“Sagara, cukup!” protes Aruna, suaranya campur antara marah dan malu. Pipinya sudah panas sekali, pasti merah membara. “Aku serius, ada kecoa! Cepat bantuin!”“Tapi kamu yang datang ke sini tanpa mengetuk pintu,” kata Sagara santai, seolah sedang membahas cuaca.Pira itu mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya menyentuh dagu Aruna, memaksa wajah perempuan itu menghadap ke arahnya. “Dan matamu tadi, menatap lama pada bagian bawah.”Aruna menepis tangan itu cepat. “Itu nggak sengaja! Kamu yang tiba-tiba keluar!”Sagara mengangkat alis, pura-pura polos, “tiba-tiba keluar? Ini rumah saya, Aruna. Saya bisa melakukan apa pun.”“Kamu kayak orang gila, Sa! keluar kamar mandi pakai gituan doang,” balas Aruna cepat, tapi suaranya melemah di akhir karena Sagara sudah tertawa lagi.Tanpa memberi Aruna kesempatan bernapas lega, Sagara tiba-tiba meraih pergelangan tangan Aruna yang masih menggantung di udara dengan gerakan cepat.“Sa, apa-” Aruna mencoba menarik tangannya kembali, tapi tenaga Saga
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-26 อ่านเพิ่มเติม