Sambil berbicara, keduanya keluar dari halaman kecil. Mereka mengira Thariq sudah lama pergi, tetapi ternyata dia justru menunggu di depan pintu.Jelas, dia sedang menunggu Arlo."Pak Arlo, aku ada beberapa patah kata yang entah pantas diucapkan atau nggak," kata Thariq. Keangkuhan di matanya sudah banyak mereda, tetapi wibawa sebagai tetua Komite Bela Diri tetap belum bisa dia lepaskan."Kalau nggak tahu pantas atau tidak, berarti memang nggak pantas!" Arlo mengangkat kelopak matanya sedikit, nadanya sarat akan ketidaksabaran.Thariq melemparkan pandangan pada Omran.Omran paham bahwa pembicaraan selanjutnya tidak pantas dia dengar. Setelah memberi isyarat dengan mata pada Arlo, dia pun menyingkir ke samping.Barulah Thariq melanjutkan, "Orang biasa nggak bersalah, tapi membawa giok bisa mendatangkan petaka. Pak Arlo memang sudah mencapai tenaga transformasi, tapi baru semi-grandmaster.""Seorang semi-grandmaster jarang punya lawan, tapi bukan berarti nggak ada! Apalagi kamu membawa a
Mehr lesen