"Begitukah menurutmu, Kek?" Darah Prabu tersenyum, segera memandang Baraka dan bertanya, "Apakah kau datang bersama kakekmu ini, Kang?""Aku bukan kakeknya Baraka!" potong Tua Bangka."Aku... aku adalah penasihatnya Pendekar Kera Sakti. Ya, penasihat pribadi!"Baraka melirik dengan sedikit bersungut-sungut. Tua Bangka tak enak hati, sehingga berkata kepada Darah Prabu, "Maksudnya, penasihat yang jarang sehat. He, he, he...!"Tiba-tiba gadis cantik itu berkerut dahi dan berkata pelan, “Tua Bangka, aku sepertinya pernah melihatmu sebelum ini.""O, ya! Di mana kau melihatku, Anak manis?""Entah. Aku lupa. Tapi aku merasa pernah melihatmu. Mungkin... mungkin dalam mimpi.""Memang dari muda aku sering menjadi impian para gadis," kata Tua Bangka dengan nada sombong, membuat Baraka mencibir geli."Apakah kau kenal dengan Papan Rayap tadi, Darah Prabu!" tanya Baraka mengalihkan pembicaraan.“Tidak. Aku tidak kenal de
อ่านเพิ่มเติม