Malam itu, Saka tidur lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya lelah, kepalanya pusing. Dan entah kenapa, dadanya terasa berat sejak siang. Dalam lelap tidurnya, ia berjalan entah di mana. Tempat itu abu-abu, tenang, nyaris seperti dunia kosong. Namun di kejauhan, ia melihat seseorang. Dirinya sendiri. Saka mendekat pelan. Ia melihat versi dirinya sedang duduk di sofa, dengan Arum duduk di sampingnya, menyodorkan segelas air sambil berusaha memberikan ketenangan. Itu... momen nyata. Malam ketika ia pulang dengan kepala penuh hinaan Clara. Malam ketika tubuhnya, hatinya, diremukkan oleh kata-kata yang menusuk, ketika Clara menyebutnya mandul, gagal, bukan laki-laki seutuhnya. Ia ingat. Ia hanya duduk diam malam itu, menerima kehangatan yang Arum berikan. Perempuan itu juga tak bertanya banyak, hanya menemaninya, memberinya ruang. Dan akhirnya, ia menuntun Arum untuk rebah di sofa. Kepalanya bersandar nyaman di dada Arum, seperti anak kecil yang mencari kehangatan. Ia membiarkan diriny
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya