로그인"Memangnya Lili secantik apa?" tanya Aya lagi.
Wanita itu kemudian menarik lengan Ibra, membawanya ke taman belakang yang cukup luas di mana ada beberapa jenis tanaman bunga yang indah, juga ada lapangan rumput kecil yang hijau.Langkah kaki Ibra dan Aya terhenti di ambang pintu kaca yang membatasi ruang keluarga dengan taman belakang. Teriknya sinar matahari menjelang siang yang begitu cerah menyapu permukaan rumput, menciptakan panggung alami bagi pemandangan yang tak pernah merekaAya mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar. Meski hatinya hancur membayangkan Putra yang ketakutan di tempat lain, naluri tajamnya sebagai sekretaris pribadi Ibra yang kompeten tidak bisa mati. Ia menatap layar monitor dengan mata menyipit, memperhatikan dengan saksama sosok pria yang tampak sibuk di sudut ruangan tim IT. Tampak mencuri-curi waktu pada benda lain selain layar komputer di depannya."Sinta, coba perhatikan orang yang duduk di pojok kiri itu."Sinta langsung mendekat dan ikut mengamatinya. Menyaksikan gerakan halus saat mencuri-curi kesempatan pada sebuah ponsel yang disembunyikan dan bahkan hampir tidak tertangkap oleh kamera."Siapa namanya?" tanya Aya dengan tegas.Sinta mendekat, memeriksa daftar anggota yang bertugas. "Itu Timo, Bu. Dia salah satu analis sistem senior yang direkomendasikan untuk masuk tim khusus pelacakan ini," jawabnya."Timo...." Aya mengucap nama itu dengan rasa pahit. "Perhatikan tangannya sekali lagi. Setiap kali Samuel memberikan instr
Di dalam mobil, Ibra mengepalkan kedua tangannya. Di depan, Santo menyetir dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Sementara Samuel duduk di sebelahnya, terus memantau di mana lokasi anak sang Presdir berada."Sam, di mana Putra sekarang?" tanya Ibra dengan tatapan tajam dan rahang mengeras."Mobil si penculik sudah berhenti, Pak. Dia... ada di salah satu daerah di pinggir kota, tepatnya di pinggir pantai selatan," jawab Samuel, menunjukkan titik koordinat mobil yang telah berhasil dilacak dari tabletnya.Ibra mendnegus pelan. Tangannya memukul kaca mobil dengan cukup kuat hingga memerah dalam sekali pukulan."Bajingan! Beraninya dia membawa anakku!" geramnya.Samuel hanya bisa diam. Ia tahu sang Presdir pasti sangat mengkhawatirkan anaknya."Pak Santo," panggil Ibra kemudian. "Ya, Tuan?""Berapa lama lagi kita sampai?""Sekitar... Dua puluh menit lagi, Tuan," jawab Santo.Ibra terdiam. Ia sudah kehabisan kata-kata. Dalam pikirannya hanya
Aya menggengam tangan Ibra yang membelai pipinya dengan kedua tangan. Wanita itu merasa takut melepaskan suaminya pergi. Akan tetapi, ia juga sangat mengkhawatirkan anak pertamanya yang pergi bersama mantan kekasih suaminya."Mas...." panggilnya lagi. Ada keraguan di kedua matanya yang kembali berkaca-kaca.Ibra menatap kedua mata itu dengan hati yang nyeri. Ia tak mau melihat kesedihan di mata istrinya."Tolong... bagaimana pun juga... meski Beatrice adalah mantan cinta pertamamu, aku mohon utamakan keselamatan anak kita...." pintanya.Kedua mata Ibra membulat sejenak. Lalu pria itu memejamkan kedua matanya dan menghela napas yang cukup panjang."Aya," panggilnya lembut. Kedua matanya kembali menatap lekat-lekat mata istrinya. "Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Kamu jangan khawatir, aku pasti menyelamatkan Putra. Percayalah...."Ucapan Ibra terdengar tegas dan penuh tekad. Aya sendiri kini melihat ada kobaran api amarah di kedua mata suaminya. Sejenak tadi, ia masih
