تسجيل الدخولเขาและเธอมีความสัมพันธ์กันเพราะความเมา เธอ...ชอบรสสวาทที่น่าตื่นเต้นของเขา เขา...ชอบความเผ็ดร้อนของเธอ ...เขาและเธอจึงสร้างกฎขึ้นมา... และกฎมีอยู่ว่า ห้ามรัก ห้ามท้อง ห้ามเป็นเจ้าของกันและกัน… "ใครใช้ให้คุณคุยกับมัน ปากนี้เป็นของผม ตรงนี้ ตรงนี้ ก็เป็นของผม" ชายหนุ่มพูดพลางเลื่อนมือจากริมฝีปากผ่านลำคอระหงแล้วมาหยุดอยู่ที่หน้าอกอวบก่อนจะบีบเคล้นหยาบโลน
عرض المزيدSuara langkah sepatu beradu dengan lantai marmer, bergema di ruang lobi yang terlalu megah untuk ukuran perusahaan biasa.
Nira menarik napas dalam-dalam. Ini hari pertamanya bekerja di Raven Group, perusahaan besar yang baru saja membuka divisi baru—dan tempat ia berharap bisa memulai hidup dari awal. Tapi siapa sangka, justru di tempat inilah masa lalunya menunggu. “Nira Adisti?” suara resepsionis memanggilnya lembut. “Silakan langsung ke lantai dua belas. Pak Raka sudah menunggu.” Langkahnya sempat terhenti. Nama itu—Raka. Dada Nira terasa sesak, seperti baru saja ditusuk kenangan yang sudah lama berusaha ia kubur. Mungkinkah… Raka itu Raka yang sama? Ia sempat ingin bertanya, tapi lidahnya kelu. Hanya jantungnya yang berdetak makin cepat, seolah tahu lebih dulu jawabannya. Lima tahun. Lima tahun sejak hari terakhir ia melihat pria itu—dengan wajah penuh kecewa dan tatapan yang tak pernah ia lupakan. Pintu lift terbuka dengan bunyi ding lembut. Nira melangkah keluar, berusaha menata napasnya. Ruang kantor di lantai dua belas terasa dingin, rapi, dan kaku—semuanya memantulkan aura satu orang yang sangat ia kenal. “Masuk.” Suara itu dalam, tenang, tapi menusuk. Nira menelan ludah. Ia membuka pintu ruang kerja paling ujung, dan di sanalah ia melihatnya— Raka. Pria itu duduk di balik meja kaca besar, jas hitam membingkai bahunya yang tegas. Wajahnya sama, tapi lebih dingin, lebih dewasa. Tatapan matanya tak lagi lembut seperti dulu. Dan saat pandangan mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Raka memandangi Nira tanpa ekspresi. “Lima tahun,” katanya datar. “Kau kembali, Nira.” Suaranya membuat seluruh tubuh Nira menegang. