Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 94. Rasa yang Tertahan

Share

Bab 94. Rasa yang Tertahan

Author: juskelapa
last update Last Updated: 2026-02-06 23:57:43

Bagi sebagian orang, ritme hubungan mereka mungkin akan terlihat terlalu cepat. Terlalu berani. Terlalu tergesa-gesa. Seolah semua terjadi tanpa jeda.

Namun bagi Satria, justru sebaliknya.

Baginya, mereka sudah berjalan sangat jauh … hanya untuk sampai pada satu hal sederhana; duduk berdampingan, tanpa harus menahan apa pun.

Bahkan untuk makan bersama dan saling diam dalam satu ruang, mereka telah melewati terlalu banyak hari yang berat dan luka yang tak sederhana.

Tidak ada yang terburu-bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
henny.orlee
ayo siapa yg jdi bayangin di skripsi apa yg dilakukan mas Sat dan Zee .........
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
makasih upnya kak njys
goodnovel comment avatar
Usnani
semakin yakin ya zee,, mas Sat hny milikmu..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 121. Ucapan Cinta Pertama

    Esoknya Sheza bangun lebih awal, saat rumah masih sunyi dan udara dingin belum terusir matahari. Ia sudah hafal tubuhnya sendiri, sekitar pukul delapan pusing itu biasanya datang. Jadi sebelum lelah mengejarnya, ia memilih bergerak lebih dulu.Dengan kimono sutra putih melingkari tubuhnya, ia menyalakan lampu dapur. Tangannya bekerja tenang—mencuci beras, mengiris ayam tipis, menumis sayur dengan api kecil. Bekal kali ini bukan untuk anak-anak. Tak ada nasi beruang atau sosis bunga. Hanya susunan sederhana, rapi, untuk orang dewasa.Saat menggulung telur, ia teringat Nayla yang kemarin pulang membawa tas bekal pink dengan wajah cerah. Soal kapan bentonya dimakan, Sheza belum tahu. Ia sempat bertanya pada Satria, dan pria itu hanya berkata, “Tunggu aja. Nanti dia cerita sendiri.”Sheza tersenyum kecil mengingatnya.Delapan tahun lalu, ia membuat kotak bekal pertamanya dengan tangan gemetar. Berjam-jam di dapur. Menonton video berkali-kali. Mengulang potongannya yang terlalu besar. Menc

  • KAMAR KEDUA   Bab 120. Bento Hari Minggu

    Dapur pagi itu lebih berisik dari biasanya. Suara sendok beradu dengan mangkuk. Teflon kecil mendesis pelan. Aroma telur dan nasi hangat bercampur dengan wangi sabun cuci piring yang masih tersisa di udara.Sheza berdiri di depan meja dapur dengan dress katun selutut warna lembut. Bentuk tubuhnya terlihat bagi siapa yang memperhatikan. Meski wajahnya masih agak pucat, Sheza pagi itu terlihat lebih riang. “Nggak usah terlalu padat, Bun. Nasinya nanti kepencet,” komentar Nayla serius sambil memegang cetakan nasi berbentuk beruang.Sheza tertawa kecil. “Yang bikin kamu atau Ibun sih?”“Aku dong,” jawab Nayla cepat. “Ibun cuma asisten.”“Oh, jadi Ibun cuma asisten sekarang?” Sheza pura-pura tersinggung.Nayla terkikik. “Asisten cantik dan nggak boleh capek kata Papa.”Sheza menggeleng sambil memotong wortel tipis-tipis. “Kata Papa? Kapan Papa ngomong gitu? Ibun nggak capek, kok.”Nayla dengan hati-hati menempelkan potongan nori sebagai mata. Satu terlalu besar, satu terlalu kecil. “Pagi

  • KAMAR KEDUA   Bab 119. Tubuh yang Dikenali

    Sheza sempat mengira ia terlalu lelah untuk merasakan apa pun lagi malam itu. Rasanya ia sudah terlalu banyak muntah dan tubuhnya letih. Ia berbaring lalu tertidur lebih dulu. Berpikir bahwa ia akan terbangun esok hari dengan tubuh lebih segar.Tapi ia salah.Sentuhan Satria membangunkannya. Tangan besar yang hangat dan kasar itu menyentuh kulit perutnya, diikuti dengan terpaan napas pria itu dilehernya. Ia bergidik.Tubuhnya lelah, tapi ia tak bisa menolak Satria. Tubuhnya selalu bereaksi lebih cepat. Ia cepat lembut dan basah hanya dengan ciuman singkat dari Satria. Apa mungkin ini yang disebut orang sebagai fase pengantin baru? Yah … bisa dibilang mereka tengah menjalani fase itu sekarang.Lampu kamar redup dan dua pasang mata mereka beradu. Ia mendesah panjang. Tidak bisa tidak. Bagian tubuh Satria memang mengejutkannya sejak awal. Membuatnya merasa terisi penuh dan menyesakkan. Sekaligus kenikmatan yang harus ia akui malu-malu pada dirinya sendiri.Tak ada yang harus ia lakukan s

