LOGIN医師・渡辺楓は、静かな幸福を手に入れたはずだった。 だがその裏には、愛と引き換えに失ったものが確かに存在していた。 裏切り、執着、選択の代償――。 それぞれの登場人物が、自分の人生と向き合いながら歩き出す中で、 「幸せ」とは何かが静かに問いかけられていく。 これは、誰かを愛したすべての大人たちへ贈る、 静かで残酷、それでも前に進むための物語。
View MorePrang!
Sebuah gelas melayang menabrak dinding di sebuah ruangan keluarga yang luas, terlihat tubuh tinggi nan dingin berdiri dengan tatapan tajam menatap seorang Wanita cantik yang sedang terbelalak mendapati gelas hampir mengenainya, kalau saja dia tidak menghindar dengan cepat.
“ Sean, kamu apa apaan sih, datang datang ngamuk seperti ini? Kamu berniat melukai aku? jika ada masalah sebaiknya bicara baik baik jangan jadikan aku sebagai pelampiasan” teriak seorang Wanita yang bernama Elvaretta Grane.
Ya, dia adalah istri dari Sean Hill CEO sekaligus pemegang terbesar di Hill Corporation, Sean dan El panggilan Elvaretta sudah resmi menikah selama dua tahun. Namun mereka berdua kenal sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Plak!
Sean melemparkan sebuah amplop tepat di muka El. “ Jelaskan itu padaku” ucap Sean mengintimidasi El yang masih bingung tidak tahu apa apa.
Pasalnya hubungan Sean dan El baik baik saja, bahkan tadi pagi masih baik. Selama ini mereka dijuluki pasangan harmonis sepanjang masa. Banyak anak anak muda yang menjadikan role mode karena kesetiaan mereka. Sean dan El sudah melalui banyak rintangan dalam hubungan. Mereka menjalin hubungan mulai kelas dua sekolah menengah pertama. Bahkan saat kedua orang tua El meninggal dan juga Keluarga Sean pernah bangkrut, mereka tetap harmonis saling support satu sama lain.
Dengan penasaran El langsung mengambil amplop itu dan membukanya namun saat melihat isinya ia terkejut. Pantas saja Sean mengamuk, karena dalam amplop itu berisi foto foto El bersama dengan seorang laki laki dengan sangat intim. Bahkan ada satu foto saat El memeluk pria itu dengan sangat erat.
“ Kamu bersikap begini hanya karena ini” ucap El kemudian ia melemparkan amplop itu kearah meja. El masih terlihat sangat santai.
“ Kamu bilang hanya! Kamu sudah bermain di belakangku bersama dengan pria ini namun kamu bilang 'hanya! Tidakkah kau pikir bagaimana hancurnya aku saat tahu kamu menghianati aku” ucap Sean dengan sengit.
“ Sean, apakah kamu pikir aku serendah itu yang dengan mudahnya bisa memeluk pria lain selain kamu? kamu meragukan cintaku padamu?” ucap El masih dengan tenang, meskipun ia juga ingin marah dengan fitnah keji yang menimpa dirinya.
Kemarahan tidak harus dibalas dengan kemarahan!
“ Jika kamu bukan jalang kenapa kamu bisa bermesra mesaraan dengan laki laki lain, yang bahkan dia tidak ada apa apanya dibandingkan aku. Apa kurangnya aku El, selama ini aku selalu ada untuk kamu ” Sean menatap sinis istrinya, ada rasa kecewa yang ia dia pancarkan.
“ Kamu telah berubah Sean, harusnya kamu menyelidikinya terlebih dahulu sebelum menuduhku seperti ini. Kamu punya banyak anak buah untuk menyelidiki semua ini” ucap El.
“ Seharian penuh aku mengabaikan pekerjaan kantor hanya untuk menyelidiki masalah ini, tapi aku tidak menemukan apapun. Ditambah saksi orang terdekat yang selama ini kamu suruh untuk bungkam” teriak Sean.
Kini El di buat semakin bingung, orang terdekat siapa yang telah membuat berita palsu seperti ini? Apakah ada musuh dalam selimut?
“ Orang terdekat siapa yang kamu maksud? Kamu tahu aku tidak pernah keluar tanpa pengawasan kamu?”
“ Tidak perlu berpura pura, El! semuanya sudah jelas, kamu benar benar Wanita licik, kamu gunakan kepintaran kamu untuk membodohi aku, beruntungnya masih ada orang baik yang memberitahukan semuanya padaku” ucap Sean dengan tajam menatap istrinya.
“ Sean, kamu benar benar sudah kehilangan akal, bahkan kamu tidak bisa melihat siapa yang licik sesungguhnya, aku tidak tahu siapa yang mengatakan omong kosong padamu. Tapi aku akan buktikan jika semua ini hanyalah fitnah” ucap El kini mulai terpancing emosinya. Selama ini ia tidak pernah melihat Sean mengeluarkan kata kata kasar padanya. Dia selalu percaya padanya tapi sekarang El seperti melihat orang lain di tubuh Sean.
