Suara rekaman itu sudah mati, tapi dengingnya masih terasa di telingaku.Ponsel Arjuna tergeletak di atas meja marmer, layar gelapnya memantulkan cahaya lampu gantung yang redup. Arjuna berdiri di depan konter dapur, tangannya memegang teko listrik yang baru saja berhenti mendidih. Dia tidak segera menuangkan air. Dia hanya berdiri di sana, membelakangiku, dengan punggung yang tampak seperti garis lurus yang tegang."Tuangkan tehnya, Juna," kataku datar. Suaraku tidak bergetar. Ketakutanku sudah habis di Bab 470. Sekarang yang tersisa hanya rasa mual yang dingin.Arjuna berbalik. Dia menuangkan air panas ke dalam dua cangkir porselen. Uapnya naik, menutupi wajahnya sejenak. Dia membawanya ke meja dan duduk di hadapanku."Ibu ada di mobil itu," bisik Arjuna. Suaranya pecah, seperti kaca yang diinjak. "Dia yang menyuruh Bapak lari. Dia yang mengorbankan Rio Wijaya demi aku.""Dia melakukannya demi kamu, Juna," balasku, menatap langsung ke matanya. "Agar kamu punya ayah yang 'bersih'. Ag
Terakhir Diperbarui : 2026-07-13 Baca selengkapnya