sia-sia di sini."

Devin berhenti bergerak. Denyut nyeri terasa di dada. Ada rasa iba yang berusaha menyusup, tapi ditepisnya segera. Dipandangnya rambut lurus sebahu Kamalia dari belakang. Baju kemeja kotak-kotak yang dipakainya sudah lusuh dan pudar warnanya. Celana jeans itu pun telah berubah warna. Dari celah baju dan rambut yang tersingkap karena hembusan angin dari jendela menampakkan kulit bersih gadis itu. Wajahnya mirip dengan Eva. Perempuan yang sempat digilainya, sebelum menolaknya mentah-mentah kala itu.

"Kuberi waktu sampai besok. Jika Eva kemari, kamu bisa pergi."

"Kakakku tidak akan pernah menggantikanku. Sudah kubilang dia akan menikah. Dia sangat mencintai calon suaminya, jadi percuma juga kamu menginginkannya."

Devin mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Sial. Rupanya pria brengsek itu benar-benar telah memikat gadis pujaannya. 

"Oke, terserah kamu saja. Jika ingin membusuk di sini."

"Kapan aku mulai bisa bekerja?"

"Sekarang, biar hutang pamanmu segera terbayar."

"Di mana kamarku?"

Devin menarik tangan gadis itu menuju ruang kerjanya, kemudian membuka sebuah pintu yang tertutup lukisan besar. 

Ada ranjang single bed di ruangan berukuran tiga kali tiga meter. Benar-benar ruangan yang aneh. Apa gunanya ruangan demi ruangan itu dibuat menyatu dan keluar hanya lewat satu pintu. Kamarnya terkesan sangat rahasia, berada di dalam ruang kerja.

"Kamu bisa tidur di sini jika mamaku datang dan menginap. Jika beliau tidak ada, kamu bisa tidur di kamar bawah. Tanya sama Mbok Darmi, kamar mana yang bisa kau tempati."

Devin melangkah keluar sambil merogoh ponsel yang berdering di saku celananya. Meninggalkan Kamalia begitu saja. Gadis itu bingung hendak bagaimana.

Beberapa saat setelahnya segera bergegas menuruni tangga mewah setengah melingkar hingga ke lantai bawah.

"Lia, ya? Mari saya tunjukkan kamarnya." Wanita setengah baya itu tersenyum ramah padanya. Kamalia mengangguk dan mengekori Mbok Darmi menuju kamar bagian belakang.

"Ini kamarmu. Sudah bersih. Istirahat saja dulu, besok baru mulai kerja. Tuan sudah memberitahu tadi, untuk mengajarimu bekerja di sini. Panggil saja aku Mbok Darmi. Dan panggil Tuan pada Tuan Muda."

"I-iya, terima kasih, Mbok. Katanya hari ini saya langsung bisa kerja."

"Oh, begitu. Tuan Muda yang bilang?"

Kamalia mengangguk.

"Ya, sudah. Tunggu perintah Tuan di sini saja sambil istirahat."

Mbok Darmi keluar kamar sambil menutup pintu. Kamalia melangkah ke arah jendela yang terbuka. Hawa dingin dan aroma wangi teh langsung menyambutnya. Ia juga takjub saat menyaksikan pemandangan di luar sana. Hamparan kebun teh yang asri dan beberapa pohon buah-buahan.

Tempat itu laksana surga. Villa megah berdiri di tengah kebun teh. Jauh dari pemukiman penduduk. Bahkan untuk mencapai tempat ini harus melewati hutan pinus dengan jalan yang menanjak dan berkelok. 

Dikejauhan tampak sebuah gudang dan beberapa rumah. Mungkin itu tempat tinggal para pekerja. Sebab kemarin kakaknya sempat bilang, ada puluhan orang yang bekerja di perkebunan milik Devin. Di antara mereka terdiri dari pasangan suami istri.

Di bawah sana dekat dengan pagar pembatas antara rumah dan kebun, ada sederet tanaman bunga. Ada mawar, lili, melati, dan peony. Di pojok ada bunga bougenville yang marak dengan bunganya yang berwarna putih dan jingga.

Mungkin akan menyenangkan bekerja di sini. Meski tanpa gaji dan jauh dari kerabat.

