แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: SEVEN
Hati Edmund terasa seperti tertusuk. Ia sedikit menarik sudut bibirnya.

"Sudah lama nggak berhubungan."

Profesor Grant menghela napas panjang, alisnya berkerut ketat.

Ia adalah dosen Edmund, juga dosen Claire.

Edmund tiga angkatan lebih tua dari Claire. Saat Edmund menempuh studi pascasarjana, ia berkenalan dengan Claire.

Keduanya berada di Fakultas Ekonomi dan sama-sama mahasiswa yang sangat berprestasi.

Kini Edmund pulang setelah menuntaskan studinya dan menjadi kebanggaan keluarga. Namun Claire…

Ada beberapa hal yang menekan hatinya begitu berat hingga ia merasa harus mengatakannya.

"Pada tahun kedua setelah kamu ke luar negeri, aku menemani istriku melakukan pemeriksaan. Di rumah sakit, aku melihatnya. Dia mengenakan baju pasien, tubuhnya kurus sampai hampir tak berbentuk. Katanya dia mengalami cedera dan pendarahan hebat, hampir tidak tertolong…"

Edmund tiba-tiba menggenggam cangkir kopi dengan erat. Kopi panas menyiram punggung tangannya, namun ia seperti tidak merasakannya, hanya berdiri terpaku di sana.

Profesor Grant menyodorkan beberapa lembar tisu sambil mengamati ekspresinya.

Wajah pria itu tanpa ekspresi, tetapi di kedalaman matanya yang hitam, bergejolak tak terhitung emosi.

Profesor Grant menghela napas berat.

"Sehari kemudian kami kembali ke rumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan. Istriku bahkan sengaja membawa suplemen untuk menjenguknya. Siapa sangka dia sudah keluar dari rumah sakit. Perawat bilang seharusnya dirawat sebulan, tapi dia hanya dirawat tiga hari. Dengan kondisi keluarganya, kamu kan juga tahu. Ditambah lagi dia nggak mendapatkan ijazah kelulusan. Aku benar-benar nggak tahu gimana dia menjalani hidupnya selama bertahun-tahun ini."

Di telinga Edmund seolah melintas suara kereta api, dengung besar membuat kepalanya pusing dan kosong.

Gelas kertas di tangannya sudah remuk menjadi gumpalan kusut. Ruas-ruas jari yang menonjol perlahan memutih.

"Nggak dapat ijazah kelulusan?" Suaranya terdengar tegang.

Profesor Grant sangat terkejut.

"Kamu nggak tahu? Tak lama setelah kamu ke luar negeri, Nyonya Selena, ibumu, datang ke kampus membuat keributan, menuduh Claire mencuri perhiasannya. Ada saksi dan barang bukti. Pihak kampus takut masalahnya membesar dan merusak reputasi, jadi mereka mengeluarkan Claire."

Keriuhan di sekeliling seakan lenyap. Cahaya senja tampak lembut, tetapi bagi Edmund terasa sangat menyilaukan.

"Edmund, ada beberapa hal yang sebenarnya nggak pantas aku katakan sebagai dosen, tapi kamu adalah orang yang paling tahu seperti apa sifat Claire. Kuharap kamu pulang dan bertanya pada ibumu, apakah ada kesalahpahaman dalam hal ini. Claire itu sangat berbakat, aku bahkan membinanya sebagai calon mahasiswa pascasarjana. Sayang sekali…" ujar Profesor Grant pelan.

Edmund seakan dicekik oleh tangan tak kasatmata, kedua tangannya tanpa sadar mengepal, pandangannya kosong.

"Edmund, sudah agak sore. Ayo kita pulang."

Yvonne datang kembali sambil menggandeng Nora, meski Nora tetap enggan menggenggam tangannya.

Profesor Grant melirik Yvonne, lalu menatap Nora, mengerutkan kening sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa.

"Papa! Si kucingnya sudah datang mengambil termosnya belum?"

Edmund tersadar, mengusap kepala Nora, menekan emosi di matanya, lalu berkata,

"Kita pulang saja."

Bayangan tiga orang itu ditarik panjang oleh cahaya senja.

Tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

Claire bersembunyi di balik semak bunga mawar, memandang dari kejauhan. Ia merasa dirinya seperti seorang pengintip yang hina.

Hatinya serasa disayat pisau, namun dia tak punya pilihan selain menghadapi kenyataan.

Nora lahir prematur tujuh bulan. Begitu lahir, ia terkena pneumonia dan harus dirawat di inkubator. Biaya per hari saja sudah lebih dari 40 juta.

Ia sendiri dikeluarkan dari Universitas Mandala dan hanya bisa bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan. Di rumah masih ada nenek yang sudah lanjut usia dan adik perempuan yang masih kecil. Dia sama sekali tak sanggup menanggung biaya itu.

Ia pun hanya bisa menahan sakit hati melihat anaknya dibawa pergi oleh Nyonya Selena dan Yvonne.

Dia bahkan dipaksa menandatangani sebuah perjanjian untuk melepaskan hak asuh, dan selamanya tidak boleh memberi tahu Edmund kebenaran.