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi mulutnya terasa terkunci. Ia hanya bisa menunduk. “Saya… saya datang untuk bekerja, Pak.” Nada formal itu membuat bibir Raka menegang tipis, antara sinis dan getir. “Bagus. Di sini, semua orang bekerja. Tidak ada yang datang untuk menjelaskan masa lalu.” Kalimat itu seperti pisau yang diselipkan di antara senyuman. Nira hanya mengangguk pelan, berusaha tampak tenang, padahal dalam dadanya, perasaan campur aduk—rindu, takut, sesal—semuanya menumpuk jadi satu. Raka berdiri, menatapnya dalam-dalam. “Mulai hari ini, kau melapor langsung padaku. Aku ingin melihat sejauh apa kau bisa bertahan di bawah tekananku.” Untuk sesaat, Nira tak tahu apakah itu ancaman, atau tantangan. Yang jelas, ia sadar satu hal: pertemuan ini bukan kebetulan. Dan mungkin, Tuhan memang ingin memberinya kesempatan kedua… entah untuk menebus, atau kembali terluka. Setelah keluar dari ruangan itu, langkah Nira terasa berat. Ia menunduk, berjalan melewati lorong kantor dengan tatapan kosong. Beberapa karyawan yang lewat menatapnya penasaran, mungkin karena wajahnya pucat seperti kehilangan darah. Tapi Nira tidak peduli. Di dalam lift, ia menatap bayangan dirinya di dinding logam yang mengilap. Wajahnya masih sama—tapi matanya berbeda. Ada beban yang belum hilang. Ada luka yang masih tinggal di sana, bertahun-tahun lamanya. Ia memejamkan mata. "Aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi." Namun begitu pintu lift tertutup, sebutir air mata jatuh juga, diam-diam. Waktu makan siang tiba. Ruang pantry dipenuhi aroma kopi dan suara obrolan ringan antar karyawan. Nira duduk di sudut, memegang cangkir yang sejak tadi belum disentuh. Ia mencoba tersenyum setiap kali seseorang menyapanya, tapi pikirannya masih melayang pada sosok di ruang kerja tadi. “Baru hari pertama, tapi kelihatan tegang banget,” suara ceria terdengar dari samping. Nira menoleh. Seorang wanita berambut pendek tersenyum ramah padanya. “Aku Tia, HR di divisi sebelah. Kamu karyawan baru ya?” Nira mengangguk. “Iya. Nira.” “Wah, semangat ya. Tapi hati-hati, atasan di lantai dua belas itu... terkenal dingin banget. Banyak yang resign gara-gara nggak tahan.” Tia menurunkan suaranya sedikit. “Katanya, dia nggak pernah senyum sama siapa pun. Katanya juga, dia pernah disakiti seseorang sampai sekarang nggak bisa percaya lagi sama perempuan.” Tangan Nira membeku di atas meja. Tia tidak sadar apa yang baru saja ia katakan. Nira menelan ludah, mencoba tersenyum samar. “Oh ya? Sepertinya saya harus berhati-hati, ya.” Tia terkekeh. “Iya, hati-hati aja. Tapi kamu kelihatan kuat, kok. Semoga nggak kena semprot di minggu pertama.” Begitu Tia pergi, Nira menatap cangkir kopinya lama-lama. Kata-kata