Kerabat? Apakah mereka masih bisa dibilang kerabat? Jika selama ini memperlakukan dirinya dan sang kakak tidak seperti layaknya manusia. Setelah kepergian orang tuanya, pada saudara itu berebut untuk mendapatkan harta, dengan dalih akan menjaga dirinya dan Eva dengan baik. Tapi kenyataannya ... sungguh miris.

Jika sekarang ia harus terbelenggu di villa ini sebagai pembayar hutang tidak apa-apa. Setidaknya ia bisa menempati kamar yang layak untuk merebahkan badan. Mungkin juga bisa menikmati makanan yang enak dan layak untuk dimakan manusia.

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan. Lia bergegas membuka pintu. Mbok Darmi menyodorkan kotak ponsel kepadanya. "Dari Tuan, untukmu."

"Untukku?" 

"Iya. Kata Tuan, ponsel ini jangan sampai ditinggalkan. Harus ikut kemana pun kamu pergi. Jika sewaktu-waktu Tuan butuh apa-apa, kamu bisa langsung menyiapkannya."

Kamalia mengangguk.

Setelah kepergian Mbok Darmi, ia duduk di ranjang sambil memperhatikan benda pipih yang cukup mahal itu. Ia pernah melihat harganya di etalase kounter yang terbesar di kota ini. Tidak menyangka ia bisa menggunakannya, meski hanya dipinjami.

Sebuah panggilan masuk dengan nama Tuan Muda tertera di layar. Lia mendadak gugup untuk menerima panggilan, nada deringnya adalah lagu kesukaannya. Ah, pasti hanya kebetulan saja. 

"Ha-hallo."

"Siapkan bajuku untuk acara malam ini. Semi formal. Aku hanya mau kemeja dan celana bahan warna hitam."

"Iya."

"Jangan isi ponsel itu dengan nomor orang lain. Hanya ada nomorku dan nomor rumah ini."

"I-iya."

Panggilan diakhiri. 

Kamalia termenung sejenak. Kemudian ia segera bergegas menuju lantai dua. Ponsel masih dipegangnya dengan tangan kiri.

Langkahnya terhenti saat melihat Devin tidur terlentang di kamarnya dengan bertelanjang dada. Kakinya masih memakai sepatu dan celana jeans itu telah terbuka kancingnya.

"Kenapa diam di situ? Masuklah!"

Tergesa Kamalia masuk ke ruang penyimpanan baju. Dadanya masih berdebar melihat pemandangan baru saja. Apakah pekerjaannya tidak akan semudah bayangannya? 

Kamalia mematung di depan lemari pakaian, bingung hendak memilih kemeja warna apa. Terlalu banyak baju di sana. Akhirnya ia mengambilkan kemeja warna biru langit dan celana bahan warna hitam.

"Apakah Anda suka memakai ini?" tanya Kamalia sambil menunjukkan pakaian yang masih tergantung di hanger.

"Letakkan di situ. Aku akan memakainya," jawab dingin Devin tanpa memandang gadis itu.

Kamalia meletakkan baju di sisi pembaringan. Kemudian ia melangkah keluar. 

'Orang kaya memang aneh, habis mandi langsung ambil sendiri baju yang sesuai selera kan lebih mudah. Kenapa harus meneleponnya segala.'

Kamalia menggerutu sambil melangkah turun, dari jendela kaca besar ia melihat ada bangunan paviliun di samping rumah. Ada seorang satpam dan dua orang suster sedang menunggu wanita yang duduk di taman bunga. 

Rasa penasaran membuatnya melangkah ke dekat jendela kaca. Wanita yang memakai piyama warna jingga itu tampak bicara dengan boneka yang dipegangnya. Tersenyum lantas menangis. Dari sikapnya seperti orang terganggu kejiwaannya.

Kamalia bergegas ke dapur, di sana ada Mbok Darmi dan gadis seusianya.

"Lia, kenalkan ini Sumi."

Gadis berkulit gelap itu menyalami Kamalia sambil tersenyum ramah. 

"Mau puding? Ayo, makanlah!" Sumi menyodorkan sepiring puding buah mangga yang telah di potong kecil.

"Apakah ini jam makan?"

Sumi tersenyum. "Ayo, makan aja! Nggak usah lihat ini jam berapa?"