Malam sebelum menandatangani kontrak itu, ia sempat menelepon Edmund.

Namun yang berbicara di seberang sana adalah seorang wanita.

"Edmund sudah tidur. Memangnya ada urusan sepenting apa sampai harus menelepon jam tiga dini hari?"

Seolah disiram air es dari kepala hingga kaki, seluruh tubuhnya terasa dingin menusuk tulang.

Mobil Bentley mewah itu pun melaju pergi. Claire baru tersadar dan mengusap air mata di sudut matanya.

Saat kembali ke tempat tinggalnya, waktu sudah menunjukkan pukul enam setengah malam. Dia tak sempat makan, hanya cepat-cepat mandi, berganti pakaian, lalu bergegas menuju Starry Bar untuk bekerja shift malam.

Di perjalanan, dia menerima pesan singkat dari rumah sakit yang memberitahukan bahwa dana medis yang sudah dia setorkan telah habis, dan dia perlu menambah 40 juta lagi.

Adik perempuannya menderita gagal ginjal selama tiga tahun, masih menunggu donor ginjal, dan harus menjalani cuci darah tiga kali seminggu.

Saldo di kartu ATM-nya tidak mencukupi, sementara gajinya baru akan dibayarkan sekitar sepuluh hari lagi.

Sesampainya di Starry Bar, ia mengganti seragam lalu pergi mencari Kak Aria.

Kak Aria adalah pemilik bar kelas atas itu.

Ia cantik dan memikat, setiap hari berdandan gemerlap dengan perhiasan berkilau.

Untuk kembali membuka mulut meminta gaji duluan, Claire sangat canggung.

Kak Aria menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asap putih perlahan, lalu berkata,

"Claire, bukan aku mau mengguruimu, tapi jangan terlalu keras kepala. Kamu punya wajah cantik, tubuh bagus. Cukup mengaitkan jari saja, banyak pria yang mau menghamburkan uang untukmu. Kenapa harus mempertahankan reputasi yang tak bernilai, dan hidup dalam kemiskinan?"

Meminta-minta bantuan bukanlah perasaan yang enak. Claire menunduk, gelisah meremas ujung pakaiannya.

"Hari ini Tuan Zaden datang. Dia sudah lama mengincarmu. Beberapa hari lalu dia bilang bersedia membayar dengan harga segini untuk memeliharamu."

Kak Aria mengisyaratkan dengan jari yang mengenakan cincin emas.

"600 juta sebulan. Dengan uang sebanyak itu, apa adikmu masih perlu antre menunggu donor ginjal? Apa nenekmu masih harus hidup susah di kampung halaman? Selagi masih muda dan cantik, kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Nanti meski Tuan Zaden bosan, setidaknya kamu nggak akan hidup tanpa tabungan."

Bagaimana mungkin Claire tidak tahu.

Starry Bar adalah sarang pembakaran uang para pria kaya.

Anak-anak orang kaya seperti Tuan Zaden bisa ditemui dengan mudah di sini.

Di tempat ini, jatuh ke dalam kesalahan adalah hal yang sangat mudah.

Dulu, setelah dia berpacaran dengan Edmund, komentar jahat bermunculan tanpa henti. Semua orang menuduhnya sebagai perempuan matre, mengatakan dia mendekati Edmund demi uangnya, ingin mengandalkan kecantikan untuk menikah masuk Keluarga Harrington dan naik derajat dalam semalam.

Kemudian, seorang pembantu Keluarga Harrington menemukan perhiasan couture milik Nyonya Selena di dalam tas Claire.

Bahkan Edmund pun berpikir Claire telah mencurinya.

Claire merapatkan bibir, lalu berkata pelan namun tegas, "Kak Aria, aku ingin pinjam gaji satu bulan di muka. Tolong bantu aku sekali lagi."

Kak Aria menggelengkan kepala, lalu membuka ponselnya dan mentransfer 60 juta kepadanya.

"Anda beri terlalu banyak…"

"Kulebihkan 20 juta buat beli suplemen adikmu. Anak itu ikut hidup denganmu, benar-benar sudah kebanyakan menderita!"

Kak Aria mendengus kesal, meliriknya sekilas sambil menggigit rokok, lalu pergi dengan langkah berlenggak.

...

Edmund menyetir mengantar Yvonne dan Nora kembali ke Crystal Bay.

Ini adalah salah satu kawasan termahal di Mandala. Yvonne dan Nora tinggal di apartemen besar.

"Edmund, masuklah makan malam dulu. Aku sudah menyuruh pembantu siapkan makanan," kata Yvonne dengan penuh harap.

Edmund melirik Nora. Mata bocah itu juga penuh harap.

Edmund pun menggumamkan "hm”, namun pikirannya masih melayang entah ke mana.

Begitu masuk ke rumah, di meja makan sudah tersaji delapan hidangan, semuanya berupa seafood mahal.

Yvonne tampak sangat gembira, menarik lengan Edmund dan hendak duduk.