Tia masih menggema di kepalanya: disakiti seseorang. Ia tahu persis siapa orang itu. Dan rasa bersalah yang sudah lama ia tekan, tiba-tiba terasa begitu nyata. Sore hari, Raka berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Dari lantai dua belas, ia bisa melihat pemandangan kota yang penuh lampu, tapi pikirannya justru tidak ke mana-mana. Baru hari pertama, tapi kehadiran Nira sudah mengacaukan ketenangan yang selama ini ia jaga dengan susah payah. Dia masih sama. Tatapannya, suaranya, bahkan cara dia menunduk pun tak berubah. Dan itu menyebalkan. Raka mengepalkan tangan. Lima tahun lalu, ia menunggu penjelasan yang tak pernah datang. Dan sekarang, wanita itu muncul begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa. Ia menghela napas berat, lalu berbalik menuju meja kerjanya. Tapi pandangannya tertumbuk pada sebuah benda kecil yang terletak di laci bawah — sepotong liontin perak yang dulu pernah ia simpan, milik seseorang yang kini duduk di kantor yang sama dengannya. Raka menatapnya lama, sebelum menutup laci itu dengan keras. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan badai. Sementara itu, di meja kecil di ujung ruangan, Nira menatap layar komputer yang menampilkan ratusan file. Tangannya bergetar ringan. Ia mencoba fokus, tapi setiap kali melihat nama “Raka Adiputra” di surat elektronik, dadanya selalu bergetar aneh. Ia tahu, hubungan mereka sudah berakhir. Tapi perasaan… tidak semudah itu dimatikan. "Kau harus kuat, Nira," bisiknya pada diri sendiri. "Kau datang ke sini bukan untuk menangis, tapi untuk menebus apa yang sudah kau hancurkan." Namun jauh di dalam hati, Nira tahu — di balik setiap lembar laporan dan perintah kerja, ia sedang berjalan di atas kenangan lama yang bisa pecah kapan saja. Dan ketika jam kerja usai, ia sadar satu hal: Pertemuan tadi bukan akhir. Itu baru permulaan dari kisah yang belum selesai — kisah yang menunggu untuk disembuhkan, atau mungkin, diulang kembali dengan cara yang sama menyakitkannya.“อื้มส์ อ๊า” เธอครางออกมาอย่างรัญจวนใจจากนั้นเขาเลื่อนใบหน้าลงมายังหน้าอกอวบอิ่มล้นมือแล้วบีบมันอย่างแรงโดยไม่กลัวว่ามันจะแหลกคามือ เขาใช้ลิ้นสากสัมผัสกับยอดปทุมสีชมพูที่แข็งตึงออกมาพลางดูดมันอย่างมูมมามแล้วใช้อีกข้างเคล้าคลึงหน้าอกจนเธอส่ายตัวร่อนเพราะความเสียวซ่านไม่รอช้าเขาใช้ลิ้นร้อนสัมผัสผิวกายของเธอแล้วลากลงมาผ่านหน้าท้องหยุดหยอกล้อกับสะดือบุ๋มเล็กน้อย