"Biasanya di rumah orang kaya ada banyak peraturan, walaupun hanya sekedar makan."

"Mungkin itu berlaku di rumah lain, di rumah ini tidak. Tuan orangnya sangat baik."

Baik? Semoga saja begitu.

"Ayo, duduk sini." Sumi menarik kursi buat duduk Kamalia. Sedangkan Mbok Darmi masih sibuk menyusun piring bersih di lemari kaca.

Kamalia meraih garpu kecil yang telah tertancap di potongan puding, lalu meyuapkan ke mulut. Perutnya sebenarnya memang belum terisi sejak pagi tadi. Namun ia sudah biasa menahan lapar.

"Oh ya, aku tadi melihat ada seorang wanita dijaga dua suster di paviliun sebelah. Siapa dia?"

Sumi memandang Mbok Darmi.

"Nanti saja kami cerita, Lia," jawab wanita setengah baya itu.

"Habiskan dulu pudingnya, sebelum Tuan memanggilmu lagi." Sumi menggeser puding ke depan Kamalia.

Next ....

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

리뷰더 하기

สิทธิศักดิ์ พลเยี่ยม
สิทธิศักดิ์ พลเยี่ยม
สนุกมากค้าบ ลุ้นทุกตอนเลย
2024-11-22 19:14:02
0
0
Piano
Piano
สนุกค่ะ แต่ว่าอัพเดทช้ามากๆ ติดตาม 7เรื่อง อัพเดทแค่ 3เรื่องมั้ง
2023-07-05 18:48:20
4
0
คุปติ ไพศาลธนกฤต
คุปติ ไพศาลธนกฤต
จะมาตอนไหนเหรอ อีกนานไหม
2023-04-30 12:57:21
5
0
Amornchai Sujaritpong
Amornchai Sujaritpong
หน้าติดตามเข้าใจง่าย
2023-01-24 05:02:39
1
0
Tuktik Panthukorn
Tuktik Panthukorn
สนุก แต่ต้องรอกว่าจะมาอัพคงอีกนานเป็นปี
2022-06-30 20:15:20
2
1
210 챕터
บทที่ 1
ณ โรงแรมฮิลตันชาร์มิน จอร์แดน ซึ่งตั้งครรภ์ได้เก้าเดือนเดินไปตามทางเดินที่ทอดยาวด้วยความยากลำบาก ในขณะที่เธอมองไปรอบ ๆ ราวกับว่าเธอกำลังมองหาใครบางคนอยู่วันนี้เป็นวันสำคัญของเธอ เป็นวันหมั้นของเธอกับ จูเลียน คาเบล เกือบจะถึงฤกษ์แล้ว ทว่าเธอไม่เห็นวี่แววของเขาเลยในขณะที่เธอกำลังเดินอุ้ยอ้ายอยู่นั้น เธอก็ได้ยินเสียงที่นุ่มนวลแต่คุ้นเคยเข้า“จูเลียนที่รักคะ คุณแน่ใจแล้วหรือคะ ว่าคุณอยากจะหมั้นกับยัยลูกที่ถูกรับมาเลี้ยงคนนั้น? เธอไม่ได้แม้แต่จะอุ้มท้องลูกของคุณด้วยซ้ำ!”