Malam turun tanpa upacara. Wilin tidak punya waktu untuk merayakan selamat; mereka bekerja. Obor dipasang di setiap sudut, penjaga ditempatkan di titik-titik tinggi, dan warga yang masih sanggup mengangkat alat langsung memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Tidak ada sihir, tidak ada mantra—hanya kayu, batu, tali, dan tangan yang bergerak cepat.Rael terbaring di dalam rumah batu milik tetua desa. Bukan karena ia ingin istirahat, tapi karena tubuhnya memaksa. Napasnya masih berat, dan lengan kanannya dibalut kain tebal yang mulai menghitam oleh darah yang merembes. Tidak ada cahaya lagi di sana—hanya retakan kulit yang kini terlihat seperti luka bakar dalam.Serath berdiri di dekat pintu, mengamati tanpa menyentuh. Lina duduk di sisi tempat tidur, memegang mangkuk air dan kain, meski caranya jelas lebih cocok untuk bertarung daripada merawat orang.“Kalau kau mati, aku akan marah,” kata Lina datar.Rael membuka satu mata. “Ancaman yang menakutkan.”Serath tidak ikut bercanda. “Kita ti
Read more