Beranda / Mafia / Menikahi Gadis Malam / Bukan Anak Kandung

Share

Bukan Anak Kandung

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2026-08-15 23:51:46
Asap tipis dari cangkir espresso hitam milik Rizan membubung pelan di ruang kerja utama mansion Atmajaya. Ruangan bernuansa kayu mahoni gelap dan kaca tebal itu terasa dingin, sepadan dengan aura pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya.

​Rizan menatap dokumen di tangan dengan sorot mata sehitam jelaga. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas, hanya ada ketenangan yang justru sangat berbahaya.

​Di depannya, Anton berdiri tegap dengan sikap sempurna. Sementara Alin duduk di kursi kul
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikahi Gadis Malam   Rencana

    Di ruangan lounge VIP itu, Faruq menyesap cerutunya dalam-dalam, menghembuskan asap tebal yang membumbung ke langit-langit. Sorot matanya yang dingin menatap Pak Rustam dari atas ke bawah.​"Pak Rustam," panggil Faruq dengan suara berat berwibawa. "Bapak tidak perlu khawatir. Setelah acara lusa selesai dan Rizan jatuh, saya sendiri yang akan memastikan hidup Bapak di kampung dijamin penuh kemewahan. Tidak akan ada lagi yang berani meremehkan Bapak."​Pak Rustam menggenggam erat seikat uang di tangannya, matanya berbinar serakah. "Terima kasih, Pak Faruq! Bapak tenang saja, saya bakal ngomong sesuai skenario. Anak kurang ajar seperti Alin memang harus diberi pelajaran!"​"Ingat," sela Valerian dengan nada tajam dan dingin. "Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Tatap kamera wartawan, pasang wajah paling teraniaya. Buat semua orang percaya kalau Rizan adalah pria arogan yang membeli anakmu dan memanfaatkan kepolosannya untuk kejahatan bisnis."​"Siap, Bu! Serahkan sama saya!" jawab P

  • Menikahi Gadis Malam   persiapan ulang tahun

    Tiga hari menjelang malam puncak Hari Ulang Tahun PT Maple Syrup Atmajaya, kesibukan di mansion Rizan makin terasa. Beberapa perancang busana ternama dan penata gaya profesional sudah memenuhi ruang tengah sejak pagi, membawakan belasan gaun malam kelas atas atas perintah langsung dari Rizan.​Alin berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam berwarna biru navy berbahan sutra halus dengan potongan busana yang sangat anggun. Bintang-bintang kristal kecil menghiasi bagian dada dan lengannya, membuat Alin terlihat bak putri kerajaan.​"Luar biasa, Ibu Alin..." puji sang desainer wanita sambil merapikan bagian bawah gaun. "Gaun ini sangat cocok dengan warna kulit Ibu. Pak Rizan benar-benar tidak salah memilih warna."​Alin menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memegang dadanya yang berdesir pelan. Dulu, ia bahkan tidak pernah bermimpi bisa menyentuh kain semewah ini.​Klak.​Pintu ruang tengah terbuka. Rizan melangkah masuk dengan kemeja kasual yang rapi. Pria itu menghentikan la

  • Menikahi Gadis Malam   Makan siang dan Rencana

    Restoran privat bernuansa fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu begitu tenang. Alunan piano klasik membelah keheningan di ruangan khusus yang sengaja dipesan Rizan. Di atas meja, hidangan steak wagyu hangat sudah tersaji rapi.​Rizan duduk tegap di seberang Alin. Pria itu sudah melepaskan jas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku. Jemari panjangnya terlihat mahir memotong daging di piringnya sendiri.​Alin memperhatikan gerakan suaminya itu. "Mas Rizan masih kesal ya, gara-gara aku panggil 'suamiku' tadi di lorong?"​Rizan tidak langsung menjawab. Ia menukar piring steak miliknya yang sudah dipotong rapi menjadi dadu-dadu kecil dengan piring milik Alin yang belum tersentuh.​"Makan," ucap Rizan datar, mengabaikan pertanyaan Alin sambil meraih piring yang belum dipotong. "Jangan banyak bicara kalau sedang di depan makanan."​Alin tertegun menatap piring di hadapannya. Daging steak itu sudah terpotong sangat rapi, memudahkan