“ Kamu memang benar benar selingkuh El, bahkan kamu mengancamku jika aku berani membuka mulutku, tapi aku sekarang sudah tidak mau melakukan itu lagi. Kamu sudah terlalu jahat pada Sean yang jelas jelas mencintai kamu, Sean meratukan kamu tapi apa balasan yang kamu berikan padanya. Kamu menghianati dia” sebuah suara masuk kedalam rumah dan itu langsung membuat El terkejut setengah mati.
El masih terpaku diam membisu melihat orang yang ada di depannya, ia sungguh tidak percaya dengan semua ini.
‘ Tidak mungkin! Ini pasti hanya prank kan? Ya, mereka pasti sedang mengerjaiku kan?’ batin El menolak untuk percaya, apalagi hari ini tepat ulang tahun pernikahannya yang kedua.
“ Kenapa diam? Kamu tidak bisa mengelak lagi kan?” ucap Sean kecut saat melihat raut terkejut di wajah El saat melihat Violeta masuk ke rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya.
“ ini hanya prank kan?” ucap El sambil melihat Vio dan Sean bergantian. Ia hanya berharap ini ide konyol sahabatnya yang memang suka jahil padanya.
“ Apa kamu kira kita kurang kerjaan? Kamu benar benar tidak tahu di untung El, Sean selama ini sudah mengutamakan kamu di bandingkan saya, ibunya” ucap Ambar ibu dari Sean yang sejak tadi diam.
Lagi lagi El dibuat terkejut dengan semua ini, masih sulit untuk percaya, namun saat melihat kebencian yang ada di mata Sean, El sadar jika ini semua bukannya prank.
“ Vio apa salahku sama kamu, kenapa kamu lakukan semua itu padaku. Kamu tahu betul aku tidak pernah selingkuh, apa motifmu mengatakan kebohongan pada Sean” ucap El sambil menatap Vio sang sahabat yang selama ini selalu bersamanya.
“ Aku mengatakan semua yang aku tahu pada Sean, apakah aku salah El? Karena kamu sudah sangat keterlaluan. Dan juga aku lelah selama ini harus menutupi semua kebohongan kamu. Setiap hari aku dikejar rasa bersalah” ucap Vio dengan tenang.
“ Sean, kamu lebih mempercayai dia dibandingkan aku sebagai istri kamu, jika kamu lelah aku mengerti Sean, tapi mari kita bicarakan ini dengan baik baik dan….
“ Apa lagi yang musti dibicarakan baik baik? Semuanya sudah jelas, kamu memang Wanita jalang yang mengoda banyak laki laki diluar sana dengan tubuh kamu ini. Pantas saja kamu tidak hamil hamil itu karena kamu sengaja, Vio sudah mengatakan semua keburukan kamu jadi kamu sudah tidak perlu lagi membela diri” ucap Ambar dengn sengit.
“ Sean kamu laki laki baik, di luar sana masih banyak Wanita baik baik yang mau denganmu. Dari pada kamu berbagi lobang dengan laki laki lain yang kita tidak tahu apakah dia punya penyakit apa tidak.lebih baik kamu bersikap tegas” ucap Vio membuat Sean semakin membenci El.
“ Ha..ha..ha… sekarang aku tahu kenapa kamu mengatakan omong kosong sama suamiku, kamu menyukai Sean, kan?” tebak El pada Vio.
“ Tidak perlu menyalahkan orang lain hanya untuk menutupi kesalahanmu El, lebih baik kamu mengaku saja biar semuanya cepat selesai” ucap Marco ayah Sean ikut berbicara.
Vio tersenyum penuh kemenangan sambil melihat El yang kini semakin terpojok, karena semua orang menyalahkan dia.
“ Bahkan Papa juga percaya jika aku berselingkuh? Kalian semua sudah dibutakan oleh kebohongan yang Vio ucapkan. Jika aku selingkuh harusnya anak buah kamu mengetahuinya, Sean! bukankah selama ini kamu menaruh anak buah kamu untuk menjagaku”
Deg!
“ Jelas jelas kamu menyuruh ku untuk mengecoh anak buah Sean, El” timpal Vio saat melihat Sean mulai terpancing dengan kata kata El.
“ Hampir saja aku terbuai oleh kata kata kamu El, apa yang di katakana oleh Vio ada benarnya. Tidak mungkin kamu selingkuh terang terangan di depan anak buahku” ucap Sean sinis, kemudian ia berjalan mengambil satu amplop yang tadi dia taruh di atas meja.