  • KAMAR KEDUA   Bab 118. Menginap di Rumah Papa

    “Kangen?” Satria tersenyum tipis. “Aku di sini aja.” Jawaban Satria pelan. Tangannya masih di pipi Sheza ketika wanita itu mengerjap pelan.Sheza tersenyum tipis. “Kayaknya Nay ngantuk banget tadi .…” Ia pelan-pelan hendak bangkit, tapi Satria sudah lebih dulu menopang bahunya.“Pelan,” katanya rendah.Satria membetulkan posisi Nayla lebih dulu—menarik selimut kecil ke atas tubuh putrinya, menyibakkan rambut yang menutup wajahnya. Setelah itu barulah ia menarik Sheza mendekat ke dadanya. Sheza bersandar, napasnya masih sedikit berat. “Itu kamar Nayla udah diberesin?” tanyanya pelan.“Udah,” jawab Satria. “Tadi Tuti yang bantuin. Kamu juga sempat lihat kan?” Sheza mengangguk. “Aku baru tau itu kamar Nayla. Lengkap banget. Lemarinya, mejanya, rak bukunya … Dia pasti betah.”Satria tersenyum tipis. “Memang aku bikin supaya dia betah di sini.”Sheza menoleh, menatapnya.Satria melanjutkan lebih pelan, “Aku pengin rumah ini jadi rumah yang hangat. Buat setiap anak.”Sheza mengulang pelan

  • KAMAR KEDUA   Bab 117. Kenangan yang Tidak Pernah Selesai

    Ucapan Nayla membuat Sheza diam beberapa saat. Tangannya terus mengusap rambut gadis kecil itu dengan lembut. Baru kali ini merasakan kedekatan dengan anak perempuan seumuran Nayla.Kalimat Nayla tadi masih menggantung di udara.‘Sebentar sama Papa, sebentar sama Mama.’Bahkan di telinganya sendiri pun kata-kata itu terdengar pahit. Ia membayangkan adegan yang diceritakan gadis kecil itu. Mall yang ramai. Lampu terang. Orang-orang menoleh. Nadine marah sampai harus teriak. Lalu Satria memeluknya lama, di depan umum.Kalau sampai Satria—yang jarang menunjukkan emosi di depan orang—harus memeluk Nadine seperti itu, berarti amarah Nadine benar-benar besar. Ia tahu Satria pasti mencoba meredam amarah itu dengan pelukan. Dan … yang paling membuatnya ngilu adalah, Nayla melihat semuanya.Sheza menelan pelan.Ada sesuatu yang terasa nyeri di dadanya. Bukan cemburu atau rasa ingin tahu berlebihan. Ia sedih. Sedih karena seorang anak menyimpan potongan kenangan seperti itu sendirian. Tanganny

  • KAMAR KEDUA   Bab 116. Bukan Tentang Mall

    Kalimat itu membuat udara seperti berhenti sejenak. “Kalau Papa punya anak lagi … aku seneng,” lanjut Nayla. “Karena Papa nggak sendirian lagi. Apalagi sekarang ada Ibun.”Sheza menahan napas. Tangannya membelai rambut Nayla yang panjang dan lurus. Rambut lurus itu diambil persis dari mamanya. Karena Sheza melihat rambut Satria saat basah sedikit ikal. Nayla masih memeluknya dengan perasaan yang jauh lebih dewasa dari anak seusianya.Di belakang Nayla, Satria bersandar di kusen pintu teras. Tangannya terlipat di dada. Tatapannya tenang, tapi jelas memperhatikan Sheza.Sheza sadar itu.Dan tiba-tiba ia jadi salah tingkah.“Papa kamu itu …” Sheza mulai pelan, “sebenarnya nggak pernah benar-benar sendirian.”Nayla mendongak. “Enggak?”Sheza menggeleng kecil. “Papa itu kuat. Dia bisa urus dirinya sendiri.”Satria langsung menyahut, datar tapi ada nada godaannya. “Enggak juga.”Sheza menoleh cepat. “Mas .…”Satria melangkah mendekat. Berdiri tak jauh dari mereka. “Papa bisa urus banyak hal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status