"Edmund, aku sengaja menyuruh pembantu memasak semuanya sesuai seleramu."

Namun Nora cemberut kesal.

"Kenapa semuanya seafood? Waktu itu aku sampai masuk rumah sakit karena alergi seafood, Yvonne, apa kamu sudah lupa?"

Tatapan Edmund seketika menjadi dingin. Dia menoleh ke arah pembantu.

"Nggak siapkan makanan anak untuk Nora?"

Pembantu itu ketakutan oleh tatapannya yang mengintimidasi, gugup menggosok-gosokkan tangan, lalu melirik ke arah Yvonne.

"Nona Yvonne yang suruh saya siapkan semua ini..."

Pandangan Edmund menyapu wajah Yvonne. Tak ada emosi yang kentara, namun cukup membuat Yvonne merasa seperti duduk di atas duri.

"Aku tadi terlalu sibuk sampai lupa. Lagi pula Nora nggak alergi semua jenis seafood. Dia cuma pilih-pilih makanan, nggak suka makan saja."

Edmund mendorong kembali kursi yang sudah ditariknya ke bawah meja.

"Nora, Papa ajak kamu makan di luar."

"Hore!" Nora langsung ceria. "Papa tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."

Yvonne berdiri kaku di samping, berusaha menyelamatkan situasi.

"Makan di luar juga bagus."

Wajah Edmund berubah muram.

"Kamu nggak perlu ikut. Sepertinya Nora memang nggak terlalu suka makan bersamamu."

"Edmund, apa kamu menyalahkanku?" Yvonne terisak, air mata mengalir deras.

"Aku sangat, sangat mencintai Nora. Waktu melahirkan dia lewat bayi tabung, aku sudah menderita begitu banyak, Tante juga tahu itu..."

"Kalau sudah melahirkan, maka sudah seharusnya menjadi seorang ibu yang baik."

Ucapan itu menusuk Yvonne hingga wajahnya pucat.

Apa Edmund sudah menyadari bahwa Nora tidak dekat dengannya?

Selama bertahun-tahun ini, apa pun cara yang dia pakai, Nora tetap enggan dekat dengannya, bahkan tak pernah sekalipun memanggilnya "Mama".

Dia pun sudah tidak ingin menguras tenaga untuk berpura-pura menjadi ibu penuh kasih.

Asal Nora bisa mengikat Edmund saja sudah cukup.

Setelah mereka menikah, dia akan punya anak kandungnya sendiri.

...

Edmund membawa Nora ke sebuah restoran masakan Indonesia.

Hidangan favorit Nora adalah ayam kukus saus kecap.

Ia makan dengan lahap. Saat tersenyum, tampak dua gigi taring kecil yang lucu.

Edmund seketika tertegun.

Baik dia maupun Yvonne, waktu kecil tidak memiliki gigi taring.

Keduanya juga tidak alergi seafood.

Entah kenapa, ia kembali teringat pada Claire.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 36

    Itu adalah Profesor Grant.Di satu tangannya ia menggandeng cucu perempuannya, sementara di bahunya tersampir ransel kelinci bertelinga panjang berwarna pink.Melihat putra Edmund memanggil Claire "Mama", ia tampak sangat terkejut.Bertemu kembali dengan Profesor Grant, Claire menundukkan kepalanya,

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 35

    "Tidak," jawab Claire tegas.Sorot mata Luna seketika menggelap, lalu cepat kembali tenang. Ia mengangguk, menyembunyikan senyum penuh makna di sudut matanya."Kalau memang tidak, bagus. Jangan mengusiknya, dan jangan pula sampai kamu diusik olehnya. Suamiku pernah bilang, di hati Tuan Edmund tersim

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 34

    Di telinga Claire seolah meledak suara petir. Dengan takut dan panik, ia menatap Edmund, menggigit bibirnya erat-erat, membiarkan rasa amis darah menyebar di tenggorokannya.Telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin. Jantungnya terasa seperti akan meloncat keluar detik berikutnya, lalu peca

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 33

    Pria itu mengulurkan lengannya yang panjang, merangkul pinggang ramping Claire, telapak tangannya menyusuri lekuk bulat pinggulnya.Seolah-olah dia telah melakukannya ribuan kali sebelumnya, begitu akrab sehingga dia bahkan mengendalikan tekanannya dengan sempurna.Claire bertubuh tinggi semampai, n

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 32

    Edmund melirik wajah Claire yang pucat dengan dingin, lalu dengan tenang mengalihkan pandangan.Fotografer berjalan mendekat, langsung terpesona oleh kecantikan Claire pada pandangan pertama.Postur tubuh, aura, penampilan, di segala aspek yang jauh melebihi ekspektasinya.Ia pun sudah tidak sabar u

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 31

    Claire bersembunyi di belakang pos satpam di gerbang kompleks hingga melihat bayangan hitam yang berjalan tergesa-gesa itu meninggalkan area perumahan. Barulah ia sedikit menghela napas lega.Edmund adalah orang yang sombong. Ia menempatkan identitas dan harga dirinya di atas segalanya.Termasuk per

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status