Aya mengangguk. "Ya, Mas."Ibra menarik napas panjang, mencoba mengendalikan rasa mualnya. Tak lama, Samuel kembali ke ruangan tersebut dengan satu orang bawahan yang ia percaya. Mereka pun mulai melacak keberadaan mobil yang membawa Putra."Gunakan akses satelit kita. Lacak semua kamera CCTV di sekitar sekolah Putra dalam radius lima kilometer. Cari mobil yang mencurigakan," perintah Samuel tegas.Ibra menatap Samuel. "Sam... bawa Putra kembali dalam keadaan baik-baik saja. Siapa pun yang menyentuhnya... pastikan mereka menyesal telah lahir ke dunia ini," geram pria itu. Amarah kembali muncul di kedua matanya."Dimengerti, Pak. Saya akan segera berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Saya sendiri yang akan memimpin pengejaran ini," jawab Samuel tanpa ragu. Ia membungkuk hormat.*Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Putra masih menggenggam erat pensil warna biru tuanya. Ia terus memperhatikan jalanan, menyadari bahwa arah mobil
"Bu Aya? Bu?"Tubuh Aya bergetar hebat. Panggilan Sinta yang berulang kali terdengar di telinganya seolah datang dari lorong yang sangat jauh. Napasnya memburu, terasa sesak seakan pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang."Bu Sinta...." Suara Aya tercekat, nyaris berupa bisikan yang bergetar. "Barusan... barusan Bu Tika, kepala sekolah Putra, kirim pesan. Dia bilang Putra sudah dijemput sama asisten saya yang namanya Sinta."Sinta seketika mengerutkan kening. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyata. "Maksud Ibu? Saya dari tadi di sini, Bu. Mendampingi Anda memeriksa berkas. Saya sama sekali tidak ke sekolah Putra, apalagi menjemputnya. Dan soal menjemput itu biasanya diurus Pak Samuel."Aya menggeleng lemah, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Astaga...."Sinta terdiam. Wanita itu melihat kebaikan di wajah atasannya itu."Ya Tuhan... Orang itu mengaku sebagai kamu, Sinta. Dan Putra belum pernah ketemu langsung sama kamu. Dia ikut begitu sa
"Tunggu dulu," ucap Putra tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya.Bocah itu menatap wajah wanita cantik di depannya. Ada sedikit kecurigaan saat kedua alisnya saling bertaut. 'Aku kaya pernah lihat Tante ini, deh. Tapi di mana, ya? Dan Tante ini kaya aneh. Biasanya juga Om Samuel yang jemput. Apa jangan-jangan ada masalah serius di kantor...?' gumam bocah itu dalam hati."Kenapa?" tanya Beatrice heran.Putra menarik tangan kanannya kembali. "Sebaiknya Tante bilang ke Ayah aja, deh. Putra pulangnya nanti aja pas jam pulang...." jawabnya.Tampak Beatrice mengeraskan rahangnya sekilas sebelum kembali memasang senyuman ramah. "Tapi Ayah kamu nyuruh Tante buat jemput sekarang," sahutnya mencoba membujuk.Putra diam sejenak. Pikirannya mulai khawatir. Karena bagaimana pun juga, meski masih kecil, Putra merasa penjemputan dadakan ini aneh."Nanti aja deh, Tante Sinta. Soalnya hari ini ada kegiatan gambar. Putra seneng banget gambar. Tolong kasih tahu ayah, ya
Aya mendengus pelan mendengar hinaan tersebut. "Tenang saja, Tu-an. Aku mungkin tidak punya uang sebanyak dirimu, tapi aku tahu cara memanusiakan manusia," sindirnya sengaja.Ibra hanya membalas dengan tatapan tajam sebelum mereka bertiga diarahkan oleh pelayan menuju ruang VIP yang telah dip
Aya tertegun. Lidahnya mendadak kelu, seolah terkunci oleh ribuan beban yang menghimpit dadanya. Pertanyaan Gina bukan sekadar basa-basi. Itu adalah bentuk kepedulian seorang sahabat tentang kebahagiaannya."A-aku... aku hanya ingin yang terbaik untuk Putra, Gina," bisik Aya, suaranya bergetar.Ia
'Sial... Kenapa aku begini?' gumam Ibra dalam hati ketika pintu kamar Putra baru saja tertutup rapat.Langkah Ibra yang tegak kembali terdengar pelan. Pria itu kembali naik ke lantai dua di mana kamar utama berada. Ada perasaan mengganjal yang entah mengapa mengganggu.Saat melihat Aya menangis den
Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w







