Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir ketika mobil Abas berhenti di depan sebuah vila mewah yang dikelilingi pepohonan pinus dan hawa dingin khas dataran tinggi. Udara Bandung yang sejuk langsung menyergap begitu pintu mobil terbuka. Abas segera keluar dan bergegas ke sisi lain untuk membantu Jena. Begitu pintu dibuka, Jena mengerjapkan mata, masih sedikit lemas. Abas menyodorkan tangannya, menopang pinggang Jena pelan. “Pelan-pelan ya, sayang,” ucapnya lembut. Jena mengangguk dan mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. Di depan vila, Ibas dan Siska sudah berdiri menunggu. Ibas melambaikan tangan begitu melihat mereka. “Mas Abas! Jena!” seru Ibas. Siska ikut melangkah mendekat dengan senyum lebar. “Halo, Jen. Kamu kelihatan capek banget, sayang. Perjalanan panjang ya?” Jena tersenyum tipis. “Iya… agak pusing sedikit aja kok.” Abas langsung menatap Ibas dengan wajah serius, seperti memberi kode agar mereka tidak banyak mengajak Jena bicara dulu. “Mas Abas, sini, a
Read more