ชาร์มินหยุดชะงักทันทีแล้วหันไปหาต้นเสียง เธอเห็น ทิฟฟานี่ จอร์แดน ซึ่งเป็นพี่สาวของเธอและจูเลียน… ซึ่งเป็นคู่หมั้นของเธอ… อยู่ที่บันได“แน่นอน ผมรู้สิ” จูเลียนตอบด้วยน้ำเสียงทุ้มห้าว “ก็ผมอยู่ในห้องข้าง ๆ เธอ ตอนที่เธอถูกข่มขืน ถ้าเธอรู้เข้าว่าคุณเป็นคนวางแผนทุกสิ่งทุกอย่าง เธอคงจะไม่ให้หุ้น 15% กับคุณ” จูเลียนพูดเสริม พลางโอบเอวบางของทิฟฟานี่ด้วยแขนข้างหนึ่งทิฟฟานี่โวยวายด้วยความหงุดหงิด “ฉันไม่เข้าใจเลย เธอถูกรับมาเลี้ยงในครอบครัวของเรา แต่ทำไมคุณปู่ถึงให้หุ้นของบริษัทกับเธอสิบห้าเปอร์เซ็นต์ล่ะคะ?!” ทิฟฟานี่โอด
더 보기
บทที่ 2
ห้าปีต่อมา ณ ประตูทางเข้าคฤหาสน์ตระกูลจอร์แดนรถมอเตอร์ไซค์คันสีดำแวววับขับเข้ามาในบริเวณบ้าน ก่อนจะดริฟด์ 360 องศา จอดตรงทางเข้า ตัวรถสวยงามด้วยพื้นผิวด้านที่สร้างขึ้นด้วยเทคโนโลยีระดับไฮเอนด์ ขาเรียวสวยปรากฏออกมาจากฝุ่นควันที่ปกคลุม หญิงสาวคนหนึ่งลงมาจากมอเตอร์ไซค์พลางถอดหมวกกันน็อกออก ผมยาวสลวยของเธอปลิวไปตามลมชาร์มิน จอร์แดน จ้องมองไปที่คำว่า ‘คฤหาสน์ตระกูลจอร์แดน’ ขณะที่ริมฝีปากสีแดงของเธอเหยียดเป็นรอยยิ้มเยาะบาง ๆ ในที่สุดเธอก็ได้กลับมาหลังจากที่ผ่านไปนานกว่าห้าปี โศกนาฏกรรมที่เกิดขึ้นอย่างรวดเร็ว โดยที่เธอไม่ทันได้ตั้งตัวเมื่อครั้งสุดท้ายที่เธออยู่ที่นี่ เธอเกือบต้องตายเพราะการถูกเตะท้อง เธอต้องทนทุกข์ทรมานจากการแท้งลูก และเธอถูกใส่ร้ายว่านอกใจจูเลียน ซึ่งความจริงแล้วเธอถูกจูเลียนและทิฟฟานี่ใส่ร้าย ด้วยศักดิ์ศรีและชื่อเสียงของเธอที่ถูกทำลายจนไม่มีชิ้นดี ตระกูลจอร์แดนจึงยึดหุ้นบริษัทของเธอไป และบังคับให้เธอไปอยู่ที่แอฟริกาภายในชั่วข้ามคืน ราวกับว่ามันยังโหดร้ายไม่พอ พวกเขายังให้ค่าครองชีพในการใช้ชีวิตน้อยมากจนแทบไม่พอใช้ ตลอดระยะเวลาห้าปีที่ผ่านมา เธออดทนกับความทุกข์ทรมานอย่าง
더 보기
บทที่ 3
ทุกคนต่างตกใจไปตาม ๆ กัน “เช็กหมายเลข 1 มีแค่ก้อนเดียวในโลกไม่ใช่เหรอ?”“แล้วชาร์มินจะมอบของขวัญเป็นเช็กหมายเลข 1 เหมือนกันได้ยังไง? หินมีสองก้อนได้ยังไง?”อะมีเลียเป็นคนแรกที่ตอบโต้ เสียงหัวเราะเยาะหลุดออกจากปากของเธอ “ฮ่าฮ่า! จะเป็นอย่างอื่นไปได้ยังไงล่ะ? เธอคงอยากรักษาหน้าของตัวเอง เลยซื้อของปลอมมาน่ะสิ เธอคงคิดไม่ถึงว่าทิฟฟานี่ก็มอบของขวัญแบบเดียวกัน อายที่โดยเปิดโปงไปเลยใช่ไหมล่ะ? ฮ่าฮ่าฮ่า!”