เขาลอบมองหน้าหญิงสาวที่นอนเม้มปากเสียวอย่างพอใจแล้วเลื่อนลงมาหยุดอยู่ตรงสามเหลี่ยมอวบอูมเขาเกลี่ยเส้นไหมนุ่มนิ่มที่ปกคลุมอยู่อย่างเบาบางแล้วใช้นิ้วกรีดกรายยังกลีบกุหลาบที่มีน้ำหวานซ่อนอยู่ภายใน เขาส่งนิ้วเย็นเข้าไปควานหาความนุ่มและคับแน่นในกายเธอ พร้อมส่งนิ้วเข้าออกสร้างความวาบหวามให้กับคนที่นอนได้เป็นอย่างดี“อ๊ะส์ อ๊า อ๊าส์ อื้อ”หลังจากนั้นเขาใช้นิ้วแหวกกุหลาบบางออกแล้วใช้ลิ้นสัมผัสกับเยื่อบางอมชมพูที่มีสายธารไหลออกมา เขาโลมเลียมันอย่างหิวกระหาย“อ๊ะ อ๊า อ๊ะ อ๊าส์” เธอครางออกมาพร้อมขยุ้มหัวเขาเพื่อระบายความเสียว ตอนนี้เธอเห็นขอบสวรรค์อยู่รำไรชายหนุ่มระรัวลิ้นเข้าออกพลางใช้มือขยี้เม็ดไตที่แข็งทื่อของเธออย่างหยอกล้อจนหญิงสาวก
“แล้วคุณรักผมไหม”“ไม่บอก”“ไม่อยากบอกตรงนี้ใช่ไหม งั้นไปบอกบนเตียงเป็นไง”เขายื่นใบหน้าเข้าไปใกล้จนลมหายใจอุ่นสัมผัสกันและกัน เมื่อเห็นหญิงสาวคล้อยตาม เขาจึงอุ้มเธอไว้ในวงแขนหนาแล้วพาไปยังเตียงนุ่ม“ดะ..เดี๋ยว ยังทำแผลไม่เสร็จเลยนะ”“ช่างแผลเถอะ เราไปทำอย่างอื่นให้เสร็จดีกว่า”ชายหนุ่มประกบปากนุ่มของหญิงสาวแล้วจูบอย่างดูดดื่มแต่เธอผลักแผงอกเขาออก“อืมส์ พอแล้ว ถ้านายไม่หยุดฉันจะไม่คุยด้วยนะ”เมื่อเห็นสีหน้าเธอจริงจังเขาจึงหยุดการกระทำทั้งหมดลง“งั้นนอนกอดเฉยๆ ก็ได้” เขาพูดออกมาแล้วกอดเธอเบาๆ ถึงแม้เขาจะต้องการอะไรที่มากกว่านี้ก็ตามทั้งสองนอนมองหน้ากันและกัน จนแพรมุกพูดออกมา“คุณรักฉันตั้งแต่ตอนไหนเหรอ”“ไม่รู้สิ รู้ตัวอีกทีก็กลัวว่าจะเสียคุณไปจริงๆ”“แล้วถ้าฉันไม่ให้โอกาสคุณล่ะ”“ไม่หรอก คุณต้องให้โอกาสผมอยู่แล้ว เพราะคุณรักผม” เขาพูดอย่างมั่นใจ“แต่คุณอย่าลืมนะว่าโอกาสมันไม่ได้มีบ่อยๆ และยิ่งตอนนี้เราก็กำลังจะมีลูก หากคุณทำอะไรผิดอีกในอนาคต ฉันอาจจะพาลูกหนีไปก็ได้”“ผมไม่ทำแบบนั้นหรอก ผมสำนึกผิดทุกอย่างแล้วจริงๆ ครับ เชื่อใจผมนะ”“ฉันจะคอยดู”“แล้วเมื่อไหร่เราจะได้รู้เพศลูกเหรอ”“อี
ชายหนุ่มยืนก้มหน้าเพราะเขาไม่กล้ามองหน้าหญิงสาว เขากลัวว่าเธอจะมองเขาด้วยสายตาเย็นชา กว่าเขาจะรวบรวมความกล้ามาหาเธอได้ก็ใช้เวลาไปเกือบเดือน เขาทบทวนตัวเองทุกอย่างและพร้อมที่จะเป็นคนที่ดีขึ้นเพื่อเธอแล้วจริงๆ“มาทำไม” เธอถามเขาที่เอาแต่ยืนก้มหน้า“คิดถึง”“หืม?” แพรมุกถามอย่างแปลกใจ“ขอเข้าไปหน่อยได้ไหม”เธอมองชายหนุ่มตรงหน้ารูปร่างผอมกว่าเมื่อก่อนแต่ความหล่อเหลาที่มียังคงเหมือนเดิมสายตาคู่นั้นกลับดูอ่อนลงเปลี่ยนเป็นคนละคน เธอจึงหลีกทางให้เขาเข้ามาชายหนุ่มมองหญิงสาวตรงหน้าที่สวมเสื้อตัวโคร่ง เธอดูอวบขึ้นเล็กน้อยและมีใบหน้าที่ไม่ค่อยสดใสเท่าไหร่ เมื่อเขามองเธออยู่นานหญิงสาวจึงถามเขาถึงการมาในครั้งนี้“มีอะไร”“ผมคิดถึงคุณ ผมอยากมาขอโทษ ให้อภัยผมในสิ่งที่เคยทำกับคุณได้ไหม”“เรื่องอะไรละ”“ทุกๆ เรื่อง ผมขอโทษ” เขาพูดพลางคุกเข่าลงต่อหน้าเธอโดยไม่อายแพรมุกเห็นดังนั้นก็ตกใจเพราะไม่คิดว่าคนอย่างฮิลล์จะยอมคุกเข่าให้เธอ แม้ว่าเธอจะสงสารแต่เธอไม่อยากหลงกลเขา คงต้องดูไปก่อนว่าคนแบบนี้จะเปลี่ยนสันดานได้จริงไหม“กลับไปเถอะ”“ผมไม่กลับ” เขาพูดแล้วจับขาเธอไว้แน่“ปล่อย”“ให้ผมอยู่ที่นี่ด้วยได้ไหม”
