Keesokan paginya, aura dingin dan mematikan memenuhi ruang kerja pribadi Sang Kaisar. Pintu kayu mahoni berukir naga itu tertutup rapat, dijaga ketat oleh barisan Ksatria Bayangan elit di luarnya agar tidak ada satu pun percakapan yang bocor. Di dalam ruangan, Sienna duduk berdampingan dengan Lucian di depan meja kerja yang lebar. Tepat di seberang mereka, berdiri Damien, ajudan pribadi Lucian. "Raja Alexander saat ini memiliki kekebalan diplomatik yang absolut selama berada di dalam tembok istana kita," ucap Lucian dengan suara bariton yang berat dan sangat berbahaya. Matanya menyipit tajam menatap sebuah bidak catur yang melambangkan delegasi selatan di atas peta. "Kita tidak bisa memenggal kepalanya begitu saja tanpa memicu perang benua secara terbuka, yang hanya akan memakan korban dari pihak rakyat kita sendiri. Tapi, kita bisa melumpuhkan tangan kanannya dan memaksanya memperlihatkan wajah aslinya kepada publik."Sienna mengangguk perlahan, meremas gaunnya. Pikirannya kembal
더 보기