“ชาร์มิน แกไม่อายตัวเองบ้างเลยเหรอ? แกไม่เอาอย่างอื่นมาแทนล่ะ ถ้าแกไม่มีเงิน? ทำไมแกต้องเอาของปลอมมาด้วย? ตอนนั้นฉันคงตาบอดแน่ ๆ ที่พาแกกลับบ้านมาด้วยความสงสาร” โจอี้ทำหน้าไม่พอใจโจอี้เกลียดชาร์มินตั้งแต่วันแรก ทว่าเธอคาดไม่ถึงเลยแม้แต่น้อยว่าผู้หญิงที่ผู้ตรงหน้าเธอ คือ ลูกสาวที่แท้จริงของเธอ ทิฟฟานี่ที่เธอรักนักรักหนา คือ ลูกบุญธรรมซึ่งถูกลักลอบพาเข้ามาในตระกูลจอร์แดน ด้วยการวางแผนอันแยบยลโดยแม่แท้ ๆ ของทิฟฟานี่ ลาร่า ซาเบลก่อนที่ชาร์มินจะทันได้ตอบกลับเสียด้วยซ้ำ ทิฟฟานี่ก็เดินเข้ามาหาเธอ “ชาร์มิน เธอทำแบบนี้ได้ยังไง? เธอไม่รู้เหรอว่าหินนี่มีพลังเยียวยาบำบัด?” เธอรีบตำหนิชาร์มินโดยการ
더 보기
บทที่ 4
ผู้คนในงานฉลองค่อย ๆ ลดน้อยลง และคนที่เหลืออยู่มีเพียงสมาชิกตระกูลจอร์แดนเท่านั้น เพราะหมดแรงจากงานฉลองวันเกิดในวันนี้ คุณท่านจอร์แดนจึงตัดสินใจไปที่ห้องของท่านเพื่อพักผ่อนอย่างไรก็ตาม เมื่อคุณท่านจอร์แดนออกไป โจอี้ ยัง ก็เบนสายตาที่เต็มไปด้วยความเกลียดชังของเธอมาที่ชาร์มิน “แกมันเป็นเด็กเก็บมาเลี้ยงที่ทั้งร้ายกาจและโหดร้าย” เธอแผดเสียง “ทิฟฟานี่ปกป้องแกตั้งแต่แกยังเป็นเด็ก แถมยังรักแกมาก แกทำแบบนี้กับเธอได้ยังไง?”“หนูไม่ได้ทำอะไรเลยนะคะ หนูเป็นคนทำให้เธอซื้อหินอุกกาบาตปลอมมาหรือไง?” ชาร์มินตอบกลับอย่างไม่ใส่ใจ และไม่สะทกสะท้านสิ่งที่ทำลงไปนี้มีแต่จะสร้างความโกรธเคืองให้โจอี้เท่านั้น “พี่สาวแกถูกหลอก และแกไม่สนใจแม้แต่จะเตือนเธอเลยเหรอ? แกฉีกหน้าเธอต่อหน้าทุกคน! นี่คือสิ่งที่แกทำกับพี่สาวของแกอย่างนั้นเหรอ?!”“ใครก็ได้มาลากยัยคนนี้ออกไปที ตระกูลจอร์แดนไม่ต้อนรับคนแบบนี้!” อดัม จอร์แดน ซึ่งเป็นหัวหน้าครอบครัวพูดเสียงกร้าวกับคนของเขาเจ้าหน้าที่รักษาความปลอดภัยก้าวเข้ามา เตรียมพร้อมที่จะลากเธอออกไป ชาร์มินเพียงไหวไหล่ให้พวกเขาออกไปและสวมแจ็คเก็ตของเธอด้วยสีหน้าเย็นชา “ไม่ต้อง ฉัน
더 보기
บทที่ 5
เมื่อพวกเขาได้สบสายตากัน ชาร์มินก็รู้สึกถึงความอบอุ่นที่แผ่ซ่านไปทั่วทั้งร่างของเธอ รู้สึกราวกับว่าเธอได้กลับมาพบกับคนที่เธอรักมากอีกครั้ง คริส เบลีย์ เด็กผู้ชายคนนั้นจับชาร์มินไว้พลางกอดเธอไว้แน่น“ผมวิ่งไล่ตามลูกแมวมาก่อนที่ผมจะบังเอิญมาเจอคุณแม่เข้า แต่ตอนนี้ผมหามันไม่เจอแล้ว” เด็กชายบ่นพึมพำ “แต่ตอนนี้ผมมีความสุขจังเลยครับ เพราะผมได้เจอคุณแม่อีกครั้ง!”