“ Jalang sepertimu tidak pantas dipertahankan? Aku tidak sudi punya menantu sepertimu, bikin malu kaluarga saja” ucap Ambar sambil mendorong tubuh El hingga terjengkang.
Plek!
“ tanda tangani surat cerai ini” ucap Sean berdiri di depan El dengan arogannya.
真琴は、カフェの窓際の席でノートパソコンを開いていた。 午後の光がガラス越しに差し込み、テーブルの上に淡い影を落としている。 周囲では、同じようにパソコンに向かう人や、静かに会話を楽しむ客たちが、それぞれの時間を過ごしていた。 楓の病院で働き始めて、しばらく経つ。 診療報酬請求事務としての仕事にも慣れ、業務は滞りなく回っていた。 スタッフとの関係も良好で、評価も悪くない。 それでも、真琴の胸の奥には、いつも小さな違和感が残っていた。 理由ははっきりしているようで、はっきりしない。 忙しさのせいでも、環境の変化のせいでもない。 日々は穏やかで、安定しているはずなのに、どこか自分だけが場違いな場所に立っているような感覚が消えなかった。 診察室の前を通るたび、楓と冬真の姿が目に入る。 視線を交わし、短い言葉を交わし、自然に笑い合う二人。 派手な愛情表現はない。 けれど、そこには確かな信頼と温度があった。 ――いいな。 そう思う自分を、真琴は否定しなかった。 羨ましいと思うのは、自然なことだ。 同時に、胸の奥で別の問いが静かに浮かび上がる。 ――じゃあ、自分は? 一緒にいて、心から幸せだと思える相手。 無理をせず、背伸びもせず、ただ隣にいられる誰か。 そんな存在が、自分にも現れるのだろうか。 ふと、年齢のことを考える。 楓も、真琴も、三十歳を迎えた。 数字が変わっただけなのに、世間の見え方が少し違ってくる。 結婚は? 将来は? 一人で大丈夫なの? 誰かに直接聞かれたわけではない。 それでも、空気のように漂う問いが、真琴の周囲を取り囲んでいた。 以前なら、楓に何でも話せた。 不安も、迷いも、弱音も。 でも今は、できない。 幸せそうな楓を前にして、 自分の焦りや違和感を打ち明けることが、どこか躊躇われた。 それは楓への遠慮でもあり、自分自身への言い訳でもあった。 真琴はノートパソコンの画面に視線を落とす。 白い画面が、静かに待っている。「私は、一人で生きていく。楓みたいにはならない。……本当に?」 小さく呟き、カップのコーヒーに手を伸ばす。 苦味が、舌に残った。 答えは、まだ出ない。 けれど、問いを抱えたままで
楓は手術を終え、手術室を出た。 手袋を外し、軽く指を動かす。長時間集中していた身体に、ようやく現実の感覚が戻ってくる。 廊下を歩き、窓際で立ち止まった。 ガラス越しに見える空は、淡い青だった。 雲がゆっくりと流れ、遠くで街が静かに息づいている。 命と向き合う時間を終えた直後に見る景色は、いつも少し違って見えた。 ふと気づくと、冬真が横に立っていた。 声をかけるでもなく、ただ同じ方向を見ている。 楓は何も言わなかった。 冬真も何も言わない。 それでいいと思えた。 言葉にしなくても、同じ時間を共有できること。 それが、今の二人の関係だった。 一方で、真琴は密かに、新しい街へ引っ越す準備をしていた。 誰にも大きくは話していない。 段ボールに少しずつ荷物を詰めながら、生活を整理していく。 逃げるためではない。 何かを始めるためでもない。 ただ、今の場所から一歩離れてみたかった。 自分の違和感が、環境のせいなのか、心の問題なのか。 それを確かめるための、静かな選択だった。 亮は、一人の生活に慣れ始めていた。 孤独に慣れるというよりも、 孤独を受け入れることに、ようやく抵抗しなくなった。 誰かと食卓を囲むことはないが、 一人で過ごす夜にも、過度な寂しさは感じなくなっている。 それが前進なのか、停滞なのか、亮自身にも分からない。 それでも、時間は確実に流れていた。 慎一は、過去を振り返らなくなった。 思い出が消えたわけではない。 ただ、立ち止まって確認する必要がなくなっただけだ。 選んだ道を歩き続けること。 それが、彼なりの責任の取り方だった。 幸福の形は、人それぞれだ。 誰かと寄り添うこと。 一人で立つこと。 迷いながら進むこと。 すべてが、同じ価値を持っている。 桜と後藤は、同じ家で朝を迎えるようになった。 キッチンに並ぶマグカップ。 新聞を広げる音。 何気ない朝の光景が、二人の間に静かに根を下ろしていく。 楓は、その背中を遠くから見て、少し驚いた。 そして、安心した。 人生の先輩たちが、穏やかに並んで歩いている姿は、 これからの自分にとって、ひとつの答えのように思えた。 人生は、失敗しても終わらない。 むしろ、そこから始
