Perutnya sudah sangat besar, menonjolkan kehidupan yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Ada denyut perih di dada Davin saat menyadari betapa ia telah kehilangannya. "Silakan duduk, Pak Davin, Bu Selina," suara Dewa memecah keheningan dengan suara baritonnya yang stabil. Ia mempersilakan dengan gestur tangan yang sopan tapi tegas. Untuk menghentikan perhatian tak pantas Davin pada Nadia.Davin segera menarik kursi dan duduk. Selina duduk dengan kaku, matanya tak lepas dari sosok Nadia yang sedang hamil. Cemburu menggelegak dalam dada. Dia ingin segera hamil, tapi Nadia yang lebih dulu merasakannya.Kemudian ia memandang sang adik. Baginya kehadiran Arda di pihak Nadia adalah pengkhianatan telak. Tanpa ia tahu, Arda sudah bersama mereka. Ia tidak tahu kapan Arda menjalin hubungan baik dengan kakaknya yang seayah."Maaf, kalau kami terlambat," ujar Davin kaku."Tidak mengapa, Pak Davin. Kami juga baru sampai," jawab Dewa ramah.Tadi Davin hendak berangkat sendiri dan memang sengaja t
Last Updated : 2026-02-05 Read more