ในขณะที่สิ่งนี้ทำให้ชาร์มินรู้สึกแปลกใจ ภายในเวลาไม่นานเธอก็หายจากอาการตกใจ เธอจับคอปกเสื้อของเด็กชายอย่างแผ่วเบาพลางผลักเขาออกห่าง “ฉันไม่ใช่แม่ของหนูจ้ะ พ่อแม่หนูอยู่ไหนเหรอจ๊ะ? ฉันจะพาหนูไปส่งให้พวกเขาเอง”สีหน้าร่าเริงของเด็กชายในตอนแรกแปรเปลี่ยนเป็นเจ็บปวด ทันใดนั้นเอง เด็กชายก็สะอื้นไห้ขึ้นมา “โอ๊ย… ผมเจ็บหน้าอก...”ชาร์มินชักมือออกจากคอปกเสื้อของเด็กชายด้วยความรู้สึกผิด ทว่าก่อนที่เธอจะทันได้พูดออกไป เด็กชายก็โผกลับเข้าหาอ้อมแขนของเธอทันที“ผมเจ็บหน้าอกครับ... กอดหน่อย… คุณแม่ กอดผมหน่อย...” เด็กชายซุกเข้าหาอ้อมกอดของเธอชาร์มินทั้งตกใจและประหลาดใจมาก ทำไมพ่อแม่ถึงทิ้งเด็กชายน่ารักแบบนี้เอาไว้?ในขณะที่เธอกำลังจะพูด งูต
더 보기
บทที่ 6
แอนโทนี่ไม่ได้มีเจตนาจะทำในสิ่งที่เขากำลังทำอยู่ ทว่าผู้หญิงคนนี้ดึงดูดความสนใจของเขาอย่างปฏิเสธไม่ได้ ตลอดหลายปีที่ผ่านมา ครอบครัวของเขาพยายามบังคับให้เขาแต่งงาน ทว่าในตอนนี้...“คุณพ่อครับ... คุณพ่อ...” น้ำเสียงสดใสของคริสทำให้เขาตื่นจากภวังค์แอนโทนี่สังเกตเห็นว่ารอยจุดสีเข้มสองจุดดูค่อนข้างน่ากลัวมาก อาจจะสายเกินไปที่จะช่วยชีวิตผู้หญิงคนนี้เมื่อเซรุ่มมาถึงเขาสลัดความคิดออกจากหัว แล้วก้มหน้าลงเริ่มดูดเลือดออกจากบาดแผล คริสที่นอนอยู่บนพื้นเห็นการกระทำนี้ และหัวเราะออกมาด้วยความสุข “คุณพ่อแตะตัวคุณแม่ แถมคุณพ่อยังจูบคุณแม่อีก ตอนนี้คุณพ่อต้องดูแลคุณแม่แล้ว!”เด็กชายไม่เคยหยุดทำให้เขาแปลกใจ...เมื่อชาร์มินฟื้นคืนสติ เธอก็พบว่าตัวเองอยู่ในห้องโทนขาวดำและตกแต่งเอาไว้เป็นอย่างดี“ฉันอยู่ที่ไหน? ฉันไม่ได้ถูกงูจงอางฉกหรอกเหรอ? ฉันต้องล้างแผลเดี๋ยวนี้!”เมื่อเธอก้มหน้าลงมอง ทว่าเธอก็สังเกตว่าเสื้อผ้าของเธอถูกเปลี่ยนแล้ว ยิ่งไปกว่านั้น เสื้อผ้าที่ถูกนำมาเปลี่ยนให้เธอเป็นเสื้อเชิ้ตตัวโคร่งสีขาวที่คลุมลงไปถึงหัวเข่า‘บาดแผลของฉันได้รับการล้างทำความสะอาดและพันผ้าพันแผลแล้วหรือ...? ใคร
더 보기
บทที่ 7