  • Menikahi Gadis Malam   Asset dan Liabilities

    Di ruang kerja CEO yang hening, Alin duduk bersila di atas sofa kulit. Jemari lentiknya sibuk membalik-balik berkas ringkasan akuntansi yang dibawakan Anton. Keningnya berkerut fokus, bibirnya sesekali bergumam kecil menghafal istilah-istilah laporan keuangan. ​Rizan duduk di balik meja kerjanya. Matanya berpura-pura menatap layar laptop, tetapi konsentrasinya buyar total. Tatapan pria itu berulang kali mencuri pandang ke arah sofa. ​Dalam hatinya, Rizan masih tidak menyangka. Gadis delapan belas tahun yang awalnya ia duga hanya akan menjadi beban di tengah intrik Atmajaya, ternyata memiliki otak yang sangat encer. Binar matanya yang jujur dan keberaniannya saat membungkam Felix tadi terus berputar di pikiran Rizan. Ada rasa bangga yang aneh, yang makin sulit Rizan sangkal. ​Rizan menekan tombol intercom di mejanya, memanggil sekretaris kepercayaannya. Tak sampai satu menit, pintu diketuk pelan dan Anton melangkah masuk. ​"Anton," panggil Rizan setengah berbisik saat Anton suda

  • Menikahi Gadis Malam   Bakat yang tersembunyi

    Ruangan mendadak hening.​Senyum meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Felix mendadak luntur. Pupil matanya membesar, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka gadis delapan belas tahun yang dikira "orang desa tidak mengerti apa-apa" ini bisa menemukan selisih angka sekecil itu hanya dalam sekali pandang.​"A-apa?" Felix tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Ibu Alin pasti salah lihat. Itu cuma penyesuaian kurs mata uang asing antara euro dan rupiah—"​"Kurs mata uang asing?" potong Alin tenang, namun suaranya tegas. Ia menggeser lembaran verifikasi bank ke depan Felix. "Di sini jelas tertulis transaksinya dalam mata uang dolar Amerika, Pak Felix. Selisihnya hampir dua miliar rupiah. Apakah penyesuaian regulasi di Jerman sebiaya itu?"​Felix membisu. Peluh dingin mulai terbit di pelipisnya.​Rizan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kini menegakkan tubuh. Sorot mata hitamnya menajam, memancarkan aura dingin beracun yang sanggup

  • Menikahi Gadis Malam   Hari Pertama di Kantor Atmajaya

    Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin yang senyap, Rizan duduk tegap sambil membaca laporan di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang makin mempertegas auranya sebagai pemimpin tertinggi PT Maple Syrup Atmajaya.​Di sampingnya, Alin duduk dengan gaun formal berwarna krem pastel yang sederhana namun anggun. Ia sesekali melirik profil samping wajah Rizan. Pria itu tampak sangat fokus, seolah kejadian semalam di depan kamar tidak pernah terjadi.​"Masih mau menatap saya seperti itu?" suara Rizan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.​Alin tersenyum tipis, tidak merasa tertangkap basah. "Muka Mas Rizan hari ini datar sekali. Masih kepikiran omongan aku semalam ya?"​Rizan akhirnya mematikan layar tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap Alin dengan mata hitamnya yang tajam.​"Alin, kita sedang menuju kantor," ucap Rizan dengan nada rendah dan penuh penekanan. "Simpan godaan konyolmu itu untuk di rum

  • Menikahi Gadis Malam   Makan malam pertama

    Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene

  • Menikahi Gadis Malam   Istana Atmajaya

    "Di jidatmu!!! Ya jelas lah di situ! Kamu sekolah kan? Bisa baca kan? Di situ sudah jelas, letak dimana kamu tanda tangan!" ucap Rizan lagi.Alin segera mengusap air matanya dengan kasar, lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu."Bagus. Kalau gitu kita akan menikah besok!""Hah? Be

  • Menikahi Gadis Malam   Kilas Balik Alin

    "Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi."Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tan

  • Menikahi Gadis Malam   Pertemuan Malam itu

    "A a ampun Tuan... Jangan, jangan sentuh Alin, Alin mohon..." Wanita berpakaian mini berwarna purple itu berjalan mundur seirama dengan pria berbadan kekar yang melangkah di depannya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu sama sekali tidak menggubris Alin yang tampak ketakutan. Ia terus mendekat, ba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status