後藤教授は、長い間、感情を研究の棚にしまい込んできた。 必要のないものとして、あるいは、邪魔になるものとして。 研究者としての人生は順調だった。 論文は評価され、学会では名前を知られ、後進からも一目置かれる存在になった。 成功も名声もある。 それでも、それらが彼の心を満たすことはなかった。 夕暮れ時の研究室。 窓の外がゆっくりと橙色に染まっていく時間になると、決まって胸に隙間風が吹いた。 誰かと語り合う声もなく、コーヒーの湯気だけが静かに立ち上る。 そんなとき、思い浮かぶのは渡辺桜だった。 理知的で、厳しく、それでいて優しい女性。 感情に流されることなく、しかし冷たくもない。 議論の中で見せる鋭さと、ふとした瞬間に滲む思いやり。その両方を、後藤は知っていた。 彼女の存在を意識し始めたのが、いつからなのかは分からない。 だが、研究の合間にふと桜の声を思い出し、彼女ならこの問題をどう考えるだろうか、と考えている自分に気づいたとき、後藤は静かに驚いた。 ――私は、孤独だったのだ。 そう認めるまでに、時間がかかった。 だが認めてしまえば、心は不思議なほど軽くなった。 彼は初めて、誰かと人生を分かち合いたいと思った。 一方で、桜は自分の感情に慎重だった。 弁護士として、母として、常に理性を優先してきた人生。 感情に身を委ねることは、どこか危ういものだと知っている。 後藤教授と並んで歩く帰り道。 街灯に照らされた歩道を、肩を並べて歩く時間は、特別だった。 沈黙が、心地よい。 無理に言葉を探さなくてもいい。 仕事の話をしなくてもいい。 ただ、同じ速度で歩いているだけで、満たされていく感覚があった。 信号待ちのとき、後藤はさりげなく桜の歩調に合わせる。 人混みでは、自然と彼女の進む側に立ち、道を譲る。 大げさではない。 だが、確かに「気遣い」がそこにあった。 桜はそのことに気づいていた。 そして、気づいている自分自身に、少し戸惑っていた。「私たち、遅すぎるかしら」 足を止め、そう問う。 冗談めかしているようで、実はずっと胸にあった言葉だった。 後藤は立ち止まり、ゆっくりと桜の方を向いた。 しばらく彼女の目を見つめ、それから首を振る。「ちょうどいい」 その言葉
慎一は、いつもの日常を送っていた。 朝は決まった時間に起き、簡単な朝食を済ませ、仕事へ向かう。 特別な出来事はないが、滞りもない。 周囲から見れば、何も変わっていないように映るだろう。 過去を断ち切るように、慎一は仕事に没頭していた。 余計なことを考えないためでもあり、自分を保つためでもある。 集中している時間だけが、頭を空にしてくれた。 楓のことは、忘れようとしていた。 意識的に思い出さないようにするのではなく、 「思い出してはいけない」と自分に言い聞かせることを、やめようとしていた。 忘れる、という言葉が正しいのかは分からない。 ただ、過去に縛られ続けるのとは違う。 それだけは、はっきりしていた。 日が暮れ、仕事を終えた慎一は、馴染みのバーに立ち寄る。 特別な理由はない。 ただ、家に直帰するには、少しだけ気持ちがざわついていた。 カウンターに腰を下ろし、グラスを受け取る。 氷が触れ合う音が、やけに大きく響いた。 一口、喉に流し込む。 アルコールの刺激が、張りつめていた感情をわずかに緩める。 そのとき、不意に楓の顔が浮かんだ。 笑ったときの目元。 真剣な表情。 黙って考え込む癖。 忘れようとしているはずなのに、何かの拍子に、こうして思い出してしまう。「もう忘れよう」 誰に聞かせるでもなく、慎一は小さく呟いた。 その言葉に、強さはなかった。 ただ、自分に言い聞かせるための、静かな決意だった。 グラスを傾け、残っていた酒を一気に飲み干す。 喉を通る感覚とともに、感情も一度、胸の奥へ沈める。 後悔がないと言えば、嘘になる。 違う選択肢があったのではないか、と考える夜もある。 だが、戻ることはできない。 慎一は、自分が選んだ道を知っている。あの日、自分が守れなかったものがあったことも。 それらすべてを含めて、自分の人生なのだと、今は思える。 グラスを置き、慎一は席を立った。 外に出ると、夜風が頬を撫でる。 彼もまた、自分の選択の責任を生きている。 それは、誇れる生き方ではないかもしれない。 だが、投げ出してはいない。 慎一はポケットに手を入れ、静かな夜の街を歩き出した。 足取りは、決して軽くはない。 それでも、確かに前へと向いていた。