แอนโทนี่ไล่ตามจนมายืนอยู่ตรงหน้าของเธอและเป็นผลให้เขาสามารถหยุดเธอเอาไว้ได้ เขาหยิบกล่องเล็ก ๆ ออกมาอีกครั้ง“คุณจอร์แดน ได้โปรดลองคิดดูอีกที” เขายืนกราน ถึงจะไม่กระตือรือร้น ทว่าก็เห็นได้ชัดว่ามีความตั้งใจชาร์มินพูดไม่ออก เธอต้องยอมรับคำขอแต่งงานของเขาอย่างนั้นเหรอ? ใครเป็นคนสั่งให้ทำอะไรไร้สาระแบบนี้?เธอค่อย ๆ ดึงแหวนออกมาจากกล่อง คงไม่ต้องบอกว่ามันเป็นแหวนเพชรรูปหัวใจที่ทำการเจียระไนมาเป็นอย่างดี และฝีมือที่ประณีตเหล่านั้นเองก็มองเห็นได้ชัดจากตัวเรือนของแหวน มันเป็นหนึ่งในการเจียระไนที่ดีที่สุดในโลกทว่า...ด้วยรอยยิ้มบาง ๆ บนริมฝีปากแดงฉ่ำของเธอ เธอโยนแหวนออกไป แบบนั้นแหละ แหวนเพชรที่เจียระไนด้วยความประณีตถูกโยนทิ้งไปราวกับเป็นขยะแอนโทนี่และผู้ช่วยของเขารู้สึกตกใจ ผู้ช่วยรู้สึกว่าทุกสิ่งทุกอย่างเลือนรางไปหมด ชาร์มินปฏิเสธเจ้านายของเขาจริง ๆ และโยนแหวนเพชรลงในถังขยะ!ด้วยความไม่ไยดี ชาร์มินพูดอย่างไม่สะทกสะท้าน “ฉันรู้สึกขอบคุณนะคะ ที่คุณเบลีย์ช่วยชีวิตฉันเอาไว้ และดูแลฉันจนสุขภาพดีขึ้น แต่ฉันไม่อยากแต่งงานค่ะ การแต่งงานไม่ใช่เรื่องเล่น ๆ และเหยื่อไม่จำเป็นต้องแต่งงานกั
더 보기
บทที่ 8
ทิฟฟานี่กำมือแน่น เธอโทรหาเวโรนิก้า รามอส ผู้จัดการของเธอทันที“ไปสืบมาว่าใครเป็นคนส่งอีเมลไม่ระบุชื่อมาให้ได้ภายในห้านาทีหลังจากนี้ ฉันอยากได้ข้อมูลของเขา” ทิฟฟานี่สั่งทิฟฟานี่เชื่อว่าเธอแบล็กเมล์คนคนนี้ให้ยอมแพ้ได้ถ้าเธอได้รับข้อมูลของพวกเขา ไม่มีใครเอาชนะเธอได้อนิจจา...ห้านาทีต่อมาเวโรนิก้าก็โทรกลับมาหาเธออีกครั้ง ทว่าเธอโทรมาโดยไม่ได้มีข่าวดี“ทิฟฟานี่ ฉันขอโทษนะ ฉันหาแฮ็กเกอร์ที่เก่งที่สุดในเมืองและใช้เส้นสายรวมถึงแหล่งข้อมูลทั้งหมดที่ฉันทำได้แล้ว แต่เราก็ยังคงไม่สามารถเจาะเข้าไปที่ไอพีแอดเดรสของผู้ส่งได้”“เป็นแบบนี้ได้ยังไง? ฉันคิดว่าทีมของเราเก่งที่สุดแล้วนะ?!” ความกลัวของทิฟฟานี่เข้าครอบงำเธอในขณะที่เธอแผดเสียงดังขึ้นหลายระดับ “ตอนนี้เราทำไม่ได้แม้กระทั่งเจาะเข้าไปในไอพีแอดเดรสที่ไม่ระบุตัวตนไม่ได้อย่างนั้นเหรอ?!”เธอเป็นนางแบบที่มีชื่อเสียงโด่งดังที่สุดในโลก มีอาวุธเป็นทั้งแหล่งข้อมูลที่ดีทั้งสุดและเส้นสายที่ดีที่สุด ไม่มีทางที่เรื่องแบบนี้จะเกิดขึ้นกับเธอได้“แฮ็กเกอร์เก่งมากจนเราสู้ไม่ได้ เราไม่รู้ตัวตนของเขา และแม้กระทั่งแฮ็กเกอร์ที่เก่งที่สุดในทีมของเราก็เจาะเข
더 보기
บทที่ 9