ช่วงบ่ายของวันเดียวกันแพรมุกเปิดประตูเข้ามาเห็นฮิลล์นั่งหน้าเครียดอยู่ เธอไม่ได้ทักเขาแล้วเดินผ่านไปทันที แต่มีหรือที่เขาจะปล่อยเธอไปในเมื่อเขาพยายามคิดต่อเธอตั้งหลายสายแต่กลับไม่มีคนรับ“ไปไหนมา”//เงียบ//“ผมถามว่าไปไหนมา!! ทำไมไม่รับสาย” เขาตะคอกออกมาอย่างโกรธเกรี้ยว“ไปโรงพยาบาลมา” เธอตอบเสียงราบเรียบไม่แสดงอารมณ์ใดๆ จนชายหนุ่มนึกกลัว“ไปทำไม เป็นอะไรหรือเปล่า” ฮิลล์ถามอย่างเป็นห่วง“คุณไม่ต้องการลูกไม่ใช่เหรอ คุณคงไม่ได้ต้องการพวกเราหรอก ถ้าฉันตัดสินใจทำอะไรก็ให้รู้ไว้ว่ามันเป็นเพราะคุณ” เธอพูดออกมาจ้องหน้าชายหนุ่มเขม็งเมื่อเขาได้ยินคำนั้นหัวใจกระตุกวูบพลางใจเต้นอย่างไม่เป็นจังหวะ ตัวชาขยับแทบไม่ได้ แม้เขาอยากปริปากก็พูดไม่ออก หรือเธอจะทำมันจริงๆ“ธะ...เธอ ไปทำอะไรมา” เขาพยายามเปล่งเสียงออกมาอย่างยากลำบาก“ก็ทำแบบที่นายคิดละมั้ง”“นี่เธอกล้าฆ่าลูกของเราจริงๆ เหรอ”“ก็นายเป็นคนบอกเองว่าไม่อยากมีลูก ตอนนี้ก็ไม่มีลูกแล้วไง ต่อไปนี้นายจะไปมั่วหรือคั่วกับใครก็เรื่องของนาย”เธอพูดออกมาเสียงเย็นชาอย่างที่เขาไม่เคยได้ยินมาก่อน“ไม่...ไม่จริง ไม่จริงใช่ไหม” ฮิลล์พูดพร้อมหัวใจที่เจ็บปวด
เคลตอบเพื่อนออกไปเพราะเขาไม่สามารถโกหกฮิลล์ได้อยู่ดี“มากับไอ้ทิวเขาสินะ เหอะ”เขาพูดออกมาอย่างโกรธเคือง คนแรกที่รู้เรื่องลูกกลับเป็นคนรักเก่าของเธอแทนที่จะเป็นเขา“มึงใจเย็นๆ นะเว้ย” เคลวินตะโกนไล่หลัง ชายหนุ่มโกรธและเดินออกไปแล้ว คาดว่าคงไปเคลียร์กับหญิงสาวอย่างแน่นอนเมื่อแพรมุกมาถึงห้องเธอก็นอน
เช้าวันใหม่ฮิลล์ยังไม่กลับมาตั้งแต่เมื่อคืน ส่วนแพรมุกกำลังจะไปหาหมอที่โรงพยาบาล เธอเดินไปยังลานจอดรถด้วยท่าทีอ่อนแรง เมื่อคืนเธอแทบไม่ได้นอนเพราะกังวลในสิ่งที่อาจจะเกิดขึ้น พอดีกับที่ทิวเขากำลังเปิดประตูออกมาจากรถเพราะกลับมาจากทำงานที่คลับเสร็จ เห็นหญิงสาวมีหน้าตาไม่ค่อยดีจึงถามขึ้น“มุกจะไปไหนเห
“ถ้าผมไปแล้วใครจะดูแลคุณ”“ฉันดูแลตัวเองได้” เธอพูดจบอาการคลื่นไส้ก็กลับมา จึงรีบวิ่งเข้าห้องน้ำไปอาเจียน ฮิลล์ ตามเข้าไปดูแพรมุกไม่ห่าง“ไหนว่าดูแลตัวเองได้ แค่ยืนเองยังไม่ไหวเลย”อึก...เธออาเจียนออกมาอย่างเหนื่อยหอบแล้วพยายามทรงตัวลุกขึ้นจากพื้น“ผมว่าไปหาหมอดีกว่า คุณอาการไม่ดีเลย โอ้กอ้ากทั้งวั
หญิงสาวลืมตาขึ้นมาพร้อมอาการปวดหัวและปวดเมื่อยตามตัวเหมือนไปออกรบมาก็ไม่ปาน เธอบิดกายพร้อมทึ้งหัวตัวเองเพื่อเป็นการเรียกสติกลับมาเมื่อปรับสายตาได้แล้วพลางกวาดตามองไปรอบๆห้องก็รู้ได้ทันทีว่าที่นี่คือห้องในโรงแรมอย่างแน่นอนและร่างกายของเธอก็เปลือยเปล่าอยู่ใต้ผ้าห่มผืนหนา มีเสียงสายน้ำที่ไหลออกมาจากฝ





