Pak Wiryo akhirnya melangkah mendekat, senyum ramah masih terukir di wajahnya, seolah tidak menyadari ketegangan yang sempat terjadi barusan. Tangannya menepuk pelan tiang kayu pendopo, lalu ia memandang satu per satu wajah para mahasiswa KKN.“Wis, wis,” ucapnya lembut namun tegas.“Ayo, podo delok-delok ndisik. Neng arah etan sek. Wingingi kan sampean durung sempat delok kabeh. Monggo, di delok, di pelajari alon-alon.”Nada suaranya tenang, seolah ajakan biasa. Namun entah mengapa, kata arah etan membuat Aruna kembali merasakan dingin di tengkuknyabIa menelan ludah Pak Wiryo berjalan lebih dulu, mengajak mereka menyusuri sisi timur sanggar. Di sana, terdapat ruangan-ruangan kecil yang dipisahkan sekat kayu. Beberapa di antaranya terbuka, menampilkan kostum-kostum tari yang digantung rapi: kebaya berbagai warna, jarik bermotif halus, selendang panjang yang terlihat lusuh namun terawat.“Wah,” gumam Bagas pelan. “Ini kebaya asli semua ya, Pak?”“Nggih,” jawab Pak Wiryo sambil tersenyu
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-04 อ่านเพิ่มเติม