เมื่อเช้าวันรุ่งขึ้นมาถึง เวโรนิก้าก็มารับทิฟฟานี่ทิฟฟานี่สวมชุดราตรีที่สวยที่สุด ใบหน้าถูกแต่งแต้มอย่างประณีตด้วยเครื่องสำอาง โจอี้ ยัง ผู้เป็นแม่ของเธอ เดินไปที่ประตู “แม่ขอโทษนะ ทิฟฟานี่ แต่วันนี้แม่ไปออดิชั่นกับหนูไม่ได้นะ คุณพ่อของลูกกับแม่มีโครงการที่จะต้องปรึกษาหารือกัน ไม่ว่ายังไงนะลูก พวกเราขอให้ลูกทำให้ดีที่สุดสำหรับการออดิชั่นในครั้งนี้และได้เข้ารอบสุดท้าย แม่รู้ว่าหนูเก่งที่สุด!”“ขอบคุณค่ะ คุณแม่” แม่และลูกสาวสวมกอดกันก่อนที่ทิฟฟานี่จะขึ้นรถเมื่อประตูปิดลง รอยยิ้มอันอ่อนหวานและไร้เดียงสาที่อยู่บนใบหน้าของเธอก็ถูกแทนที่ด้วยสีหน้าที่แตกต่างออกไปอย่างสิ้นเชิง มันดูเคร่งเครียดทิฟฟานี่รู้สึกถูกรบกวนด้วยความรู้สึกวิตกกังวลและวุ่นวายใจตั้งแต่ที่ชาร์มินกลับมา ทิฟฟานี่รู้ความจริงว่าแม่ผู้ให้กำเนิดผู้น่าสงสารของเธอ ถูกตัดสินให้รับโทษประหารหลังจากให้กำเนิดเธอได้เพียงสามวัน เพื่อทำให้มั่นใจว่าลูกของเธอจะมีอนาคตที่ดี เธอจึงเปลี่ยนตัวทิฟฟานี่กับลูกสาวที่แท้จริงของโจอี้ และชาร์มินผู้น่าสงสารก็ถูกทิ้งไว้ข้างถนนแทนโจอี้จะยังคงรักเธอเหมือนเดิมไหม ถ้าได้รู้ความจริง? เมื่อเธอเห็นสี
더 보기
บทที่ 10
ในที่สุดทิฟฟานี่ก็ปรากฏตัวในชุดเดรสผ้าลินินที่เรียบหรู ราวกับว่าเธอก้าวออกมาจากนวนิยายคลาสสิก ผมของเธอตกลงมาบนไหล่ มงกุฎดอกไม้วางอยู่บนศีรษะของเธอ ชุดราตรีนั้นพลิ้วไสวไปกับทุกย่างก้าวที่เธอเดิน และมีใบไม้ในฤดูใบไม้ร่วงปลิวอยู่กลางอากาศเป็นฉากประกอบอันงดงามราวกับหลุดออกมาจากเทพนิยาย ใบหน้าอันงดงามของเธอโดดเด่นกว่านางแบบคนอื่น ๆ ที่จืดชืดและไม่น่าสนใจ แม้ว่าพวกเธอจะโพสต์ท่าราวกับนางฟ้าก็ตาม รูปลักษณ์ของเธอคือตัวแทนจากสรวงสวรรค์ลงมาสู่พื้นดิน ราวกับว่าเธอถูกทำเลียนแบบเทพธิดาแห่งความงามในภาพวาดสร้อยคอที่ทำเลียนแบบขึ้นถูกทำให้มีชีวิตชีวาบนลำคอเพรียวงามของเธอไอด้า ผู้ออกแบบสร้อยคอตกตะลึงกับสิ่งที่เธอได้เห็น “โอ้ พระเจ้า! นั่นแหละ! ต้องเธอคนนั้น!” เธอยิ้มกว้างออกมา “นี่คือสิ่งที่ฉันคิดเอาไว้ในใจฉัน เป็นเธอเลย! เราจะเซ็นสัญญากับเธอ!”“สุดยอดไปเลย! ทำไมถึงยังมีหญิงสาวที่บริสุทธิ์และเรียบร้อยอยู่บนโลกนี้อีก? ช่างงามสง่าไร้ที่ติราวกับผ้าขาว!”“คู่ควรกับกิตติศัพท์และชื่อเสียงอันเลื่องลือในการเป็นนางแบบที่ยอดเยี่ยมที่สุดในโลก ลักษณะโดยกำเนิดของเธอไม่ใช่สิ่งที่คนธรรมดาจะเทียบได้”“อื้ม!” “เ
더 보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status