Rael menurunkan pusat gravitasinya, kedua kakinya menapak kuat di ruang yang terus retak itu seolah pijakannya masih nyata. Di depannya, sosok yang kini semakin mirip dirinya berdiri dengan tenang, namun tekanan yang dipancarkan membuat celah-celah cahaya di sekeliling bergetar liar. Tidak ada lagi kesan fragmen atau bayangan. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah kemungkinan lain dari dirinya sendiri—versi yang tumbuh dari amarah, kehendak mutlak, dan semua hal yang dulu ia tinggalkan.“Lihat baik-baik,” ucap sosok itu pelan. “Inilah dirimu tanpa rantai.” Suaranya tidak meninggi, namun setiap kata terasa menekan ruang. “Tanpa ragu. Tanpa beban. Tanpa kelemahan yang kau pelihara atas nama belas kasihan.”Rael tidak terpancing. Ia hanya menatap lurus, lalu menjawab tenang, “Kalau itu benar… kenapa kau masih ingin menjadi aku?” Pertanyaan itu membuat lawannya terdiam sepersekian detik. Cukup singkat untuk luput bagi siapa pun—namun tidak bagi Rael.Dalam momen itu, Rael bergerak le
Leer más